Suamiku

Suamiku
part 22


__ADS_3

Kerana terlalu lelah, sehabis shalat subuh, aku lebih memilih untuk kembali tidur. Toh ini hari sabtu, Ika nggak masuk, lebih baik aku juga nggak masuk ucap batinku.


Kalau bukan karena rasa lapar mungkin aku masih menikmati nikmatnya kasur empukku. Pada saat membuka mata, serasa ada hembusan nafas yang hangat ditengkukku.


Perlahan kubalikkan tubuhku, agar nggak mengganggu tidur Mas Jaya. Ku pandangi wajahnya.


"Ah.. Entah apa yang membuatku bisa mencintaimu Mas, awal  mengenal mu kau adalah pria yang dewasa, yang selalu memanjakanku, tapi sekarang sebaliknya, tapi lembutnya sikapmu masih bisa kurasakan." Ucapku pelan.


" Kamu bisa terhipnotis jika memandangiku terus sayang."  Ucapnya tiba-tiba masih dengan menutup matanya dan ada senyum yang sudah menghiasi bibirnya.


Aku sempat terkejut dengan perbuatannya.


"Kamu ih ngagetin aja. Kamu nggak ke pasar Mas?."


" Seneng banget kamu kalau aku pergi." Dikecupnya keningku, perlahan kecupannya pun turun kebibir. Ditariknya tubuhku untuk lebih dekat dengannya.


" Sayang aku lapar." Ucapku sambil menenggelamkan wajahku dalam pelukannya.


" Kamu kebiasaan, disaat aku lagi ingin mesra-mesraan sama kamu, ada aja."


Aku cuma bisa tersenyum dengar protesannya.


"Kamu mau makan apa?"


" Apa aja, tapi kamu yang masak ya. Aku bisa bedain masakan kamu sama masakan Bibi."


" Oh ya? bedanya dimana."


"Kamu masak dulu, nanti kalau aku udah selesai makannya, aku kasih tau." Ku ciumin wajahnya. Lalu aku turun dari tempat tidur.


Disaat dia turun untuk masak, aku pun membereskan kamar. Sebisa mungkin aku menghindari orang lain masuk dalam kamarku, meski itu siBibi sekalipun, dan sebisa mungkin juga nggak membicarakan orang lain diatas tempat tidurku. Selesai membersihkan kamar, akupun segera mandi.


" Sayang buka pintunya." Terdengar suara Mas Jaya dibalik pintu, syukurnya aku sudah selesai mandi, dan sudah memakai baju.


" Kenapa nggak di bawah aja Mas. Aku juga baru mau turun."


Ku lihat dia membawa baki yang berisi makanan.


" Kita makan di teras kamar aja, aku masih mau berduaan sama kamu." Dikembangkannya senyum manisnya.


Kubantu mas Jaya menyusun makanan diatas meja kecil yang ada diteras, dan dia juga minta aku menyuapinya, penyakit manjanya udah mulai datang lagi.


Selesai makan, aku membawa piring yang sudah kotor ke bawah, dan membawa segelas teh hangat, yang sengaja aku kasih sedikit jahe dan cengkeh, untuk merilekskan tubuh ku.


"Makasih ya sayang udah mau masakin aku, masakan kamu enak." Ku cium pipinya, sebagai tanda ungkapan terimakasih pada Mas Jaya.


" Dari mana kamu tau itu masakan ku." Dirangkulnya bahuku, untuk bersandar didadanya.


" Masakan kamu terasa masakan Sumatera nya, sedikit asin dan pedas, dan rempahnya juga sangat terasa, pokoknya warung Padang seJakarta lewat sayang."


" Iya lewat, karena kamu lewati, nggak kamu singgahi." 

__ADS_1


Mendapat jawaban seperti itu aku dan dia jadinya tertawa.


"Senin Ratna sudah balik, dan kamu bisa kembali keruanganmu." Ucapnya selembut mungkin sambil mengecup rambutku.


" Aku minta maaf membuat kamu susah beberapa hari ini, aku nggak jemput kamu karena aku juga punya urusan lain." Dikecupnya lagi kepala ku. " Dan untuk beberapa hari kedepan aku mau keluar kota." Kembali dia melanjutkan kalimatnya.


"Aku boleh tanya sesuatu?" Ku lepaskan diriku dari pelukannya. Ku tatap lekat-lekat matanya. " Kenapa setiap keluar kota nomer HP kamu nggak pernah aktif? apa yang kamu sembunyikan dari ku?" Tanyaku dengan perasaan was-was


Mas Jaya memalingkan wajahnya dari ku.


"Nggak ada, aku hanya ke daerah saja, sinyalnya memang agak susah aja."


" Sudahlah, aku nggak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku sudah cukup lelah untuk benar-benar mencari tau tentang kamu Mas. Sejauh ini apa yang aku tau tentang kamu udah cukup baik, dan aku harap apa yang kamu lakukan juga pasti hal-hal yang baik." Ku pegang kedua pipinya, dan ku kecup keningnya.


" Sayang, kalau kamu diluar kota jangan telat makan ya, jangan minum kopi, aku cuma khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku sama anak kamu bagaimana." Ku rebahkan kepalaku dipangkuannya.


" kamu ngantuk?" Tanya mas Jaya sambil membelai rambutku.


" Aku pengen dipeluk kamu, tapi takutnya kamu nggak mau meluk aku lagi." Jawabku sedikit cemberut.


" Kenapa bilang begitu?" Ditautkannya kedua alisnya.


"Iya, udah keenakan meluk Siska." ledekku padanya.


" kamu ya. Masih aja itu dibahas." digelitikinnya pinggangku, dan aku berkali-kali mencoba menghindar darinya.


