
Abay yang baru sampai di rumah langsung berlari menarik kerah belakang Yaz dan menonjoknya berkali-kali.
Sedangkan Mayra membangunkan Misty dan menenangkan di pelukannya.
"Beraninya Kau datang kesini dan menyentuh Adik ku! BHUK!!"
"Ini tidak seperti yang Abang lihat." Yaz mencoba menjelaskan namun Abay tidak peduli dan terus memukulinya.
Misty yang melihat Yaz sudah babak belur berlari menghentikan Abannya.
"Cukup Bang, Ini tidak seperti yang Abang lihat."
"Setelah apa yang Dia lakukan padamu kamu masih membelanya?"
Mayra memeluk Abay dan mencoba menenangkan dengan mengusap-usap dadanya.
"Ini tidak seperti yang Abang lihat, Yang Abang lihat tidaklah benar."
"Lalu apa yang benar Misty?!"
"Yaz kesini hanya mau minta maaf padaku."
"Apa begitu caranya meminta maaf?"
"Tenanglah Abay, Dengarkan dulu apa yang akan Misty jelaskan."
Mayra terus mengelus-elus dada Abay agar Ia menahan emosinya.
"Sekarang katakan Misty," ucap Mayra.
"Yas hanya ingin minta maaf Kak."
"Bukankah kamu pernah bilang kalian sudah berbaikan, Kenapa Dia minta maaf lagi?"
"Ya, Tapi karena ancaman Mamahnya Yaz, Aku tidak mau lagi bicara dengannya jadi Dia tidak menerimanya dan datang kesini."
"Lalu yang tadi apa Misty? Kenapa kamu menjerit ketakutan?"
"Tadi Aku tersandung dan berpegangan Yaz tapi Yaz malah ikut jatuh menimpa ku, Karena itu Aku mengingat kejadian itu."
__ADS_1
Suasana menjadi hening.
Dengan sedih Abay memeluk adik perempuannya.
Kemudian menatap Yaz dengan penuh kebencian.
"Kamu lihat Yaz, Setelah Misty memaafkan mu, Bukan berarti Dia bisa melupakan perbuatan mu sepenuhnya."
Yaz hanya bisa menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Misty sekali kagi Aku minta maaf, Aku juga minta maaf padamu Bang, Waktu itu Aku begitu kasar padamu, Ku mohon maafkan Aku, Aku benar-benar menyesal." Yaz bersimpuh meminta maaf pada Abay dan Misty.
Misty melepaskan pelukan Abay dan menatap Yaz dengan Iba.
"Bangunlah Yaz, Aku sudah memaafkan mu."
Namun Yaz yang masih menunggu jawaban dari Abay belum mau bangun dari duduknya.
"Bang..." bujuk Misty.
"Ya baiklah jika Misty sudah memaafkan mu apa yang bisa kulakukan."
Misty menatap Yaz yang belum juga bangun.
Kemudian Mereka saling melihat satu sama lain dan menjadi canggung.
"Duduklah di kursi, Aku akan mengambil kotak obat." titah Misty.
Yaz mengangguk dan menuruti permintaan Misty.
Lima menit kemudian Misty kembali dengan membawa kotak obat di tangannya.
Misty mulai menuangkan cairan antiseptik ke kapas dan membersihkan luka lebam di wajah Yaz.
"Apa ini sangat sakit?"
"Tidak masalah Misty, Ini belum seberapa dibandingkan apa yang telah ku perbuat padamu."
Misty terdiam menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud..."
"Tidak papa Yaz, Aku baik-baik saja." Misty kembali mengobati luka di wajah Yaz, Dan kali ini Misty membersihkan darah di ujung bibirnya.
Yaz terus menatap Misty yang kini berpindah mengompres tulang pipinya yang lebam.
"Aw!" ringis Yaz.
"Maafkan Aku, a6ku akan lebih berhati-hati hati."
Yaz terseyum melihat Misty yang kini mulai peduli padanya.
Misty yang fokus mengobati tidak melihat Yaz yang terus menatapnya dengan lekat.
"Sudah selesai Yaz."
Seolah tak ingin melepaskan pandangannya, Yaz terus menatap Misty tanpa mendengar apa yang Misty katakan.
"Yaz."
"Hah!" Yaz tersentak dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya kesana kemari.
"Sekarang pulanglah, Ini sudah malam."
"Kamu masih marah padaku sampai kamu mengusirku?"
"Tidak sama sekali Yaz, Tapi ini sudah malam."
"Baiklah, Aku akan pulang, Tapi kamu harus janji tidak akan menghindariku lagi."
"Ya baiklah, Aku janji."
Yaz tersenyum bahagia mendengarnya.
Kemudian Ia beranjak dari duduknya dan ingin memeluk Misty. Namun Yaz mengurungkan niatnya dan menggaruk-garuk kepalanya dengan malu-malu.
Misty hanya tersenyum tipis melihat Yaz yang salah tingkah di depannya.
Mayra dan Abay yang mengintip di balik pintu kamarnya tertawa geli melihat tingkah Keduanya.
__ADS_1
Bersambung...