Suamiku

Suamiku
Part 39


__ADS_3

Ini malam yang kesekian kalinya Doni makan malam di rumah, Mama juga terlihat sangat sayang dengannya, malam ini semua keluarga ngumpul, Kak Ayu suami dan anak sambungnya.


Siang hari sebelum Mama dan Ulan serta Bi Yanti pergi beli keperluan bayi, Mas Jaya udah bicara dengan Wulan, bahwa dia akan menjodohkan Wulan dengan Doni.


Malam ini setelah makan malam Mas Jaya akan membicarakan ini pada Doni. Namun apapun keputusannya nanti Wulan harus berlapang dada menerimanya.


" Kamu benar siap? Nggak mudah menjalaninya Dek. Bukan Kakak menghalangi niatan baik ini, namun yakinkan dulu hatimu, setidaknya Istiqoroh dulu. Kakak aja minta waktu satu tahun saat itu." Sedikit masukan kuberikan pada Wulan.


"Mas, tiap-tiap orang punya jalan hidup yang berbeda, kamu sama Doni beda, begitu juga Wulan denganku." Kualihkan penbicaraanku pada Mas Jaya.


Mas Jaya tersenyum mendengar perkataanku.


" Iya sayang aku ngerti, cium aku dulu" Ucapnya setelah itu, dihadapan Ulan dan Mama.


" Nggak tau malu kamu!" Lalu ku tinggal pergi.


Setelah makan Malam Mas Jaya duduk bersama Doni dan Suami Kak Ayu. Di bersandar disandaran kursi menyilangkan kakinya, dan kedua tangannya diletakkan diatas lengan kursi yang didudukinya. Eksekusi dimulai. Dalam hatiku, melihat dia duduk seperti itu.


" Don, usia kamu udah berapa?"


Doni yang mendapat pertanyaan itu, langsung duduk menghadap Mas Jaya.


" 27 tahun Pak."


" Usia seperti mu sudah layak menikah, kalau kamu punya calon atau ada yang kamu suka, katakan saja kita lamar dia. Anggap saja kita keluargamu."


Doni menatap Mas Jaya dengan seksama.


"Ada Pak, saya ada menyukai seorang wanita, tapi belum menjadi calon."


" Siapa?"


" Maaf Pak kalau saya lancang, saya suka dengan Mbak Ulan."


Semua yang ada diatas rumah itu saling pandang. Aku lekat-lekat memandang suamiku itu, tidak ada sedikit  senyumpun dalam dari bibirnya, bukannya dia terniat menjodohkan Wulan dengan Doni.


" Kamu sadar dengan ucapan kamu?" Tanya Mas Jaya datar.


" Sadar Pak, Bapak bertanya saya jawab dengan jujur. Sebelumnya saja juga sudah minta maaf atas kelancangan saya. Jika keluarga ini nggak menerima, setidaknya saya nggak tersiksa dengan perasaan saya, nggak sakit hati dan kecewa kalau Mbak Ulan menikah."


"Siapapun laki-laki yang akan menikahi adik saya, saya tidak akan membiarkan Adik saya keluar dari rumah ini. Dan kamu bukan tipe orang yang mau bergantung kepada orang lain. "


" Dan kamu juga punya apa. Simpan rasa kamu berikan saja kepada yang lebih pantas." Mas Jaya lalu mengambil gelas yang berisi teh manis, dan meneguk isinya.


" Saya memang nggak punya apa-apa Pak, namun saya bekerja untuk punya, setidaknya saya bangga saya bisa menyelesaikan pendidikan saya sampai sarjana dari hasil keringat saya sendiri, dari hasil kerja saya tanpa harus jadi penjilat Pak."


Doni sedikit terpancing rasa emosinya mendengar ucapan Mas Jaya yang sedikit merendahkannya.


Mas Jaya mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Oke, Wanita yang kamu suka adalah Wulan. Saya sebagai Abang dan merangkap sebagai walinya mengatakan jangan pernah berpikiran untuk tidak meraih impianmu." Mas Jaya langsung berdiri dan mengajakku ke kamar.

__ADS_1


Aku yang mendengar kalimat terakhir Mas Jaya, tersenyum dan mencium pipi Ulan.


Lalu bangun dari dudukku, menuju kamar. Dia yang masuk terlebih dahulu, menungguku dibalik pintu.


