
š Pagi Hari š»
Pagi-pagi sekali Abay sudah berada di kampus.
Ia sengaja datang lebih awal untuk menunggu kedatangan Mayra.
Namun sampai mahasiswa lain terus berdatangan, Mayra tidak juga kelihatan.
"Siapa yang Kau tunggu, Kenapa tidak masuk?" tanya Vicky yang baru datang dengan motor gedenya.
"Kau duluan saja, Nanti Aku menyusul."
"Apa kalian sedang bertengkar, Apa masalah kalian, Apa permasalahan di tempat tidur?" cecar Vicky.
"Tutup mulutmu dan pergilah sekarang juga!" hardik Abay.
Vicky terawa dan pergi meninggalkan Abay.
Hingga semua mahasiswa telah masuk ke kelas, Tapi Mayra tidak juga datang, Hal ini pun membuat Abay kembali pergi meninggalkan kampus untuk menemui Mayra di rumahnya.
ā¢ā¢ā¢
Abay sampai di rumah Mayra
Ia mendejat gerbang yang masih terkunci rapat. Abay pun berteriak memanggil Satpam namun satpam mengabaikannya sesuai perintah Mayra.
"Maaf Mas, Tapi Non Mayra tidak mengizinkan Saya membukakan pintu untuk Mas Abay."
Abay yang mendengarnya langsung memanjat pintu gerbang yang tingginya mencapai dua meter.
"Mas Abay, Apa yang Anda lakukan, Bagaimana jika Anda terjatuh?"
Abay mengabaikan peringatan Satpam dan tetap memanjat gerbang.
Satpam pun kembali ke posko dan menelfon Mayra untuk memberitahu kedatangan Abay.
"Non, Mas Abay datang, Dia memaksa masuk dengan memanjat pintu gerbang.
__ADS_1
"Apa!" Mayra yang sangat terkejut langsung berlari mendekati jendela kamarnya.
Mayra menjadi panik melihat Abay yang sedang memanjat dengan susah payah.
"Abayyyy...." lirih Mayra saat melihat Abay terpleset dan hampir terjatuh. Namun Abay kembali melanjutkan usahanya.
Kini Abay sudah berada di pintu gerbang bagian dalam, Langkah demi langkah Abay mulai menuruni pintu gerbang. Setelah di rasa sudah tidak tinggi lagi, Abay melompat ke tanah.
"Mas Abay..." ucap Satpam mendekati Abay.
"Jangan hentikan Aku! Mundurlah." tegas Abay.
Satpam pun mundur dan tak berani menghalangi Abay.
Abay melihat jendela kamar Mayra dan melihat Mayra berdiri di sana.
Namun Mayra langsung menutup tirainya begitu Abay melihatnya.
"Mayra Aku tau Kamu disitu, Keluarlah atau Aku yg akan memaksa masuk seperti sebelumnya." pekik Abay.
"Mayra Kamu yang keluar atau Aku yang masuk?"
Abay yang tidak juga mendapat jawaban dari Mayra mendekati pintu dan mencoba membukanya dan kebetulan sekali pintu tidak di kunci hingga Abay dengan mudah menerobos masuk dan langsung menuju ke kamar Mayra.
Mayra yang tidak lagi mendengar Abay memanggilnya, merasa penasaran dan kembali membuka tirai jendelanya, Namun Mayra tidak lagi melihat Abay berdiri di sana. Mayra yang merasa tidak yakin jika Abay sudah pergi, Membuka pintu dan keluar untuk melihat Abay dari Balkon, Namun Mayra tetap tidak melihat Abay berada di sana.
Mayra kembali masuk dan menutup pintu dengan kesal.
"Apa Kamu merasa kesal karena tidak melihatku?" tanya Abay yang sudah berada di kamar Mayra.
"Abay Kau!" Mayra begitu terkejut melihat Abay yang sudah setengah berbaring dengan bertumpu pada satu sikunya di ranjang miliknya.
Abay terseyum menaik turunkan alisnya.
"Berraninya Kau masuk kekamarku tanpa seizinku!" dengan kesal Mayra berjalan mendekati Abay. Namun kakinya tersangkut karpet hingga membuat Mayra terjatuh menimpa tubuh Abay.
"Mayra..." Abay memegang kedua bahu Mayra dan mencoba melihat wajahnya yang masih tertunduk di dadanya.
__ADS_1
Perlahan Mayra mengangkat kepalanya dan menatap Abay.
Mereka menjadi diam saat kedua mata Mereka bertemu.
Kali ini Abay menatap Mayra dengan tatapan yang berbeda, Seperti tengah meyakinkan dirinya jika perasaanya telah berubah terhadap sang Istri.
Mayra melepaskan diri dari dekapan Abay dan duduk membelakanginya.
Abay pun beranjak duduk dan kembali berusaha meyakinkan Mayra.
"Mayra bicaralah padaku, Kemarin Aku sudah menjelaskanya dan kita sudah baik-baik saja, Tapi kenapa karena ucapan Nandini Kamu kembali marah padaku?"
"Karena apa yang Nandini katakan itu adalah kebenaran dan yang Kamu jelaskan padaku adalah kebohongan."
"Kenapa Kamu lebih percaya pada Nandini?"
"Karena Dia seorang wanita, Untuk apa Dia mempermalukan dirinya sendiri dengan mengatakan jika Dia sudah tidur dengan mu?"
"Dia berbohong Mayra, Apa yang sudah ku jelaskan kemarin itulah kebenarannya."
"Untuk apa Dia berbohong!"
"Kenapa Kamu masih tidak faham juga, Dia berbohong karena Dia tidak mau Aku meninggalkannya."
Mayra terkejut mendengarnya.
Abay memegang kedua lengan Mayra
"Ya Mayra, Sejak malam itu Aku sudah tidak lagi berhubungan dengannya, Aku..."
"Tapi kenapa Kamu menemui ku setelah lebih dari 3 hari, Apa yang Kamu lakukan selama 3 hari jika Kamu tidak menemui ku ataupun menemui Nandini?"
Abay menunduk sedih mengingat kejadian malam itu.
Bersambung...
MAAF KALAU ADA KESALAHAN TYPO, MASIH SUPER SIBUK š
__ADS_1