Suamiku

Suamiku
Part 42


__ADS_3

Bulan berlalu dan tahunpun berganti, sampai akhirnya Mas Jaya memintaku melanjutkan pendidikanku. Usia Queen sudah masuk dua tahun. Akupun sudah nggak memberikan asi lagi padanya.


Tumbuh kembangnyapun sangat baik, diusia 9 bulan dia sudah bisa berjalan, dan usia dua tahun inipun artikulasi dalam pengucapan katapun sudah baik, meski masih ada bahasa bayi yang dia ucapkan. Dan itu membuat kita harus berfikir keras apa makna dari ucapannya tersebut.


Kehadiran Putri kecilku itu membuat aku benar-benar bersaing dengannya untuk merebut kembali cinta suamiku, dan hasilnya, aku yang kalah telak.


Setelah menemani Queen tidur, dan Mas Jaya juga tertidur disampingnya. Aku duduk di balkon kamarku. Dulu di Jakarta kalau duduk dibalkon kamar seperti ini, aku akan melihat banyak lampu penerang, kendaraan yang masih berlalu lalang dengan lampunya yang menyala. Tapi disini berbanding terbalik, gelap, benar-benar sangat gelap, karena hamparan kebun teh yang ada  di bawah sana tak kelihatan karena nggak memiliki penerangan sama sekali.


"Kamu kenapa duduk disini sendirian? gelap-gelapan, dingin lagi."


Suara Mas Jaya membuyarkan lamunanku.


"Aku sudah biasa seperti ini, sudah hampir dua tahun. Sejak ada Queen ditengah kita, aku udah nggak menemukan kehangatan apapun lagi. Kamu tidurlah." Aku melangkah meninggalkan Mas Jaya yang terdiam setelah mendengar ucapanku.


Aku segera ke dapur untuk memasak mie, aku lupa bahwa dari pagi aku belum makan. Disaat Mas Jaya nggak ada dan sibuk, itulah waktu dan kesempatan buatku untuk bisa bermain dengan Queen, makanya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Kamu mau mie Mas? Aku lapar banget, dari pagi aku belum makan." Ucapku sama Mas Jaya, yang datang mendekati dan duduk dikursi yang ada dihadapanku.


"Zahra, maafkan aku."


Aku langsung memotong ucapan Mas Jaya.


"Jangan rusak mood makanku, biarkan aku menikmati makanan ini" Kukembangkan senyum padanya, dan melahap mie yang sudah selesai kumasak.


"Zahra, maafkan aku, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu. Aku mungkin masih terbawa suasana bahagia menjadi seorang ayah." Ucap Mas Jaya sambil memelukku dari belakang, disaat aku mencuci piring kotor bekas makanku.


Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Kuperhatikan dengan seksama wajah yang ada dihadapanku.


Perlahan kuletakkan keningku diatas dadanya, aku tumpahkan tangis disana.


"Kalau dulu aku pernah mengembalikan seorang anak pada ibunya, tolong sekarang kembalikan putriku, tolong kembalikan cinta suamiku padaku lagi." Ucapku pelan disela tangisku.


"Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa mereka Tuan Heru Sanjaya. Ambillah semua harta suamiku jika perlu ambillah nyawaku, tapi kembalikan putri dan cinta suamiku, Tuaaaannn."


Aku luruh dihadapannya, kupeluk kakinya. "Kalau aku boleh bersujud kepadamu, aku akan bersujud dan memohon untuk mengembalikan mereka padaku. jika bukan mendengarkan nasehat Ibu mertuaku dulu, saat ini aku mungkin sudah melawan padamu."


Suasana di dapur itu hening, aku masih menangis dan memeluk kakinya. Kalau bukan karena mendengar suara tangis Queen aku mungkin masih tetap merangkul kaki suamiku itu.


Pada saat aku masuk ke dalam kamar kulihat dia menangis memanggil Mama.


"Anak Mama nangis kenapa?" Kucium dan kupeluk dia, untuk menidurkannya kembali.


