Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
PHP AGAIN


__ADS_3

Abay bergegas meninggalkan Cafe setelah mendapat pesan Masuk.


Dan beberapa menit kemudian, Mayra sampai ke Cafe.


Mayra mencari-cari dimana Abay menunggunya, Padahal 10 menit yang lalu Abay mengirim pesan jika Ia sudah menunggunya di meja nomer 22. Namun Mayra tak menemukan Abay di sana.


Mayra pun duduk di kursi tersebut dan mencoba menelfon Abay. Namun Abay tidak mengangkatnya.


Kemudian Mayra beranjak dari duduknya dan menanyakan pada salah satu pelayan Cafe.


"E-e, Permisi, Apa tadi ada Pria yang menunggu seseorang di meja ini? Pria itu itu berkulit putih, bermain indah dan..."


"Maaf Nona, Disini banyak pengunjung, Saya tidak tau mana yang Nona maksud."


"E-e... Ini." Mayra menunjukkan foto Abay pada Pelayan.


"Maaf Nona, Saya tidak melihat, Mungkin yang lain melihat."


"Baiklah terimakasih."


"Sama-sama, E-e.. Apa Nona ingin memesan makanan sekalian?"


"Tidak, Nanti saja, Aku masih menunggu temanku."


"Baiklah." Pelayan pun pergi meninggalkan Mayra.


Jam terus berjalan, Pengunjung pun mulai sepi. Namun tidak ada tanda-tanda Abay datang kembali ke Cafe.


Mayra mulai menahan air matanya yang terasa ingin tumpah karena Pria pujaannya tidak kunjung datang.


Karena Cafe yang sudah mau tutup, Pelayan pun menghampiri Mayra


"Nona Cafe Kita akan segera tutup sepertinya teman Nona tidak jadi datang."


Mayra mengangguk dan bangun dari duduknya dengan kekecewaan mendalam lebih dari kemarin.


"Baiklah Aku akan pulang sekarang, Terimakasih karna mengizinkan ku berlama-lama disini," ucap Mayra sambil memberikan tips kepadanya.


Kemudian meninggalkan Cafe.


•••


Abay sampai di restoran sesuai pesan yang Ia terima.

__ADS_1


Ia bergegas masuk dan memperlambat langkahnya ketika melihat gadis berdiri membelakanginya yang tidak asing di matanya.


"Nandini..." lirih Abay.


Gadis itu memutar tubuhnya dan terseyum menatap Abay.


"Kamu mengenaliku, Meskipun hanya dari belakang?"


"Dari sisi manapun Aku bisa mengenalimu."


Nandini berbunga-bunga dan berlari memeluk Abay.


Abay membalas pelukannya dengan erat kemudian membelai rambut panjangnya yang lurus.


"Kamu kemana saja, setiap hari Aku mencarimu?" tanya Abay mengurai pelukannya.


"Maafkan Aku Abay, Terakhir kali Kita bertemu Aku marah padamu, Setelah itu Aku ikut liburan ke Bali bersama keluarga, Karena Aku masih merasa kesal padamu Aku tidak menghubungimu."


"Selama itu Kamu marah padaku?"


"Tidak Abay, Aku hanya marah sesaat, Tapi Aku ingin tau apakah selama Aku tidak menghubungimu Kamu merindukanku?"


"Tentu Aku sangat merindukanmu, Setiap hari setiap menit setiap detik Aku merindukanmu." Abay kembali memeluk Nandini dengan erat.


Dengan setengah berbaring, Nandini bersandar manja di bahu Abay dengan menghadap ke depan., Sementara Abay mendekap erat Nandini meluapkan kerinduannya yang sudah terpendam selama hampir satu bulan.


"Apakah Kamu tau, Aku mencarimu seperti orang gila, Sampai di kira maling, Seperti gelandang, Tapi Kamu sekalipun tidak menghubungiku, Apa Kamu tidak pernah melihat panggilan dan pesan yang setiap hari Aku kirimkan kepada mu?"


Nandini bangun dan menatap Abay.


"Aku tau itu dan Aku menyukainya."


"Apa! Jadi kamu senang melihatku seperti ini?"


"Ya, Aku saaangaaattt menyukainya, Karena meskipun Aku tidak menghubungimu tapi cinta mu padaku tidak berubah, Aku mencintaimu Abay." Nandini kembali memeluk Abay dan di balas pelukan erat dari Abay.


•••


Mayra masuk rumah dan menyeka air matanya.


Mayra tidak ingin Orang tuanya melihat dirinya menangis untuk kedua kalinya karena kekecewaannya pada Abay.


Ibu yang melihat Putrinya pulang segera menyambutnya.

__ADS_1


"Sayang... Kamu sudah pulang, Bagaimana kencan pertamanya?"


"Menyenangkan Ibu, E-e Aku lelah, Aku istirahat dulu."


Ibu menatap punggung Putrinya yang menaiki tangga satu persatu.


Meskipun Mayra mengatakan kencannya menyenangkan namun Ibu merasa Mayra tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ravindra yang baru datang.


"Bukan apa-apa, Tapi Aku melihat kesedihan di wajah Putri Kita."


"Bukannya seharusnya Dia bahagia setelah jalan dengan Pria pujaannya itu?"


"Itulah yang Aku tidak mengerti, Mayra mengatakan kencannya menyenangkan tapi wajahnya tidak menunjukan Dia bahagia."


"Apa lagi yang di lakukan Anak itu pada Putri Kita?"


Dengan kesal, Ravindra keluar menemui supir yang mengantarkan Mayra.


"Sudhir, Kemarilah." pekik Ravindra.


"Ya Tuan."


"Apa yang terjadi pada Putriku, Apa Mayra dan Abay bertengkar? Atau Abay tidak datang lagi?"


"Tidak Tuan, Mas Abay tidak datang, Sampai Non Mayra menunggu hingga Cafe tutup, Mas Abay tidak juga datang menemuinya."


"Kurrang Ajarrr! Sekali lagi Dia menyakiti Putriku!" Ravindra mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.


"Devika!"


"Ya." Devika berlari keluar menghampiri suaminya.


"Tenangkan Putri Kita, Aku akan membeli pelajaran pada Anak kurang ajar itu."


Devika hanya mengangguk pelan tanpa berani melarang Suaminya yang tengah marah besar.


"Dan Kamu Sudhir, Antar Aku sekarang ke rumah Anak kurang Ajar itu."


"Baik Tuan."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2