" Kau membuat orang menjadi tegang, Mas." Kusandarkan tubuhku dibadannya, dan dia merangkul dan mengecup keningku.


" Biarkan mereka mencerna kata-kataku. Ternyata kau lebih pintar dari mereka."


"Jangan pernah bermimpi untuk tidak meraih impianmu, artinya kau menyuruhnya bermimpi dan mengejar impiannya kan. Otakku masih bisa berfungsi dengan baik Tuan Heru Sanjaya." Kubenamkan wajahku diantara dada dan pangkal lengannya, aku tau dia sudah merasa sedikit geli.


Mas Jaya mengajakku untuk istrirahat, meski Wulan sibuk mengetuk pintu kamarku.


******


Pagi harinya Mas Jaya sengaja melarangku untuk keluar setelah Shalat Subuh. Dia mau tau sepenasaran apa mereka dengan ucapannya kemarin. lagi-lagi Wulan mengetuk pintu kamarku.


"Mas, kasihan Wulan." Mas jaya, masih saja mengajak calon Baby nya bicara, sesekali da mengecup perutku.


"Kau terlihat sexy seperti ini sayang." Ucapnya dengan wajah  yang berada sejajar dengan perutku.


"Sayang, aku mau setelah kamu lahiran, kamu kuliah. Bantu aku mengelola perkebunan ini, aku ingin mempercayakan perkebunan sayur dan buah ini padamu. Wulan suami Kak ayu, akan aku jadikan mitra disini. mas Jaya duduk disisi tempat tidur setelah mengecup perutku.


" Kalau begitu disini kita harus profesional dong."


Dia mengangkat kedua bahunya.


"Oke, dengan kata lain Pak Heru menawarkan saya kerjasama. Maka kita bicara bisnis, jika sudah begitu maka kita akan bicara angka dong.


Mungkin harga yang saya tawarkan akan terlihat sangat fantastis, dan itu saya rasa harga yang cocok, kerena mengingat dan  menimbang, waktu saya akan terbuang sekian detik, sekian menit, sekian jam untuk merawat anak dan suami saya.


Kalau kata para pembisnis itu Time Is Money" Ucapku sambil berdiri seolah-oleh lagi mempresintasikan suatu penawaran kerjasama.


"Oke deal, kerja sama ini saya terima, jika hasil yang kamu berikan tidak bisa memuaskan saya, maka anda harus membayar ganti rugi kepada saya. Saya tau suami anda hanya seorang tukang parkir Nona Zahra, dia tidak akan ada uang lebih untuk membayar ganti rugi hasil perbuatan anda, maka anda harus membayar dengan.... "


Dia memutuskan kalimatnya, tapi pandangan matanya memandangku dari atas sampai bawah dengan pandangan melecehkan. Lalu dia pergi meninggalkanku.


Disaat dia mau membuka pintu, dia sempat berhenti dan menolehkan kepalanya memandangku.


" Kau mesum Tuan Heru Sanjaya."


" Dan aku yakin seribu persen, bahkan dengan nilai tak terhingga kau suka dengan kemesumanku sayang, muach"


Dikedipkannya satu matanya dan menghilang dibalik pintu.


"Kau memang pria yang unik Mas." Ucapku pada diri sendiri dan tersenyum.


Aku segera keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain. Disana kulihat Wulan yang sedang berdiri dibelakang abangnya dengan melingkarkan tangannya diatas bahu Mas Jaya.


"Sayang duduklah sini." Dipukulnya pelan kursi yang kosong disampingnya.


Seminggu lagi kita akan nikahkan Wulan, Nanti malam Doni akan datang membawa lamaran untuk Wulan. Kupeluk erat Adik iparku itu. Menjelang siang, Kak Ayu dan Wulan pergi keladang. Tinggal aku Mama dan Mas Jaya.

__ADS_1


Mas Jaya pindah disisi lain Mamanya. Akupun bergeser mendekatinya, sesuai dengan permintaanya.


"Zahra, Mama ucapkan terima kasih banyak, udah bawa Anak Mama kembali, apapun yang Mama buat sama kamu, nggak bisa terbalas dengan apa yang udah kamu korbankan dalam hidupmu.


Mama pernah bilang bahwa anak Mama bukan laki-laki yang baik, tapi Mama sebagai Ibunya lebih tau tabiat dia."


