
ππππ
Pagi ini langit diatas tempat tinggalku, sangat cerah.
Sebelumnya, Mas Jaya nggak pernah membicarakan hal ini padaku, pulang dari pasar, dia meminta Bi Ijah mengemasi semua pakaian anak-anak dan pakaian Bi Ijah. Mama juga nggak luput dari ajakannya.
"Kamu mandi aja sayang, pakaian kamu di Jakarta masih ada kan?" Tanya nya.
" Kamu mau pindah sekarang? Dadakan gini?" Bukan menjawab pertanyaan Mas Jaya aku malah balik bertanya.
"Kamu sejak jadi Mak-Mak tambah bawel aja" Mas Jaya langsung memelukku.
"Kita ke Jakarta, Ratna mau melahirkan, aku harus menggantikan dia di kantor untuk sementara. Sementara Mama ikut karena mau menemani dia melahirkan, bagaimanapun diakan keponakan Mama" Ucapnya lalu mengecup keningku.
Aku langsung mandi. Disaat keluar dari kamar, ku lihat Doni sudah duduk di meja makan, bersama Mas Jaya. Queen sedang duduk dipangkuannya.
"Wulan nggak ikut?" Tanyaku pada Doni, disaat aku hanya melihat dia datang sendirian.
"Ada Mbak, dia di rumah Kak Ayu"
Queen mulai bertanya mau pergi kemana. Rindu sudah diberitahu Mas Jaya kalau dia nanti akan sering dibawa main ke panti, dan itu sudah membuat Rindu tau kalau dia akan pergi kemana.
Rindu yang duduk disebelah Mas Jaya, dan sedang memegang buku membuka dan mulai mengeja huruf perhuruf yang tertera dibuku yang dia baca.
Queen yang sibuk dengan mainan ditangannya sama sekali tidak memandang Rindu, atau siapapun yang ada disekelilignya.
Disaat Rindu mengeja kata "Bola" dan ingin membacanya, Queen langsung bersuara "Capek".
"Bola Dek, bukan capek" Ucap Rindu.
"Embak capek baca terus" Jawabnya.
Mas Jaya yang duduk dihadapan Queen langsung tarik nafas berat, dibuat Queensha. Mama yang duduk di sebelah Queenpun langsung tersenyum.
"Yang capek itu kamu, main nggak selesai" Ucapku pada Queen, dan menggendongnya.
Dalam perjalanan Putri kecilku itu tak henti-hentinya bertanya melihat apa-apa yang dilihatnya. Disaat melewati jalanan yang sedikit macet, dan ada penjual peuyem, dan itupun tak luput dari pertanyaannya.
"Itu apa Mama?"
"Peuyeum" jawabku.
Tapi karena dia nggak bisa mengulang apa yang ku katakan, Queen memukul dadaku dan menyuruh mengulang apa yang kuucapkan tadi.
"Peuyeum, Queen" Jawabku setelah berulang-ulang mengucapkan yang dia mau.
Berkali-kali dia mengucapkan tapi nggak bisa juga, dan membuat yang lain tertawa, ahirnya Mas Jaya bersuara juga.
"Tapai Queen" Ucap Mas Jaya.
"Mama, bohong yaaaa, itu tapai bukan iyem"Ucapnya, lalu minta pindah duduk dijok depan bersama Papanya.
Wulan yang sehari-hari menjadi teman berantem Queen, baru merasa akan sangat merindukan keponakannya. Para pekerja juga sangat kehilangan dia.
Pada saat baru keluar dari rumah Mama, Mang Jajang yang anak ayamnya pernah dipencet Queen sampai mati, sempat menangis, karena akan merindukan putriku itu.
"Mamang teh, kalau kamu ada, suka nyeri hate ngelihat kelauan kamu, tapi sehari nggak ngedengar kamu buat ulah, suka rindu." Ucap tetanggaku itu, dengan logat Sundanya yang khas, pada saat Queen dan Rindu mencium tangannya.
Hampir Jam lima sore, kami baru sampai dikediaman Mbak Ratna.
Selama enam tahun pernikahanku, Baru kali ini aku datang ke rumah Mbak Ratna.
Mbak Ratna dan Pak Fajar menyambut kedatangan kami. Di halaman rumah yang luas dan asri yang banyak dipenuhi oleh tanaman anggrek itu terdapat kandang kelinci. Dan itu adalah pusat perhatian pertama Queen pada saat masuk di area rumah mantan Boss ku itu.
Aku bahagia melihat, Mbak Ratna akan menjadi seorang Ibu, dan aku juga bahagia akhirnya Pak Fajar menemukan pelabuhan hatinya.
"Saya kembali ke rumah ini lagi, Pak" Ucap Bi Ijah pada Mas Jaya.
Teman Bi Ijah yang dulu sama-sama bekerja di rumah Mbak Ratna sudah berhenti, yang ada pekerja baru. Hanya satpam saja yang kenal dengan Bi Ijah.
