Suamiku

Suamiku
Part 26


__ADS_3

Sekitar pukul 16.00 aku pamit izin pulang, beberapa kali aku mendapati Mas Jaya yang senyum-senyum sendiri sambil mengemudi. Akhirnya aku beranikan bertanya karena melihatĀ  sikapnya.


" Kamu kenapa sih Mas, dari tadi senyum-senyum nggak jelas. Perlu dibawa kePsikiater kamu." Ucapku heran.


"Nggak pa-pa Zahra, aku sehat. Kamu tambah cantik aja aku lihat."


" Nah ini salah satu bukti kamu nggak sehat. Kamu udah marah dan merajuknya?"


" Aku nggak merajuk, yang bilang aku merajuk siapa?"


" kalau kamu memang udah sehat, aku mau tanya, kamu punya bukti apa nuduh aku mengkhianati kamu?"


Kulihat dia hanya diam, pandangannya fokus kejalan dan beberapa kali dia hanya melirikku.


"Nggak punya jawaban seperti biasakan?" Kualihkan pandanganku lurus kedepan, percuma aku bertanya pikirku.


"Apakah kau lelah hidup bersamaku?" Mas Jaya bertanya dengan wajah sedikit memelas.


Mendapat pertanyaan seperti itu, aku palingkan wajahku menghadapnya, kutatap pria yang sedang mengemudi dengan fokus itu.


" Kenapa melihatku seperti itu?" Kembali dia bertanya, karena tau aku sedang memperhatikannya.


"Pertanyaanmu itu sebenarnya aku yang lebih pantas melontarkannya, apakah kau lelah hidup bersamaku, sehingga kau menuduhku sudah mengkhianatimu." Ucapku dengan tersenyum.


" Aku hanya takut kehilanganmu Zahra."


Kutarik nafas dalam-dalam, dan kubuang dengan sedikit kasar, pandanganku kembali kuarahkan kedepan.


" Sesuatu yang sangat kita cintai dan kita takut untuk kehilangannya, maka bersiaplah untuk kehilangannya, seorang pecinta itu tak ubahnya seperti seorang yang haus, haus akan perhatian, kasih sayang, haus untuk dimanja, yang namanya haus pasti akan mencari sesuatu untuk melepaskan rasa hausnya, jika kita sedang kehausan maka sesuatu yang dibutuhkan adalah air. Apakah kita bisa menggenggam air itu untuk kita miliki? Jawabnya tentu tidakan Mas, kita butuh wadah untuk menampungnya. Begitu juga cinta dan kasih sayang, kita nggak bisa menggenggamnya, semakin kita kuat menggenggamnya maka akan semakin hilang dia dari genggaman kita. Begitu juga seseorang yang kita cintai, semakin kuat kita berusaha menggenggamnya untuk kita miliki maka akan semakin besarlah kesempatan kita untuk kehilangan.

__ADS_1


Mass... aku mencintaimu, namun bukan berarti aku nggak memikirkan diriku, aku diberi kesempatan untuk memilikimu, tapi bukan berarti aku akan menggenggammu dengan erat, karena jika aku kehilanganmu maka yang sakit itu aku Mas, bukan kamu, jikapun kamu merasa sakit itu karena efek dari kekangan dan kungkungan yang kubuat, sementara orang lain, mereka hanya bisa melihatku tapi nggak pernah merasakan sakit yang kualami seperti apa.


Jangan rusak dirimu dengan hal yang akan membuatmu sakit Mas. Maaf kalau aku terlalu berlebihan dalam menyampaikan ini."


Sesaat aku dan Mas Jaya hanya diam.


" Mas.. Aku punya satu pertanyaan dan aku nggak minta untuk dijawab, tapi fikirkan dan coba berbuat sesuatu. Menurutmu tujuan dari pernikahan itu apa?"


Tidak adalagi pembicaraan setelah itu, sampai tiba di rumahpun aku dan Mas Jaya masih diam. Sampai selesai makan malampun aku dan dia masih tetap dalam kebisuan.


Selesai makan dia memasuki kamar tamu, dan aku memilih untuk ke kamarku. Hampir jam 12 malam aku belum bisa tidur.


Kulihat Mas Jaya masuk ke kamar, dengan perlahan dia duduk dipinggir tempat tidur.


" Kamu sedang apa Zahra, kenapa belum tidur?" Tanya Mas Jaya karena melihatku masih duduk bersandar diatas tempat tidur.


" Sama." Lalu dia diam sesaat. "Zahra... apakah rumah tangga kita masih bisa diperbaiki? mengingat sikapku yang sudah keterlaluan."


" Semua kembali berpulang padamu Mas.. kalau aku boleh jujur, aku cukup kecewa dengan sikapmu." Ucapku dengan sangat pelan.


" Maafkan aku Zahra, akhir-akhir ini aku memang nggak bisa mengendalikan emosiku. Aku cukup menyesal."