Setelah aku menyerah, dia menggendong dan menjatuhkanku di tempat tidur.


" Jangan pernah sebut nama orang lain, selagi kita sedang di tempat tidur Mas. Jangan tanya alasannya karena aku memang tidak suka aja." Lalu kukecup bibirnya.


Ditariknya pinggangku untuk lebih mendekat kepadanya. " Aku sangat sayang samamu, sangat sayang, aku nggak akan meninggalkan mu hanya untuk wanita lain."


Dijatuhkannya keningnya diatas keningku. " Dulu aku sempat ingin meninggalkan mu, aku ingin melepasmu, tapi jika itu ku lakukan sama halnya aku mempermainkan pernikahan, apa bedanya aku dengan mantan suami adik ku, meninggalkan hanya karena alasan yang nggak masuk akal. Dulu aku merasa aku tidak mencintaimu, tapi hanya mengagumimu, namun aku salah. Seiring berjalannya waktu cinta itu timbul. Sampai akhirnya akulah yang merasa takut kalau kau yang akan meninggalkan ku."


"Makasih atas kejujuran mu. Hal yang seperti ini yang aku butuhkan dari dulu. Aku tau untuk jujur itu hal yang paling berat, tapi jika kita sudah mengatakannya maka hati dan fikiran kita akan menjadi lapang, hidup kita rasanya nggak ada beban." Ku kecup keningnya. Kalau saja waktu itu aku nggak pulang ke kampung, aku nggak akan mendapat nasehat berharga dalam hidup Mas."


Ku lihat dia menarik nafas dengan kuat dan membuangnya perlahan.


" Dan sekarang, berhubung aku udah capek dengan posisi miring begini, aku ingin letakkan kepala ku diperut kamu, jadi kamu perbaiki posisi kamu, mari kita tidur siang, karena aku dah ngantuk." Ucapku sambil memperbaiki posisi diriku.


Kupejamkan mata, beberapa kali ku dengar dia memanggilku untuk meyakinkan apakah aku benar-benar tidur atau tidak. Disaat aku tidak bergeming sama sekali dia memindahkan posisi tidurku, dan diapun tidur.


Hati kecilku bilang, kamu tidak berselingkuh aku tau kamu mencintai ku, tapi misteri tentang dirimu belum sepenuhnya bisa ku tau. Semoga kelak, disaat aku tau itu bukan hal menyakitkan.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sesuai dengan apa yang dikatakan Mas Jaya pada saat aku kembali ke aktifitasku Mas Jaya mengantar sampai keruangan ku.


" Hay, cantik.. Duh rajin nya pagi-pagi udah datang." Sapaku pada Ika.


" Lu balik lagi, trus yang gantiin disana siapa?" Tanya Ika.

__ADS_1


"Kamu!" Ucap Mas Jaya dengan cepat.


" Pak boleh reques nggak?"


" Apa?"


" Saya mendingan Bapak jadiin OB atau Receptionis lagi deh dari pada saya kerja sama beliau, saya akui beliau gagah pak, tapi kalau lihat wanita seperti mandang mesum aja." Jawab Ika.


" Tidak ada yang menggantikan siapapun disana. Jadi kalian tenang saja." Kemudian dia pergi meninggalkan ruanganku, sesudah dia mengecup keningku.


" Za, ada nggak sih stok satu lagi seperti Pak Heru, udah ganteng romantis lagi." Ucap Ika.


" Kalau kamu cari stok seperti dia kamu nggak akan kuat, jadi cukup dia satu aja dan itu khusus buat aku." Jawabku dengan mengembangkan senyum.


Dan aku langsung memulai aktifitas ku.


Terdengar suara ribut, dan terlihat beberapa polisi masuk keruangan Pak Wiratman. Aku dan Ika langsung berdiri didepan pintu ruanganku.


Ku lihat Pak Wiratman di apit dua orang polisi.


"Pak Wiratman ketangkap Za." Ucap Ika


"Iya." Ucap ku pelan.


Pada saat ingin kembali duduk di kursiku, Pandangan mataku melihat Mas Jaya, Mbak Ratna, dan Pak Fajar serta seorang polisi keluar dari ruangan Pak Wiratman, dan beberapa polisi memasang garis police line didepan ruangannya.


Aku nggak ingin ikut campur terlalu dalam dengan kejadian yang baru saja terjadi, maka aku kembali memulai aktifitasku yang sempat tertunda, tadi.


" Lu nggak pengen tau apa yang terjadi Za?" Tanya Ika.


" Penasaran sih, tapi nggak mau ngurusin lagian ini persoalan kantor, kita mendingan kerja aja, bukan urusan kita." Jawabku pada Ika.


" Iya sih, ya udahlah kita kerja lagi, toh juga nanti kita bakal tau apa yang terjadi."


Mas Jaya berdiri didepan pintu, membawa dua kotak makanan, satu kotak diserahkannya sama Ika.


" Sayang, ayo makan dah jam istirahat." Setelah mengucapkan itu dia langsung menutup pintu dan menuju ruangannya.


Aku pun menyusulnya.


" Wajah kamu kenapa Mas?"


Ada sedikit memar ditulang pipinya.


" Nggak apa-apa sayang, si bodoh itu hanya memukulku." Jawabnya.


"Memangnya ada apa?"


" Dia sudah menggelapkan uang perusahaan, dan ada kejahatan lain yang dialakukan. Sudahlah itu nggak penting, semua sudah selesai."


Dia memeluk dan mencium kening ku. Setelah itu aku makan bersamanya, tapi kali ini dia yang menyuapiku.

__ADS_1


__ADS_2