
Malam Hari š
Mayra sudah selesai memilih buku yang akan Ia beli untuk Misty, Sambil menunggu kedatangan Abay, Mayra melihat-lihat buku yang lain. Namun sudah cukup lama menunggu, Abay tidak kunjung datang. Mayra pun mulai merasa resah dan terus melihat ke arah pintu masuk.
"Apa Kamu menunggu Abay?"
Mayra terkejut melihat Nandini yang sudah berdiri di belakangnya.
"Apa Kamu terkejut?" tanya Nandini terseyum smirk.
"Apa yang Kamu lakukan disini?"
"Menunggu seseorang yang Kamu tunggu."
Mayra tercengang mendengarnya.
"Kenapa Mayra? Apa Kamu pikir Abay telah benar-benar mencintai mu?
Jangan karena Dia bersikap baik padamu, Lalu Kamu menganggapnya itu cinta."
"Apa yang coba ingin Kamu katakan Nandini?" tegas Mayra.
"Mayra, Aku mengenal Abay dengan sangat Baik, Dia tipe Pria yang tidak mudah jatuh cinta, Seumur hidupnya Dia hanya pernah jatuh cinta sekali, Ya itu dengan ku, Bahkan setelah kehadiran mu yang mengiming-iminginya kemewahan, Cintanya padaku tidak tergoyahkan, Jadi tidak mungkin dalam waktu singkat Dia berubah mencintaimu dan membenciku."
Mayra melangkah membelakangi Nandini menyembunyikan rasa sakitnya mendengar itu semua.
"Jadi Mayra, Meskipun sekarang Abay bersikap lembut padamu, Bahkan jika Dia menyentuhmu, Itu bukan berarti Dia mencintaimu, Semua Pria akan melakukan hal yang sama jika berduaan bersama Wanita, Sekarang katakan padaku, Apa pernah Abay mengatakan cinta padamu?"
Mayra terhenyak, Ia mengingat moments kebersamaannya dengan Abay, Meskipun Abay seringkali menggodanya bahkan seringkali memberikan sentuhan padanya. Namun tak sekalipun Abay menyatakan cinta padanya.
Nandini yang melihat mata Mayra berkaca-kaca tersenyum puas karena dugaannya benar.
"Sudah ku duga, Abay tidak mungkin mengatakan dan tidak akan pernah mengatakannya, karena Dia hanya mencintaiku, Selamanya hanya akan mencintaiku, Jadi berhenti bermimpi mendapatkan cintanya Mayra!"
Mendengar semua kata-katanya membuat Mayra tak kuasa lagi menahan air matanya.
Nandini menghentikan ocehannya saat mendengar ponselnya berdering, Kemudian Nandini terseyum lebar melihat Nama Abay tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Lihatlah ini Mayra, suamimu menelfon ku." dengan tawa mengejek, Nandini menunjukkan ponselnya pada Mayra.
Mayra sangat terkejut melihat nama Abay tertera di layar ponsel Nandini.
"Dia sudah berjanji akan menemui ku malam ini, Jika kamu tidak percaya ikuti Aku dan lihatlah dengan mata kepalamu sendiri."
Nandini pergi meninggalkan Mayra dan berharap Mayra mau mengikutinya.
Dengan langkah yang teramat berat, Perlahan Mayra mengikuti Nandini, Tapi baru beberapa langkah, Mayra berubah fikiran.
"Tidak, Aku tidak bisa melihat ini, Aku tidak akan mengikutinya"
Mayra kembali masuk dan membayar buku yang sudah Ia pilih.
Nandini telah sampai ditempat yang sudah Ia siapkan untuk bertemu Abay.
Abay yang melihat kedatangan Nandini langsung bangun dari duduknya dan terlihat sangat kesal pada Nandini.
"Kemana saja Nandini, Kenapa lama sekali?"
"O ho... Apa Kamu sudah tidak sabar bertemu dengan ku?" Nandini mencoba menyentuh wajah Abay. Namun Abay langsung menepisnya dengan kasar.
"Sabarlah Sayang kenapa terburu-buru?" Nandini melihat-lihat keluar dan berharap Mayra akan datang memergoki Mereka.
"Apa yang sedang Kamu rencanakan Nandini?" Abay menoleh ke belakang, Mencoba melihat apa yang Nandini lihat.
"E.. Aku hanya..."
"Apa Kau menunggu seseorang, Atau Kau hanya mempermainkan ku?"
"Tidak Abay, Aku memintamu datang karena..."
"Sudahlamah Nandini, Kau hanya buang-buang waktu ku saja."
"Abay... Abay.... Aaarrghhhh... Siallll, Kenapa sih Mayra tidak mengikuti ku, Jadi gagal kan rencanaku." Nandini merasa kesal melihat kepergian Abay sebelum rencananya berhasil.
ā¢ā¢ā¢
__ADS_1
Abay sampai di toko buku. Ia mencari-cari keberadaan Mayra setelah di telfon berkali-kali Mayra tidak mengangkatnya. Namun setelah mengecek ke semua sudut toko, Abay tidak menemukan keberadaan Mayra. Abay pun kembali meninggalkan toko buku dan berfikir Mayra sudah kembali ke rumahnya.
Sementara Mayra baru saja sampai di rumah Abay.
Rayyan yang mendengar suara pintu di ketuk, Segera beranjak dan membukakannya.
"Kak Mayra."
"Hai Rayyan."
"Apa Kak Mayra datang sendiri?"
"Tidak, Kakak datang dengan Pak Sudhir."
"Lalu Bang Bay?"
"Kenapa bertanya pada Kakak, Bukankah Dia tinggal bersamamu?"
"Iya, Tapi tadi Bang Bay bilang akan pergi menemui Kak Mayra."
"Bahkan Abay juga membohongi Rayyan."batin Mayra.
Abay telah sampai di rumah Mayra.
Ia memanggil Satpam dari luar gerbang untuk mempertanyakan keberadaan Mayra.
"Apa Mayra sudah pulang?"
"Belum Mas."
"Anda tidak sedang membohongi ku kan?"
"Tidak Mas, Kalau tidak percaya, Mas bisa cek sendiri."
"Baiklah " Abay kembali ke motornya dan menepuk keningnya.
"Oh ya ampun, Mayra kan beli buku untuk Misty, Apa Mayra langsung datang ke rumah? Ahh, Kenapa Aku tidak kepikiran sejak awal," ucap Abay yang langsung mengendarai motornya untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...