Saat seperti inilah yang Mama rindukan Nakk, disaat kamu tidur dalam pelukan Mama. Berkali-kali kucium kepalanya, kusenandungkan salawat untuk menidurkannya, dan sekaligus untuk menenangkan hatiku.


Sejak kejadian malam itu Mas Jaya mulai menyibukkan dirinya, pagi selesai shalat subuh dia langsung ke pasar, kalau aku ada jam kuliah, maka kami gantian menjaga Queen. Mas Jaya mulai sering main di pasar di Kota yang kami tempati saat ini, perlahan hubunganku mulai hangat lagi, tapi masih ada kekakuan dalam kehangatan itu. Kalau kemarin-kemarin dia yang selalu menyuapi anaknya makan, sekarang nggak pernah lagi.


Hari ini aku nggak ada jadwal kuliah, disaat aku menyuapin Queen makan siang, kulihat Mas Jaya baru pulang. Dia duduk disamping putrinya yang sedang kusuapi makan.


"Kamu dah makan sayang?" Tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng. Dia langsung meminta Bi Ijah mengambil piring, menyendok sendiri nasi ke dalam piringnya.


Disodorkannya makanan yang ada dalam tanyannya kearah mulutku.


"Aku dah lama nggak nyuapin kamu makan, makanlah sama denganku."


Selama Queen ada, baru ini kurasakan dia mulai menyuapiku lagi, ada rasa canggung dan sedikit kekakuan.


********


Disaat aku sudah menidurkan Queen, Mas Jaya mengajakku duduk di balkon kamar.


"Aku sudah merenungi semuanya, aku sudah mengintrospeksi diriku. Sejak kita ada anak, akupun merasakan Zahraku yang dulu pergi. Aku rindu kenakalan-kenakalan istriku. Aku akan kembalikan suamimu, tapi kembalilah seperti istriku yang dulu.


Kehangatannyalah yang bisa mencaikan kebekuan hatiku Zahra, Aku salah, aku akui kesalahanku, tapi kembalikan jiwa istriku yang hilang karena ulahku. Katakan padaku, bagaimana cara membawa jiwanya pulang lagi." Digenggamnya tanganku, sambil berdiri diatas kedua lututnya.


"Pindahkan kamarnya, jangan buat dia tidur dengan kita lagi, aku nggak mau dia dewasa sebelum waktunya. Karena suamiku itu nggak bisa mengendalikan diri, kalau sudah dimanjakan." Ucapku padanya.


Kupengang kedua pipinya, lalu kusentuh wajah itu dengan ujung-ujung jariku. 


Perlahan kudaratkan kecupan dikeningnya. Setelah itu, kusatukan wajahku dengan wajahnya, kupandang mata itu dengan jarak yang sangat dekat.


Aku mencoba mencari dan menyusuri kehangatan didalam mata itu. Lama kutatap tanpa berkedip. Akhirnya aku menemukan yang kucari dalam tatapan itu. Pandangan mata yang hangat, yang penuh cinta itu rasanya sudah kembali.


"Aku sudah menemukan kembali istriku Zahra, terimakasih mengembalikan nya" Mata yang kupandangi itu mulai berkaca-kaca.


"Jangan tinggalkan aku lagi Masss, aku benar-benar sangat rapuh tanpamu"  Kurangkul kepalanya dalam pelukanku. " Aku rindu sama kamu."

__ADS_1


"Jangan nangis Zahraaaa" Bisiknya pelan.


"Disaat aku menangis, apakah kamu udah mulai merasakan sakit lagi?!"


"Iya, bahkan sekarang lebih sakit dari pada sebelumnya."


Kujauhkan kepalanya dari dekapanku, kupandangi dan kucium wajahnya.


"Sekarang, biarkan dia tidur dengan ditemani Bi Ijah yah, tapi sebelum dia terlelap tetap kita menemaninya." Dianggukkan pelan kepalanya, menjawab perkataanku.


********


" Kamu benar, sejak dia pindah, aku benar-benar menemukanmu." Dikecupnya keningku.


"Diamlah, biarkan aku menikmati kehangatan tidur didadamu." Sesaat kurasakan detak jantungnya.


