Suamiku

Suamiku
Part 23


__ADS_3

Sore itu aku pulang dengan Ika, sehabis makan siang Mas Jaya harus ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


" Lu dari tadi diam aja Buk, Lagi mikirin apa?" Tanya Ika yang sedang mengemudikan motornya.


" Nggak apa-apa, gue cuma mikir, gue naik kura-kura apa naik motor sih, perasaan lama banget." Jawab ku.


"Sialan lu, kalau nggak mikirin bawa bumil mah gue dah ngebut kali."


Maaf Ka, nggak semua yang ada dalam hidup gue harus gue ceritain ke lu, sebab memang ada ruang privasi yang nggak bisa gue umbar kesiapapun. Tapi bukan berarti gue nggak menghargai kepedulian lu ma gue.


Setelah menurunkan aku didepan rumah Ika langsung pulang, aku langsung masuk rumah dan menuju kamar untuk membersihkan diri. Selasai mandi dan berpakaian aku langsung turun untuk menyiapkan makan malam.


" Ibu sejak hamil tambah cantik aja sih Bu." Ucap Bi Ijah dengan menyunggingkan senyum.


" Jangan bilang Bibi minta naik gaji ya." Balas ku sambil sedikt tertawa.


" Sejak sama Ibu saya bisa lihat senyum Bapak, atau dengar Bapak tertawa, dulu mandang pun saya nggak berani Buk."


" Wah Bibi dah mulai jelekin suami saya."


Seketika raut wajah si Bibi agak berubah.


" Udah nggak usah dipikirkan, saya bercanda, maaf ya Bi." Sambilku usap pelan lengannya.


Selesai masak dan Shalat Magrib aku minta Bi Ijah menemaniku untuk nonton TV.


"Bi, Bibi bisa kerja sama Bapak dari mana? Lewat Yayasan?" Tanyaku untuk membuka permbicaraan.


Kulihat Bi Ijah seperti enggan untuk bicara.


" Ya sudah kalau nggak mau cerita." Ujarku sambil tersenyum.


" Maaf Bu, bukan nya nggak mau cerita, nanti saya salah bicara Ibu bilang saya jelekin Bapak." Lalu dia menundukkan kepalanya.


"Omongan saya tadi jangan diambil hati, sayakan udah minta maaf."


" Saya dulu ikut Non Ratna dan Bapak karena Bapak pindah rumah saya diajak ikut ke rumah Bapak."


"Bapak sama Bu Ratna pernah tinggal serumah?" Tanyaku dengan mengernyitkan dahiku.


" Apa Ibu nggak tau kalau Bapak kerabat jauh dari pihak Ibu Non Ratna?" Ucap Bi Ijah dengan polosnya.


Aku yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung diam.


"Bi, anaknya Bu Ratna kemana? kalau Bu Ratna dulu pernah hamil berarti anaknya sekarang pasti sudah remajakan?"


" Ibu tau kalau Non pernah hamil."


" Bapak pernah cerita."


" Non keguguran." Jawab Bi Ijah singkat.


Kudengar suara mobil memasuki halaman rumah. Pembicaraan ku sama Bi Ijahpun kuhentikan.


" Jangan cerita sama Bapak apa yang kita bicarakan ya. Saya mohon." Pintaku sama Bi Ijah, dan dia membalas dengan anggukan.


Kudengar Mas Jaya mengucapkan salam, dan membuka pintu depan.


" Kamu dah makan sayang?" Tanya Mas Jaya begitu melihatku diruang tengah, lalu mengecup puncak kepala ku.


" Belum, nungguin kamu. Kamu mau mandi atau makan dulu Mas? Aku masak tadi." Sambil membuka dasi yang dipakainya.


" Makan aja, kalau udah masak, habis itu kamu ganti baju, aku mau ajak kamu jalan-jalan, anggap aja kita mau kencan, kitakan nggak pernah pacaran." Ucapnya sambil mecolek hidungku.

__ADS_1


" Kamu ganjen amat sih, dah tua kamu, nggak pantes pacaran."


Dia hanya membalasku dengan senyumannya yang menawan.


"Mass, kita nggak usah kemana-mana ya, kita di rumah aja. Lagian ini udah malam, nggak baik juga buat ibu hamil." Ucapku setelah selesai makan.


" Okelah. Aku mandi dulu. Tapi jangan tidur dulu ya, kita duduk di balkon aja.


Setelah meminta Bi Ijah mengunci pintu dan jendela, aku dan Mas Jaya langsung naik ke kamar.


"Kamu tadi mau ngajak aku kemana emangnya Mas?" Tanyaku setelah aku melihatnya keluar dari kamar mandi.


