Suamiku

Suamiku
part 15


__ADS_3

Kalau saja Suamiku tidak mengajarkanku untuk menjadi wanita yang bermartabat mungkin sudah lama aku remas bibir wanita itu.


Nasehat-nasehat yang sering diberikan Mas Jaya masih kuat untuk kuinggat.


Apalagi pada saat aku akan memulai hari pertama bekerja.


"Besok kamu udah mulai bekerja, posisimu adalah posisi yang diinginkan banyak orang, tanpa pernah melamar pekerjaan, kamu yang diminta langsung oleh pimpinan perusahaan. Jangan kecewakan dia.


Tidak semua yang baik itu menjadi baik, terkadang yang berpura-pura baik, yang menikam kita. Berhati-hatilah dalam memilih teman.


Tapi nggak perlu juga memikirkan yang buruk, karena mereka yang buruk itu krikil kecil yang menghalangi langkah kita, untuk sukses.


Intinya abaikan yang tidak penting."


Itu kata-kata Mas Jaya malam itu sewaktu kami ingin tidur.


Kuakui berat rasanya menjalani nasehat itu, tapi aku harus tetap berjuang untuk tetap tegar dan tidak goyah, Mas Jaya selalu menyemangati ku.


Syukurnya aku tidak pernah mengeluh padanya tentang apa-apa yang terjadi di tempat kerjaku, karena dia sendiripun nggak pernah mengeluhkan apa-apa yang dia kerjakan.


Setiap dia pulang ke rumah hal yang  selalu dia lakukan adalah menggodaku, menjaili ku, setelah puas dia langsung tidur. Itulah dia yang dulu, sebelum dia mengambil hal yang paling berharga bagi seorang wanita.


Karena dialah aku nggak terlalu mau perduli dengan apa-apa yang orang katakan tentang aku. Aku yang lebih tau tentang hidupku, bukan orang lain.


🌹


🌹


🌹


Laporan yang diberikan Siska kuperiksa kembali, sebelum sampai di meja Mbak Ratna.


Kulihat ada beberapa yang salah dari laporan itu.


Segera kususun kembali laporan yang dia beri, dan aku beranjak dari ruanganku menuju ruangan Siska.


"Perbaiki laporan kamu, ada beberapa kesalahan."


Ku serahkan Map yang tadi diberikan padaku.


"Ini sudah benar Zahra, aku sudah perbaiki ini." Ucapnya sinis.


Aku yang sudah diambang pintu ingin meninggalkan ruangannya, langsung menghentikan langkahku, dan menoleh kepadanya.


"Periksa pakai mata, bukan pakai mulut. Makanya kalau punya otak itu jangan dipakai untuk ngerecokin hidup orang, jadi kerjanya nggak fokus. Oh iya, satu lagi, kamu digaji untuk mengerjakan yang diperintah Boss mu, bukan untuk cari tau tentang kehidupanku yang udah terlanjur bahagia." Ujarku sambil tersenyum menandakan kepuasan.


Emosiku benar-benar sangat sulitku kontrol akhir-akhir ini. Biasanya kalau aku mengembalikan laporan Siska yang ada kesalahan, aku nggak pernah bicara apa-apa padanya, selain kata " Tolong perbaiki lagi." Tapi hari ini, aku terlalu lancang bicara.


Mataku melirik kearah pintu yang terbuka, kulihat Mbak Ratna masuk dan langsung duduk di sofa yang tersedia disana.


"Kamu kenapa Zahra? saya tadi ketemu Heru di bawah, katanya nanti siang dia kesini. Kalau kalian punya masalah selesaikan secara baik-baik." Tanya Mbak Ratna sedikit menyelidikiku.


" Iya Mbak, tapi kita nggak punya masalah kok. Akhir-akhir ini dia sering sensitif, seperti wanita datang bulan. Salah ucap dikit, emosi." Kucoba memberikan penjelasan pada Mbak Ratna.


