
Sehabis bertemu dengan Bu Lurah tempo hari aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Mas Jaya.
Selama aku dan dia tinggal di Desa ini, aku merasa Mas Jaya lebih sibuk, terkadang selepas Isya pun dia tidak langsung pulang ke rumah, biasanya selepas shalat Isya dia akan pulang ke rumah.
Jika pun ada urusan lain dia akan menjanjikan esok hari. Tapi sekarang dia tidak akan pulang sebelum jam sepuluh malam, bahkan bisa lebih, alasannya dia habis keliling kampung dengan Pak Lurah.
Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan jam 23.10, tapi dia belum juga pulang, sementara gemuruh di luar sudah memberikan tanda bahwa hujan akan turun.
Ditengah kegelisahan hatiku, Aku mendengar langkah kaki memasuki halaman rumah.
" Kenapa belum tidur? Sudah hampir jam dua belas. "
Ucapnya sambil tersenyum, ketika baru pulang, dan melihatku masih ada di ruang tengah sambil membaca buku.
" Aku belum ngantuk. Belakangan ini kamu suka pulang sampai larut malam Mas." Sambil mengikutinya menuju kamar.
Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, sehingga aku menabrak tubuhnya. " Kamu mengkhawatirkan kukah?" Tanya nya dengan senyum sedikit menggoda.
" Nggak!" Lalu meninggalkannya yang masih berdiri di depan pintu kamar.
Di luar aku mendengar suara hujan mulai turun. Syukurlah dia sampai sebelum hujan, batin ku. Setelah mengganti pakaian dia langsung merebahkan tubuhnya.
" Zahra, kapan kita pulang?" Tanya nya pada saat aku merebahkan tubuhku disisinya.
" Bukannya kamu betah disini? Buktinya kamu sekarang lebih banyak waktu diluaran" Ucapku sambil menyusun guling sebagai pembatas.
" Zahra, kapankah guling-guling ini berhenti menjadi pembatas diantara kita?" sembari dia memiringkan tubuhnya, dan menggenggam erat jemariku.
" Entahlah." Ucapku pelan.
" Dengan beginipun aku sudah cukup bahagia, aku percaya bahwa cinta itu datang secara perlahan dan dengan kedekatan yang lama." Lalu dia mengecup kening ku.
"Sejak aku disini, aku nggak punya waktu untuk mu ya... " Kembali dia berujar.
"kamu tidak punya waktu, apa tidak mau masa lalu mu aku ketahui? " tanya ku.
"Kenapa kamu nggak melanjutkan kuliahmu yang pernah terputus dulu Mas?"
Ini adalah waktu yang tepat untuk aku bicara padanya. Pikirku.
" Aku hanya anak daerah yang berusaha meneruskan pendidikan di Ibu Kota Zahra, disaat kedua orang tua tidak mampu membiayai pendidikanku, apakah aku harus memaksakan kehendak pada mereka?!" Ucapnya pelan.
" Benar itu alasannya? Kata bu Lurah, kamu menolak menikahi anak orang kaya raya." Tanyaku sedikit menyunggingkan senyum padanya.
"Kalau saja kamu mau menikah dengannya pasti kuliahmu tidak akan terbengkalai." Ucapku lagi.
" Jika aku menerima tawaran itu, aku tidak mungkin menikah denganmu, dan tentu bukan jarimu yang aku pegang saat ini." Ujarnya dengan tersenyum.
Aku yang mendengar ucapnya jadi merasa malu. Syukurnya sekarang lampu sudah mati, kalau tidak dia pasti bisa melihat wajahku yang memerah, seperti kepiting rebus.
" Apa yang ingin kamu tau dari masa lalu ku?? " tanyanya.
Aku yang mendengar pertanyaannya menjadi bersemangat, lalu bangkit dari posisi tidur, dan duduk bersandar dikepala tempat tidur. Udara yang dingin dan suara hujan yang semakin deras di luar sana tak kuhiraukan lagi.