"Tadinya aku ingin ngajak kamu ke Ancol, duduk ditepi pantai, mendengarkan nyanyian alam, mendengarkan kolaborasi antara ombak dan hembusan angin, apalagi sekarang bulan purnama, pasti indah sayang terlebih sambil memeluk mu." Ujarnya, lalu memelukku dari belakang, dan mencium pipiku.


Diarahkannya langkah kakinya menuju balkon,dengan tubuku yang masih dalam dekapannya.


" Kamu kenapa sih, tiba-tiba jadi seperti ini, habis kena tonjok otak kamu jadi ngeblank ya."


" Nggak pa-pa ngeblank kalau masih ingat kamu dan makin cinta sama kamu." Ucapnya sambil menciumi pipiku.


Kutarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


" Kamu kenapa? sesak nafas? kamu nggak punya riwayat asma kan?" Tanya Mas Jaya.


" Dari tiga pertanyaan kamu, jawabnya cuma satu, enggak. " Kubalikkan tubuhku menghadapnya


"Namanya orang hamil Mas, terasa agak berat aja bernafas." Otakku masih memikirkan apa yang dikatakan sama Bi Ijah.


Untuk apa kamu merahasiakan dirimu sama aku Mas,ucap batinku.


Kupandang wajah Mas Jaya.


" Kamu kenapa liat aku gitu banget? Apa yang kamu pikirin?" Dipegangga kedua pipiku.


" Udah diobati Ratna tadi."


" Pak Fajar nggak cemburu, secara kaliankan hanya teman, teman kuliah dan rekan bisnis, apalagi kamu dulu sempat mau dinikahkan sama dia. Pastilah Pak Fajar udah tau hal inikan?" Ucapku sedikit kesal.


" Sayang, kamu ngomong apa sih, kamu cemburu amat Ratna?" Kembali Mas Jaya bertanya padaku.


"Sedikit, pada saat aku mau ngobati luka kamu, kamu nggak kasih. Tapi kamu nggak keberatan Mbak Ratna yang ngobati. Kalau kamu tanya seperti itu, aku jawab iya aku sedikit cemburu." Aku berlalu dari hadapannya dan menaiki tempat tidur, meninggalkan nya yang terdiam mendengar kata-kataku.


" Sayang, kalau aku salah aku minta maaf." Dikecupnya kepalaku, direbahkannya dirinya dibelakangku.


" Semakin sering kamu minta maaf, akan semakin sering kamu melakukan kesalahan. Jadi nggak usah sering-sering minta maaf. Cobalah untuk lebih terbuka memahami istri itu siapa dan fungsinya apa, bukan minta maaf tapi mengulangi kesalahan-kesalahan yang baru lagi."


"Semarah apapun kamu samaku Zahra, Jangan punggungi aku kalau tidur"


Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Ku tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


" kamu ini mau tidur aja banyak maunya. Kalau aku menghadap kamu gini, terus kalau aku meluk kamu, perut aku ketekan, nafasku tambah sesak. Sampai disini fahamkah Tuan Heru Sanjaya, suamiku yang paling tampan se-Asia Tenggara." Lalu kukecup kening, kedua pipi dan terakhir bibirnya.


" Tidur dan jangan brisik lagi." Kuletakkan kepalaku didadanya.


" Kamu salah kalau cemburu sama Ratna."


" Aku udah pernah bilang jangan sebut nama orang lain, di tempat tidur. Disini hanya ada kamu sama aku, nggak orang lain."


" Setidaknya kamu harus dengarkan aku bicara Zahra!"


Mendengar dia bicara seperti itu, akupun langsung turun dari tempat tidur, dan duduk di sofa.


" Tadinya aku ingin tidur, tapi kalau kamu mau aku dengarkan kamu bicara, sini, duduk disini." Aku segera turun dari tempat tidur, dan menuju sofa, lalu memintanya duduk disebelahku.

__ADS_1


" Kamu kenapa jadi seperti ini? aku punya salah apa sama kamu? Aku sama Ratna tidak ada hubungan apa-apa. Kamu harus ngerti itu, dia hanya membantuku tidak lain dan tidak lebih!"


" Aku seorang istri, aku yang berhak atas diri kamu, sebaliknya kamu berhak atas diriku. Jika aku yang terluka seperti kamu, lalu ada orng lain yang mengobati luka diwajahku, kamu tau bahwa keluarganya pernah memintaku untuk menikah dengannya, apa yang kamu rasakan? Cemburu atau tidak? Istrimu loh disentuh orang lain wajahnya." Ku pandangi dia dengan seksama.


"Nggak ada jawabankan?" Ucapku sambil memaksakan untuk tersenyum.


