Suamiku

Suamiku
Part 8


__ADS_3

Dua minggu sudah aku tinggal dengan orang tuaku. Selama itu sekalipun Mas Jaya nggak pernah menghubungi ku. Setiap aku hubungi HP nya juga nggak aktif, beberapa kali aku coba cari dia di pasar tapi hasilnya tetap nihil.


Pagi ini, aku sengaja untuk pergi lebih awal, sehabis shalat Subuh, aku langsung merapikan diriku.


Ku lirik jam di dinding, masih menunjukkan pukul 05.00. Segeraku panasi mobil dan lima belas menit kemudian aku laju kendaraanku.


Berkali-kali Ibu memnggilku karena terlalu cepat pergi kerja. Namun Aku nggak menghiraukan panggilan Ibu.


Sengajaku parkir mobil di sebrang jalan, siapa tahu saja aku bisa bertemu Mas Jaya.


Setidaknya aku bisa melihat orang yang sudah mulaiku kasihi itu meskipun itu dari kejauhan.


Aku melihat lelaki tinggi, berkulit sawo matang itu sedang merapikan beberapa motor. Dia terlihat lebih kurus. Seorang laki-laki menghampirinya, menyerahkan segelas kopi.


Aku tau dia nggak bisa minum kopi. Segara ku ambil Hp untuk menelpon nya.


"Assalamu'alaikum ada apa, Za?" ucapnya ketika mengangkat telpon dariku.


"Wa'alaikum salam, jangan diminum kopi nya ya."  Kucoba untuk mengingatkannya.


" Iya, kamu lagi dekat sini ya,  kamu semangat kerjanya. Jangan terlambat makan ya."  Telpon langsung ditutupnya setelah dia mengucap salam.


Sepertinya keberadaanku diketahuinya. Ku lihat dia berjalan ke arah mobil dimana aku berhenti.


Setelah dia mendekat kuturunkan kaca mobil, dia memintaku untuk pindah ke belakang, lantas dia duduk dibelakang kemudi.


" Kamu mau berangkat kerja?"  Tanya nya, sambil memandangku dari kaca spion.


" Ibu Zahra, mau diantar ke kantor langsung atau ada tujuan lain?"  kembali dia bertanya dengan menyunggingkan senyum yang lebar.


Aku hanya diam tanpa menjawabnya sama sekali. Kupandangi terus dia. Bisa-bisa nya dia masih bersikap santai seperti ini ucap batinku.


"Okelah kalau tidak ada jawaban." Dia menaikkan kedua bahunya, lalu menyalakan mobil, dan mengemudikannya.


Aku nggak tahu dia akan membawa ku kemana, sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing.


Karena nggak tau arah tujuan, dan juga masih terlalu pagi untuk aku pergi ke kantor, dia menepikan mobil lalu berhenti di dekat sebuah taman dimana banyak pedagang yang menjajakan makanan, dan dia turun menghampiri pedagang nasi uduk.


" Aku lapar Za, aku sarapan dulu. " Ucanya datar, sambil membawa sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral.


Aku yang duduk di jok belakang masih tetap diam, dan memperhatikan dia makan.  Setelah dua sendok dia memasukkan nasi itu kemulut nya, dia langsung berusaha menyuapkan sendokan berikutnya kemulut ku.


" Makanlah" Ucapnya.


" Aku udah sarapan di rumah." Jawabku, sambil menolak suapan dari nya.


" Kamu kelihatannya gemukan tanpa aku. "Ucapnya setelah menghabiskan makanannya.


" Gemuk dong, kan aku dikasih makan enak, makan hati!!. "


" Hahhaaa bisa juga kamu melucu begitu. "


" Nggak lucu tau." Langsungku cubit perutnya. Diapun meringis menahan rasa sakit.


" Kenapa aku harus duduk di belakang? " Tanyaku setelah mobil berjalan.


" Kalau kamu duduk di belakang, setidaknya kelihatan kalau aku ini cuma supir, dan  kamu seorang Nona Muda, dengan begitu bensin mobil ini tanggung jawab mu, tapi kalau kamu duduk di depan, dan berada disebelah ku status kamu istri ku, dan minyak mobil ini jadi tanggung jawabku. " jawabnya dengan santai.


" Kalau begitu, selama aku duduk di belakang aku bebas memerintah supirku kemana aja kan?" 


" Iya dong pastinya."


Aku keluarkan HP di dalam tasku, lalu metelpon Mbak Ratna, ingin minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini.


