Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Di Kira Maling


__ADS_3

Abay sampai dirumahnya.


Ibu yang mendengar suara motor Abay langsung keluar menyambutnya.


"Bagaimana pertemuannya Nak?"


"Semua berjalan dengan baik Ibu, Ayah Mayra menyetujui pernikahan Kami."


"Benarkah itu, Apa Dia tidak menghinamu sama sekali?"


"Tidak Ibu, Mereka sangat baik."


Syukurlah Nak, Semoga semua berjalan dengan lancar."


"Baiklah Ibu Aku akan istirahat di kamar ku."


"Baiklah Nak, Selamat istirahat."


Sampai kamar Abay melempar blazer nya. Kemudian duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali memikirkan semua yang terjadi padanya, Ia sama sekali tidak pernah memikirkan jika dirinya akan menikah semuda itu apa lagi dengan gadis yang tidak Ia cintai. Memikirkan hal itu membuat Abay kembali teringat dengan Nandini dan langsung berusaha menelfonnya. Namun lagi-lagi


Nandini tidak mengangkat telfonnya.


Abay pun bangun dan bergegas keluar untuk mendatangi rumah Nandini.


Sesampainya dirumah Nandini, Abay kembali mencoba menelfonnya sembari terus menatap kamar yang terletak di bagian kanan rumah yang cukup besar dengan satu lantai itu.


Abay yang tidak mendapat jawaban, Turun dari motornya dan mendekati gerbang rumahnya.


Melihat Abay yang tengah malam berdiri di depan gerbang rumah Nandini warga setempat pun mencurigainya.


"Woy mau maling ya." celetuk warga yang lewat depan rumah Nandini.


"Bukan Pak, Saya mau ketemu temen Saya."


"Ketemu temen kok jam tengah malem, Udah gitu ngintai kayak maling lagi."


"Beneran Pak Saya bukan maling,"


"Kalau begitu pergilah, Jangan sampai Kami meneriaki mu maling."


Abay pun melangkah mundur dan meninggalkan rumah Nandini.


•••


Pagi Hari.


Sayup-sayup Abay mendengar suara bising yang mengganggu tidurnya. Perlahan Abay membuka mata dan beranjak dari tidurnya. Kemudian Ia keluar dr kamarnya dan melihat banyak orang mengantarkan berbagai perabotan rumah modern, Buah-buahann dan makanan lainya.


Abay yang baru bangun merasa bingung melihat semua ini.


Kemudian Abay menghampiri Ibu dan Adik-adiknya yang sedang berdiri melihat orang-orang yang sibuk keluar masuk rumahnya.


"Ibu, Apa semua ini?"


"Entah lah Nak, Ibu sendiri tidak mengetahuinya, Ibu tanya sama Mereka, Mereka bilang hanya disuruh oleh Majikannya."

__ADS_1


Belum sempat Abay menjawab, Mayra telah berdiri di depan pintu rumah Mereka.


"Mayra, Jadi semua ini dari mu?"


"Apakah ada orang lain yang lebih mencintaimu daripada cintaku padamu?" tanpa rasa malu pada calon Ibu mertua, Mayra mengekspresikan rasa cintanya di depan Ibu dan calon Adik-adik iparnya.


"Mayra... Kita belum menikah, Kamu tidak perlu melakukan ini semua." Abay merasa tidak nyaman dengan apa yang Mayra berikan pada keluarganya.


"Apa maksudmu blm menikah? E-e.. Ya Kita memang belum menikah tapi Kita akan menikah, Jadi ini langkah pertama Aku memenuhi janji ku kepadamu."


Abay terdiam mendengar jawaban Mayra.


"Yeyyy sepeda baru."


Abay yang mendengar suara Rayyan keluar dan melihat Rayyan yang tengah mencoba sepeda gunung yang harganya mencapai jutaan rupiah.


"Apa lagi ini Mayra?"


"Itu sepeda Abay."


"Ya Aku tau itu sepeda, Tapi kenapa Kamu membelikannya, Yang mahal lagi."


"Itu hanya sepeda Abay, Bukankah Rayyan harus pergi kesekolah baru yang jaraknya cukup jauh?"


