
Misty sedang berjalan bersama Suhana menuju kantin dan berpapasan dengan Yaz.
Misty menghentikan langkahnya dan menatap Yaz dengan tajam.
Yaz yang sudah mengetahui kebenarannya menantang tatapan Misty hingga keduanya saling beradu pandang.
Misty kembali melangkah mendekati Yaz,
Yaz pun melangkah mundur untuk menghindarinya, Hingga langkah Yaz terhenti melihat saluran pembuangan air di belakangnya Misty masih melangkah maju untuk membuat Yaz jatuh ke sana.
"Dulu Kau membuatku jatuh kesini, Sekarang Aku akan membuatmu jatuh seperti apa yang telah Kau lakukan padaku!" Misty langsung mendorong tubuh Yaz. Namun dengan sigap Yaz memegang kedua tangan Misty dengan gerakan memutar sehingga dirinya tidak jadi terjatuh ke saluran pembuangan air tersebut.
Misty tersentak melihat tangan Yaz yang memegang kedua tangannya hingga membuat Misty kembali histeris.
"Lepaskan Aku, Lepaskan Aku." triak Misty.
"Tenanglah Misty... Tenanglah." Yaz mencoba menenangkan Misty.
Namun Misty terus menutup kedua telinganya dan berteriak histeris.
"Misty dengarkan Aku!" pekik Yaz.
Misty terdiam menatap Yaz.
"Sekarang dengarkan Aku baik-baik, Hentikan permusuhan ini Misty, hentikan sandiwara mu, Kamu tidak perlu berusaha kuat di depanku, Sekarang kamu bisa jadi dirimu sendiri, Aku akan membantumu dan menebus semua dosa-dosa ku."
"Dosa-dosa mu tidak akan hilang meski apapun yang akan Kau lakukan Yaz!"
"Musty... Tenanglah." Suhana mendekati Misty dan mendekapnya meninggalkan Yaz.
Yaz semakin menyesal melihat keadaan Misty yang sebenarnya.
•••
Abay membuat Mayra duduk di tepi ranjang.
Mayra menatap sedih Abay dengan rasa bersalahnya.
"Apa Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja Mayra, Jangan khawatir."
"Maafkan Aku Abay, Setelah ini Aku janji akan mengikuti kelas memasak agar Aku bisa memasak untuk mu dan keluarga mu."
__ADS_1
"Tidak perlu terburu-buru Mayra, Kita jujur saja pada Ibu kalau kamu tidak bisa masak, Ibu pasti akan memakluminya.
"Tidak Abay, Aku tidak ingin mengecewakan Ibu."
"Tapi jika Kamu terus memasak, Maka Kau akan membahayakan diriku."
"Abayyy... Iiihhh nyebelin." Mayra memukul dada Abay sampai terjatuh di ranjang dengan posisi dirinya berada di atas tubuh Abay.
Mereka menjadi hening dan saling menatap satu sama lain.
Kemudian Abay membalikan tubuhnya dan membuat Mayra di bawah kungkungannya.
Abay mulai membelai wajah Mayra dan menggesek-gesek bulu-bulu halus di rahangnya ke pipi Mayra.
Mayra beringsut mundur merasakan gelinya.
Abay tersenyum dan kembali terdiam menatap Mayra
Mayra semakin berdebar-debar dan tidak bisa diam. Mayra tersus bergerak kesana-kemari mengalihkan kegugupannya.
Abay menekan kedua tangan Mayra untuk menghentikan pergerakannya.
Kemudian Abay menciumi wajah Mayra bertubi-tubi,
Abay tersenyum dan membalas pelukannya dengan erat.
Kemudian Abay menurunkan baju Mayra dan menciumi pundaknya.
Tiba-tiba Abay mengankat wajahnya seakan menahan sesuatu.
"Ada apa Abay?"
"Mayra, Perutku, Perutku sakit sekali Mayra." Abay beranjak bangun dan berlari kekamar mandi.
Tidak lama kemudian Abay keluar dari kamar mandi.
Mayra yang duduk di tepi ranjang menatapnya dengan sedih.
"Oh Tuhan... Ini sakit sekali." Abay kembali berlari kekamar mandi.
"Maafkan Aku Abay, Ini semua karena ku," ucap Mayra pada diri sendiri.
Abay kembali keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Kemudian Abay kembali merasa sakit, Ia pun kembali berlari ke kamar mandi, Hingga berkali-kali Abay keluar masuk kamar mandi hingga tubuhnya terasa lemas dan hampir terjatuh.
"Abayyyy..." Mayra meraih tangan Abay ke pundaknya. Kemudian memapahnya ke tempat tidur.
"Berbaringlah, Aku akan memanggil Dokter." Mayra mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter.
•••
Jam sekolah telah berakhir, Semua murid keluar dari kelasnya.
Yaz masih duduk di bangkunya untuk menunggu Misty.
Misty melirik Yaz yang terus menatapnya.
"Jangan menatap ku seperti itu! Keluar lah!"
"Misty Kita perlu bicara."
"Aku tidak mau bicara dengan mu!"
"Misty..."Yaz ingin menyentuhnya agar Misty tidak keluar. Namun tidak jadi.
"Misty.... Misty..."
Misty tak mendengarkan Yaz dan terus berjalan keluar.
Yaz beranjak dari duduknya dan berlari mengejarnya.
"Misty tidak ada gunanya Kita terus bermusuhan, Itu hanya akan membuatmu tertekan Misty.. Misty..."
Tiba-tiba Misty berhenti dan menatap Yaz dengan tajam.
"Mudah sekali Kamu bicara seperti itu."
"Misty, Aku memang tidak akan pernah tau perasanmu tapi setidaknya berikan Aku kesempatan memperbaiki kesalahanku."
"Memperbaiki? Seperti apa kamu akan memperbaiki?"
Yaz terdiam bingung dan tidak tau harus menjawab apa.
Bersambung...
📌 Masih harus bersabar beberapa bab lagi ya guys 🤣🥵🔥
__ADS_1