" Kalau siang itu aku nggak melihat kamu keluar dari kamarnya, aku nggak tau kamu istrinya. Pantas waktu aku mau mempekerjakan kamu di telpon dia sempat tanya, Kamu mau mempekerjakan anak yang baru lulusan SMK untuk jadi sekretarismu? kalau memang iya ajarkan dia hal-hal yang tidak tau. Jangan marahi dia, jangan buat dia down."


Lalu dia beranjak dari kursinya mendekati, dan lantas menggenggam tanganku.


" Sayangi dia Zahra, terlalu banyak luka dalam hidup nya. sembuhkan luka itu. Saya percaya kamu mampu membahagiakannya." Diusapnya lembut punggung tanganku.


"Dan kamu punya hutang penjelasan padaku, ilmu apa yang kamu pakai untuk bisa mencairkan gunung es itu"


Ucapnya kembali dan tersenyum kepada ku.


Setelah itu dia pergi meninggalkanku.


Aku benar-benar menaruh curiga pada Mbak Ratna, dia sama Mas Jaya dari sikap mereka aku tahu meraka sangat akrab, tapi terkadang bersikap dingin apabila dihadapanku.


Sebenarnya hubungan mereka itu seperti apa.


🍁🍁🍁🍁🍁


Baru Jam 11 siang, tapi perut benar-benar merasa lapar, aku berniat keluar untuk cari makanan.


Kuangkahkan kaki keruangan Mbak Ratna sekedar minta izin untuk mencari makanan.


Sesampainya di loby aku melihat Ika sedang tersenyum kegirangan.


Dialah satu-satunya teman u yang menurutku paling tulus pertemanannya, disaat orang-orang memandangku sinis, dia memandang dari sisi sudut pandang yang berbeda.


Dulu dia seorang OB, aku juga nggak tau alasan apa akhirnya kantor mengangkatnya jadi Reseptionis di kantor ini. Sudah Rezeky hidupnya kali.


"Hayo!! Sengaja aku mengagetkannya. "Habis dapat lotre lu?" Tanyaku sambil menopang daguku dengan satu tanganku.


"Sialan lu bikin jantung gua copot aja." Ucapnya sambil mengelus dada.


Aku melihat tingkahnya sedikit tertawa.


"Emang kenapa sih?" tanya ku sedikit heran.


" Za, barusan ada cowok tampan banget Zaaaaa, bener-bener nggak bosan mandangnya.


Rahang yang kokoh, alis yang tebal, hidungnya yang mancung, dagu yang berbelah dan tatapannya itu beughhh sungguh mematikan." Ucap Ika sambil mengekspresikan sedang membayangkan bahwa ada pangeran tampan baru lewat dari hadapannya.


"Kesambet nih anak. Udah ah males ngelayani lu." Aku ingin pergi meninggalkannya. Tapi Ika buru-buru menghentikan langkahku.


"Tunggu dulu ngapa, dengerin curhat gue kek kali ini, gue lagi bahagia nich." Gerutunya padaku.


"Trus cowok yang lu puji tadi mana? Dari tadi juga gua nggak liat sapa-sapa, selain lu yang histeris nggak jelas." Ucapku sambil Mencibir padanya.

__ADS_1


Seketika raut wajahnya berubah melo.


"Sayangnya dia cari Bu Ratna Za."


Mendengar ucapannya aku pun jadi tertawa.


"Tapi aromanya masih tinggal" Ucap Ika, sambil mengendus.


Akupun ikutan Ika mencoba mengendus aroma parfum yang dimaksud Ika.


"Seperti aroma parfum laki gue" Ucapku pelan.


Seketika Ika pun tertawa mendengar aku ngomong begitu.


"Ngarep lu! Laki lu yang preman pasar itu nggak bakal sanggup beli parfum mahal gini oneng! Lagian celana laki lu aja lututnya sobek sana-sini. Beli celana bagus aja dia nggak bisa, ampe celana sobek dipakai." Ledek Ika


"Sialan lu, lagian lu tau dari mana laki gue preman pasar?" Tanyaku pada ika.