"Sayang, aku boleh jujur padamu? Tapi janji jangan marah ya." Ucapanku memecahkan kesunyian sesaatku.


"Boleh." Jawbnya singkat.


" Aku barusan berfikir, Antara suamiku, Heru Sanjaya yang biasa dipanggil Jaya itu, dan mantan Boss ku, Sepertinya aku lebih menyukai karakter Bossku."


"Alasannya?"


"Aku nggak bisa menyebutkan alasannya, tapi aku benar-benar merasakannya."


"Kau ingin berselingkuh dengannya? Berani-beraninya kau mengagumi laki-laki lain setelah kau bercinta denganku."


Aku segera bangun dan duduk melihat wajahnya.


"Kau marah Mas? Kau bisa marah? kalau kau marah seperti ini kau mirip sama Tuan Heru itu." Kubesarkan mataku dan tersenyum padanya.


"Kadang-kadang kalau mengikuti candaanmu, aku gila Zahra." Dipukulnya pelan keningku.


"Tapi kau membuatku lebih hidup dengan kegilaanmu." Ditariknya tubuhku dalam pelukannya.


"Tidurlah besok aku ada jam pagi, semoga aku berangkat Queen belum bangun, jd aku nggak melihatmu memanjakannya."


"Kau wanita aneh dengan anak sendiripun kau cemburu."


Aku tertawa bersamanya, kembali kami mengingat moment-moment yang buat kami harus saling bertengkar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jam enam pagi, Mas Jaya mengantarku pergi kuliah, Queen belum bangun pada saat aku berangkat, Aku menitipkannya pada Mama dan Bi Ijah.


"Sayang, aku udah lama nggak pernah naik motor sama kamu, rasanya nyaman banget bisa meluk kamu."


"Sayang, kalau rayuanmu bisa membuat aku kenyang, rayulah aku terus."


"Hahhahahaa, Kau nggak kreatif banget sih jadi orang, itukan kata-kataku." Sambil kucubit perutnya.


Sepanjang perjalanan ke kampus, aku bercanda dengannya. Sampai dikampus, aku mengajaknya untuk makan mie ayam.


Selama aku kuliah, udah satu semester nggak ada yang tau tentang kehidupanku, melihatku hari itu diantar Mas Jaya, temanku pada heran.


Yuni teman sekelasku yang saat itu sama makan mie ayam, melihatku aneh karena aku makan semangkuk berdua dengan Mas Jaya.


Selesai makan, Mas Jaya pamit pulang, dan mencium keningku.


"Za, tunggu." Panggil Yuni.


"Udah mau terlambat, ayo buruan masuk. Kalau mau wawancara atau mengintrogasiku nanti aja." Kutarik tangannya menuju ruang kelas.


Selesai Jam kuliah aku menelpon Mas Jaya untuk menjemputku waktu itu sudah jam tiga sore.


Yuni yang sudah ada disampingku, berusaha bertanya ada hubungan apa dengan Mas Jaya.


"Kamu nggak salah kenal sama preman pasar gitu Za, masih sehatkan lo."


"Dia suamiku, ayah dari anakku." Ucapku sambil tersenyum..


"Jangan bercanda, kau nggak tau kalo Pak Roni suka sama mu." Ucap Yuni.


"Bilang dengan Dosen gantengmu itu, aku sudah bersuami, dan aku nggak mau cari masalah."

__ADS_1


Yakinkan Aku Za, Itu bener suami mu?! Laki-laki nyeleneh, urakan dan kadang nggak tau malu itu?! Yang suka nongkrong di pasar dan bergaul dengan para preman gitu?!" Cerca sahabatku.


Aku hanya tersenyum, dan mengangguk untuk menjawab semua perkataannya.


"Kok bisa sih Za, mau sama laki-laki begitu, macam nggak ada laki-laki lain aja. Dia dapat kamu ketiban bulan, lah kamunya?! Mungkin lagi mabok loe ya, nerima lamaran dia.."


Lagi -lagi, aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.


"Patah hati sebelum waktunya donk mereka."


"Udah ya, tu suamiku udah jemput sama anakku." Aku tepuk pundak Yuni, dan pamit pergi meninggalkannya.