"Bukannya kamu ingin bicara tadi, bicaralah. Kenapa sekarang kamu diam! Kalau kamu memang ingin bicara sesuatu yang penting aku dengarkan, tapi aku minta apa yang disampikan itu jujur, dan tidak ada yang ditutup-tutupi."


Ku lihat Mas Jaya masih terdiam dan memandangku.


" Udah lama kita menikah Mas, aku pun sekarang lagi hamil, tapi sekalipun Mama mu nggak pernah menelponku menanyakan tentang kehamilanku, serasa keluargamu hilang ditelan bumi. Aku jadi berfikir, jangan-jangan keluargamu yang datang melamarku waktu itu adalah orang bayaranmu. Untuk hal ini bisakah kamu jelaskan samaku?!"


Melihatnya hanya tetap diam, aku mendekatinya dan membelai rambutnya. Perlahan tanganku mengusap lembut pipinya.


" Aku nggak memaksamu untuk cerita apapun, naluriku mengatakan kamu nggak mengkhianati ku dengan wanita lain. Aku percaya hanya aku yang ada dalam hatimu, tapi aku nggak tau kenapa dan untuk apa kamu menyembunyikan jati dirimu." Ucapku pelan.


"Za.." Pada saat dia mau bicara, kuletakkan jari telunjukku dibibirnya.


" Nggak usah bicara lagi, kalau hanya sekedar untuk meminta maaf, dan mengalihkan pembicaraan dari apa yang ku mau." Kuletakkan keningku dikeningnya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, jangan kecewakan aku.


Kamu pernah bilang, apapun badai yang menimpa prahara rumah tangga kita, kamu memintaku untuk tetap bersamakan? Aku akan tetap bersamamu dan tetap mencintaimu, tapi jangan kecewakan aku."Lalu ku kecup dan mencium bibirnya.


" Tidur yuk, aku dah ngantuk." Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Ku rebahkan kepalaku dilengannya.


Kita boleh beda pendapat, tapi sebisa mungkin aku akan mencoba untuk kita tidak bertengkar hebat. Aku nggak ingin rumah tangga kita jauh dari Rahmad Allah. Meski aku nggak tau entah aku bisa atau tidak, tapi sebisa mungkin aku akan mencoba untuk bisa menenangkan.


🌼


🌼


🌼


" Sayang kamu nggak kerja? udah jam 9 ini. "


Dilihatnya aku masih di kamar sedang mengeringkan rambutku dengan hair dryer.


" Aku sudah minta izin nggak masuk. Aku mau nagih, yang tadi malam kamu mau ngajak aku jalan-jalan."


" Ya udah aku mandi dulu ya." Diapun melangkah masuk kamar mandi, dan akupun segera merapikan diriku.


"Kita mau kemana sayang?"


" Kita ke puncak yuk, aku pengen banget makan mie rebus dan kue moci disana."


" Jauh amat makan mie sampe sana."


" Udah nggak usah bawel." Aku membantu mengenakan pakaiannya.


Setelah semua beres. Aku dan Mas Jaya pamit sama Bi Ijah. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, kucoba untuk terus menutup mata seolah-olah aku sedang tertidur.


Disaat aku udah nggak mau tau tentang siapa Mas Jaya, disaat itu satu persatu tabir tentang dirinya juga dibuka. Kembali ku ingat perkataam Ibu mertuaku " Suamimu bukan orang yang baik, tapi saya sebagai Ibunya lebih mengenal anak saya." Perkataan ini yang sempat membuat kuragu. Semoga saja sikap manisnya juga bukan pura-pura.


Kulayangkan pikiranku keBapak. Pria yang sangat menyayangiku, disaat dia melepaskanku kepada laki-laki lain untuk menggatikan tugasnya, kulihat dia berusaha untuk tidak menangis, namun akhirnya air mata itu jatuh juga pada saat dia menciumku.


"Jadilah istri yang baik nak, berusalah untuk mengalah dan jangan membantah meskipun kamu diposisi yang benar. Berusalah untuk menjadi air dan tanah, karena dua unsur inilah yang bisa memadamkan api." Itulah nasehat yang dia ucapkan padaku saat itu.


" Sayang kamu menangis?" Ucapan Mas Jaya menyadarkanku dari lamunanku.


" Enggak, aku cuma rindu Bapak aja." Ku sandarkan kepalaku dilengan Mas Jaya.


" Mas.. Bisa carikan aku cemilan nggak, aku lapar."

__ADS_1


" Kalau carikan aku nggak bisa, tapi kalau minta untuk belikan aku bisa sayang." Ucapnya lalu mencium pucuk kepalaku.


__ADS_2