
Siang Hari sudah ada Sekira nya 60/70 pekerja yang Andri suruh untuk membangun Lestoran , Club , Taman , kolam renang pribadi serta air mancur .
Dipta yang melihat banyak sekali orang kebingungan sendiri . seperti hendak berdemo saja
Kedatangan Febri membuat Dipta menceritakan apa yang ia lihat . Febri ikut melihat orang orang yang Dipta ceritakan itu , dan benar saja mereka banyak sekali
" Ndrii... banyak banget orang udah kaya mau tauran, mana pada megang balok , palu , gergaji , sekop . Gamungkin kan mereka mau ngusir kita dari sini " . Tanya Febri
Indri terkekeh , lalu menceritakan kepada dua sahabat nya ini . Kalau bang Andri berniat untuk membuat sebuah Club, lestoran , serta taman untuk berkumpul . Kedua sahabatnya sedikit lega
" Kaya bener abang lo sumpah, gue rasa Abang lo gapernah liat duit serebuan receh be . " Ucap Febri kagum
" Gausah ngayalin Bang Andri, inget dia itu hanya punya gue seorang!!!!! " Ucap Dipta
Febri berdecih , lagipula ia tidak berniat tuh kepada Andri , Febri hanya menganggap Andri sebagai kakak saja tidak lebih .
" Keluar yuk , Bosen nih . sekalian cuci mata sama tetangga " . Ajak Dipta
" Katanya cuma bang Andri seorang doang , liat yang ganteng masih aja lo demen . Heran gue jiwa kegatelan lo itu udah mendarah daging " . Sindir Indri
Dipta hanya menampilkan deretan giginya . lalu berjalan gontai keluar . ternyata laki laki yang dikenal nya pagi itu sedang membantu para pekerja . " Udah ganteng, suka menolong orang lagi . Haduh, Pusing hayati kalo gini "
" Pusing Kenapa? " Tanya Febri ,
__ADS_1
" Pusing memilih diantar bang Andri dan yang lain " .
Febri dan Indri yang mendengar ucapan Dipta segera monoyor kepalanya . sampai sang empunya meringis dan mengomel
" Kayanya gorengan enak nih " . Ucap salah satu pekerja
Indri jadi merasa tidak enak, karena tidak menyuguhkan apapun .
" Ernaa.......... " Panggil Indri , kepada salah satu anggota yang baru ia kenal semalam . Sedari awal melihat Erna Indri seakan melihat sosok kedua sahabatnya . Erna bahkan semalam membuat sedikit banyolan yang membuat Indri tertawa .
" Iya non ? " Jawab Erna mendekati Indri ,
" Bisa belikan gorengan tidak? "
Indri menghela nafasnya lega . lantaran Ia sulit sekali untuk berbohong . Febri dan Dipta menangguk percaya
" Beli dimana non? "
" Didepan kampus ada tukang gorengan, tolong kamu belikan 500 ribu ya . "
Erna tercenggang , membeli gorengan saja harus sebanyak ini . namun dirinya tidak berani melayangkan pertanyaan dan hanya menurut
" Pakai apa non? "
__ADS_1
Indri sedikit berfikir, hendak menyuruh pakai mobil sangat dekat , menyuruh jalan kaki tidak enak . Indri melihat ada satu motor metic di depan sana . lalu ia bertanya punya siapa . dan meminjamnya sebentar untuk membelikan gorengan serta air / kopi yang akan ia berikan kepada para pekerja.
" Naa... aku ikut boleh ngga? " Tanya Dipta
" Boleh "
Dipta senang karena dirinya bisa jalan jalan naik motor . Erna memegang kendali membawa motor, dan Dipta sebagai penumpang
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
20 menit sudah Dipta dan Erna keluar , tidak lama kemudian mereka kembali
Dengan wajah Dipta yang pucat padam membuat Indri serta Febri heran . Belum sempat mereka bertanya , Dipta dengan cepat mengomel .
" Buat lo erna , yang abis boncengin gue naek motor . tolong jangan ngajakin gue mati! . Itu lo boncengin gue yaallah tobat mendadak gue . tobat on the road tau galo? . sepanjang jalan gue udah nyebut doa . lo bawa motor udah kaya dikejar polisi bintang 6 . Eh, Kita keluar niat cari gorengan bos bukan nyari mati . Segala bawa motor ngeprank malaikat lo . Gue rasa malaikat lihat kita minder , mau nyabut belon ada perintah . ga dicabut lonya menantang maut . Mana lo belok kaga nyalain lampu sen, tapi segala melambaikan tangan , Eh markonah itu tadi lo naik motor bukan uji nyali . terus itu lampu sen buat apaan gue tanya? . Ngeflash!!!! . Udah gue kata naek motor jangan kenceng kenceng . enak bener lo jawab, yaelah kalo jatoh masuk rumah sakit ini . Iya gue diruang tunggu . lo diruang mayat!!! " Omel Dipta panjang lebar membuat sebagian orang menghampiri
Erna yang mendapat omelan panjang lebar seperti itu hanya garuk garuk kepala sambil tersenyum .
Indri dan yang lain mendengar ocehan Dipta tentu saja tertawa kencang . Tidak memperdulikan Dipta yang sudah memperlihatkan wajah kesal nya .
.
.
__ADS_1