"Nostalgia ya Bi" Bisikku pada Bi Ijah.
Queen yang melihat Mbak Ratna dengan perut yang membesar, hanya memandangi saja.
"Queensha udah gede aja. Tante udah lama nggak main ke rumah Queen ya" Ucap Mbak Ratna sama Queen.
Namun Queen hanya diam saja, tidak bicara apapun.
__ADS_1
Setelah memandikan kedua putriku itu, aku dan mememberinya makan di taman belakang rumah.
"Mama kita nggak pulang?" Tanya Queen.
Mas Jaya yang mendengar Queen bertanya, langsung menggendongnya.
"Kita nggak pulang sayang"
Banyak, pertanyaan yang Queen ajukan pada Papanya. Aku dan Rindu hanya tertawa mendengar semua pertanyaannya.
Selesai makan malam, semua berkumpul di ruang tengah, bercerita seputar hal-hal masa lalu. Aku duduk disebelah Mbak Ratna dengan memangku Queen. Beberapa kali Queen menusuk pelan perut Mbak Ratna.
Mbak Ratna yang merasa Queen menyentuh perutnya, langsung bertanya.
"Kenapa Queen?" Tanya Mbak Ratna.
Queen yang ditanya, langsung merangkulku kuat.
"Mama perut tantenya, kenapa besar? Tantenya banyak makan ya?" Tanya Queen berbisik padaku.
Aku sempat tercekat mendengar pertanyaannya. Kalau aku bilang, disana ada dedek bayi, aku takut dia akan bertanya lebih jauh lagi.
Mbak Ratna yang melihat Queen selalu berbisik-bisik denganku sedikit penasaran.
"Queen mau tanya apa? Dari tadi Tante lihat bisik-bisik terus sama Mamanya" tanya Mbak Ratna.
Queen memandangiku, dan Mbak Ratna bergantian.
"Tante makannya banyak ya?" Tanya Queen dengan polosnya.
"Kata Papa, kalau banyak makan, perutnya jadi gendut" Ucapnya polos.
Aku dan Mbak Ratna mengalihkan pandangan pada Mas Jaya.
"Dalam perut Tantenya ada dedek bayinya Queen"Ucap Mas Jaya.Β Mendengar ucapan Mas Jaya, aku jadi sedikit was-was.
"Dari mana masuk dedek bayinya? Mau lihat." Tanya Queen lagi.
Semua mata jadi mengalihkan pandangan pada Mas Jaya. Mas Jaya mengusap wajahnya, mendengar pertanyaan Queen.
"Aku angkat tangan Mas, kamu yang jawab deh" Aku pindahkan Queen duduk dipangkuan Mas Jaya.
Akhirnya Mama membawa Queen dan Rindu ke kamar, untuk mengajak tidur keduanya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mas Jaya mengajakku berjalan kearah taman, untuk menghirup udara diluar rumah.
"Aku rindu rumah kita Zahra, besok kita pulang ke rumah kita yang lama yah." Ucap Mas Jaya dan merangkulku dalam pelukannya.
"Mama bagaimana? Mama nggak bisa jauh dari cucunya, dan Mbak Ratna juga membutuhkan Mama"
"Kamu sudah terlalu banyak mengalah Zahra, aku juga ingin membahagiakan kamu" Mas Jaya menarikku, dan mengajakku duduk dibangku taman.
"Zahra, aku rindu masa-masa kita seperti dulu, dimana hanya ada kita berdua." Ku pandangi wajah Mas Jaya, sambil tersenyum dan mengerutkan alisku.
"Hehehehe aku kadang cemburu sama Queen, dia benar-benar punya cara tersendiri menarik perhatianmu." Dialihkan wajahnya dari pandanganku.
"Rasanya terdengar konyol, tapi itulah yang kurasakan saat ini" Mas Jaya menundukkan wajahnya, dan terlihat senyum tipis dibibirnya.
"Maafkan aku yang kurang memperhatikanmu ya Mas"
Ku arahkan wajah Mas Jaya agar pandangannya mengarah padaku dengan memegang kedua pipinya. Meskipun saat itu hanya ada pantulan cahaya bulan, tapi bisa kulihat sorot mata yang merindukan kehangatan.
"Terima kasih sudah merawat putriku dengan baik Zahra. Nggak seharusnya aku bicara seperti tadi, maafkan aku" Diadukannya kepalanya dijidadku sedikit kuat.
"Sakit tau!" Ucapku sedikit cemberut.
"Sekarang aku mau tanya, jawab yang jujur, biar aku juga ngerti dan faham, kamu maunya sekarang apa?" Tanyaku lalu menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Aku ingin sehari saja ada waktu untuk kita hanya berdua, kita jalan-jalan, makan, kemana-mana hanya kita berdua saja, tidak ingin yang lain-lain, seperti awal-awal kita menikah dulu" Jawabnya.
"Kapan Kamu mulai kerja Mas?" Tanyaku lagi.
"Dua hari lagi" Jawabnya.
