Suamiku

Suamiku
Part 35


__ADS_3

Jam tiga dini hari, Mas Jaya membangunkanku.


" kenapa sayang?" Tanyaku dengan mata yang masih mengantuk.


" Aku lapar sayang."


Kubuka mataku lebar-lebar, untuk memastikan apa yang dia ucapkan.


"Apa sayang? Kau lapar?" Tanyaku untuk meyakinkan diriku.


" Iya sayang, aku lapar."


Aku segera turun dari tempat tidur menuju dapur.


Mau makan apa jam segini, ucap hatiku.Pada saat aku menuju dapur, kudengar suara orang yang sedang menangis.


Siapa yang menangis dipagi buta begini, sedikit ragu aku mendekati dapur, tapi rasa penasaranku semakin kuat.


Ingatan kumelayang kepada cerita-cerita horor yang pernah kubaca bahwa orang hamil itu sering di ikuti oleh makhluk-makhluk astral.


Semakin aku mendekati dapur maka suara itu semakin jelas. Ini Manusia Zahra, nggak usah parno sendiri. Aku berdialog dengan diriku sendiri.


Duuhhh gimana ini, kalau aku balik ke kamar, dia sedang lapar, aku mau melangkah ke dapur. Ahh.. bodo ah, udah pernah pingsan ini, paling juga pingsan lagi.


Kuberanikan mendekati dapur, di depan pintu dapur aku sedikit mengintip untuk memastikan siapa yang ada disana.


Hhuuuufffttt lega, kuusap dadaku karena melihat Kak Ayu yang sedang menangis.


Sengaja aku kembali beberapa langkah, dan berdehem sebelum mendekati pintu dapur. Pada saat masuk ke dalam dapur aku sengaja tidak menegur dan menyapanya.


" Kau mau apa Zahra?" Tanyanya padaku.


" Mau cari makanan." Sambil membuka kulkas. Kuambil box makanan yang berisi buah-buahan yang udah siap makan.


"Zahra, maukah kau memaafkan ku?" Dia bertanya lagi dan menahan langkahku.


" Hiduplah dengan baik Kak, Insya Allah aku akan memaafkanmu dengan ikhlas, namum kalau sekarang, aku bisa memaafkan tapi rasa kecewaku masih ada."


Kuhusap halus punggung lengannya. Kutinggalkan dia yang masih berdiri dihadapanku. Baru beberapa langkah aku menolehkan pandanganku lagi kearah Kak Ayu.


Dia masih berdiri mematung, dengan menundukkan wajahnya. Kembali aku ke dapur melewatinya untuk mengambil air dikulkas.


Pada saat aku lewat lagi dihadapannya, kuhentikan langkahku, kupeluk dia, yang masih mematung.


" Aku bahagia mengenal keluarga kalian. Kalian adalah keluarga yang sangat saling menyayangi satu sama yang lain."


Setelah melepas pelukanku, lalu aku meninggalkannya tanpa melihatnya lagi.

__ADS_1


"Lama sekali, aku dari tadi menunggumu" rengek Mas Jaya.


" Cup cup cuupp.. Bayi gede Mama udah lapar ya sayang, maaf yaaaaa.... " Kutarik kedua pipi Mas Jaya dengan gemas.


" Udah Zahra, jangan ngomong begitu geli aku dengarnya." Ucap Mas Jaya sambil begidik geli.


Kupandangi Mas Jaya yang sedang makan.


" Apa yang sedang kamu fikirkan Zahra?" Sambil memasukkan potongan buah kemulutnya.


" Aku berfikir, bahwa Papanya anakku adalah orang yang pelit."


"Maksudmu?" Tanya nya dengan menyatukan alisnya.


Kusandarkan tubuhku disandaran kursi yang sedangku duduki.


perlahan kuusap perutku.


" Nak, tau nggak Mama dibanguni pagi buta begini karena Papamu lapar, waktu mama keluar tadi mama udah hampir pingsan ketakutan, sekarang menawarkan untuk kitapun tidak. Miris banget nasib Mamamu ini"


Mendengar ucapanku dia tertawa. Dimajukannya badannya mendekatiku.


"Aku akan memberinya kalau kau mau mengambilnya dari mulutku. Karena rasanya akan menjadi sangat manis, tapi kalau aku menyuapimu, lebih baik jangan."


"Kalau aku mengambil dari bibirmu, kau akan minta lebih apalagi ini udah menjelang subuh. Lebih baik tidak, makanlah." Kutolak dia agar menjauhiku.


