Suamiku

Suamiku
Part 11


__ADS_3

Ini hari kedua aku di Bali dan ini juga hari terakhir raker, segala Puji dan syukur kuucapkan kepada Illahi, Allah memberikanku kebaikan yang tiada tara, pagi ini aku merasakan suasana hati yang baik.


Kuaktifkan kembali HP, MasyaAllah terlalu banyak notifikasi yang masuk, tapi satupun nggak ada yg ingin aku buka. sampaiku dengar nada notifikasi yg berbeda, aku tau itu pasti dari Mas Jaya, tapi tetap aku nggak ingin membukanya.


Setelah semua aku rasa beres, aku keluar dari kamar. Aku turun ke loby hanya sekedar ingin memesan coklat panas, dan roti bakar.


Sengaja aku memilih duduk sendiri. Hanya ingin menikmati hari saat ini. Jarak tiga meja dari tempatduduk ku, aku melihat Mas Jaya dan beberapa staff yang ada sedang duduk bersama.


Dari kejauhan Mbak Ratna melambaikan tangan, dan menghampiri ku.


" Pagi Zahra, waw.. cantik sekali kamu pagi ini aku harap mood mu juga lagi baik ya. Oh iya, aku ingin memberi sesuatu "


Kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas nya.


" Zahra, ini hadiah ku buat kamu, hadiah pernikahan kamu."


Dia menyerahkan kotak itu langsung ketangan ku.


" Maksud nya apa Mbak? "


" Aku nggak tau kalau kamu istrinya Heru, Heru sengaja mengajak meeting di sini, karena dia baru saja memulai mengembangkan usahanya disini. Melihatmu keluar dari kamar nya kemarin aku sempat memarahinya, aku bilang bahwa kamu adalah wanita bersuami, jangan pernah sekali-kali melecehkan bawahanku. Jawaban Heru membuat aku hampir shock."


Dibulatkannya matanya, sambil memegang dadanya.


" Aku bahagia dia menemukan wanita seperti kamu Zahra, rawat dan jagalah dia, dia orang yang baik. kurangnya dia hanya sulit terbuka saja. Meskipun aku mengenalnya sejak lama, tapi jujur nggak pernah tau apa kemauan nya, karena untuk pribadinya dia benar-benar sangat tertutup, satu-satunya wanita tempatnya bercerita adalah ibu nya."


Sambil Mbak Ratna mengelus pundakku.


Aku hanya tersenyum saja dengan perlakuannya. Memoriku teringat akan cerita Mas Jaya malam itu tentang temannya. Inikah wanita yang pernah diceritakan nya. Lamunanku buyar karena


Seorang pelayan menghampiri kami, mengantarkan pesanan makanan yang kupesan tadi.


Namun karena aku berdua dengan Mbak Ratna, aku urungkan niat untuk sarapan sendiri, pelayan itu ku suruh mengantarkan ke meja dimana Mas Jaya duduk, dan aku memesan lagi, begitu juga dengan Mbak Ratna.


Sambil menunggu pesanan kami tiba, aku dan Mbak Ratna bercerita sambil sedikit bercanda. Sampai akhirnya dia bercerita tentang dirinya, dan tentang paksaan untuk Mas jaya menikahi nya.


Namun karena Mbak Ratna, saat itu menganggap bahwa mas Jaya pembunuh Andi dia sangat membencinya, dia menolak permintaan orang tuanya, terlebih Mas Jaya pun tidak mau.


Namun rasa benci itu menghilang setelah tau bahwa bukan dia pelakunya pembunuh Andi.


Dia juga menceritakan kenapa perusahaan ini bisa berpindah tangan ke Mas Jaya. Tanpa bantuan Mas Jaya dia pasti sudah jadi gembel saat ini.


" Selamat pagi Bu Ratna, selamat pagi Zahra, anda terlihat cantik sekali pagi ini dengan kemeja kuning itu, wajah kamu terlihat cerah dan mempesona."


Ucap Fajar yang menghampiri meja dimana aku dan Mbak Ratna duduk, dan dia juga memilih bergabung bersama kami.