"Anak-anak udah tau kelles, karena ada yg liat lu lagi cium tangan tukang parkir di pasar. Di group juga fotonya sempat beredar, kalo dilihat dari body nya laki lu gagah sih, tapi wajahnya nggak kelihatan karena pakai topi."


"Emang laki gue keren." Ucapku memuji suamiku.


" Eh Za, tapi gue penasaran ama lu, ini gua mau nanya, tapi jangan marah ya, bener nggak sih lu simpanan Om-Om tajir?"


Aku udah nggak kaget dengan ucapan ika. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.


"Kalau iya emang kenapa, kalau enggak juga kenapa, nggak ada yang gua rugiin kan?" Kunaik tutunkan alisku menjawab pertanyaannya.


"Jadi gosipnya bener Za?" Tanya ika untuk memastikan kebenarannya.


"Berhubung laki gue yang tukang parkir itu nggak bisa menuhi secara materi, tentu gue butuh donk pria yang bisa memenuhi materi gue. Kalau gue nggak jadi simpenan Om-Om tajir dari mana gua bisa beli tas, punya mobil, rumah mewah, makan enak. " Lagi-lagi kunaik turunkan kedua alisku untuk menggoda Ika.


"Nggak nyangka gue Za, lu diem-diem. Tapi main lu cantik juga, ajarin gue donk" Dikembangkannya senyumnya.


" Elah buset. Udah ah omongannya udah ngaco." Aku sedikit kaget dengan permintaanya.


"Lu percaya, gue simpanan Om-Om?"


"Tadinya enggak tapi karena lu bilang gini, hati gue jadi ragu."


Akhirnya aku sama Ika ketawa ngakak.


"Tadinya gue mau cari makanan, tapi habis ngebanyol ama loe, perut gue jadi kenyang, gue balik dulu keruangan."Pamitku pada Ika.


Baru dua langkah aku berjalan Ika teriak manggil lagi dan nyuruh aku balik ke tempatnya.


"Kali ini gue tantang lu, selama inikan lu selalu cuek ni sama cowok-cowok yang dekati lu, kali ini dengan pesona mu, bisa nggak dekati tamu Bu Ratna tadi, gua pingin bungkam mulut Bu Siska."


Lalu Ika menunjukkan status di group. Sebuah status dari Siska, yang menampilkan foto Mas Jaya dengan emoji love yang bertuliskan " Di tabrak ampe benjol pun gue rela asal yang nabrak pria macho seperti ini."


Panas sih sebenarnya hati liat foto suami ada ditangan orang, tapi ya sudahlah toh bukan salah Mas Jaya.


"Gaji gue sebulan ama loe." Ucap Ika dengan rasa percaya diri.


Dengar pengakuan Ika, aku jadi tertawa, jelas dia bakal miskin selama sebulan. Bisik batinku.


" Nggak perlu, gue ngak butuh duit lu, cuma gue minta lu beliin gue asinan, mangga nya yang banyak. Oke cantik, muach" Ku tinggalkan dia.


"Jijik gue liat lu." Teriaknya.


Dan kami pun berpisah karena aku kembali keruanganku.


Begitu sampai di ruanganku, ku ambil HP, lalu kubuka aplikasi WA untuk chat Ika.


[ gue mau asinannya siang ini udah ada dimeja gue.]


Lalu beberapa foto ku dengan Mas Jaya kukirim dengan Ika.


Nggak berapa lama Chat kupun dibalas.


[ Ini serius lu Za sama dia.]


[Iya, gue izinin lu upload di WA lu, sebenarnya gue nggak rela foto cantik gue kemana-mana, tapi karena gue selebritis disini, kali ini gue izinin. Jangan lupa asinannya, siang ini.]