"Nih makanlah." Diarahkannya buah yang sudah ditusuk garpu kemulutku. Baru aku menggigitnya segera kukeluarkan lagi.


Melihat reaksiku memuntahkan yang kumakan dia memtertawaiku.


"Masih mau?" Tanyanya dengan memainkan kedua alisnya.


"Enggak!" Jawabku sedikit merajuk dan naik ke tempat tidur, dan membelakanginya.


"Kau merajuk denganku?"


" Tidurlah Mas, aku masih ngantuk."


Kudengar dia hanya menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


******


Selesai Shalat Subuh aku langsung ke dapur. Mama sudah selesai masak.


"Suamimu udah bangun Nak?" Tanya Mama yang sedang menyiapkan makanan didalam mangkuk.


"Udah."

__ADS_1


Mama lalu menyuruh Kak Ayu mengantarkan makanan untuk Mas Jaya.


"Biarkan mereka bicara, Kakakmu benar-benar menyesali perbuatannya."


" Semoga ada kebaikan ya Ma." Kupeluk Beliau dan menciumin pipinya.


Mama membawaku duduk dikursi, lama dia memandangiku.


"Zahra, bolehkah Mama minta satu permintaan?"


" Mama minta apa?"


" Bolehkah Mama meminta Anak laki-laki Mama hidup dengan Mama lagi?"


Aku terdiam mendengar permintaannya. Kupandangi lekat-lekat wanita yang ada didepanku. Melihatku tidak menjawab Mama langsung tersenyum getir.


" Apakah Zahra dan cucu Mama nggak boleh hidup dengan kalian?"


Mama langsung mencubit pipiku. " Dasar anak nakal.


" Zahra akan kembalikan anak Mama tanpa diminta. Zahra juga ingin merasakan kasih sayang Mama." Dipeluknya aku dengan erat.


Wulan datang menghampiri, kuulurkan satu tanganku padanya, lalu memeluknya, secara bergantian kuciumi pipi keduanya.


" Kalau Wulan menikah, titip Mama dan abang ya. Saatnya Wulan menemukan kebahagian dalam hidup Ulan."


Pagi itu aku sarapan bertiga bersama Mama dan Wulan. Aku lama-lama jadi terbiasa makan disuapi. Sehabis makan Wulan pergi ke kebun, dia bekerja di perkebunan Mas Jaya sebagai Pengawas lapangan.


Mama seperti biasa, akan pergi dengan Bi Yanti memasak untuk para pekerja. Menjelang jam istirahat beliau baru pulang.


Setelah bicara secara empat mata dengan mas Jaya, Kak Ayu pamit pulang.


Sekarang tinggallah aku berdua dengan suamiku tercinta. Manusia super yang selalu membuatku kesal dan benci. Hehehe benar-benar cinta. 😊😊


Pada saat aku masuk ke dalam kamar, kulihat Mas Jaya sudah tertidur. Mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.


Karena nggak tau harus melakukan apa, aku berencana main game yang ada di HP Mas Jaya. Dia nggak pernah marah, atau keberetan kalau aku memegang HP nya.


Entah kenapa hatiku tergelitik membuka galery HP nya. Satu persatu foto yang ada aku lihat, termasuk salah satu foto keluarganya waktu masih lengkap.


Ternyata Almarhum Papa mertuaku sangat tampan, seperti keturunan orang-orang Timur Tengah, Mama juga sangat cantik,pantas mereka punya keturunan yang cantik dan tampan, Diantara Wulan dan Kak Ayu ada seorang wanita yang jauh lebih cantik dari mereka berdua, Matanya yang bulat besar sama dengan Papanya, hidungnya yang mancung, kecantikannya benar-benar sempurna. Dia pasti Ria, bisik hatiku.


Kupindahkan padanganku dari foto mereka, kugeser kebeberapa foto lain, kulihat foto kuberdua dengan Mas Jaya. Aku sempat tersenyum kalau mengingat moment-moment foto itu diambil.


Disaat aku ingin berhenti, nggak sengaja jariku membuka foto yang dikirim dari aplikasi WA. Jantungku hampir berhenti berdetak melihat foto yang ada, foto Mas Jaya dengan seorang wanita yang sedang berada di dalam selimut.


Kubuka Aplikasi WA nya untuk mencari tahu keterangan foto tersebut. Kulihat kontak dari pengirim foto tersebut 'TIA'

__ADS_1


Sejauh itu kau berbuat dengan dia Mas, ucap hatiku.


Kuletakkan kembali HPnya diatas nakas. Kupandangi Mas Jaya yang sedang tidur. Aku ingat perkataan Wulan seperti apa abangnya.


__ADS_2