Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Menuju Pernikahan


__ADS_3

Abay masih belum bersiap, Ia benar-benar bingung apa yang harus di lakukan, Membatalkan pernikahan tentu bukan hanya kuliahnya yang terancam, Tapi pendidikan kedua adiknya juga akan terkena imbasnya.


Sedangkan meminta bantuan pada Nandini itu tidak mungkin, Sebelumnya saja saat dirinya mengungkapkan kesulitannya Nandini merasa tersinggung dan pergi tanpa kabar, Sedangkan kuliah sambil bekerja itu tidak akan bisa mencukupi segala kebutuhannya dan Adik-adiknya.


"Aarrghhh!!!" Abay meremad rambutnya dengan kasar.


Ia benar-benar merasa belum siap dengan situasi yang harus Ia jalani saat ini.


"Kamu belum bersiap?" tanya Ibu mengagetkan lamunan Abay.


Abay hanya diam mengalihkan pandangannya.


"Waktu Kita sudah tidak banyak lagi, Cepat bersiap dan ambil cincin ini untuk mas kawin mu." Ibu meletakkan cincin miliknya di tangan Abay.


"Kenapa secepat ini Ibu, Bahkan Aku belum menyelesaikan kuliahku."


"Seharusnya Ibu yang bertanya kenapa Kamu selalu menyakiti Mayra?


Kalau Kamu tidak menyakiti Mayra, Tuan Ravindra tidak akan mendesakmu untuk segera menikahinya."


"Ibu, Aku tidak sengaja melakukannya."


"Mau sengaja atau tidak sengaja Kamu tetap menyakiti Mayra,


Sekarang terima takdir mu dan bersiaplah." Ibu pergi meninggalkan kamar Abay.


"Ada apa ini Ibu, Seperti akan ada pernikahan?" tanya Misty yang melihat beberapa parsel hantaran pernikahan.


"Ya, Abang mu mau menikah malam ini."


"Apa! Kenapa begitu mendadak?"


"Ini sudah di putuskan, Cepatlah, Kamu juga harus bersiap.


Misty mengangguk dan melangkahkan kakinya.


"Misty kenapa dengan kaki mu?"


"Ini tidak apa-apa Ibu, Hanya sedikit terkilir."


"Baiklah, Hati-hati.'


Misty mengangguk dan masuk ke kamarnya.


•••

__ADS_1


Meskipun hanya Sehari untuk Ravindra mempersiapkan pernikahan Putrinya. Namun dengan kelengkapan syarat-syarat pernikahan dan syarat-syarat lainnya yang di penuhi oleh Ravindra sebelum jam 5 sore, Ravindra telah berhasil mendaftarkan pernikahan Putrinya secara resmi. Bahkan untuk kelancaran pendaftaran Ravindra mendatangkan tenaga kesehatan secara pribadi untuk memeriksa kesehatan Mayra dan Abay untuk melengkapi syarat pernikahan, Kini Ravindra tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk Abay dan penghulu datang ke rumahnya.


Mayra yang tengah mengenakan Henna Art berwarna putih terlihat begitu bahagia.


Ibu yang melihatnya tersenyum dan menghampiri Putrinya.


"Tetaplah bahagia Sayang." ucap Ibu mencium pipi putrinya dari belakang.


"Wah wah sepertinya dua Wanita kesayangan Ayah ini sangat bahagia,


Ayolah Ayah juga ingin memeluk kalian," Mayra beranjak dari duduknya dan memeluk Ayahnya, Kemudian Ravindra meraih Istrinya dan memeluk serta Dirinya.


Abay telah bersiap dengan stelan jas hitam dan kemeja putih lengkap dengan peci hitam polosnya.


Tidak ada keceriaan di wajahnya, Hanya tatapan kosong dengan fikirannya yang berkelana entah kemana.


"Abay tersenyumlah, Ini Akan terlihat buruk jika orang-orang melihatmu dengan wajah murung seperti itu."


Abay memaksakan senyumnya kepada Ibu.


"Bang, Jika sulit tersenyum, Ingatlah senyumku maka Abang akan ikut tersenyum," ucap Rayyan.


Abay tersenyum tipis sembari menepuk pelan pipi Rayyan.


Abang mempunyai Adik perempuan , Jika sekarang Abang menyakiti kak Mayra, Bagaimana jika ada Pria yang menyakitiku?"


Abay terhenyak mendengar pertanyaan Misty dan langsung memeluknya.


"Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, Tidak akan," ucap Abay terus memeluk Adik perempuannya yang kini sudah beranjak dewasa.


Susana mencair saat ponsel Ibu berdering.


Ibu bergegas mengambil ponsel yang hanya bisa untuk telfon dan SMS tersebut.


"Hallo...'


"Bagaimana persiapan di situ, Apa semuanya sudah siap?"


"Ya, Semua sudah siap, Kami akan segera berangkat."


"Baiklah jangan sampai penghulu datang tapi kalian belum sampai kemari."


"Jangan khawatir Tuan."


"Kita akan berangkat sekarang."

__ADS_1


Abay masih tak bergerak dari posisinya.


"Kita akan terlambat jika Kamu hanya berdiam diri seperti patung, Ayolah." Ibu menarik tangan Abay keluar dari rumahnya.


"Sebentar saja Ibu, Aku ingin mengambil ponselku,"


"Untuk apa, Untuk menelfon Nandini?"


"Ibu.. Aku hanya..."


Ibu tetap menarik tangan Abay dan menyuruhnya masuk ke mobil rombongan para tetangga yang ikut serta mengantar Mereka.


•••


Mayra sudah bersiap dengan stelan kebaya modern berwarna putih menyapu lantai. Sedangkan untuk rambut disanggul modern dengan tusuk konde berlapis emas.


Mayra benar-benar terlihat semakin cantik dengan make-up natural sesuai usianya, Kini Mayra, Keluarga dan beberapa tamu yang di undang, Tinggal menunggu kedatangan calon mempelai Pria.


Sementara mobil yang Abay dan rombongan naiki tiba-tiba berhenti mendadak.


"Ada apa Pak?" tanya Abay.


"Sepertinya bannya kempes." Supir pun turun untuk melihat keadaan mobilnya dan benar saja ban mobilnya kempes.


"Haduh pake kempes segala, Mana dah malem lagi." keluh Supir.


Supir pun menyuruh semua penumpang turun dan menyuruh Mereka menunggunya di luar.


"Apa perbaikannya masih lama?" tanya Abay.


"Lumayan Mas,"


"Biar ku bantu,"


"Tidak usah Mas, Nanti Mas kotor, Mas kan mau nikah."


Melihat supir yang masih lama mengganti ban mobilnya, Abay berfikir untuk menemui Nandini sebentar dan saat bersamaan Abay melihat ojek dan langsung menghentikannya.


"Abay mau kemana?" pekik Ibu.


"Aku akan pergi sebentar, Jika mobil sudah selesai di perbaiki, Ibu pergilah bersama rombongan, Kita bertemu disana."


"Tapi Kamu mau ke rumah Mayra apa keman?" pekik Ibu yang tidak lagi di dengar oleh Abay.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2