Suamiku

Suamiku
Part 14


__ADS_3

Siang itu sesampai di Jakarta dan kembali ke rumah, entah kenapa aku ingin sekali makan asinan.


Mas Jaya yang baru saja merebahkan dirinya di sofa panjang, di ruang tengah ku bangunkan untuk membelikan asinan.


"Zahra, aku lelah kamu lagian ada-ada aja minta asinan segala. Bi Ijah aja suruh." Ucapnya sedikit malas-malasan.


" Tapi aku mau nya kamu Mas yang beli." Rengekku.


" Kamu nggak usah manja dech, kalau nggak tunggu agak sorean dikit, sekarang masih panas kenapa nggak pas lagi di luar tadi sich."


" Tapi aku maunya sekarang, dan aku juga maunya kamu yang beli."


Bukan bangun dari tidur nya, dia malah mencari posisi paling enak untuk tidur.


Rasanya asinan buah yang segar udah membuat air liur kumenetes. Tapi karena dia nggak mengacuhkan aku, aku pun meninggalkan nya, dan duduk di ayunan yang ada di taman belakang.


Kenapa akhir-akhir ini Mas Jaya agak berubah dia nggak seperti biasanya, dan aku sendiri entah kenapa juga suka banget nangis dan yang nggak habis pikir, kenapa aku jadi brutal gini, pantang disulut sedikit aku bisa lebih emosi.


Ku lihat Bi Ijah yang sedang menyapu, dan membersihkan ruang belakang rumah.


Apa aku tanya dengan dia saja, apakah orang hamil itu emosinya suka tidak stabil.


" Sayang, kamu mau asinan kan, asinan apa, sayur apa buah?"


Tiba-tiba suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.


"Nggak Mas, aku sudah nggak kepingin."


" Sayang, kalau kamu cemberut gitu, kamu terlihat sangat menggoda. "


Lalu dia berdiri dibelakang ku,mengecup kepalaku.


"Aku sudah nggak kepingin lagi Mas."


"Sekarang maunya apa?"


"Aku mau tidur, duduk disini buat aku merasa ngantuk."


Lalu kutarik tangannya, menuju sofa panjang yang ada dekat kolam ikan.


Suara gemericik air dan harumnya bunga mawar yang lagi mekar, membuatku merasa sangat rilex ditambah lagi merebahkan kepalaku didadanya, sungguh benar-benar membuatku sangat nyaman.


" Sayang, kamu yakin mau tidur dengan keadaan seperti ini. Nanti dilihat si Bibi."


"Kamu lebih perduli sama aku apa sama Bibi sih. "


Akhirnya dia pun pasrah, kujadikan sandaran.


Saat aku buka mata, aku sudah berada diatas tempat tidur, didalam kamar tamu. Kulihat jam didinding menunjukkan bahwa sebentar lagi akan Magrib,karena aku belum Shalat Ashar aku segera bangun.


Selesai aku Shalat aku keluar dari kamar. Ku lihat Bibi sedang didapur.


" Bapak mana Bi?" Aku bertanya pada Bi Ijah, karena nggak melihat Mas Jaya.


"Ibu sudah bangun, Bapak lagi keluar sebentar, kata Bapak kalau sudah bangun Ibu disuruh siap-siap mau diajak Bapak ke rumah orangtua ibu." Ucap Bi Ijah.


Aku segera ke lantai dua menuju kamarku, untuk membersihkan diri. Pada saat aku keluar dari kamar mandi, aku mendengar Hp ku berbunyi, segera kuangkat telpon dari Mas Jaya.


"Sayang, kamu siap-siap ya, bentar lagi aku pulang, ini lagi di jalan."


Baru saja aku mau menjawab, sambungan Telpon sudah diputusnya.


Sudahlah, pikirku. Segera kuambil pakaian dilemari, dan memakainya. Setelah semua selesai aku segera turun.


"Ibu cantik banget pantas Bapak jatuh cinta." Puji Bi Ijah padaku.


Aku yang mendengar ucapan Bi Ijah jadi merasa malu sendiri.


"Memangnya selama ini yang dekat sama Bapak nggak cantik gitu Bik?"


"Cantik sih Buk, waktu masih di rumah yang lama, banyak teman wanita Bapak yang datang, tapi nggak ada yang direspon Bapak, sampai Bapak pernah marah dengan satpam kenapa membiarkan mereka masuk kerumah."


Jlebb... Ucapan si bibi yang begitu polos langsung menikam ulu hatiku. Ada Rasa sakit yang benar-benar membuatku nggak bisa melukiskan rasa sakit itu.


" Oh, ya udah Bi, itu Bapak seperti nya udah datang."