Kulihat butiran kristal disudut matanya.


" Makasih banyak memberikanku kasih sayang yang nggak pernah kudapat selama ini dari ibuku. Terimakasih banyak menerimaku didalam keluarga ini." Ucapku dengan air mata yang mengalir.


"Masa lalu Heru tidak baik, tapi kamu mampu menerima dan masih menyayanginya, masih mau merawatnya. Mama udah tua, suatu saat Mama pasti akan menyusul Papa.


Dia anak Mama lelaki satu-satunya, Mama akui Mama nggak adil memberikan kasih sayang, sampai Kakaknya merasa Mama lebih perhatikan Heru dan Wulan." Berkali-kali Mama menciumi wajahku.


Pada saat Mama memelukku, Mas Jaya yang ada dibelakang Mama memandangiku, dengan tersenyum. Dihapusnya airmata dipipiku.


Setelah Mama melepaskan pelukannya, Mas Jaya memintaku duduk dipangkuannya.


"Kau terlihat jelek kalau nangis Zahra, jadi aku mohon jangan menangis, kalau kau menangis anakku nanti lahir jadi orang yang cengeng."


"Aku nangis karena aku bahagia sayang, bukan karena aku sedih."


Kukecup lama keningnya.


"Mas, kalau aku melahirkan, kalau bisa sebelum aku melahirkan, bolehkah aku minta Ibuku tinggal disini, dan bolehkah aku tidur dengannya beberapa hari.


Aku ingin berterima kasih pada Ibuku, kalau dia nggak memperlakukanku seperti yang dia lakukan saat sekarang ini, aku nggak akan menjadi Zahra yang kamu kenal.


Mungkin dimata orang lain dia salah, dan Ibu yang kejam buatku, saat sekarang aku mengambil hikmah dari buah yang ditanamnya. Dia menginginkan aku menjadi kwalitas yang baik.


Sama halnya denganmu, kamu ingin selalu menjadi terbaik, tapi metode alam yang menjadi gurumu, tidak baik mengajar kehidupan padamu. Tapi kita bisa sama-sama mengambil hikmah yang terjadi. Dan Allah bilang dalam firman-Nya hanya orang yang menggunakan akalnya yang akan bisa mengambil hikmah itu."


"Dari mana kau bisa memahami semua ini?"


" Aku belajar, Aku membaca, dari banyaknya aku membaca, aku tau semua ini. Apapun aku baca, majalah, koran, apapun itu medianya. Aku belajar membaca gerak tubuh dari wanita-wanita yang bekerja sebagai PSK, dan aku praktekan padamu. Kau halal buatku, kenapa aku harus malu melakukannya padamu, dan aku harus total dalam pekerjaanku melayanimu, kalau tidak, kau akan diambil yang kwalitasnya bisa lebih baik, atau bahkan lebih jelek dari aku.


"Kalau udah seprofesional ini aku bekerja dan kau masih memilih kwalitas lebih buruk dariku, berarti matamu yang melek, tapi akalmu yang nggak berjalan. Karena hanya manusia bodoh yang suka cari penyakit."


"Aku bangga punya istri sepertimu Zahra." Dikecupnya sekilas bibirku.


"Aku nggak bangga punya suami sepertimu." Seketika Mas Jaya langsung membesarkan matanya.


" Biasa aja matanya nggak usah melotot gitu." Ucapku sambil menepuk pelan pipinya.


Aku saaaaaaaaaaannnnngggggggaaaattt dan saaaanggattt bangga punya suami sepertimu." Kuletakkan wajahku tepat diwajahnya, lalu kukecup bibirnya.


"Dan sekarang aku lapar Mas..." Dengan posisi yang masih sama.


"Dia cemburu kau bermanja denganku, makanya dia mengganggumu" Diusapnya lembut perutku.


"Iya, papanya nggak boleh lama-lama memangku mamanya." Aku beranjak dari pangkuan Mas Jaya.

__ADS_1


Segala perbuatan buruk itu memang nggak harus dibalas buruk, semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Hal baik akan menjadi buruk, jika kita memandang itu dari sudut yang buruk, dan baik jika memandang dari sudut yang baik. Hanya fitnah yang nggak bisa dilihat dari sisi kebaikan. Makanya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.


__ADS_2