" Apa saja, yang penting tentang kamu, aku lebih baik mendengar langsung dari kamu dari pada orang lain." Ucapku sedikit bersemangat.
Melihatku bangkit dan duduk, dia pun mengikutiku. Dia letakkan bantal dibelakang punggungnya untuk bersandar.
" Nggak ada yang istimewa dari hidupku, aku hanya anak seorang petani yang punya cita-cita besar.
Aku punya impian untuk menjadi orang sukses untuk membuat bangga ayah dan ibuku.
Tapi kehidupan di kota besar membuatku harus mengubur semua cita-citaku. "
Kulihat dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
Tiba-tiba dia membuka baju nya.
"Kenapa kamu buka baju begitu. Apa nggak dingin?
Dia mengernyitkan dahinya " Keingin tahuan mu membuat ku merasa gerah."
"Bukan hanya di DO dari kampus, bahkan saat itu aku harus hidup dibalik jeruji selama satu tahun tanpa kesalahan yang aku lakukan." Lanjutnya lagi menceritakan masa lalunya.
__ADS_1
"Setelah bebas, aku pulang ke Kampung halaman, aku melihat kehidupan yang berbeda, Papaku meninggal karena depresi, kakakku dipulangkan ke rumah orang tuaku oleh pihak suaminya karena keluarga mereka tidak mau menerima lagi, dikarenakan kakakku memiliki adik seorang pembunuh, dan itu juga alasan kampus mengeluarkanku." Dia diam sejenak, menundukkan kepalanya lalu menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan.
" Aku, Andi dan Burhan yang sekarang menjadi lurah di Desa ini, kami dulu teman satu kampus, sama-sama kuliah di fakultas Pertanian, kami punya cita-cita yang sama ingin menjadi Insinyur.
Andi terpesona dengan Ratna, gayung bersambut, Ratna pun menyukainya. Aku dan Burhan tidak pernah mau tau urusan percintaan mereka.
Sore itu, aku dan Burhan sedang ada di kebun yang berada dibelakang kampus. Karena hari sudah semakin gelap aku dan Burhan memutuskan untuk menyudahi kegiatan kami.
Pada saat melewati salah satu ruang kelas, aku dan Burhan melihat Andi sudah berdarah dengan pisau ada dirongga dadanya."
" Aku yang masih polos kala itu, dengan kepanikan yang ada mencabut pisau yang menancap ditubuh Andi, sampai orang-orang datang dan mereka menuduhku membunuh Andi.
Burhan yang berusaha membelaku tak lepas jadi bulan-bulanan juga."
"Berkali-kali pengacara dari keluarga Ratna datang menawarkan diri untuk membebaskanku, dan aku masih bisa tetap kuliah dengan catatan aku harus menikahi Ratna, tapi aku selalu menolak. Sampai akhirnya sidang pengadilan memvonisku lima tahun penjara. "
"Berkat Burhan juga, hukuman yang kujalani hanya satu tahun, karena pembunuh sebenarnya sudah ditemukan" Lalu dia diam.
" Siapa yang membunuhnya?" Tanyaku perlahan.
" Orang lain yang menyukai Ratna."
"Karena aku nggak tahan dengan omongan orang-orang di kampung terhadap keluargaku kala itu, aku kembali ke Ibu Kota, aku tahu, tidak akan pernah ada perusahaan yang akan menerima ku bekerja di tempat mereka, maka tujuan ku untuk mencari uang adalah pasar, disitu aku mulai menata kembali hiduku yang sudah hancur dan bergaul dengan para preman.
Sampai suatu hari temanku yang pernah satu sel dengan kukeluar, dari dia orang tau bahwa aku seorang mantan napi atas kasus pembunuhan. Saat itu orang-orang takut padaku. Dan saat itu aku dipercaya untuk menjadi keamanan pasar. "
" Aku merasa, ini adalah takdir hidup yang harus kulalui. Ini salah satu jalan Allah untuk ku. Aku pasrah dengan kehidupanku. Sampai suatu saat aku mencintai seorang gadis, dia anak salah seorang juragan besar,tapi api cinta itu harus kubur dalam-dalam, karena aku bukanlah pria yang layak untuknya kala itu. Sampai akhirnya aku megikhlaskannya menikah dengan orang lain."