Syukurnya Mbak Ratna memberiku izin dan waktu liburku ditambah satu hari. Sementara sabtu dan minggu aku libur, aku punya waktu libur empat hari lamanya.


" Oke, sesuai kesepakatan, karena aku yang pegang kendali aku minta kita ke puncak. "  ucapku tegas.


" Kamu bukannya harus kerja?"


" Sebagai supir harus nurut dan jangan banyak protes! "


Ku lihat dia menarik nafas.


Aku lantas tersenyum tanda puas, dan aku memejamkan mataku, aku mau gunakan waktuku selama perjalanan untuk istirahat.


" Pulas benar tidurnya, apa kamu nggak tidur malam tadi ?" Tanya Mas Jaya setelah aku bangun.


" Bukan hanya malam tadi, tapi malam-malam sebelumnya juga aku nggak bisa tidur. " Jawabku sambil memajukan sedikit bibirku.


" kita udah sampai?" Sambil melihat sekeliling.


"  Udah, trus mau kemana? "


"  Ya setidaknya aku perlu oksigen yang banyak untuk memfresskan otak ku lagi"


Aku keluar dari mobil, menarik nafas dalam-dalam, mencoba menikmati udara yang segar. Setelah itu aku mendekati Mas Jaya yang masih duduk di dalam mobil.


" Sekarang kita cari vila, aku mau bicara banyak hal. " 

__ADS_1


Dan aku pindah memilih duduk didepan.


" kenapa di depan? "


" sekarang aku istrimu, aku mau bicara sebagai seorang istri. "


" Kalo sudah begini, susah untuk ditolak. Oke lah. "


Setelah sampai di vila, aku membuka jilbabku, setidaknya kulit kepala dan rambut ku juga harus merasakan nikmatnya udara segar ini. Kubuka jendela, menikmati tiupan angin membuat otakku sedikit lebih rilex.


" Apa yang mau dibicarakan? " tanya Mas Jaya, sambil duduk di kursi kayu yang ada diruangan Kamar.


" Dua hari suamiku pergi tanpa kabar, setelah dia kembali, dia antar aku kerumah orang tuaku. Aku bingung, dua hari dia menghilang itu, apakah otak nya dipinjamkan ke Petrik (tokoh cartoon teman Spongsbob) sehingga dia nggak ingat sama sekali dengan istrinya. " Ucap ku sambil melipat tangan didada, dan bersandar di sisi jendela.


Dia tersenyum." Iya biar Petrik nggak blo-on banget. "  Ujarnya lalu mendekatiku.


" Tapi kamu yang jadi blo-on. Udah tau orang tua salah masih aja di turuti."


" Pernikahan apa yang seperti ini, kalau memang nggak sanggup dengan ujiannya kenapa harus menikahi?!" ujarku lagi.


Tiba-tiba dia menarikku dalam pelukannya, sedikit menyipitkan mata nya, dia menatap ku dengan tajam, tanpa berkedip.


" Hemmm... biar Ibu mertuaku dan anak nya yang manja ini tahu bahwa orang yang selalu sabar itu pun punya rasa amarah. " Lalu dia mencium bibirku. Menghisap dan melumatnya dengan lembut.


Ini memang bukan pertama kali bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Tapi selama ini, tak lepas hanya dari sekedar kecupan saja.


Ada rasa yang membuatku sedikit aneh. Jantungku berdebar sangat kencang.


Aku melepaskan ciuman itu dan menjauh dari pelukannya. " Dulu aja bilang, jangan tinggalin aku Zahra, sekarang aku malah dipulangkan, laki-laki macam apa seperti itu. Namanya orang berumah tangga pasti banyak cobaannya. Baru di coba sedikit, udah begini. " Ucapku sedikit menyindir,dan mengejeknya.


Jantungku masih berdebar sangat kencang.


Mendengarku berucap seperti itu dia malah tertawa.


" Kamu kalau begitu tambah cantik Zahra. "


" Nggak kamu perjelaspun aku memang sudah cantik. Dan tujuanku mengajakmu kemari bukan untuk membahas itu. "


" Zahra, agar kamu tahu ya, waktuku itu mahal, kalau kamu menculikku seperti ini, berapa jam waktuku terbuang, dan perjamnya aku bisa menghasilkan uang lima ratusan ribu, jutaan, bahkan lebih dari itu" Ujar sambil berjalan dan duduk di sisi ranjang, dengan gaya yang dibuat seangkuh mungkin.


" Hemmmm gitu ya... Oke, aku bayar waktu mu." Aku berjalan mendekati nya dan duduk dipangkuannya, meletakkan tanganku dilehernya.


