Suamiku

Suamiku
Part 44


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁


Sore hari, setelah memandikan Queen dan Rindu, aku memberi mereka makan. Rindu cukup diberi tahu sekali dia akan nurut, tapi tidak dengan Queen, dia akan bertanya sebanyak-banyak pertanyaan, dan jika dijawabpun belum tentu juga dia akan mengerti.


Disaat semua sedang asik di ruang TV, Rindu yang sedang bermain dengan Queen dan Bi ijah, Mas Jaya yang sedang nonton dengan acara kesukaannya, dan aku yang sibuk mengecek beberapa lembaran kertas kerja yang baru diberikan Wulan sebelum Magrib, tiba-tiba harus mendengar pertanyaan yang rasanya bingung untuk dijelaskan.


"Mama, kenapa orang itu ada di TV, kenapa Queen nggak ada disitu?"


ALLAHU AKBAR.....


Mas Jaya yang lagi sandaran dilenganku, langsung duduk mendengar pertanyaan putriku.


"Kamu anak kecil punya pertanyaan nggak ada yang lebih ekstreem dari itu Queen?"


"Ini akibat kamu banyak mau tau waktu hamil sayang,  jadi beginikan" Ucap Mas Jaya lagi padaku.


Aku yang bingung mau menjelaskan apa, mengalihkan pertanyaan putriku kehal lain.


"Ada yang mau ikut Mama makan es kream nggak yaaa.... Mbak, temani Mama ke belakang yuk" Ajakku pada Rindu.


Aku dan Rindu sudah ada di meja makan, tapi Queen sama sekali nggak perduli, sampai Mas Jaya datang gabung bersamapun dia tetap nggak memunculkan batang hidungnya, biasanya kalau diajak makan es kream dia nggak akan pernah nolak.


Karena Queen nggak muncul juga, Mas Jaya memangku Rindu, membelai rambutnya.


"Mbak kangen sama teman di Panti nggak?" Mas Jaya coba bertanya sama Rindu.


"Iya Pa"


Aku sendiri hanya menjadi pendengar yang baik dan budiman saja mendengarkan anak dan Bapak itu bercerita, sambil sesekali aku menyupkan es kream kemulut mereka berdua secara bergantian.


Aku dan Mas Jaya hampir lupa dengan Queen, sakin asiknya dengan Rindu, kalau dia nggak teriak dengan suara cemprengnya menyuruh Rindu turun dari pangkuan Papanya, mungkin memang sedikit lupa sama itu anak.


"Ini Papa Queen" Ucapnya setelah duduk dipangkuan Mas Jaya.


"Papa sama-sama Queen" Jawabku.


"Enggak!" Lalu diciuminnya wajah Papanya.


"Papa kamu jelek Queen, nanti Mama cari Papa baru buat Mbak Rindu" Jawabku.


Queen melingakarkan lengannya dileher Mas Jaya, dan nggak mau kalah dengan ucapanku.


"Mama Mbak juga jelek ya Pa, nanti kita cari Mama baru juga ya Pa" Sambil terus menciumin wajah Mas Jaya.


Dengan sedikit bercanda aku memajukan sedikit bibirku. Hasil yang kudapat bukannya Queen kasihan denganku, malah dia cekikikan dengan Mas Jaya, sambil berbisik dengan Papanya.


"Dia bilang apa Mas?" Tanyaku penasaran.


"Papa bilang ya" Ucap Mas Jaya pada Queen. Dia cuma menggangguk, dengan ucapan Mas Jaya


"Katanya, Mama cantik, tapi masih cantik Queen pada Mamakan Pa" Mas Jaya mengucapkan kalimat yang dibisikin Queensha ketelinganya, tapi aku nggak percaya begitu saja, karena pada saat Mas Jaya mengucapkan itu, Queen masih tetap senyum-senyum ngeledek.


Queensha...


Hadirnya kamu ditengah keluarga ini benar-benar membawa warna, dalam kehidupan Papa dan Mama, tapi terkadang tingkah tengilmu membuat sedikit orang tuamu harus mengasah otak untuk bisa lebih cerdas dari pada dirimu.


Habis bercanda di Meja makan, aku membawa keduanya untuk tidur. Lagi-lagi aku harus bermain drama dengan Queen, pada saat dia aku suruh sikat gigi.