Aku hanya membalas ucapannya dengan senyum yang dipaksakan.


Kulihat Mas Jaya menoleh ke arah kami. Posisi duduk nya pun digeser biar lebih leluasa memandang ke meja kami.


Jam 8.00 pagi ini Raker dimulai, terlebih dahulu aku meninggalkan Mbak Ratna dan Fajar setelah menyelesaikan makan ku, begitu aku berdiri, Mas Jaya juga berdiri.


Pada saat aku berjalan, terasa ada jari-jari yang menyusup disela jariku, aku benar-benar terkejut, pada saat menoleh Mas jaya yang ada disampingku. Sambil menyunggingkan senyum.


" Maaf sayang kalau aku mengagetkanmu. Terima kasih atas roti bakar dan coklat panas nya. Kamu mau kemana?


"Mau ke ruang meeting aja. "


" Zahra... maafkan atas kelakuan burukku kemarin. "


Aku hanya diam saja. Sampai aku dan Mas Jaya masuk kedalam ruangan pertemuan. Belum ada yang datang, karena waktu masih menunjukkan jam 7 lebih 15 menit.


" Kita sudah sampai, duduklah Pak Heru di kursi anda, biarkan saya duduk sendiri."


Tanpa memandangnya, aku langsung duduk di kursiku, dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas.

__ADS_1


Dia yang masih berdiri dibelakangku meletakkan tangannya di pundakku.


" Kamu masih marah denganku Zahra?" sambil dia mengecup puncak kepalaku.


" Duduklah  nggak enak jika nanti ada yang lihat kita seperti ini. "


" Kamu istriku, aku berhak atas dirimu. "


" Hemmm... saat ini aku adalah bawahan mu, dan tidak ada karyawan yang tau aku adalah istrimu. Kamu memang sering mengantarku ke kantor, tapi kamu selalu memakai helmkan."


Aku bediri dari tempat duduku, dan kini berhadapan dengan Mas Jaya. Ku rapihkan dasi nya, setelah itu ku kecup kening nya.


" Jaga wibawamu sebagai seorang pemimpin. Jangan tunjukkan kelemahan dihadapan anak buahmu hanya karena seorang wanita. " Kupegang kedua pipinya dan sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi kecupan dikeningnya.


" Duduklah di kursi anda Pak. Selamat bekerja. " Sekali lagi kukecup keningnya. Ku berikan senyum yang paling baik untuk nya, meskipun aku masih menaruh rasa amarah, tetap aku tidak ingin menjatuhkan reputasi nya. Setelah itu aku kembali duduk ditempat semula.


Saat Mas Jaya duduk dikursinya beberapa orang mulai masuk kedalam ruangan. Sedikit lega hati ku. Setidaknya dia tidak akan banyak bicara lagi.


🌹


🌹


🌹


Tepat jam 11. 25 menit, rapat ini akhirnya selesai juga.


Pada saat semua sudah meninggalkan ruangan, tinggal mbak Ratna dan Mas jaya yang ada, ini waktu yg tepat buatku untuk memberikan surat pengunduran diri.


Kusodorkn surat itu tak lupa sedikit berbasa basi.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Mbak Ratna, dia menyerahkan surat pengunduran diriku pada Mas Jaya. Lama surat itu di tangannya, lama dia menatapku dan juga Mbak Ratna secara bergantian.


"Saya masih membutuhkan anda di perusahaan ini nona Zahra. Saya percayakan perusahaan ini ditangan kalian berdua, saat ini kalian adalah orang kepercayaan saya dan jangan kecewakan saya. " Lalu dia merobek surat pengunduran diriku, dan berjalan meninggalkan ruangan.


Didepan pintu langkahnya terhenti.


Dia berbalik melangkah kearahku. Di kecupnya keningku.


" Jaga calon bayiku, aku mengharapkannya Zahra." lalu dia pergi meninggalkanku dan Mbak Ratna.


