
Keberadaan Kakak iparku, di rumah ini sesungguhnya membuatku merasa nggak nyaman.
Rasa gelisah hatiku cukup dirasakan juga oleh Mas Jaya, setiap pagi dia selalu mengajakku ke kebun buah miliknya, sampai kejadian hari yang nggak bisa dilupakan.
" Sayang hari ini kita mau panen buah naga, kamu ikut nggak?" Tanya Mas Jaya.
" Seperti yang kubilang, kita di rumah aja ya, aku capek Mas"
" Kamu sendirian loh di rumah semuanya ikut ke kebun."
Dengan berat hati aku pergi, mulai dari pagi itu, semua pekerja udah mulai sibuk, selama tinggal disini aku baru tau kalau suamiku memiliki lahan pertanian yang luas.
Mulai dari perkebunan sayur dan buah, serta peternakan ikan dan sayuran yang sering diantar ke pasar, tempat dia biasa mangkal sebagian besar berasal dari kebun disini.
Walau dia nggak selesai secara akademis namun dia bisa meraih cita-citanya, meskipun banyak hal yang harus dikorbankan.
" Jujur aja sebenarnya aku minder sama kamu, aku nggak tau kalau kamu sesukses ini, kalau aku tau kamu seperti ini pasti dulu aku tolak." Ucapku pada saat aku duduk, di balkon kamar rumah yang ada di kebun ini.
" Alasannya? Bukannya semua wanita akan mencari laki-laki yang mapan secara finansial?" Dipeluknya aku dari belakang saat dia bertanya seperti itu.
" Kalau kamu memilih Ibuku yang jadi istrimu mungkin iya, tapi enggak denganku, alasannya susah untuk kujelaskan" Ucapku dengan sedikit cemberut.
" Kau menggemaskan sekali seperti itu." Semakin erat dia memelukku.
"Anginnya kencang sekali, kenapa kita nggak tinggal disini aja, jadi kalau kau berteriak tengah malam nggak akan ada yang mendengarmu."
"Hahhaaa kau mulai mesum Zahra."
" Kau yang mesum, isi kepalamu nggak jauh-jauh dari hal itu. Lihatlah disini tenang, disaat kita duduk disini suara semilir angin begitu terasa."
Ku pejamkan mataku menikmati hembusan angin yang bertiup.
" Kamu mau disini atau mau keluar? Aku yakin orang pasti sudah sangat sibuk, kalau kita lagi panen begini, biasanya kita makan besar selama tiga hari, jadi para pekerja itu tidak masak di rumah, mereka akan makan disini beramai-ramai apa kau mau lihat? Diluar pasti sudah banyak anak-anak, ayolah." Ucapnya panjang lebar dan mengajakku untuk bergabung dengan para karyawannya.
Disaat aku keluar dari rumah, kulihat sudah banyak anak-anak kecil yang main di halaman, ada juga ibu-ibu yang sibuk memasak, Mama,Wulan, Bi Yanti dan Kak Ayu juga ada disana.
Aku dan Mas Jaya mendekati Mama yang sibuk memeras santan. Pada saat aku mau ikut membantu Mas Jaya menarikku.
" Hey Nona, kau punya pekerjaan lain, sini." Ditariknya tanganku untuk menjauh dari Mamanya, diambilnya pisau dan beberapa buah.
__ADS_1
Diajaknya aku menjauh dari orang-orang yang sibuk memasak. Duduk dibawah pohon yang mejanya melingkari batang pohon.
"Kita duduk disini saja. Potongin buahnya aku ingin makan dengan anak ku."
"Mas.. kita pulang yuk, aku rindu rumah kita." Sambil menyuapkan buah yang kupotongi kemulutnya.
" Ada yang membuatmu nggak nyaman disini? Heemm"
Aku hanya menggeleng kepalaku. Kutarik nafas dalam-dalam, dan mengalihkan pandanganku ke tempat yang jauh.
Perlahan kulingkarkan tanganku kepinggangnya, dan meletakkan kepalaku didadanya.
" Aku capek Mas, aku ingin istrirahat sebentar dari masalah yang nggak ada habis-habisnya." Dipeluknya aku dengan erat.
" Nggak seharusnya aku membawamu dalam masalahku, terlalu rumit rasanya hidup ini. Itu kenapa aku selalu diam dan menghindari keingin tahuanmu. Aku nggak ingin mengajakmu masuk kedalam arus ini, tapi kau selalu memaksanya." Dia diam sebentar dan menarik nafas.
