
"Darimana saja Kamu Yaz, Sudah malam begini baru pulang?" cecar Mirna begitu melihat putranya pulang.
"Eh, Tumben jam segini Mamah sudah di rumah." saut Yaz dengan sinis.
"Kamu berrani membalikkan pertanyaan Mamah?"
"Bukankah itu kenyataannya, Mamah dan Papah tidak pernah ada di rumah? Kalau ada pun pasti sudah dini hari."
Mamah dan Papah tidak di rumah atau pulang pagi bekerja keras untuk kamu, Tapi apa yang kamu lakukan Yaz, Apa? Kau malah mempermalukan kami dengan meminta maaf seperti ini di depan semua teman-teman sekolah mu?" triak Mirna sambil menunjukan video saat Yaz berlutut minta maaf pada Misty.
"Darimana Mamah dapat video itu?"
"Apa kamu tidak lihat Video mu telah viral di media sosial?"
Yaz hanya diam tak perduli, Karena yang penting baginya Dia telah mendapatkan maaf dari Misty.
"Sebenarnya apa yang kamu fikirkan Yaz? Kamu adalah Yazid Haikal Wirayudha putra Haikal Wirayudha donatur terbesar di sekolah tempat mu belajar, Kenapa kamu meminta maaf bahkan sampai berlutut di depan umum seperti itu? Mau di taruh di mana muka Mamah di depan relasi dan teman-teman arisan Mamah?"
"Aku telah membuat kesalahan jadi tidak ada salahnya Aku meminta maaf, Lagi pula Meminta maaf bukan suatu hal yang buruk, Seharusnya Mamah bangga padaku." Yaz langsung meninggalkan Mamahnya dan tidak memperdulikan ocehannya yang belum selesai.
"Yaz! Yaz! Mama belum selesai bicara!" pekik Mirna kesal.
__ADS_1
•••
RAJA AMPAT
Sebelum meninggalkan penginapan, Abay dan Mayra menyempatkan waktu untuk mandi bersama dengan kembali bermai panas sebelum mengakhiri bulan madu Mereka di Raja Ampat.
"Sssshhhh Akh... Akh... Akh..." desa'han jahanam kembali bersautan dari dua sejoli yang tengah dipenuhi gai'rah membara dalam diri Keduanya.
Kamar mandi yang cukup terbuka membuat keduanya merasakan sensasi tersendiri dengan kicauan burung yang seakan mengiringi setiap hentakan yang Abay lakukan.
"Abay... Akhhhhh..." Mayra yang bertumpu pada kedua kaki ke lantai dan kedua tangan memegang meja merasa lututnya semakin lemas saat Abay semakin cepat menghentikan pinggulnya.
"Ahhhhhhhh..." Abay membenamkan wajahnya pada punggung Mayra untuk mengatur pernafasannya, Setelah nafasnya mulai normal Abay berdiri dan menarik rambut Mayra untuk menatap wajahnya dari cermin.
Wajah yang masih memerah penuh gai'rah membuat Abay menyeringai dan lebih menarik rambutnya untuk membisikkan sesuatu di telinga sang istri.
"Saat wajahmu seperti ini, Kau terlihat begitu eksotik dan menggai'rahkan." bisik Abay dengan menyapu tengkuknya.
Mayra yang mendengarnya hanya diam memejamkan mata dengan dada yang masih naik turun seiring nafas nya yang masih memburu.
__ADS_1
"I love u Mayra, Aku mencintai kepribadian mu, Aku mencintai ketulusan mu, Aku menyukai setiap lekuk tubuh mu yang telah membuat ku candu, Rasanya Aku tidak ingin mengakhiri bulan madu kita dan kembali ke Jakarta." bisik Abay sambil terus menyapu leher Mayra dan meremad kedua bukit kenyalnya.
"Tapi kita harus mengakhiri, Karena waktu kita sudah habis."
Mayra melesapkan diri dan mendorong tubuh Abay.
Abay terseyum dan kembali menarik Mayra ke sisinya.
"Ayo Aku mandiin." rayu Abay.
"Tapi jangan minta lagi." tawar Mayra.
"Memang kenapa kalau mau lagi?" goda Abay yang kembali merapatkan tubuh polos Mereka.
"Kita sudah mau pulang nanti Aku jalannya sakit, Punya mu keras banget."
"Tapi enak kan?"
"Tapi kan sakit juga."
"Nanti lama-lama juga gak sakit." Abay tertawa sembari menarik tubuh Mayra ke bawah guyuran air shower yang mengalir.
__ADS_1
Bersambung...