" Kalau kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu. Lalu Rindu anak siapa?"
Dia hanya diam dan menatapku tak berkedip. Ditatap seperti itu membuatku menjadi resah. Aku tundukkan pandanganku.
" Tidurlah Mas." Segera aku rebahkan diriku untuk mengalihkan keadaan yang tidak aku inginkan saat itu.
" Zahra... " panggilnya seraya membalikkan tubuhku.
" Apakah pernikahan ini membuat mu merasa tidak nyaman? " ucapnya sangat lembut dan pelan.
Aku menyadari aku mulai mencintainya. Namun aku juga harus realistis bahwa aku nggak ingin dibutakan oleh cinta, sehingga aku nggak mau tau siapa dia dan bagaimana dia.
Justru karna rasa cinta ini aku ingin memiliki dia seutuhnya.
" Jika pernikahan ini membuatmu tidak nyaman, aku ihklas melepaskanmu, kapanpun kamu minta, aku akan mengurus semuanya."
Aku duduk kembali, kupandangi dia dalam-dalam, kudekatkan wajahku dengan wajahnya sampai hidungku beradu dengan hidungnya.
" Kamu mau tau jawabanku Tuan Heru Sanjaya? "
" Iya." Jawabnya pelan.
" Ya... Aku tidak nyaman dengan pernikahan ini."
aku lihat dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
" Aku sudah duga itu." ucapnya pelan.
pada saat dia ingin memalingkan wajahnya, Aku memegang kedua pipinya, aku pandangi wajahnya lalu ku tatap matanya.
"Dengarkan aku! Kamu tetap harus bertanggung jawab dengan apapun yang kamu buat padaku tuan Heru Sanjaya yang terhormat! Pernikahan ini tidak membuatku nyaman, dan aku menuntut tanggung jawab dari mu. Agar kamu tahu, kamu sudah membuatku hampir gila karena sudah bisa mencintaimu dengan cara yang bodoh seperti ini." Seketikaku tampar pipinya dengan keras. Lalu aku berpaling dan merebahkan diriku lagi.
" Kau bilang apa? " Ucapkan lagi? " Tanyanya dengan raut muka sedikit bahagia.
" Nggak ada siaran ulang. Tidurlah." Seraya aku menarik selimut.
"Apa aku nggak salah dengar, kau benar sudah mencintaiku ? "
Aku berbalik menghadapnya, aku bangun membetulkan posisi bantalnya,dan menariknya untuk berbaring. " Tidurlah, udah hampir pagi, tidak kasihankah kau pada istrimu yang cantik ini, kecantikanku bisa luntur karena kau akan mengurangi waktu istirahatku."Lalu kukecup bibirnya.
Pada saat dia ingin memelukku, aku membesarkan mataku. " Jangan sentuh aku, karena malam ini aku yang punya hak penuh, biarkan aku tidur dengan nyaman sambil memelukmu."
Segera aku membenamkan kepalaku didadanya...
" Aku nggak menyangka kamu bisa senakal ini."
__ADS_1
" Kamu yang buat aku harus nakal seperti ini."
"Maafkan aku Zahra, maafkan aku yang sudah banyak mengecewakanmu." Ucapnya sambil membelai rambutku.
" Jangan bicara lagi, tidurlah. Aku udah cukup lelah dengan keadaan seprti ini".
Aku nggak menghiraukan suara hujan yg semakin deras. Ini pertama kalinya aku tidur tanpa ada penghalang apapun. Aku rasakan detak jantungnya, Aku ngak tahu seperti apa kehidupanku kelak.Tapi untuk saat ini aku ingin merasakan kenyamanan cinta yang membuatku harus meneteskan air mata.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dua minggu sudah aku berada di Desa ini. Aku sudah memutuskan seperti apapun masalah yang kuhadapi inilah kehidupanku.