"Udah berapa banyak aku membawa wanita untuk dikenalkan dengan Mama, tapi satupun nggak ada yang cocok, makanya pada saat aku akan menikahimu, aku baru memberi tahu Mama. Tapi begitu melihatmu dia bilang 'Jadikan dia menantuku' itu dihadapan Ulan dan Kak Ayu. Tapi Kak Ayu yang berkeras menolakmu.
"Kenapa Kakakmu begitu membenciku?" Tanyaku pelan pada Mas Jaya.
"Karena dia sangat membenciku, dia merasa aku memisahkan dia dari suaminya, karena dia sangat mencintai suaminya. Sementara dia nggak pernah dicintai suaminya. Dari awal pernikahannya dia nggak pernah mendapat perlakuan baik dari suaminya. Almarhum Papa yang membiayai hidupnya, selama pernikahannya. Maka pada saat Papa sudah tiada dia dipulangkan. Saat ini dia menikah dengan lelaki pilihanku, dibawah ancamanku, kalau dia nggak menikah dengan suaminya sekarang, maka aku akan membuat mantan suaminya lumpuh."
" Dan cuma kau yang bisa mengendalikan jiwa iblisku, itu katanyakan."
" Kau nggak seharusnya melakukan itu Mas, berilah Kakakmu pengertian. Jangan mengancamnya seperti itu."
Kurenggangkan pelukanku padanya, kutatap wajahnya.
"Zahra, satu hal yang aku nggak ceritakan pada siapapun, tentang satu peristiwa dan satu kejadian. Tapi sekarang akan kukatakan padamu, Ria diperkosa oleh dua orang, dan salah satunya suami Kakakku. Aku tidak membunuhnya karena dia ayah dari Anak Kakak Ayu. Dan inilah caraku membalasnya." Ucapnya lirih.
Kulihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Dari mana kau bisa tau kalau mereka yang berbuat itu pada Ria?"
" Karena aku mendengar sendiri ucapan mereka."
Kukecup bibirnya, untuk menghentikan dia bicara.
" Kenapa kau tiba-tiba menciumku" sedikit kaget dia mendapat perlakuanku.
__ADS_1
" Sayang, kau bicara seperti ini buat aku bergetar tau."
" Maksudmu?" Kulihat Mas Jaya menautkan alisnya.
" Aku mungkin sudah gila, tapi kau bicara seperti ini, aku membayangkan super hero difilm action sehabis menumpas lawannya langsung bercinta. Laki banget sepertinya." Ucapku dengan mengedipkan satu mataku padanya.
" Cih! Kau nggak tau malu bicara seperti itu, pandai sekali kau bicara sevulgar ini."
Kucium bibirnya dengan sangat intens. Setelah itu kulepaskan secara perlahan.
"Ayolah kita masuk" Ajaknya padaku, dan aku mengikuti langkahnya.
Aku melakukan ini, hanya nggak ingin kau bicara lagi Mas, aku sakit rasanya melihatmu terluka seperti itu.
🌹
🌹
🌹
" Dari mana aja kalian berdua, orang-orang udah pada makan, tinggal kalian yang belum lagi."Ucap Mama sedikit Kesal.
Mas Jaya yang melangkah mendekati Mamanya segera kutarik. Setelah kukasih kode, akhirnya dia mengerti.
" Kenapa masih berdiri disitu juga, duduk sini! Kalian pikirkan cucu Mama." Masih dengan kekesalan dan menata makanan diatas meja.
" Sayang, aku nggak berani makan, masa nyuruh makan tapi sewot gitu, apa waktu kau kecil cara nyuruh makannya seperti itu?" Ucapku pada Mas Jaya, dengan sedikit bergidikkan badanku sambil melirik keMamanya.
" Nggak, tapi kata orang, nenek itu lebih sayang sama cucunya dari pada sama anaknya. Besok kalau anak kita lahir, cubitlah dia didepan neneknya, pasti neneknya akan membalas dengan mencubitmu." Balas Mas Jaya dengan melirik Mamanya.
" Kalian nyindir Mama? Kalian sengaja bicara kuat-kuat begitu?"
" Ayolah Mas kita makan, agak horor disini."
Kuhampiri beliau, dan menciumnya
"Mama kalau marah gitu aura kecantikannya keluar Ma."
" Kamu harus banyak makan Zahra."
__ADS_1