
Sudah seminggu kejadian malam itu kini Indra dan Indri semakin dekat , sifat dingin yang selalu dikeluarkan Indri pela pelan lunak karena sifat manis Indra .
Apalagi kehadiran Bunda Lela membuat mereka semakin dekat. bagaimanapun tidak, Bunda Lela gencar terus mendekatkan keduanya , dengan alasan yang berbagai macam .
Ayah Leo pun sampai pusing dibuatnya , untung saja Indri menghormati sosok Bunda Lela, Entah lah sebagian diri Bunda Lela itu persis seperti Grandma nya.
Oleh sebab itu , Indri luluh oleh rayuan serta omongan manis Bunda.
Istirahat siang ini seperti biasa Bunda dan Ayah Indra sudah duduk manis menunggu para anak anaknya istirahat di Kantin Atasan .
Banyak sekali atasan atasan atau pejabat yang menyinggung dan bergosip dibelakang karena kedekatan Indri Febri dan Dipta yang bisa dibilang hanya seorang anak magang mampu menyita perhatian pemilik perusahaan.
" Selamat siang Bunda..........Ayah " Sapa Dipta dan Febri menyalami keduanya.
" Loh kok baru kalian aja nak? yang lain mana? " Tanya Ayah
" Masih diruang meeting yah " Jawab Dipta seraya menarik kursi untuk dirinya duduki
Sedangkan Febri disuruh untuk memesan makanan seperti biasanya . 15 menit kemudian Indra , Indri dan Rendra datang
" Lama ya bun? " Tanya Indra manyalami Ayah Bunda diikuti oleh Indri dan Rendra
Belum sempat menjawab kedatangan 2 orang menyita perhatian Ayah dan Bunda . ..
" Halo... Selamat siang " . Sapa orang itu
" Halo " . Sapa ayah balik seraya berdiri dan berjabat tangan diikuti oleh Bunda
" Kenalin Bunda, ini yang tadi meeting bareng Abang, dan kebetulan dia adalah Rendriadi Dawnson , Papah dari Andri juga Indri . " Ucap Indra memperkenalkan
Ayah dan Bunda tersenyum dan memperkenalkan dirinya masing masing .
__ADS_1
" Ah... Jadi anda adalah Ceo dari pemilik perusahaan Dawson dan juga Ayah dari Indri dan Andri? " . Tanya Ayah
Papah Rendriadi mengangguk , " Benar , mereka adalah putra putri saya " .
" Hummm.. mengapa Indri tidak mirip dengan mu ya " . Canda Bunda
" Haha .... memang, dia lebih mirip dengan keturunan dari Mamanya, yang seperti Bule Arab , sedangkan saya Sunda - Jerman " .
" Waw... Saya sangat menyukai kepribadian anak anda tuan " . Puji Bunda lalu diangguki Ayah Leo
Rendriadi tentu saja bangga karena putrinya itu di puji oleh sosok terkenal di benua Asia , sedangkan Indri pribadi hanya cuek saja dengan pujian itu
Mereka bercengkrama banyak sampai menghabiskan jam makan siang, lalu Rendriadi , Andri pamit undur diri untuk segera pergi keperusahaan nya . begitu juga dengan Ayah dan Bunda yang pamit untuk segera pulang . Sedangkan yang lain lanjut bekerja lagi .
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sore hari
Jam sudah menunjukan pukul 16.30 yang berarti sudah waktunya untuk karyawan pada pulang. Indra dan Indri masih sibuk mengurusi dokumen yang akan mereka bawa lusa untuk melakukan perjalanan bisnis ke Jepang .
Dipta berdecak sebal sudah menunggu Indri satu jam lebih didalam mobil ,
" Lama banget busetdah, gatau apa tuh anak gue laper " . Grutu Dipta , Sedangkan Febri sudah asik dengan alam bawah sadar
Kelamaan menunggu membuat Febri lebih baik memejamkan matanya .
Berulang kali Dipta mencoba untuk menelpon Indri, namun sialnya Hapenya mati tidak dapat dihubungi
" Setengah jam lagi gue tunggu tuh anak ga nongol, gue tinggalin. Bodoama, Biar tuh anak pulang naek angkot " . Putus Dipta
" Nih lagi satu, bukannya ikutan ngedumel malah asik molor . Bikin gue naek darah aja , ga yang mana yang mana bikin kesel " .
__ADS_1
Tanpa disadari Dipta ikutan memejamkan matanya , sekitar satu jam
Febri menggeliat, melihat langit sudah menggelap tentu saja dirinya kalang kabut .
" Bangun noy, ayok kerja!! Udah subuh . Kesiangan tar kita " Panik Febri
Dipta yang mendengar kepanikan Febri dengan malas membuka mata . " Apaan "
" Liat, Udah gelap . Gue rasa udah subuh . Udah ayok kita ke kantor tar malah kesiangan , gausah mandilah . Dikantor aja kita cuci muka " .
Dipta membelalakkan matanya buru buru dirinya mengecek Jam yang berada di Handphone . " Buset, Udah jam 7 tapi si Indri masih belom keluar juga . Bener bener tuh anak seta* " . Decak Dipta
Febri yang mendengar ucapan Dipta hanya melongo masih belum sadar dengan keadaan . " Maksudnya jam7 pagi? . Kok matahari nya belom nongol si ? " .
Dipta dengan gemas menggetok kepala Febri, " Jam 7 malem markonah, mana ada jam 7 pagi langit masih gelap gini " . Ucap Dipta, Inilah sifat asli Febri yang lemot dan tulalit.
" Terus ngapa kita dimari? Kenapa gapulang? " . Tanya Febri sambil membenarkan bajunya yang sedikit kusut
" Si Indri belom nongol juga, gue curiga tuh anak didalem ngapain . "
" Ya lo telepon lah , Beg** banget lo jadi orang "
" Kalo Aktif ngapain gue nunggu "
" Udah tinggalin ajalah, dia tau jalan pulang ini . Gue laper dan lagi gue pengen banget mandi , udah lengket nih badan kerja seharian "
Dipta masih mencoba menelpon Indri namun nihil hapenya masih dalam keadaan mati dan Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah,
.
.
__ADS_1
.
.