Kulihat Mas Jaya dan Queen datang menjemputku. Aku segera masuk ke dalam mobil, dan memangku Queen.


" Anak Mama cakep banget, udah Mandi?" Tanyaku pada putriku itu dan tak lupa aku menciumi pipi gembilnya itu.


"Udah"


"Oh ya, Sapa yang mandikan?


"Papa"


"Tadi pagi mandi sama Papa juga?"


"Iya. Semua-semua sama Papa.


"Oh ya."Kupeluk erat dia. Sekilas kulirik suamiku yang lagi mengemudi itu, kulihat dia sedang tersenyum.


"Kalo gitu Mama boleh kasih hadia sama Papa?"


Kulihat dia sedang berfikir, untuk memberikan jawaban.


"Boleh"


"Tapiiiiii, anak Mama yang cantik ini harus tutup mata ya. Mama, malu sayang kalau dilihat kamu."


Kuminta Mas Jaya untuk berhenti sebentar. Kuminta juga dia untuk mencium pipi anaknya. Setelah itu kututup matanya.


Kuarahkan pandangan pada suamiku itu. Wajahnya yang masih dekat kupandangi.


Kuusap lembut pipinya, kuberikan kecupan dikeningnya. Lalu kucium bibirnya dengan lama.


"Makasih, sayang" Ucapku pelan.


Dia membalas dengan memejamkan matanya, dan mengangguk pelan.


"Makasih juga sudah mau berjuang dan memberiku putri yang cantik ini." Dikecupnya keningku.


"Mama! Ini Papa Queen." Suara cempreng Queensha membuat Mas Jaya melepaskan kecupannya.


"Kamu iri banget sih Queen, kalau Papa dekat sama Mama, seharusnya kamu ada dipihak Mama, bukan Papa."


Mas Jaya langsung tertawa, disambut juga dengan tawa Queensha yang sudah toss dengan Papanya.


Aku menitipkan Queen sama Neneknya. Wulan segera membawanya ke dalam rumah. Sebelum dia tau aku menculik Papanya.


Aku dan Mas Jaya langsung menuju rumahku.


Sesampai di rumah Mas Jaya menyuruh Bi Ijah untuk lihat Queensha di rumah Mama.


Aku langsung duduk dipangkuan Mas Jaya yang sudah terlebih dahulu duduk ditepi ranjang. Kulingkarkan kedua tanganku dilehernya.


"Kalau Putrimu itu nggak dititp disana, aku nggak punya waktu untukmu. Seperti inikah sakitnya waktu kamu mencemburuiku Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya.


"Makanya aku suka marah nggak jelas." Jawabnya sambil mencium pipiku.


"Tapi, aku ini Mamanya, kenapa harus saingan sama dia sih."


"Kalau sainganmu wanita lain, kamu akan berbicara dengan angkuh dan penuh percaya diri, tapi dengan putrimu, kau kan nggak bisa seangkuh itu."


"Ini mungkin balasan ALLAH atas dosaku sama kamu, karena aku sering menjahilimu kali ya." Kusentuh hidungnya dengan ujung hidungku.


"Kau ingat waktu aku masih sakit? Kau mengerjaikukan"


"Hahhaaa kau ingat saja Mas. Aku bayar hutangku sekarang, setelah itu kita mandi dan menjemput Putrimu itu."

__ADS_1


Trimakasih telah memberikan warna dalam hidupku Mas, trimakasih mengajarkanku apa makna dari seorang istri. Kita memang nggak tau siapa jodoh kita, menurut kita baik buat kita belum tentu baik menurut Allah, atau baik menurut Allah belum tentu buat kita. Yang penting ikhlas menerima segala yang sudah Allah tetapkan. Menikah dengan mu adalah jalan hidupku, menerima titahmu adalah bentuk baktiku, menghadapi sikap egoismu adalah metode belajar sabarku, dan aku harus menjalani ini dengan rasa ikhlasku. Bagaimana mungkin orang akan memberikan kita cinta kalau kita sendiri nggak pernah memberikan cinta.


__ADS_2