Segera aku melangkah ke luar untuk memastikan siapa yang datang.

__ADS_1


Dugaan ku benar, pria yang menjadi suamiku itu sudah datang dan menghampiriku.


"Kamu cakep banget sih, hampir copot jantungku liat kecantikanmu."


Langsung dikecupnya keningku, begitu dia sudah mendekat.


"Bentar sayang, aku ambil sesuatu dulu. "


Kulihat dia memasuki kamar tamu, dan nggak lama keluar membawa beberapa paper bag.


" Itu apa Mas?"


"Ini oleh-oleh dari Bali untuk mertuaku, waktu aku ninggalin kamu pada saat lagi makan, aku sempatkan membeli oleh-oleh buat mereka. Ayo kita ke rumah Bapak."


Aku yang masih diam, langsung di gandengnya menuju mobil, dia membukakan pintu untukku, setelah itu dia pun duduk dibelakang kemudi.


Aku yang masih tergiang dengan ucapan si bibi, masih berusaha mengontrol gejolak emosiku.


" Kenapa sih diam aja?" Tanya nya sambil mengernyitkan dahi.


" Nggak apa-apa udah fokus aja."


🍁


🍁


🍁


Melihat aku yang datang, Bapak yang sore itu mau berangkat ke Mesjid menghentikan langkahnya.


Setelah aku dan Mas Jaya keluar dari mobil, aku segera memeluk Bapak, dan tak lupa Mas Jaya juga mencium tangannya.


"Kamu datang sama siapa nak?" Tanya Ibu begitu aku memasuki rumah.


Didam rumah ada, Tante Maya dan Kakak iparku, serta keponakanku yang paling cantik, Kiara.


"Sama Mas Jaya Bu, tapi dia sama Bapak lagi ke Mesjid."


Mendengar aku datang sama Mas Jaya, raut wajah Ibu langsung berubah, tapi aku nggak mau mikirin itu.


Sesuai permintaan Mas Jaya oleh-oleh yang kubawa nggak boleh dibilang dari Mas Jaya.


"Tante, aku punya kabar bahagia buat Tante." Ucapku dengan tersenyum.


"Apa-apa? Buruan udah nggka sabar"


"Kiara bakal punya teman. Dia bakal ada adeknya. Tante akan jadi Nenek, tepatnya Nemud, Nenek muda. " Ucapku dengan senyum yang mengembang.


"Beneran?! Udah brapa bulan?" tanya Tante Maya antusias.


"Tiga, sepertinya waktu aku pertama kali melakukan sama Mas Jaya berhasil."


"Maksudnya Za? Jangan bilang kalian baru melakukannya selama kalian menikah?"


Aku mengangguk "Aku sudah mulai mencintainya Tante" Jawabku pelan.


"Heemm" Cibir Tante Maya.


"Tapi itu nggak penting Za, yang penting Tante bahagia dengar kabar dari kamu."


Sangkin bahagianya aku sama Tante Maya teriak sambil pelukan.


Dan aku pun mendapat ciuman yang banyak dari Tante ku tersayang.


Selama aku dan Mas Jaya ada dirumah orang tuaku, nggak jarang Ibu selalu menyindir Mas Jaya.


Membanding-bandingkan menantu laki-lakinya dengan menantu orang lain.


Aku yang nggak terima suamiku di jelek-jelekin akhirnya membalas Ibu dengan sikapku yang sengaja bermanja sama Mas Jaya, dan itu cukup membuat wajah Ibu semakin ditekuk.


🌹


🌹


🌹


"Sayang, di rumah orang tuamu makin hari makin angker aja."

__ADS_1


Ucapnya setelah keluar dari kamar mandi. Disaat kami sudah di rumah.


Aku yang sudah hampir tertidur, jadi membesarkan mataku karena mendengar ucapannya.


"Masa sih Mas, kamu jangan nakut-nakutin aku deh, emang kamu bisa lihat makhluk astral gitu ya." Tanyaku dan langsung duduk disandaran tempat tidur.


"Tadi aku ngeliatnya serem banget, sama sekali nggak berani mandang aku. Duduknya juga deket banget lagi sama kita."


Lalu dia menaiki tempat tidur dan memelukku..


"Kamu beneran Mas ngelihatnya? " Membalas pelukan Mas Jaya.


"Iya sayang, ngapain juga aku bohong, kalau nggak darurat banget kita nggak usah nginap ya." Ucapnya dengan begidik.


"Memang yang mas lihat apaan?" Kurebahkan tubuhku diatasnya dan meletakkan kepalakku didada bidangnya.


"Nenek-Nenek, cakep sih, cuma sorat matanya kalau giliran memandang kearah kita apalagi tepatnya kearah Mas serem banget.


