
Misty yang masih belajar di dalam kelas mulai gelisah memikirkan Yaz yang masih berlutut di tengah terik matahari.
Kemudian tanpa memperdulikan pelajarannya, Misty meninggalkan kelas dan berjalan menuju halaman dimana Yaz berlutut.
Dari kejauhan Misty melihat Yaz yang masih berlutut.
Hatinya mulai tersentuh, Namun bayangan buruknya selalu terlintas dalam pikirannya.
Hingga semua murid keluar dan meninggalkan kelasnya masing-masing, Misty masih berdiri tak mengambil keputusan apapun.
Murid-murid berjalan melewati Yaz yang masih bersikeras mendapat maaf dari Misty hingga keringat bercucuran membasahi seragamnya.
Misty yang melihatnya mulai merasa iba padanya.
Namun baru dua langkah Misty ingin mendekati Yaz, Hatinya kembali ragu. Misty pun memutar tubuhnya dan melangkahkan meninggalkan Yaz.
"Misty..." lirih Yaz dengan lemah.
Misty menoleh ke belakang dan melihat Yaz terjatuh ke tanah
"Yaaazzzz... Misty berlari kearahnya.
Misty menjadi panik saat melihat Yaz sudah tidak sadarkan diri.
"Yaz... Bangunlah..."
Misty merasa bingung apa yang harus di lakukan karena semua murid telah pulang.
Dengan ragu-ragu Misty mencoba menyentuh Yaz dengan memejamkan mata. Namun bayangan buruk itu kembali hingga membuat Misty jatuh terduduk ke tanah.
"Tidak-tidak Aku tidak boleh mengingatnya lagi." Misty berusaha melawan rasa takutnya dan kembali mencoba menyentuh Yaz.
Perlahan Misty mengangkat kepala Yaz ke pangkuannya.
"Yaz bangunlah." Misty menepuk-nepuk pipi Yaz. Namun Yaz tidak meresponnya.
Kemudian Misty membuka tasnya dan mengambil botol minumnya.
Misty meminumkan air ke mulut Yaz.
__ADS_1
Seketika itu juga Yaz mulai membuka matanya, Samar-samar Yaz melihat wajah Misty di hadapannya.
"Misty..."
Misty menatap Yaz dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Maafkan Aku Misty." Misty mengangkat kepala Yaz dan mendorong tubuh Yaz agar bangun dari pangkuannya.
Kemudian Misty bangun dari duduknya tanpa mengatakan apapun.
Yaz menunduk sedih karena Misty tidak juga memaafkannya.
"Pulanglah Yaz... Aku memaafkan mu."
Yaz terkejut dengan apa yang Ia dengar, Ucapan Misty sambil terus melangkah pergi meninggalkannya membuat Yaz seakan tak percaya dengan apa yang Misty ucapkan.
"Apa! Tadi Misty bilang memaafkan ku?" Yaz kembali melihat Misty yang telah jauh dari pandangannya. Namun sebelum meninggalkan gerbang sekolah Misty menoleh ke arah Yaz dan melempar senyum tipisnya.
"Bahkan Dia tersenyum padaku? Oh Ya ampun.. Aku tidak percaya ini."
Yaz berjingkrak bahagia namun Ia kembali jatuh ke tanah.
Karena lamanya Ia berlutut, Membuat kakinya kram.
Mayra yang sedang duduk santai bersandar di tubuh Abay dambil menonton TV di kejutkan oleh suara yang memanggil namanya.
"Mayra..."
Mayra menoleh ke belakang dan melihat Ibu sudah berdiri di depan pintu.
"Ibuuu..." Mayra langsung berlari memeluk Ibunya.
"Ibu apa kabar, Kenapa tidak mengabariku kalau mau datang?"
"Ibu baik sayang, Ibu hanya mampir sebentar sebelum Ibu ke kantor."
Ibu menoleh ke arah Abay yang berdiri di belakang Mayra.
"Ibu, Apa kabar?" Abay menjabat tangan Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ibu baik, Bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik Ibu."
"Baiklah Ibu kesini hanya ingin memberikan ini, Pergilah berlibur sayang."
"Ini?" Mayra melihat amplop putih berisi Paket HONEYMOON RAJA AMPAT 3 Hari 2 Malam.
"Ya, Dulu kalian menolak bulan madu dengan alasan baru masuk kuliah, Tapi sekarang kuliah kalian tinggal satu tahun lagi, Kalian juga sedang cuti, Jadi pergilah, Nikmati masa-masa indah pernikahan kalian."
Mayra melirik Abay, Ia merasa takut jika Abay akan menolaknya seperti dulu.
"Ya, Tentu saja Ibu, Dengan senang senang hati." Abay merangkul Mayra kesisinya. Mayra menatap Abay dengan tatapan tak percaya.
"Syukurlah, Kalau begitu Ibu pulang dulu, Semoga kalian selalu bahagia."
Abay mengangguk dan mengantar Ibu sampai pintu.
"Sampai jumpa Sayang."
"Sampai jumpa Ibu," Ibu memeluk Mayra sesaat dan meninggalkan rumah Abay.
"Kenapa Mayra, Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kamu tidak marah?"
"Kamu masih menganggap ku Abay yang dulu?"
"Tidak Abay Aku hanya..."
"Apa penyatuan Kita belum membuatmu yakin jika Aku benar-benar mencintaimu?"
"Tidak Abay, Maafkan Aku, Aku hanya terlalu bahagia." dengan haru Mayra memeluk suaminya.
"Aku belum melakukan apapun untuk mu Mayra."
"Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk membuatku bahagia, Karena dengan terus bersama ku, Kamu sudah membuatku sangat bahagia."
"Oh Mayra, Jangan melelehkan hatiku seperti itu, Atau Aku akan memakan mu di siang hari seperti ini."
__ADS_1
Mayra tertawa melepaskan pelukannya.
Bersambung...