Ku lihat Mbak Ratna, membuka pintu ruanganku dan hanya berdiri diambang pintu.


"Za, saya mau makan siang dulu. Tolong temani tamu saya bentar ya. " Sambil tersenyum dia pun pergi meninggalkanku.


Begitu aku masuk keruangan Mbak Ratna, kulihat Mas Jaya udah berdiri didepanku. Langsung dia merangkul dan mengecup keningku, dibawa nya aku duduk di sofa dan mendudukkan aku diatas pangkuannya.


"Kamu disini Mas? " Tanyaku sekedar basa-basi dan mengecup keningnya.


"Kangen aku sayang." Ucapnya pelan.


" Aku juga, nggak tau rasanya aku pengen deket aja sama kamu." sambilku ciumin pipinya.


Di bukanya Jilbabku, lalu dilepasnya sanggul rambutku, akhirnya rambut panjangkupun tergerai.


Dipejamkan matanya menikmati aroma wangi dirambutku.


"Wangi banget. Kamu terlihat mempesona seperti ini sayang."


Disandarkan kepalanya di sandaran sofa menarik dan tengkukku mendekati wajahnya dan menenggelamkan wajah tampan itu dileherku.


Aku sedikit merasa geli, dengan perlakuannya. Kucoba menarik badanku untuk menjauhi, tapi dia semakin menekan kuat kepala bekakangku.


"Biarkan aku sebentar menikmati suasana seperti ini." Lalu diletakkannya satu tanganku dibahunya.


Dan satu tangan lagi, dibawa kedadanya, ku rasakan debaran jantungnya yang cukup kencang.

__ADS_1


"Kencang banget getarannya." Ucapku pelan.


"Heemmm, cuma kau yang membuat jatungku seperti ini Zahra. Kau benar-benar membuatku jatuh cinta, jangan pernah tinggalkan aku Zahra, tetaplah selalu disampingku." Lalu dia mengecup lembut leherku.


Kurasakan pelukannya kepadakupun semakin erat.


Tangan kekarnya mulai membuka beberapa kancing kemeja yang kukenakan, sentuhan dan kecupan kecil dari bibirnya dileherku membuatku tenggelam dalam permainan yang dibuatnya.


Deru nafasnya yang sudah semakin kasar dileherku sudah  seperti ombak yang sedang berlari menuju pantai  dan aku benar-benar hampir hanyut mengikuti ritme suara yang ada.


Kalau saja aku nggak membuka mata, mungkin aku masih terlena dengan arus permainan yang dia buat.


" Sayang, ini kantor kendalikan dirimu." Kutegakkan kepalaku.


Kujauhkan tubuhku dari pelukannya. Dengan perlahan kusap lembut pipinya, untuk tidak membuatnya tersinggung atas perbuatanku. Karena  kulihat ada pancaran kekecewaan dari sorot matanya.


" Kau menolak ku?" Tanya Mas Jaya dengan suara yang masih berat.


" Aku nggak menolak mu, aku juga menginginkannya tapi lihatlah kita sekarang ada dimana."


Kuletakkan wajahku kewajahnya deru nafasnya masih kurasa. Kukecup bibrnya.


"Selain aku menginginkannya, aku juga udah lapar, Mas." Kembali kukecup bibirnya, dan kuhisap lembut bibir bawahnya.


Setelah melepas ciumanku, kulihat senyum mengembang dari bibir nya.


"Ya udah kita makan ya." Ucapnya sambil mengecup bibirku.


Aku lalu turun dari pangkuannya. Aku mengambilkan air minum untuk membuatnya sedikit tenang.


Pada saat aku berdiri didepan cermin untuk mengenakan jilbabku, kulihat ada beberapa tanda yang dibuatnya disana.


"Syukur saja dia manusia, kalau tidak darahkupun sudah habis dihisapnya." Ucap hatiku.


Segera kupasang kembali jilbabku. kutinggakkan dia yang masih diruangan mbak Ratna.