Karena acara rakernya sudah selesai dan saat ini adalah jam bebas, beberapa staff yg mengikuti raker itu memilih untuk pesiar.


Senja itu aku ingin menikmati waktu yang tersisa di kota ini, Sepertinya pantai yang tak jauh dari hotel tempatku menginap adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan rasa penatku.


Ku langkahkan kaki menyusuri tepian pantai seorang diri, suara deburan ombak tak ubahnya seperti nyanyian alam yang syahdu, yang membuatku terlena dalam iringan musik yang syahdu.


Sunset di sore ini membuatku sangat mengagumi lukisan sang Ilahi yang tiada tandingannya.


Aku hentikan langkahku, dan memilih duduk dipasir putih ditepi pantai sembari menikmati karya agung sang ilahi. Aku benar-benar terlena.


Sejenak aku mampu melupakan masalah yang hadir dalam hidupku. Aku ingin menyatukan diriku dengan Alam ini, dan itu benar-benar membuat ku terasa Rilex..


" Dari tadi aku memperhatikanmu disini Zahra, Allah Maha sempurna, suasana sore ini benar-benar indah, seindah dirimu." ucap seorang pria yang  tidak pernahku harapkan kehadirannya.


" Anda terlalu berlebihan Pak Fajar. Maaf saya tidak bisa berduaan seperti ini dengan anda. "


Aku berusaha berdiri, tapi tangan laki-laki ini segara memegang pergelangan tanganku dengan keras.


" Zahra, apakah tidak ada kesempatan untukku mendekatimu. Sejak pertama melihatmu, aku mengagumimu Zahra. Dan aku Sangat bahagia pada saat bunga yang kukirim saat itu membuatmu tersenyum. "


Aku benar-benar kaget dengan apa yang di ucapkan nya, kupikir bunga itu dari Mas Jaya.


Aku harus tenang, ini yang tepat aku bicara dengan nya, aku harus membuat dia membuang rasanya terhadapku.


Kutarik nafas dalam-dalam dan membuang nya secara perlahan.

__ADS_1


"Pak Fazar saya sangat berterima kasih atas rasa yang kamu punya terhadap saya. Tapi berilah rasa itu kepada wanita lain. Cukup lah kita hanya sebagai rekan kerja saja. Saya wanita yang sudah bersuami. Maaf kalau saya mengecewakan anda. saya harap kamu bisa lebih berbesar hati.


Mengenai rasa yang anda miliki kesaya, cukuplah hanya kita dan Allah yang tau, saya sangat menghormati anda sebagai seorang laki-laki, maka dari itu saya tidak akan menjatuhkan harga diri anda. Sekali lagi maafkan saya."


Aku berpaling dari nya, melangkah menjauhinya, dari kejauhan aku melihat seorang pria yang sangat kucintai sedang berjalan ke arahku. Aku melihat raut wajahnya seperti menahan rasa kemarah.


" Aku dari tadi mencarimu ternyata kamu lagi asik berduaan dengan laki-laki lain disini. Kamu nuduh aku berselingkuh ternyata kamu sendiri yang berselingkuh dibelakang ku!." Tiba-tiba dia menghardikku, dan pergi berlalu begitu saja.


Aku yang mendapat perkataan seperti itu, cuma bisa diam, kutatap punggung laki-laki yang akan menjadi ayah bagi anakku itu  semakin jauh dan mengecil.


" Sudahlah Zahra, diamkan saja dia. Rasa cemburunya membuatnya kehilangan logika dan akal sehatnya." Ucap batin ku untuk menghibur diri.


Aku susuri kembali hamparan pasir putih yang terbentang dihadapanku, dan kembali ke penginapan. Beberapa kali bule-bule yang kutemui menggodaku walau hanya sekedar mengucapkan Assalamu'alaikum, dan itu hanya kubalas dengan senyuman.


Pada saat aku hendak menutup pintu kamar, sebuah tangan menghalangiku. Aku sempat kaget dan sedikit menjerit, dengan sedikit memakai tenaga dia mendorong pintu. dan berhasil masuk ke kamarku.


