Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Gusar


__ADS_3

Abay masih duduk termenung memikirkan tentang permintaan Ravindra yang menyuruhnya menikah malam ini juga.


Dengan nafas yang terasa sesak Abay mengambil ponselnya untuk menghubungi Nandini. Namun belum sempat Abay menghubungi, Abay mendengar Ibu pulang. Abay pun bergegas keluar untuk bicara pada Ibunya.


"Ibu..."


"Kemarilah Nak, Ibu membawa makanan untuk mu,"


Abay yang hatinya sedang gusar tidak tertarik sama sekali dengan makanan yang Ibu bawa untuk nya.


"Aku ingin membicarakan hal penting pada Ibu."


"Apa, Kenapa Kamu terlihat tegang?"


"Om Ravindra tadi datang kemari, Dia memintaku menikahi Mayra malam ini juga."


"Apa!" Ibu sangat terkejut mendengarnya.


"Ya, Itu benar Ibu, Aku harus menikahi Mayra malam ini juga,


Jika tidak nasib Kita akan berubah dalam satu nalam," ucap Abay sedih.


Ibu terdiam mendengar penjelasan Abay, Meskipun hal ini akan terjadi kapanpun yang Ravindra inginkan, Tapi Ibu tidak mengira akan secepat ini.


"Sekarang apa yang harus Aku lakukan Ibu?"


"Apa lagi yang bisa Kamu lakukan, Kiita sudah cukup banyak menerima bantuannya dan sampai kapanpun Kita belum tentu bisa membalasnya, Jika sekarang Tuan Ravindra meminta imbalan yang memang sudah jadi haknya, Maka Kamu harus mematuhinya."


"Tapi Ibu..."


"Tapi apa Abay, Bukankah ini pilihan mu? Bukankah Kamu yang memilih kuliah dan Menikahi Mayra daripada bekerja?"


Abay terdiam menundukkan kepalanya.


"Kamu sudah berjanji pada Mayra dan orang tuanya kalau km mau menikahinya dan..."


"Aku pulang..."


Ibu dan Abay menoleh ke pintu melihat Rayyan.

__ADS_1


"Sudah pulang Nak? Bagaimana pelajaranmu?"


"Tidak ada kesulitan Ibu, Di sekolahku yang sekarang benar-benar menyenangkan."


"Baiklah, Pergi ke kamar dan ganti pakaianmu."


"Apa Abang sudah merasa lebih baik?"


"Abang baik-baik saja, Pergilah." saut Abay.


"Kamu lihat itu, Rayyan sangat bahagia di sekolahnya bagaimana jika Tuan Ravindra benar-benar mengubah nasib Kita dalam semalam?"


Abay menarik nafas yang terasa semakin sesak.


"Bersiaplah dari sekarang, Kamu tidak ada pilihan."


Ibu beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur.


•••


Ibu membuka pintu kamar Mayra dan melihat Mayra yang sedang melamun memeluk bantalnya.


"E-e Ya, Masuklah Ibu." Mayra langsung beranjak duduk dan memaksakan senyumnya.


Ibu duduk di depan Mayra dan merapikan rambut Putrinya yang terlihat berantakan.


"Bersiaplah Sayang."


"Bersiap? Bersiap untuk apa?"


"Bersiap untuk menyambut Pangeran impianmu yang akan meminangmu."


"Pangeran impian, Meminang? Apa maksud Ibu?"


"Maksud Ibu Abay akan datang untuk meminangmu, Malam ini kalian akan menikah."


"Apa! Bagaimana bisa Ibu, Apa Abay yang menginginkannya?


Ibu terdiam sejenak mendengar pertanyaan Putrinya.

__ADS_1


"E-e Tidak Sayang, Ayahmu yang mengatur semua ini."


"Dan apa Abay setuju?"


"Siapa yang bisa menolak gadis cantik seperti mu?" Ibu tersenyum mengusap lembut pipi Mayra.


Mayra terseyum memeluk Ibunya, Ia benar-benar bahagia akhirnya Ia akan bersatu dengan Pria yang begitu amat Ia cintai.


Ravindra berdiri di pintu kamar Mayra dan melihat Putrinya terseyum bahagia, Akhirnya Ia bisa melihat Putri kesayangannya bisa tersenyum sejak beberapa hari bersedih.


"Kalau begitu Ibu tinggal dulu ya Sayang, Kamu bersiaplah."


Mayra menganggukkan kepalanya dan membiarkan Ibu meninggalkan kamarnya.


"Mas lihat itu, Putri Kita terlihat sangat bahagia," ucap Devika yang melangkah meninggalkan kamar Mayra beriringan dengan sang Istri.


"Ya Aku melihatnya, Akhirnya Putri Kita terseyum setelah beberapa hari ini murung."


"Aku harap keputusan menikahkan Mereka sudah tepat dan tidak jadi masalah baru untuk Putri Kita di kemudian hari."


"Ya, Semoga saja, Karena jika tidak, Aku akan melakukan apapun untuk membuat Putri Kita tetap hidup bahagia." saut Ravindra.


•••


Setelah selesai mendapat perawatan, Misty pun keluar dan melihat Yaz masih menunggunya.


"Bagaimana kakimu, Apa kata Dokter?"


Misty merasa Aneh dengan sikap Yaz yang tidak seperti biasanya.


"Sejak kapan Yaz jadi peduli dengan orang lain?" batinnya.


"Misty! Kenapa diam saja, Apa kata Dokter?"


"Oh.. E-e.. Tidak, Kakiku tidak apa-apa, Hanya sedikit terkilir tapi Sekarang sudah lebih baik."


"Syukurlah, Kalau begitu Ayo kembali ke kelas."


Misty mengangguk dan berjalan di belakang Yaz.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2