Apalagi pada saat kamu sandaran dibadan Mas tadi, udah gitu cium-ciumin pipi mas, wehh.. Pandangan matanya.. Pokoknya nyeremin banget deh, amit-amit deh"


Aku yang sudah dalam keadaan nyaman meletakkan kepala didada Mas Jaya dengan memeluknya mencoba mengingat-ingat kembali kejadian di rumahku.


Seketika kujauhkan badanku dari pelukannya, kupandangi wajahnya dengan tatapan yang tajam.


"Kamu kenapa natapnya jadi gitu sih, nyeremin banget tau, sayang"


" Jangan bilang kamu ngatain Ibuku ya!"


"Nggak sayang, Aku mana berani ngatain Ibu kamu" Ucap nya sambil memalingkan wajahnya dari pandanganku.


"Mati gue, hawa horornya udah pindah di kamar ini" Ucapnya pelan sambil menarik selimut menutupi mukanya.


"Kamu ngomong apa Mas?" Tanyaku dan menarik selimut yang menutupi wajahnya.


"Nggak sayang, tidur yuk udah malam besok kita kerja" LaluMenarikku dalam pelukannya.


"Kamu manis banget sih sayang, kalau seperti tadi, benar-benar tergoda aku." Dibelainya rambutku.


"Itu ucapan untuk merayu, atau mengalihkan pembicaraan" sambil menepuk perutnya.


"Jangan kamu pikir aku tadi nggak denger kamu bilang apa?!. Mati gue hawa horornya udah pindah dikamar ini. Gitukan kamu ngomongnya. Aku tau kamu ngatain ibu nyeremin. Sekali lagi kamu jelekin mertuamu, habis kamu." Ku cubit perutnya sambil menahan tawa.


Dia sedikit mengeluh karena perutnya kucubit dengan keras.


"Sakit sayang, dari pada kamu, cubit perut aku, mendingan tangannya diturunin ke bawah sedikit, biar enakan dia." Dipegangnya tanganku, untuk mengarahkan ketempat kramat miliknya.


"Aku nggak mau" Aku menarik keras tanganku untuk nggak menyentuhnya. Karena aku merasa yakin aku bakal kalah tenaga olehnya, langsung kugigit dadanya. Akhirnya dia melepaskan tanganku.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Pagi itu aku diantar Mas Jaya ke kantor. Dia mengantarku sampai ke dalam keruanganku, sempat terjadi adegan drama sama satpam, karena selain karyawan dilarang masuk, apalagi sampai kelantai atas.


syukurnya waktu itu belum banyak karyawan yang datang, jadi nggak terlalu banyak yang merhatiin.


"Kamu besok nggak usah ngantar aku sampai sini Mas, aku jadi nggak enak."


"Kamu mau ngusir aku dari kantorku sendiri!" Tiba-tiba dia menghardikku.


karena suaranya udah mulai meninggi, aku yang tadinya udah duduk di kursiku langsung berdiri dan menatap tajam padanya.


Menyadari aku bakal marah, akhirnya Mas jaya pergi, sambil minta maaf.


"Pagi-pagi udah buat kesel aja sih itu manusia."


Tiba-tiba seseorang masuk dalam ruanganku, dia Siska sekretaris wakil CEO yang selalu mencari sensasi dan selalu saja merasa tersaingi denganku, padahal aku nggak pernah mau tau dengan hidupnya.


"Makanya kalau udah punya suami, jangan ganjen. Jangan sok tebar pesona. Nih kasihkan laporan ini sama Bu Ratna." Dia mencampakkan laporannya diatas mejaku.


Lalu dia pergi dengan memandang sinis.


Bukan hanya dia yang tidak suka denganku tapi masih banyak karyawan lain, dan hampir rata semua wanita.


Aku nggak tau aku punya salah apa dengan mereka, tapi selalu saja mereka mengusik hidupku.


Setiap aksesoris yang kupakai akan menjadi pusat perhatian mereka. Terkadang hanya Berupa Bross Jilbabpun mereka menjadikanku bahan gosipan digruop WA yang unfaedah itu.


Yang lebih gila lagi, gosip yang sampai saat ini masih santer adalah, bahwa aku wanita simpanan Om-Om tajir karena aku tinggal dikawasan yang menurut mereka cukup mewah.

__ADS_1


Aku nggak tau bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-fotoku pada saat aku berada di depan rumah, dan pada saat aku belanja bulanan dikawasan supermarket di perumahanku itu.


Aku selalu menjadi selebritis di kantor itu tanpa kuminta, dan selalu menjadi tranding topik utama dipembicaraan mereka.


__ADS_2