" ini aku Zahra, suami mu."


" Kau gila buat aku ketakutan begini. " Kupukul pelan dadanya.


Kubiarkan dia masuk dan menutup pintu, aku segera membuka jilbab yang ku kenakan, setelah itu membersihkn muka dari sisa make-up yang kupakai.


Aku tau Mas Jaya memperhatikanku, dan aku juga nggak ingin bicara apapun saat ini dengannya.


Selesai membersihkan muka ku, aku beranjak dari tempat duduk ku.


" Mau kemana?"  Tanya Mas Jaya dengan nada suara datar. Kuarahkan pandangan kepadanya.


" Aku mau mandi. Kamu mau ikut? " Jawabku asal, lalu mengambil handuk, dan masuk ke kamar mandi.


Di bawah guyuran air yang keluar dari shower aku lepaskan tangisku, terlalu sakit pada saat dia menuduhku mengkhianatinya.


Aku melihat pribadinya yang benar-benar berbeda, biasanya dia begitu bersikap tenang, tidak gegabah menyimpulkan sesuatu.


"Aku sangat mencintaimu Mas. Aku masih kecewa dengan pengakuanmu yang sempat meragukan cintaku" ucapku Lirih.


tiba-tiba Kurasakan sepasang tangan memegang pundakku, dan memberikan kecupan lembut disalah satu pundaku.


Aku yang sempat larut dengan perasaan yang kacau tersadar dan sempat menjerit.


" Ini aku Zahra, jangan takut seperti ini". Ucapnya pelan.


Perlahan kurasakan tangan yg berada dipundakku berpindah turun menyusuri lenganku, sampai akhirnya tangan itu berhenti dipinggang dan menarik tubuhku untuk lebih rapat ketubuhnya.


Ku rasakan hembusan nafas yang hangat ditelingaku.


"Bukan hanya kamu yang punya cinta, aku juga. Aku takut kehilanganmu, rasa cemburuku membunuh semua pikiran logis ku." Ucapnya lembut ditelingaku, lalu mengecup lembut.


"Massss.. jangan begini.." Ucapku pelan pada saat kurasakan bibirnya menelusuri leherku, dan kembali mengecup lembut telingaku.


"Hemmm.. Diamlah... "


Dibalikkanya tubuhku, menghadapnya. Lalu dikecupnya lembut keningku, perlahan kecupan itu turun dikedua kelopak mataku. Diletakkannya wajahnya menyentuh wajahku. Lama dia menatap mataku.


"Zahraaa.. " Kurasakan suaranya udah berada dikerongkongan.


Aku yang dipanggil hanya menutup mataku. Saat itu suasana hatiku benar-benar tidak menentu, kugigit pelan bibirku untuk menahan gejolak aliran darahku yang mempompa begitu kencang.


Kurasakan jarinya mengusap lembut pipiku, dan berpindah perlahan jari itu mengusap bibirku.


Sampai akhirnya jari-jari itu berganti dengan bibirnya, dia mencium dan mengulum lembut bibirku. Aku nggak tau harus berbuat apa saat itu. Syaraf ditubuhku saat itu mengikuti semua alur tubuhku. Sampai Rasanya aku hampir kehabisan nafas.


"Istriku cantik sekali, dengan muka memerah seperti ini. Kamu tau Zahra, air yang turun ini nggak bisa mendinginkan suhu tubuhku yang sedang terbakar saat ini." Ucapnya disela dia melepaskan ciumanya dibibirku.


"Kamu banyak bicara. Apa kamu mau mandi dengan pakaian lengkap begini!" Kutarik kemeja yang dikenakannya, dan menenggelamkan wajahku didalam dada bidangnya. Aku benar-benar malu atas perkataannya.

__ADS_1


"Aku suka kalau kamu bersikap malu-malu seperti ini, tapi kadang-kadang istriku sering nggak tau malu kalau sudah berdua dengan ku." Ucapnya sambil memelukku dengan erat dan meciumi setiap inci wajah ku.


__ADS_2