Kehidupan baru bersama suamiku, nasehat yang selalu diberikan oleh Akki dan Nini harus kulaksanakan, sebesar apapun masalahku pergi dari rumah suami tanpa izinnya itu bukanlah hal yang baik.
Selesai mandi sore, ku dengar suara motor Mas Jaya memasuki pekarangan rumah, ciri khas suara motor RX KING, yang kadang membuat sakit telinga.
" Zahra, besok pagi habis Shalat Subuh aku harus pulang duluan ke Jakarta, ada hal yang harus aku kerjakan, aku pergi dengan pak Lurah." Ucapnya setelah masuk kedalam rumah.
"Kalau boleh aku tahu, kamu dan Pak Lurah punya bisnis apa sih???"
" Kami hanya ingin masyarakat disini lebih maju lagi. Besok aku akan mengenalkan Pak Lurah dengan seorang yang mau mengambil hasil panen disini, perusahaan mereka bersedia membeli dengan harga tinggi, karna perusahaan itu suplayer bahan makanan untuk beberapa restoran ternama. Terutama resto vegetarian."
Dia menghampiriku yang sedang duduk di depan meja rias tua kepunyaan Nini. Dia membungkukkan badannya sejajar dengan wajahku sambil memandang kekaca.
" Cermin ini tidak menipu, bahwa istriku seorang wanita yang cantik"
ucapnya sambil dia mencium pipiku.
"Kamu terlihat lebih cantik pada saat kamu bangun tidur, dan tanpa make up seperti ini"
" Jangan bilang itu gaya bahasa halus karena kamu nggak sanggup beli peralatan make up ku yaaa."
" Hahahaaa... pabrik nya pun untuk mu besok kubeli." lalu pergi keluar kamar, sambil menbawa handuk.
Pada saat Mas Jaya selesai berpakaian aku menghapirinya seraya berkata " Mas, kalau kamu besok jadi pulang, jangan lupa lihat Rindu, seperti apa kondisinya."
" Dia baik-baik saja, dia hanya demam biasa, nggak usah terlalu mengkhawatirkannya."
" Aku akan berusaha menerima Rindu."
" Sudah nggak usah membahas hal yang nggak penting." Lalu menarikku dalam pelukannya, dan mengecup keningku.
" Zahra.. kamu tau nggak, aku lebih senang melihat mu kalau lagi emosi dari pada melo begini."
" Jadi kamu mau bilang kalau kamu lebih senang lihat aku marah-marah!"
" hahaaaa tuh kan lebih menawan."
" Basi!" Aku lepaskan diriku dari pelukannya.
******
Sore itu kami berempat Bisa ngumpul dan bercanda bersama. Mas Jaya sangat menyayangi Akki dan Niniku, Terkadang dia nggak sungkan untuk memijit kedua kaki orang tua itu bergantian.
Pagi itu setelah shalat subuh, dia pamit kepada kakek dan nenekku, untuk kembali ke Jakarta dan jika urusannya susah selesai dia akan menjemputku.
******
Akhirnya aku pulang ke rumah ini, rumah yang membawa banyak warna dalam hidupku, Rumah dimana aku merasakan apa arti sebuah cinta...
Aku hempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah, disana aku biasa menyalakan film kegemaranku.
" Kamu senang kembali kesini?"
" Hu'um"
" Zahra, namanya kehidupan banyak lika likunya, kita nggak tahu badai apa yang akan menghampiri rumah tangga kita nanti, tapi aku minta satu hal, jangan pernah tinggalkan aku" Ucapnya sambil merebahkan kepalanya dipangkuanku"
Kubelai rambutnya, tak lama dia puntertidur. Kupandangi wajahnya, belum genap setahun aku menikah denganmu, tapi kau hampir membuat aku seperti orang gila.
Aku nggak tau harus membencimu atau mencintaimu, tapi kedua rasa itu memang beda tipis.
Aku benar-benar mengucap banyak syukur kepada ALLAH, satu tabir telah terbuka.
__ADS_1