Kenapa aku bisa senekad ini. Nanti kalau dia macam-macam gimana Zahra!!  Batinku mulai sedikit memberontak.


" Aku nggak akan membayarnya dengan uang, tapi aku akan membayar nya, dengan cinta. " lalu mengecup pipi nya.


Aku tahu dia kaget dengan apa yang kulakukan, bukan hanya dia,akupun kaget dengan perlakuanku sendiri padanya.


" Hemmmm, aku jadi terfikir sesuatu. Kamu bisa belikan aku rumah, mobil, dan semua kebutuhan hidupku terpenuhi dengan baik. Sementara kamu hanya bekerja di pasar, seperti yang kulihat tadi pagi contoh nya, dan baru saja kamu bilang, waktu kamu perjam nya bisa menghasilkan uang sekian dan sekian. Jangan-jangan kamu.... " Aku menghentikan ucapanku dan memandangi Mas Jaya dengan sedikit rasa curiga, lalu berdiri dari pangkuannya dan menjauh darinya.


" Jangan berfikir yang aneh-aneh Zahra." Dia menatapku dengan curiga.


" Coba kamu berdiri sini. "


Diapun menuruti perintahku.


Kubuka jaket yang biasa dia pakai. Ku perhatikan dia dari atas sampai bawah.


" Tinggi bolehlah, wajah... hemmm lumayan manis, dengan wajah pribumi asli Indonesia, kulit sedikit gelap, tapi bersih juga, perut six pack." Kuangkat kaos yang dipakainya melihat perutnya. "Parfum cukup berkelas. " Lalu aku menjauhi nya sambil tetap memperhatikannya, kulipat tangan didada dengan satu tangan memegang daguku sambil tetap memperhatikannya.


" Wah benar-benar mencurigakan. Jangan-jangan kerja di pasar itu hanya formalitas saja, untuk mengelabui pekerjaan sebenarnya."


Kudekati dia kembali, kuperhatikan lagi dari bawah sampai atas dengan seksama. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa heran.


" Apa ada yang salah ?!"


Aku lantas memukul jidad ku. " Matilah aku jika itu benar. YA ALLAH.. ampunilah dosa-dosaku, terutama dosa suamiku. " Seraya aku berdo'a mengadahkan tanganku.


" Kamu  kenapa sih, Zahra? "


" Aku terfikir jangan-jangan kamu itu  seperti anak muda yang senang pergi dengan tante-tante dan....... dalam tanda kutip gitu. "


" Zahraaaaaa!!!!!" Dia berusaha menarikku, tapi aku buru-buru menghindarinya, sambil meledek dan mentertawakannya.


" Akui sajalah... " Sambil terus berlari mengelilingi kamar dan berusaha menghindar.


Dia terus saja mengejarku.


" Oke, oke... aku nyerah Mas.. " Sambil mengatur nafas dan duduk dilantai dengan bersandar di sisi ranjang.


" Jangan macam-macam kamu ya! " Sambil memukul pelan jidadku, lalu duduk disebelahku.


Ku sandarkan kepala ku di bahunya.


"Kenapa kamu terlalu baik pada ku, memberikan begitu banyak perhatian sehingga sehari nggak ada kabar darimu aku benar-benar sangat kehilangan." Ucapku pelan.


kenapa cinta yang seperti ini yang kamu berikan padaku, kau buat aku merasa kenyamanan disaat aku berada di dekatmu." Ku gigit bibir bawahku, untuk menahan rasa sesak didada, agar air mata ini tidak jatuh.


Nggak ada jawaban apapun, dan aku juga diam. Digenggamnya jariku, dikecupnya kepalaku yang masih bersandar dibahunya. Aku nggak mampu lagi menahan air mataku untuk tidak jatuh.

__ADS_1


" Jangan menangis Zahra, untuk saat ini mungkin ini yang terbaik buat kita.. " Ucapnya dan menyandarkan kepalanya diatas kepalaku.


"Mungkin bagimu iya Mas, tapi tidak bagiku." Perlahan kepalaku berpindah kepangkuannya. Kuraskan dia mengusap lembut rambutku.


Cukup lama aku dan dia diam dalam suasana seperti ini, sampai aku tertidur dipangkuannya.


Rasanya nggak ingin waktu berlalu, empat hari ini aku benar-benar merasakan kenyamanan, merasakan indah nya cinta.


Selama disini aku melakukan kewajibanku untuk pertama kali sebagai seorang istri.


