Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Benih Kebencian


__ADS_3

Ibu berlari ke sisi Abay dan menyuruhnya duduk di sofa.


Kemudian menyuruh Misty mengambilkan kotak obat untuk mengobati lukanya.


"Rayyan Ambilkan tisu." perintah Ibu.


Rayyan mengangguk dan mengambilnya. Sementara Misty mengambilkan kotak obat.


Ibu mulai membersihkan darah yang menetes dari hidung dengan menggunakan tisu. Namun Abay mengambil alih tisu dari tangan ibunya dan menyumbat hidungnya dengan menengadahkan kepalanya ke atas agar darah berhenti mengalir.


Kemudian Ibu membersihkan luka-luka di wajah Abay dengan cairan antiseptik.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan sampai Tuan Ravindra semarah itu padamu?"


"Ibu, Aku tidak sengaja melakukannya."


"Apa maksudnya tidak sengaja?"


"Se.. Sebenarnya Aku tidak jadi menemui Mayra, Aku meninggalkan Cafe begitu mendapat pesan dari Nandini."


"Apa yang Kamu lakukan Abay, Kenapa kamu melakukan itu?"


"Ibu, Aku sangat mencintai Nandini, Selama satu bulan ini Aku selalu mencarinya, Menunggu kabar darinya, Jadi begitu Dia mengirimku pesan, Aku langsung menemui Nandini tanpa memikirkan lagi janjiku kepada Mayra."


"Tapi kamu sudah janji jika kamu akan menikahi Mayra dan Mayra telah menepati janjinya dengan membayar semua kuliah mu dan sekolah Adik-adikmu, Tidak adil jika Kamu masih terus mengejar Nandini dan menyakiti Mayra."


"Ibu Aku tau, Tapi Aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku, Aku tidak bisa melupakan Nandini begitu saja lalu dengan mudah mencintai Mayra, Aku butuh waktu."


"Seharusnya kamu sudah memikirkan ini sejak awal, Seharusnya Kamu mendengar nasehat Ibu untuk mencari kerja dan tidak meneruskan kuliah, Tentu semua ini tidak akan terjadi, Mayra tidak akan tersakiti, Kamu bisa bersama Nandini dan Kamu tidak akan mendapat luka seperti ini." Ibu menekan luka Abay dengan kesal dan pergi meninggalkannya.


"Aowhh," ringis Abay.


"Ibu... Ibu..."


Ibu masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Abay memanggilnya.

__ADS_1


Dengan susah payah, Abay pun bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Abay duduk di tepi tempat tidurnya dan memegangi luka di wajahnya sembari mengingat setiap pukulan yang Ayah Mayra lakukan kepadanya.


Abay menggengam kedua tangannya dan merasa kesal pada calon Ayah mertuanya itu.


šŸƒ Pagipun tiba 🌻


Mayra sudah berada di kampus, Ia kembali mengingat bagaimana so sweet nya Abay meminta maaf padanya hingga tanpa Ia sadari bibirnya mengulas senyum. Namun seketika senyumnya terhenti saat mengingat semalaman Ia menunggunya, Tapi Abay tidak kunjung datang menemuinya.


Mayra menarik nafas dalam-dalam dan masuk ke kelasnya.


Ia kembali merasa sedih melihat bangku Abay yang masih kosong padahal jam perjalanan sudah mau di mulai.


Dengan tubuh yang tera lemah, Mayra duduk di bangkunya.


Sedangkan di rumah Abay masih bermalas-malasan dikamarnya,


Abay masih merasa kesal dengan perlakuan Ayah Mayra yang sudah dua kali menghajarnya habis-habisan. Bahkan kekesalannya kini menjalar kepada Mayra yang di fikirkannya selalu mengadukan perbuatannya. Seketika lamunannya buyar saat pintu kamarnya terbuka.


"Kamu tidak kuliah?"


"Kalau begitu, Beristirahatlah Ibu akan berangkat jualan."


Abay hanya diam melihat Ibu meninggalkan kamarnya.


•••


Mayra meninggalkan kampus karena sampai bel berbunyi Abay tidak juga datang. Dengan sedih Mayra kembali ke rumah tanpa mengatakan apapun pada Ayah dan Ibunya ketika mereka berpapasan di pintu.


Ibu menoleh kebelakang dan menyusul Mayra.


"Ada apa Sayang? Kenapa tidak jadi kuliah?"


"Tidak apa-apa Ibu, Aku hanya merasa lelah dan tidak enak badan."


"Kamu yakin tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Jangan khawatir Ibu."


"Baiklah kalau begitu beristirahatlah."


Mayra mengangguk dan pergi ke kamarnya.


"Sepertinya Aku tau kenapa Mayra seperti itu." ucap Ravindra yang langsung bergegas meninggalkan rumah.


"Ayah mau kemana?" pekik Devika yang suaranya tidak di dengar lagi oleh Ravindra yang langsung pergi dengan mobilnya.


•••


Ravindra tiba di rumah Abay dan kembali menggedor-gedor pintu rumahnya.


Bhrukkk.. Bhrukkk... Bhrukkk...!!!


"Keluar Abay!" triak Ravindra.


Abay yang mendengar suara calon Ayah bergegas membukakan pintu.


Abay kembali merasa tegang melihat tatapan tajam calon Ayah mertuanya.


"O-o-o... Om" susah payah Abay mengatakan satu kata itu karena luka yang ada di wajahnya saja masih terasa ngilu.


"Aku tidak akan lama-lama disini, Maka dari itu, Aku tidak akan berbasa-basi lagi kepada mu."


Abay mendengarkannya dengan tegang. Pikirnya apa lagi yang akan calon Ayah mertuanya katakan padanya.


"Kebahagiaanku adalah Putriku dan kebahagiaan Putriku adalah dirimu, meskipun Aku tidak menyukaimu, Tapi Putriku sangat mencintaimu dan Aku tidak ingin melihat Putriku terus menerus merasa sedih karena mu, Jadi sudah ku putuskan, Nikahi Putriku Malam ini juga!!"


Abay tercengang mendengar permintaan calon Ayah mertuanya.


Bersambung...


Yuk Like komen dan hadiahnya, Author lagi semangat banget ini šŸ˜‚šŸ”„

__ADS_1


__ADS_2