
"Apa yang terjadi?" tanya Mayra yang melihat Abay tertunduk sedih.
"Telah terjadi sesuatu pada Misty."
"Apa, Apa yang terjadi padanya?"
"Seseorang telah menodainya."
"Apa!" Mayra seakan tak percaya mendengarnya.
"Bagaimana bisa terjadi Abay?"
Abay menceritakan semua tentang Misty sampai Abay tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya tentang trauma yang Misty alami. Abay tak kuasa lagi menahan air matanya.
"Tenanglah Abay, Tenanglah, Semua akan baik baik saja, Sekarang duduklah."
Setelah menyuruh Abay duduk, Mayra mengambilkan air putih untuk Abay. Kemudian duduk di sebelahnya.
Abay menenggak air putih yang Mayra berikan dan kembali mengungkapkan kegundahan di hatinya.
"Mungkin ini terjadi karena dosa-dosaku pada mu Mayra, Maafkan Aku, Maafkan Aku."
Mayra tak kuasa melihat Abay yang terus menangis membuat Abay bersandar di bahunya.
"Aku sudah sering kali membuatmu menangis, Aku pantas mendapat balasan dari perbuatanku, Tapi kenapa harus Misty yang menanggung semua dosa ku, Kenapa Mayra."
"Semua sudah menjadi Kehendak-Nya, Kita akan menghadapinya bersama-sama, Tenanglah Abay."
Seperti Anak kecil, Abay meletakkan kepalanya di pangkuan Mayra.
Ia benar-benar merasa sedih memikirkan keadaan Misty dan penyesalannya pada Mayra.
Perlahan Mayra memegang kepala sang suami, Hatinya benar-benar merasa pilu melihat Pria yang begitu Ia cintai menangis sedemikian rupa.
Seketika Abay terdiam merasakan tangan Mayra yang mulai mengusap kepalanya. Kemudian Abay meraih tangannya dan mengecupnya dengan lembut. Lalu Abay duduk dan menatap Mayra yang juga meneteskan air matanya.
Abay mengusap air Mayra, Begitupun Mayra yang mengusap Air mata Abay. Kemudian Mereka saling berpelukan dengan erat.
__ADS_1
Mereka terdiam dalam pelukannya.
Abay memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Sedangkan Mayra merasa begitu haru akhirnya bisa memeluk Pria yang begitu sangat Ia cintai.
Setelah merasa tenang, Abay mengurai pelukannya dan mengusap pipi Mayra.
"Terimakasih Mayra."
Mayra memegang tangan Abay yang sedang menyentuh pipinya dan memejamkan matanya sejenak merasakan sentuhannya.
"Datanglah kerumah dan lihat keadaan Misty."
"Tentu, Kita pergi sekarang?"
"Jika Kamu mau."
"Kenapa tidak."
"Tapi pakai motor ku ya, Kamu mau?"
"Kenapa bertanya lagi, Kamu sudah pernah menanyakannya."
Mayra memegangi hidungnya dan tersipu malu.
Abay mengulurkan tangannya pada Mayra.
Mayra menatap wajah Abay dan menatap telapak tangannya yang masih menunggu uluran tangannya.
Dengan senyum malu-malu Mayra meletakkan tangannya di atas tangan Abay.
Abay terseyum lega dan menggenggam tangan Mayra kemudian menggandengnya ke luar.
Setelah sampai bawah Abay menaiki motor dan memakai helmnya. Sementara Mayra merasa kebingungan bagaimana Ia harus duduk.
Abay yang merasa Mayra tidak juga naik, Menoleh ke belakang dan melihat Mayra yang belum juga naik.
"Mayra apa yang Kamu tunggu, Cepatlah naik."
__ADS_1
"Abay sebenarnya Aku sama sekali belum pernah naik motor, Aku merasa takut."
Abay terseyum dan meraih kedua tangan Mayra kemudian meletakan di pundaknya.
"Sekarang naiklah."
Dengan berpegangan kedua pundak Abay, Mayra naik dan duduk dengan tegang.
"Apa Kamu sudah siap?"
Mayra menjadi semakin tegang dan takut ketika motor mulai dihidupkan.
"Mayra apa Kamu sudah siap?"
"Ya, Ak-ak-aku sudah siap."
Abay yang melihat mimik wajah Mayra yang begitu ketakutan dari kaca sepion tertawa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Kamu menertawakan ku, Apa Aku terlihat bodoh?"
"Tidak, Wajahmu begitu menggemaskan," ucap Abay yang menyandarkan tubuhnya kepada Mayra.
Mayra yang merasa malu kembali mendorong tubuh Abay menjauh darinya
"Pegangan dengan erat jika Kamu merasa takut." Abay meraih kedua tangan Mayra dan melingkarkannya ke perutnya.
Mayra yang masih merasa ragu, Terus mengepalkan kedua tangannya tanpa mau menyentuh Abay.
Abay menggelengkan kepalanya dan menjalankan motornya meninggalkan rumah Mayra.
Setelah perjalanan cukup jauh, Mayra belum juga mau memeluk Abay, Hal ini membuat Abay sengaja menambah kecepatannya agar Mayra mau memeluknya.
"Mayra peluk Aku jika Kamu takut, Kenapa Kamu tidak menuruti ku, Aku akan kembali menambah kecepatannya, Ayolah."
Melihat Mayra yang tetap tidak mau memeluknya, Abay kembali menambah kecepatannya dan akhirnya Mayra yang semakin merasa takut memeluk Abay dan menyandarkan kepalanya di punggungnya.
Abay terseyum dan mengusap tangan Mayra yang melingkar erat di perutnya.
__ADS_1
Bersambung...
š BUAT YANG TIDAK SETUJU MEREKA RUJUK, EMANG GAK CAPEK KONFLIK MULU, DAH 50 BAB LOH, EMANG GAK PENGIN DI BIKIN BAPER? š¤£