
Mayra masuk ke kamar Misty untuk melihat keadaannya.
Tidak seperti sebelumnya kini Misty langsung terseyum melihat kedatangannya, Bahkan Misty menyapa Kakak Iparnya tersebut.
"Hai Kak Mayra."
"Hay Sayang." Ayra duduk di tepi ranjang dan mengusap pipinya.
"Untuk mu." Mayra menyodorkan buku-buku motivasi yang baru saja Ia beli untuk membantu pemulihan Misty.
Misty mengambil alih buku-buku itu dari tangan Mayra dan mulai membukanya.
"Kamu harus baca semua buku ini, Ini akan membuatmu menjadi pribadi yang baru, Kuat dan percaya diri."
"Aku akan membacanya, Terimakasih Kak"
Ibu yang berdiri di bibir pintu tersenyum bahagia melihat ketulusan hati Mayra menyayangi Anak-anaknya.
Setelah melihat keadaan Misty yang semakin membaik, Mayra meninggalkan kamarnya dan berpamitan untuk pulang.
Setelah mobil Mayra meninggalkan rumah Abay,
Selang beberapa menit kemudian Abay sampai rumah.
Abay membuka helmnya dan melihat sekilas mobil Mayra di ujung jalan.
"Jadi Mayra benar kesini?" batin Abay.
Abay yang merasa sudah larut malam untuk kembali ke rumah Mayra memutuskan untuk menemuinya besok. Abay masuk kekamar dan melihat ranjangnya yang kosong. Kemudian Abay mengusap bantal yang kemarin Mayra gunakan dan menghirup aroma yang masih sangat terasa bau harumnya.
š Pagi Hari š»
Mayra telah sampai di kampus. Tidak lama kemudian Abay juga sampai.
Abay yang melihat Mayra langsung berlari mengejar dan berdiri di depannya.
"Mayra..."
Mayra terdiam menatap Abay.
"Mayra maafkan Aku, Semalam Aku datang terlambat, Saat Aku datang Kamu sudah tidak ada, Kemudian Aku ke rumah mu juga tidak ada, Aku pulang ke tumah tapi..."
"Tidak apa-apa." ucap Mayra datar.
Melihat raut wajah Mayra dan jawabannya yang datar, Membuat Abay merasa bersalah dengan menemui Nandini.
Kemudian Abay kembali menguntit Mayra yang terus melangkah meninggalkannya.
"Mayra, Apa Kamu marah padaku?"
__ADS_1
"Apa ada alasan untuk marah padamu?"
Mendengar pertanyaan balik dari Mayra membuat Abay hadi gugup.
"E.. Alasan Apa Mayra?"
"Entahlah Abay, Aku fikir ada alasan lain yg membuatmu terlambat datang menemuiku." dengan tatapan dingin, Mayra langsung meninggalkan Abay.
"Apa Mayra mengetahui jika Aku menui Nandini?" batinnya.
ā¢ā¢ā¢
Bu Guru datang dan menyapa murid-murid yang sudah bersiap menerima pelajaran darinya. Namun sebelum pelajaran di mulai,
Bu Guru menyampaikan kabar tentang Misty yang baru Ia terima dari keluarganya.
"Karena keluarga Misty sudah memberi kabar jika Misty sudah membaik dan akan segera masuk sekolah, Jadi Ibu putuskan Kita tidak perlu datang ke rumahnya."
"Bagaimana jika Misty benar-benar kembali ke sekolah dan mengatakan pada semuanya dan bagaimana jika Ayah dan Ibu tau." batin Yaz yang kembali berkeringat dingin.
"Kita tunggu saja Yaz apa yang akan terjadi padamu setelah Misty kembali kesekolah." batin Suhana menatap tajam Yaz.
ā¢ā¢ā¢
Setelah jam pelajaran selesai, Mayra langsung bergegas keluar kelas tanpa bicara pada Abay.
Abay yang semakin merasa yakin jika Mayra mengetahui tentang pertemuannya dengan Nandini, bergegas mengejar Mayra untuk menjelaskannya.
Mayra tidak menghiraukan Abay dan terus melangkah dengan cepat.
Abay berlari dan menarik tangan Mayra ke sisinya.