"Kalau gitu ayok kita ke taman kompleks ini, kita jalan-jalan berdua, sekali-sekali kita memang perlu waktu untuk itu"
__ADS_1
Aku dan Mas Jaya, akhirnya keluar dari rumah, Jalan kaki kurang lebih lima belas menit, untuk sampai di taman kompleks.
Masih banyak orang yang menjajakan makanan disana. Sementara Mas Jaya memesan Sate, aku lebih memilih makan cilok.
Pada saat sate pesanan Mas Jaya datang, siabang pedagang sate sempat bertanya yang buat aku menahan tawa.
"Istri mudanya ya bang?"
Lalu siabang penjual sate pergi sambil tersenyum.
"Aku setua itukah, sampai dia bilang begitu?" Tanya Mas Jaya.
"Kamu itu nggak tua sayang, aku aja yang kemudaan"
"Dasar kamu" Ucapnya lalu mengusap kepalaku.
Nggak kerasa sekitaran jam satu dinihari aku baru sampai di rumah. Aku dan Mas Jaya melihat Mbak Ratna yang berjalan mondar mandir diruang TV.
"Belum tidur Mbak" Tanyaku
"Perutku agak mules Zahra, punggung dan pinggangku rasanya pegel baget" Jawabnya sambil meringis.
Aku dan Mas Jaya saling pandang.
"Jangan-jangan mau lahiran" Ucap Mas Jaya.
Aku segera membangunkan Mama, nggak ada yang membangunkan Pak Fajar, sampai kami berangkat ke rumah sakit.
Mendengar suara Mbak Ratna sedang berjuang untuk melahirkan, aku selalu memandangi Mas Jaya.
"Kenapa memandangku begitu?"
"Aku inget kamu, waktu mau ngelahirin Queen"
Diraihnya kepalaku, dan dikecup berkali-kali.
Mbak Ratna melahirkan dengan normal, anaknya berjenis kelamin laki-laki. Tiga hari sudah Mbak Ratna ada di rumah sakit. Pada saat Mbak Ratna baruΒ sampai di rumah, dan hendak keluar dari mobil, aku menyambut sibaby dan menggendongnya. Semua yang ada di rumah menyambut kedatangan Mbak Ratna dengan bahagia.
"Mama, Queen nangis" Rindu menghampiriku yang masih menggendong putra Mbak Ratna.
Segera ku serahkan si Baby ketangan Mama. Lalu pergi ke kamar, dengan Rindu.
Aku lihat Queen sedang nangis, dipojokan tempat tidur. Lalu aku dekati dan menggendongnya.
"Anak Mama nangis kenapa?" Ku usap air mata yang membasahi pipinya.
Bukan menjawabku, Queen malah memukuliku.
"Adek nangis kenapa sayang?" Terpaksa kulontarkan pertanyaan pada Rindu.
"Waktu Mama cium adek bayinya Queen langsung nangis" Jawab Rindu.
Mendengar jawaban Rindu aku hanya bisa tersenyum. 'Anak dan Bapak, kalau cemburu nggak pernah bisa meletakkan pada tempatnya.' Bisik hatiku.
Kudekap tubuh mungil putriku itu. Menciumi puncak kepalanya berkali-kali, sambil mengusap punggung Queen. Perlahan tangisnyapun mereda, yang kedengaran hanya suara isak saja.
'Rasa cemburu kamu dan Papamu itu selalu menyakiti Mama Queen, meski begitu kalian adalah harta yang paling berharga dalam hidup Mama'
Sampai sore Queen nggak mau mendekat pada putra Mbak Ratna. Dengan Neneknya Queen juga menghindar. Karena Mama lebih fokus mengurus Mbak Ratna dan bayinya.
Rindu yang sangat senang dengan adanya anak Mbak Ratna, juga dimusuhi Queen.
"Dia kenapa?" Tanya Mas Jaya padaku, setelah dia baru selesai mandi.
"Dia sama dengan Papanya, kalau cemburu mengerikan" Jawabku sambil mencium pipi Mas Jaya.
"Ak...." Belum sempat Mas Jaya melanjutkan kata-katanya sudah langsung kupotong.
"Aku nggak gitu, pasti mau bilang gitukan" Ucapku padanya.
"Dulu kamu pernah cemburu sama Pak Fajar, saat ini putrimu cemburu pada putranya. Kalian berdua kalau cemburu menyiksa bathinku Mas"
Mendengar ucapanku Mas Jaya hanya tersenyum, dan pergi meninggalkanku.
"Zahra" Mas Jaya memanggilku dan berdiri didepan pintu.
"Ya" Ucapku, pada saat berbalik menghadapnya.
__ADS_1
"Kau milikku, sulit rasanya berbagi, termasuk dengan putriku sendiri" Ucapnya sambil tersenyum, dan menutup pintu kembali.
Aku yang mendengar perkataannya cuma bisa tersenyum. 'Kalian berdua memang unik Mas' Bisik hatiku