🌹


🌹


🌹


Aku sampai dirumah jam1.00 dini hari. Begitu aku sampai Ibu dan Bapak masih di ruang tengah, kulihat juga Tante Maya ada di situ.


" Kamu dari mana aja Zahra?!" tanya mereka bersamaan pada saat melihatku.


" Dihubungi HP nya nggak aktif." Ucap Tante Maya.


"Kami semua khawatir!" Sambung Bapak.


Aku baru ingat, setelah menelpon Mbak Ratna, aku langsung menonaktifkan HP ku.


" Sekarang aku sudah pulang, nggak kurang satu apapun. Berhubung sudah malam, dan besok kita semua harus kerja, marilah kita istirahat."


Ucapku sambil melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, tak lupa aku mencium tangan Bapak, Ibu dan Tante maya.


" Za, kamu kemana empat hari ini?" Tanya Tante Maya setelah aku merebahkan diriku.


Malam ini Tante Tidur dikamarku.


" Hemmmmm.... udah ah Tante, ayo tidur. " Sambilku peluk guling dan menarik selimut tak lupa untuk memberikan senyumku yang paling manis untuk Tante Maya.


Pikiranku melayang kepada Mas Jaya, semoga kamu tidur nyenyak malam ini Mas. Semoga Allah menjagamu buatku. Lalu menutup mataku.


Jam empat subuh, Mbak Ratna menelpon dan memintaku untuk datang ke kantor lebih awal, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.


Tepat jam 6.30 aku sudah sampai di kantor, dan langsung menuju ruanganku. Baru saja meletakkan tas, kulihat Mbak Ratna keluar dari ruangnnya.


" Kamu udah datang Za, ayo masuk. "


Aku pun ikut masuk ke dalam ruangannya.


Setelah duduk di kursi yang ada dihadapannya dia mulai bicara.


"  Zahra, sepertinya aku menemukan kecurangan di perusahaan ini, aku minta tolong sama kamu, apapun berkas yang akan sampai ke mejaku, tolong teliti terlebih dahulu, tanpa terkecuali.


hampir satu jam aku berdiskusi empat mata dengan nya. ada beberapa berkas selama aku nggak masuk yang belum diperiksa. dia memintaku untuk memeriksa semua berkas itu.


Dan lebih kurang dua jam aku memeriksa berkas diruangannya itu aku sempat melihat dia sedang berbicara dengan seseorang via telpon, pembicaraannya membahas tentang perusahaan tapi aku nggak tau dengan siapa.


Pekerjaanku hari ini terlalu banyak, sampai-sampai untuk makan pun aku lupa, kalau bukan karena suara perang cacing yang ada dalam perut ku, mungkin aku masih asik berkutat dengan perkerjaan.


Aku putuskan untuk mencari makan siang di kantin kantor saja. Ah... selama aku bekerja di kantor ini bisa dihitung dengan jari aku makan di kantin ini.


Bukan aku sombong, tapi memang kesempatan itu yang tidak ada, karena Mas Jaya selalu menyuruh orang mengantar makan siang untukku. Meskipun dia nggak menemuiku.


Setelah memesan makanan aku sengaja memilih duduk di pojok, karena hanya ada meja kecil dan dua kursi yang saling berhadapan.


lagi asik menikmati makan ku, tiba-tiba aja seorang pria datang menghampiri dan memilih duduk di kursi kosong yang ada didepanku.


" Boleh duduk disini Zahra? " Tanya nya dengan ramah.


Belum aku menjawab dia sudah duduk. AKu perhatikan sekeliling, hampir semua mata memandang ke arahku.


Ucapannya hanyaku  balas dengan senyuman yang dipaksakan.


Di perhatikan oleh orang, membuat ku nggak merasa nyaman. Sebelum makananku habis aku segera mengakhiri.


Baru saja aku berdiri, tiba-tiba dia memegang tanganku untuk mencegahnya.


Jangan pergi dulu Zahra, aku mau bicara. Udah lama aku menunggu kesempatan ini." ucap nya seketika.


"Jangan kurang ajar ya!" Ucapku ketus sambil melihat tajam ketangannya yang sedang memegang tangan ku.


Setelah dia melepaskan tanganku, Akupun segera meninggalkannya.


Dia mengikuti ku, sampai ke ruanganku.


" Mau apa?" tanyaku ketus.


" Aku minta maaf  Zahra, maaf kalau aku sudah lamcang tadi."


" Sudahku maaf kan, dan pergilah."


Lalu dia melangkah pergi.

__ADS_1


Belum selesai urusanku dengan Mas Jaya, ini udah mau datang masalah baru lagi.


__ADS_2