Mayra mencoba melepaskan tangannya tapi Mayra begitu kesulitan karena Abay memegang tangannya dengan sangat kuat.
"Lepaskan Aku Abay."
"Aku tidak akan melepaskanmu Mayra!"
"Sungguh? Apa sesulit ini juga Kamu melepaskan hubunganmu dengan Nandini?"
Abay menjadi gugup mendengar ucapan Mayra.
"Apa maksud mu Mayra?"
"Kamu tau betul maksudku." Mayra menginjak kaki Abay dan pergi meninggalkannya.
"Aww... Mayraaa..." Abay kembali mengejar Mayra namun Ia terkejut mendengar namanya ada yang memanggilnya.
"Abayyyy..."
__ADS_1
Abay menoleh ke belakang dan melihat Nandini di sana.
"Nandini Kau! Untuk apa menemui ku lagi?"
"Semalam Kita belum sempat bicara Abay, Jadi Aku..'
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Nandini, Berapa kali Aku katakan, Jangan pernah ganggu hidupku lagi!"
Nandini yang melihat Mayra kembali, langsung memeluk Abay.
"Aku juga sangat merindukanmu Abay, Padahal Kita baru saja bertemu semalam tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun."
"Nandini, Apa-apaan ini, Lepas!" Abay menoleh ke samping dan begitu terkejut melihat Mayra yang berdiri tak jauh darinya.
Abay mendorong tubuh Nandini dengan kasar kemudian Abay mengejar Mayra, Nandini mengikuti di belakangnya dan tersenyum jahat melihat Mereka berdua bertengkar.
"Mayra, Dengarkan Aku apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang Kamu lihat."
"Yang Aku lihat itu adah kebenaranya."
"Mayra kenapa Kamu tidak mengerti Nandini sengaja melakukan ini biar Kita bertengkar."
"Benarkah? Lalu kenapa Kamu nenelfon Nandini dan menyuruhnya segera menemui mu?"
"Telfon? Bahkan Aku tidak memiliki ponsel Mayra, Ponselku telah ku lempar sampai hancur setelah malam itu, Itu sebabnya kalau Aku menelfon mu pake nomer Ibu."
"Tapi Aku melihat sendiri nama mu tertera di ponsel Nandini, Kamu juga menemuinya makanya Kamu terlambat menemui ku, Iya kan?!"
"Dengarkan Aku Mayra, Nandini bisa saja. Menyimpan nomer orang lain dan menggunakan nama ku, Itu bisa saja kan? Aku memang menemuinya tapi hanya.." Mayra langsung berbalik badan membelakangi Abay.
"Semuanya sudah jelas Abay, Kamu belum bisa melupakannya, Kamu masih mencintainya kan?"
"Mayra kumohon dengarkan Aku, Aku belum selesai bicara."
Mayra tidak mendengarkan Abay dan terus melangkah pergi. Abay menoleh ke belakang dan melihat Nandini yang masih menguntitnya.
Dengan kesal Abay menarik tangan Nandini.
"Apa ini rencanamu? Kenapa Kamu terus menggangu hubungan Kami Nandini, Kumohon biarkan Kami hidup tenang, Jangan pernah ganggu Kami lagi!"
"Bukan Aku yang mengganggu Abay, Tapi Dia!" Nandini menunjuk Mayra yang belum melangkah jauh.
"Dia yang mengganggu hubungan Kita Abay, Dia yang merebutmu dariku, Sebelum ada Dia, Kita sudah bersama bertahun-tahun, Tapi kemudian Dia datang dan merebutmu dariku dengan kemewahannya."
"Cukup Nandini! Ini sudah cukup! Aku sudah lelah berdebat denganmu,
Sekarang dengarkan Aku baik-baik, AKU SUDAH TIDAK MENCINTAIMU LAGI, KARNA SEKARANG AKU MENCINTAI MAYRA, ISTRIKU." tegas Abay dengan suara lantangnya.
Nandini tercengang mendengarnya, Begitu pun dengan Mayra yang langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Abay menatap Mayra dari kejauhan, Perasaan yang belum pernah Ia ungkapkan sebelumnya, Kini Ia ucapakan di depan istri dan mantan kekasihnya.
Bersambung...