Akupun kembali keruanganku, untuk mengambil tas dan mematikan laptop.


Mas Jaya menyusulku dan begitu melihatku langsung saja memeluk dari belakang.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, kulihat Ika datang sambil menenteng sesuatu. Udah melihat ada yang datangpun, bukan melepaskan pelukannya, malah memegang kuat pinggangku.


" Biasakan kalau mau masuk ketuk pintu." Terdengar suara Mas Jaya dengan nada yang mengintimidasi.


" Masuk Ka, asinan ku ya. " Kutepis tangannya, untuk melepaskanku tapi tetap aja dia nggak bergeming.


Ika yang mendengar ucapanku hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya.


" Sebentar, sayang." Kupalingkan wajahku menatap kepada Mas Jaya dan membesarkan mataku sebagai tanda agar dia melepaskan pelukannya.


Setelah dia melonggarkan pelukannya, segera kudekati Ika yang masih berdiri dengan wajah bengongnya.


"Kalau kau pertaruhkan gaji mu tadi, habis lah kau" Kubisikkan pelan ketelinganya. Sambil tersenyum. Lalu meletakkan asinan yang di bawa Ika diatas meja.


" Ayo sayang, aku dah lapar." ku tarik tangan Mas Jaya untuk keluar dari ruanganku.


Mendengar suara Mas Jaya mendehem, Ika yang masih diam terpaku jadi gelagapan.


"Maaf Pak" Lalu dia menundukkan wajah lagi.


Aku hentikan langkahku di depan Ika


"Kalau tanganmu lagi nggak gemetaran, kau boleh ambil fotoku dan upload ke gruop gibahmu itu cantik." Kucubit pipinya, dan berlalu meninggalkannya.


Karena Ika berjalan dibelakangku, sengaja aku menunggu dia untuk masuk ke lift bersamaku.


Begitu kita bertiga udah di dalam lift sengaja kurapatkan tubuhku keMas Jaya dan merangkul erat tangannya.


Kuperhatikan wajah temanku dengan kekikukannya.


Sebenarnya aku hampir tertawa, tapi aku nggak tega.


Lalu kulepaskan pelukanku dari Mas Jaya dan merangkul bahu temanku itu.


" Udah santai aja nggak usah tegang gitu."


Saat pintu lift terbuka aku pun melangkah keluar terlebih dahulu dengan Mas Jaya.


Didalam mobil akhirnya aku melepaskan tawa. Aku yang masih tertawa membayangkan ekspresi wajah Ika tadi, nggak menyadari kalau Mas Jaya selalu memperhatikan ku.


"Cantik!" Itu yang aku dengar keluar dari bibirnya. Begitu aku memalingkan pandanganku padanya, beberapa kali lihat dia menggelengkan kepala nya sambil tersenyum sendiri.


Makan siangku menghabiskan waktu hampir dua jam. Syukurnya hari ini schedule Mbak Ranta kosong. Kalau tidak aku bisa habis.


Mas Jaya hanya mengantarku sampai depan loby, karena dia masih ada urusan.


Begitu aku memasuki loby beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan yang menjijikkan. Sesampai di depan Ika aku berhenti, nggak lupa aku pasang senyum yang paling manis untuk dia.


" Gimana? Udah jadi tranding topik gue?" Tanyaku dengan santai.


"Udah donk. Lu sama Bu Ratna emang selebritis kantor ini, Pesonanya luar biasa." Jawab Ika senang.


"Karena kerja lu bagus, ni gue bawain makanan buat lu. Makasih ya asinannya. "


Aku pun berlalu dan segera menuju ruanganku. Disaat aku keluar dari lift, kulihat Siska berjalan mendekatiku.


" Dasar ******!" Ditunjuknya wajahku.


Aku yang mendengar dia berujar seperti itu nggak memperdulikan kata-katanya, karena aku bukan seperti yang dia pikirkan. Dan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2