__ADS_1


"Queen nggak makan es kream, nggak sikat gigi dong"


"Nurut ngapa sih Queen kek Mbak"


Aku meminta Bi Ijah untuk gantikan baju Rindu, dan membawa dia tidur.


Sementara aku masih di kamar mandi, dengan putriku.


"Mama juga sikat gigi" Ucapnya karena aku terus memaksanya.


"Iya, Mama juga nanti sikat gigi, tapi nanti setelah kamu" Dia menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya.


Aku langsung menggendongnya keluar, dan membawanya ke kamar mandi yang ada di kamarku. Begitu melihatku selesai sikat gigi, baru dia mau untuk membersihkan giginya.


Setelah acara drama yang dibuat Queen aku segera membawa dia ke kamarnya dan menggantikan bajunya.


"Udah tidur?" Tanya Mas Jaya begitu melihatku masuk ke dalam kamar, dan menuju lemari untuk mengambil pakaian gantiku.


"Sabar ya sayang" Di usapnya kepalaku, lalu diraihnya tubuhku dan dibawa dalam pelukannya. Seperti inilah perlakuan Mas Jaya padaku, setiap kali Queen membuat ulah. Setiap pelukan yang dia berikan itu seperti menjadi kekuatan dalam diriku.


Aku melepaskan pelukan Mas Jaya. "Aku ganti baju dulu yah" Akupun melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar, dan mengganti pakaianku.


Disaat aku keluar kamar mandi, aku sedikit lemas, mendekati suamiku yang sedang duduk bersandar dikepala tempat tidur.


"Sayang... Kamu puasa seminggu ini ya" Ucapku pelan.


"Yah... Ini gara-gara anak kamu ini" Mas Jaya langsung merebahkan dirinya, membelakangiku.


"Sayang, kamu tadi baru aja nyuruh aku sabar, tapi kamunya udah begini, kalau kamu marah sama aku, aku tidur dibawah aja, kalau kamu tidur dalam keadaan marah sama aku, udah pasti aku dilaknat para Malaikat." Aku menarik nafas pelan.


Akupun turun dan duduk bersandar disisi tempat tidur.


"Kamu berhasil membuat para bidadari di Syurga sana mentertawakanku, kalau kamu marah samaku, mereka pasti bahagia" Jawabku pelan, sambil tertunduk lesu.


"Kamu sama Queen sama saja" Diraihnya bahuku dan merangkulnya, dan dalam hitungan detik, dia langsung membopong tubuhku dan meletakkannya diatas tempat tidur.


"Aku bahagia punya suami seperti kamu Mas" Ku kecup kening Mas Jaya.


"Lebih bahagia aku Zahra, aku nggak mau istriku dilaknat para Malaikat dan dijadikan bahan gosipan para Bidadari syurga, makanya aku nggak mau tidur dalam keadaan marah denganmu"


Dipeluknya tubuhku dengan erat.


"Tapi Mas, nanti di Syurgapun aku akan berbagi dirimu dengan mereka"


"Kamu kejauhan mikirnya, udah sama seperti anakmu. Nggak ingat dia nanya, kenapa di TV ada orangnya, kenapa bukan dia"


Aku dan Mas Jaya tertawa bersama mengingat ucapan Queen. Inilah caraku untuk selalu bisa menghangatkan hubunganku dengan suamiku.


Mungkin banyak pasangan diluar sana yang merasa hambar dalam menjalani hubungan suami istri, karena kehadiran anak-anak dalam kehidupan mereka. Jika ditanya lelah, sangat lelah tentunya dengan aktifitasku yang harus bisa membagi waktu, anak, suami, rumah, dan pekerjaan lainnya, tapi bagaimanapun aku mencoba untuk ikhlas.


Sebisa mungkin aku akan meminta Mas Jaya untuk memelukku saat akan tidur, karena pelukannya adalah sumber kekuatan dalam diriku, untuk menghadapi tantangan hari esok.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bukan Queensha Sanjaya namanya kalau melek mata nggak buat ulah, setelah memandikan dan selesai memakaikan baju kedua putriku itu, aku segera mempersiapkan sarapan keduanya.