Belum sempat Abay menjawab, Kini giliran Misty yang berteriak kegirangan.


"Yeyyyy... Motor baruuuu...." triak Misty.


Abay menarik tangan Mayra dan menjauh dari Mereka.


"Apanya yang berlebihan Abay, Bahkan Aku blm memberikan apapu kepada mu."


"Cukup Mayra, Aku tidak menginginkan ini semua."


"Kamu memang tidak menginginkanya tapi bagaimana dengan Adik-adik mu? Mereka sekarang akan masuk sekolah baru yg arahnya berbeda-beda dan kamu juga akan masuk kuliah, Siapa yang akan mengantarkan Mereka? Kasian kan kalau Mereka naik kendaraan umum?"


Abay terdiam mendengarnya.


"Kenapa kamu keberatan dengan ini semua, Bukankah Kamu sudah menerima lamaran ku, Atau... Kamu berencana membatalkan pernikahan Kita?"


Abay merasa kesal mendengar Mayra menanyakan hal itu.


"Sekarang pergilah mandi, Aku menunggumu."


"Mau kemana?


"Tentu saja mendaftar kuliah, Kemana lagi?"


Tanpa berdebat lagi, Abay masuk ke dalam menuruti perkataan Mayra.


"Kak Mayra, Apa Aku boleh mencoba motornya?" tanya Misty.


"Tentu saja Sayang." Mayra terseyum bahagia melihat Misty dan Rayyan menerima pemberiannya dengan senang hati.


Ibu yang dari tadi memperhatikan Mayra dari kejauhan, Tanpa Ibu sadari mengukir senyum bahagianya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Abay keluar mendekati Ibunya.


"Ada apa, Kenapa Ibu senyum-senyum sendiri?"


"Ibu tidak menyangka Mayra akan sedewasa ini, Dia langsung dekat dengan Adik-adik mu." Ibu menjeda ucapanya.


"Ibu pikir Dia Anak manja yang hanya mencintaimu saja, Tapi ternyata Dia juga begitu tulus pada Adik-adik mu."


Abay terdiam dan ikut menatap Mayra yang tengah bermain dengan kedua Adiknya.


Ibu menoleh ke Abay yang tidak berkedip menatap Mayra.


"Apa yang Kamu pikirkan, Apa Kamu mulai terpesona dengannya?"


"Tidak Ibu, Aku hanya melihat Misty." kilah Abay.


Mayrabpun melihat ke arah Abay yang telah siap.


"Sayang, Sudah dulu ya."


"Oke Kak."


Mayra pun berlari menghampiri Abay dan menganggukkan kepalanya pada calon Ibu mertuanya. Karena terlalu asik ngobrol dengan Abay dan Adik-adiknya, Mayra sampai tidak sempat ngobrol sama calon Ibu mertuanya.


"E-e Abay, Apa kamu sudah siap?"


"Ya."


"Baiklah Ibu, Kami pergi dulu."


"Baiklah, Hati-hati di jalan."


Sepanjang perjalanan, Abay hanya terdiam dengan berbagai macam pikiran yang bermain di kepalanya.


Mayra sendiri pun merasa bingung apa yang harus di bicarakan,


Karena Mayra benar-benar merasa jantungnya berdebar dengan begitu kencang saat Ia duduk di dekat Abay.


Seketika kesunyian berubah saat supir tiba-tiba ngerem mendadak


yang menyebabkan Abay reflek memegangi kedua lengan Mayra agar Ia tidak tersungkur membentur kursi depan.


Tanpa mengatakan apapun keduanya saling berpandangan hingga Mereka tersentak oleh suara Pak supir.


"Maaf Non, Tiba-tiba ada orang menyebrang, Non Mayra tidak apa-apa kan?"


Abay dan Mayra kembali ke tempat duduk masing-masing dengan perasaan canggung.


"Tidak papa, Lain kali hati-hati."


"Baik Non.'


Mayra dan Abay kembali saling melirik dan menjadi salah tingkah saat mata Mereka bertemu.


Bersambung...

__ADS_1


TERUS DUKUNG NOVEL INI BIAR BISA BERUMUR PANJANG 🤣


__ADS_2