"Kalau maaf yang kamu minta aku sudah memaafkan, tapi nggak semudah itu juga aku bisa kembali menata hatiku. Cermin yang pecah nggak akan bisa lagi untuk disatukan.


Apapun keputusan yang akan kamu ambil aku sudah bilang, aku sudah siap Mas. Sekalipun kita harus berpisah aku siap, dan kembalikan aku baik-baik kepada orangtuaku."


" Zahra, aku nggak akan pernah menceraikanmu, sampai kapanpun nggak akan pernah! Ingat-ingat itu!!!." Ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan. dia menatapku dengan begitu tajam, dan dingin.


Aku hanya membalas ucapan dan tatapan matanya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Aku merebahkan tubuhku, kubiarkan saja Mas Jaya yang masih duduk diam dipinggir tempat tidur.


**********


Heru Sanjaya.


Melihat istrinya sudah terlelap pikirannya menerawang kepada runtutan kejadian sehingga dia bisa sampai seperti ini, dan bertemu dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya.


Memasuki salah satu Universitas terbaik di Negri ini adalah cita-cita yang sudah lama dia impikan. Anak kedua dan satu-satunya lelaki diantara tiga saudaranya yang perempuan menjadikan dia sosok laki-laki yang bertanggung jawab, yang sangat menyayangi kakak dan adik-adiknya. Dilahirkan dari keluarga sederhana namun dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah, serasa itu adalah harta yang berharga didalam keluarga ini.


" Yakin kamu mau kuliah di Jakarta Nak, disini banyak Universitas yang nggak kalah baiknya, kami masih bisa melihatmu disini" Ucap sang Mama pada saat dia membereskan pakaiannya untuk berangkat ke Jakarta.


" Tekad Heru udah bulat Ma, tolong jangan jadikan air mata Mama sebagai penghambat masa depan Heru. Maaa. " Ucapnya pelan dan Merangkul lengan Mamanya dan mengajak duduk disisi tempat tidur " Heru anak laki-laki, kelak akan menikah, akan menjadi kepala rumah tangga, Heru nggak ingin membuat anak gadis orang yang akan menjadi istri Heru hidup susah Ma. Saatnya Heru mempersiapkan diri berpijak diatas kaki sendiri, di Jakarta Heru tinggal dengan Tante Rosa, lantas apa yang Mama khawatirkan lagi."


" Berat hati Mama Nak.."


"Ini baru anak Papa." Tiba-tiba saja sang Papa masuk ke dalam kamar dimana Heru dan Mamanya berada. "Biarlah dia mengejar cita-citanya Ma, kita sebagai orang tua harus mendukung, bukan menjadi penghalang."


Akhirnya sang Mamapun menyetujui keinginan anaknya. Besok Heru akan pergi, sehabis makan malam banyak nasehat yang dia dengarkan dari kedua orangtuanya.


" Cita-cita Heru harus tercapai Pa, bukan kesuksesan menjadi orang kaya dan banyak harta yang Heru mau, tapi memajukan kampung kita sehingga bisa menjadi daerah pengekspor bahan pertanian dengan kwalitas terbaik yang Heru mau.


papa lihatlah, para tengkulak itu sudah banyak membodohi petani disini, mengambil hasil panen mereka dengan harga murah, Negara kita negara agraria harus pemuda bangsa ini yang memajukan negri ini, saat ini banyak orang muda yang merantau ke kota mengharap kerja disana, mereka nggak pernah tau disaat mereka meninggalkan orang tuanya untuk menggarap sawah dan ladangnya mereka sebenarnya sudah membuang harta yang paling berharga, Papa tau tak, di Eropa sana petanilah orang yang paling kaya Pa, bukan PNS dan Pegawai Swasta."


" Kamu nggak malu, nanti dikampung ini aka dibilang orang, masa Insinyur sekolah jauh-jauh ke Ibukota ujung-ujungnya jadi petani juga, ke sawah dan ladang juga." Ucap sang Papa.


" Kenapa harus malu, Papa sama Mama yang seorang Sarjana aja rela ninggalkan Ibukota Provinsi demi mencerdaskan orang-orang dikampung ini, nggak digaji, makanpun susah, Papa dan Mama nggak malu dan nggak menyesalkan?! Malah kehidupan Papa sama Mama lebih bahagiakan. Kalau kita nggak tinggal disini, nggakkan Heru tiap hari liat pemandangan dimana dua sejoli makan ditengah malam buta, suap-suapan disaat anak-anaknya sedang terlelap dalam mimpi."


Keharmonisan keluarga yang hidup dengan kesederhanaan itu nggak bisa dilupakan oleh laki-laki yang akan menyandang status ayah itu. Kepergiaannya ke Ibukota ternyata bukan untuk menggapai cita-cita mulia yang dia inginkan. Tapi malah menghancurkan kebahagiaan yang dia miliki. Itulah yang selalu menghantui pikirannya selama ini, berapa banyakpun harta yang dia punya saat ini, nggak bisa mengembalikan senyum kebahagiaan wanita yang melahirkannya.

__ADS_1


__ADS_2