Disaat aku masih sibuk memasak untuk mereka, Queensha sudah membuat rumah seperti kapal pecah, yang lebih sakitnya dia masuk ke kamar, dan memainkan semua peralatan make-upku.


Mas Jaya pagi ini masih di pasar, Bi Ijah sedang menjemur pakaian. Kalau bukan Rindu yang memberi tahu, aku mungkin tidak akan pernah tau apa yang dia lakukan, karena aku masih sibuk di dapur.


"Mama Queen" Ucap Rindu, sambil menarik bajuku menuju kamar.


"Astaqfirullah, Queenshaaaa! Kamu apa-apaan sih" Segera ku angkat dia yang sedang duduk diatas meja rias dan mencoret-coret kaca dengan lipstik.


"Punya anak, ampun Mama lihat kamu, kamu udah mandi loh, ini kan jadi kotor semua" kududukkan dia diatas meja makan.


Mama mertua dan Wulan yang pagi itu datang membawa makanan, melihat wajah Queen yang udah coret moret seperti ondel-ondel jadi tertawa.


"Heru juga dulu kecilnya buat Mama ngelus dada, sayang" Hibur Mama, sambil mengelus punggungku.


"Nenek, Queen cantik seperti Mamakan?" Ucap Queen sambil mengerjapkan kedua matanya, pada Neneknya.


"Kamu itu centil tau!" Ucapku, meninggalkan dia yang sedang dipangku sama Neneknya.


"Kakak dulu ngidam apa sih?" Tanya Wulan yang mengikutiku mengambil baju ganti untuk Queen, masih dengan tawa membayangkan ulah keponakannya.


"Ngidam makan hati, berulam jantung" Jawabku sambil ikut tertawa.


Disaat aku keluar dari kamar anak-anak, Mas Jaya udah pulang dari pasar.


"Di rumah kita mau ada acara lenong sayang?" Mas Jayapun tertawa terbahak melihat wajah anaknya.


"Iya, tu ondel-ondelnya" jawabku.


Queen yang memang bocah polos, melihat semua tertawa diapun ikut tertawa, padahal semuanya sedang mentertawakan dia.


Menjelang siang, Mas Jaya mengantarkanku pergi kuliah. Kedua putriku, ikut mengantarkan.


Kalau sudah seperti ini, aku merasa bersalah meninggalkan Mas Jaya untuk merawat anak-anak, terutama anakku sendiri.


Queen yang begitu aktif terkadang membuat dia nggak fokus untuk bekerja. Bukan hanya perkebunan aja yang harus dia tangani.


Queen dan Rindu sudah tertidur dimobil. Pada saat aku mau keluar dari mobil, karena udah sampai di depan kampus, kupegang kedua pipi Mas Jaya, kukecup kening suamiku itu dengan lama.


"Makasih untuk semua yang kamu beri buat aku sayang" ucapku pelan.


"Tetaplah menjadi Zahraku seperti ini, sampai salah satu dari kita ada yang dijemput"


"Aku akan selalu mendo'akanmu panjang umur Mas" Di kecupnya keningku, dan aku juga mengecup bibirnya, setelah itu aku keluar dari mobil, dan melihatnya pergi meninggalkanku.


Aku langkahkan kaki menuju gedung dimana aku meraih ilmu. Disaat aku asik berjalan, sahabatku tiba-tiba merangkulku.


"Za, gue mau beri sesuatu buat lu"


Aku mengerutkan dahiku mendengar ucapan temanku itu. Ku lihat dia mengeluarkan dua batang coklak, yang ukuran besar.


"Ini hadiah apa sogokan?"


"Ini dari seseorang yang cinta mati ma lu" Ucap Yuni.


"Maaf, Yun.. Tolong bilang aku, nggak bisa menerima ini. Aku seorang wanita yang sudah bersuami, jadi sekali lagi, aku minta maaf"

__ADS_1


Yuni memaklumi semua perkataanku. Aku tau siapa yang memberi itu pada Yuni, dia Om nya temanku ini, dan dia salah satu Dosen disini. Usia sudah cukup untuk menikah, tapi sampai saat ini masih single.


Aku nggak ingin punya masalah, dan nggak ingin membuat masalah. Yang pasti aku sudah punya perencanaan kedepan untuk pendidikanku.


__ADS_2