Suamiku

Suamiku
Part 16


__ADS_3

Jam kantor sudah berakhir, Mbak Ratna memberitahukan bahwa dia akan segera pulang. Akupun segera membereskan pekerjaanku dan siap-siap untuk pulang.


Di depan liftku lihat sudah ada beberapa karyawan yang sedang menunggu lift. Pada saat aku sudah berada didepan lift, ku lihat pintu lift terbuka, dan aku segera masuk, baru saja pintu lift mau tertutup, kulihat Siska masuk.


Dia memandangku dari atas sampai bawah, seperti biasa bahasa sindiranpun keluar dari bibirnya.


Aku yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala ku.


Melihat sikapku yang nggak memperdulikannya, dia semakin gencar mengeluarkan kata-kata sampahnya. Sampai akhirnya pintu lift terbuka.


" Suami lu dah nunggu tuh" Sapa Ika pada saat aku lewat didepannya.


" Dari mana lu tau suami gue"


" Cuma suami lu yang jemput lu, pakai motor dan selalu menutup mukanya dengan masker kain kebesarannya."


Aku cuma tersenyum mendengar ucapannya.


Karena Ika juga mau pulang, ku gandeng tangannya untuk jalan bersama.


" Suami lu dari dekat ganteng juga kalau dilihat-lihat, keren banget gaya ya, nggak seperti preman pasar. "


Ucap Ika pada saat kami sudah ada didepan pintu loby dan melihat Mas Jaya sudah menunggu disana.


" Haruslah, secara gue kan kece" Ucapku sambil mencubit pipinya.


" Gue pulang duluan ya, hati-hati lu" Dan aku melambaikan tangan ku depada Ika.


*****


Seminggu sudah kejadian dimana Ika mengupload foto ku dengan Mas Jaya, aku mengira berita itu sudah berlalu, rupanya semakin panas.


Pada saat berada dalam toilet, Aku mendengar dua orang yang sedang mencuci tangan membicarakan aku.


Melihatku keluar dari salah satu toilet kecil mereka langsung diam sesaat dan memandangiku dengan tatapan yang sinis.


" Zahra, kamu memang nggak tau malu ya, dulu Pak Fajar yang kamu kejar, sekarang incaran Siska yang kamu embat, dasar perempuan ****** lu." Ucap salah seorang dari mereka.


Aku yang nggak mau memperdulikan kata-katanya, segera mencuci tanganku.


Karena ucapan nya nggak aku tanggapi, dia menghadang jalan ketika aku akan meninggalkan toilet.


"Lu kira, bisa seenaknya pergi gitu aja."


Tadinya aku malas menanggapi ocehan recehan seperti ini, tapi kalau dibiarin makin nggak tau diri.


" Sekalipun aku memang wanita ******, aku nggak pernah merugikan hidup kalian, karena bukan pasangan kalian yang kurebut."


Kupandang lekat-lekat wajah perempuan yang ada didepanku.


"Sampaikan pesanku sama Nyonya mudamu yang bernama Siska itu, untuk laki-laki incarannya itu, aku pastikan jangankan senyumnya, bayangannya pun dia nggak bisa dapatkan. Jadi tolong sadarkan dia dari mimpi nya yang menyakitkan itu."


Aku pun segera berlalu dari mereka.


Setelah aku masuk keruanganku, Mbak ratna memanggilku.


" Zahra, aku butuh sekretaris satu lagi untuk membantu kamu, Heru bilang kamu lagi hamil, dia nggak mau kamu terlalu letih." Ucapnya dengan senyum yang mengembang.


" Saat ini aku masih bisa menangani pekerjaanku Mbak, tapi kalau untuk pergi jauh menghadiri meeting dengan klien sampai keluar kota, aku memang cepat merasa letih. Tapi maaf bukan aku mau mengeluh."


" Dari awal aku nggak salah menilai mu Zahra, semangat yang ada sama Maya itu ada pada dirimu. Dulu Maya itu sempat menjadi sekretaris Almarhum Papa, sebelum perusahaan ini berpindah ketangan Heru. Karena penghiatan orang-orang terdekatku, perusahaan ini hampir bangkrut.


Sebenarnya Heru ingin menarikmu ke Perusahaannya yang lain, tapi aku menolak karena aku membutuhkan mu."


Ini kesempatan ku bertanya sama Mbak Ratna siapa sebenarnya suami ku.


" Mbak, bukan aku lancang, tapi aku benar-benar nggak tau Mas Jaya itu siapa, sampai hari ini pun sebenarnya aku masih tanda tanya siapa Mas Jaya. "


" Apa yang mau kamu ketahui dari suami mu?"


Pertanyaan Mbak Ratna seperti angin segar buat ku.


" Aku mau tau siapa dia, keluarganya, dan kehidupan masa lalunya."


Ku lihat Mbak Ratna menarik nafas berat


" Kamu ini ya, benar-benar membuat gusar aja. Tapi kalau kamu ingin tau, saya cuma bisa cerita yang saya tau saja."


Sekali lagi dia mengambil nafas yang berat.


" Heru itu seorang pengusaha muda yang sukses, tapi dia nggak pernah mau mengekspos dirinya. Setelah dia gagal mencapai apa yang dicita-citakannya, dia sempat merasa hidupnya hancur. Sempat pulang ke kampung halaman nya tapi semua keluarga menolaknya, lalu kembali ke kota ini dan masuk dalam dunia yang salah, ambisinya untuk menjadi orang sukses menjadikan dia laki-laki yang berhati dingin dan menghalalkan segala cara. Dia sempat tinggal di luar negri beberapa tahun, dan sekembalinya dia kemari dunia bisnis sempat geger Karena HS Corp. Perusahaan baru tapi selalu memenangkan tender dan banyak mengalahkan perusahaan-perusahaan Raksasa lainnya. Namun sampai saat ini tidak ada satu perusahaan pun yang tau siapa dibalik kesuksesan HS group, siapa pemilik HS group. Perusahaan kita pun masih dibawah naungan HS group Zahra. Dan kau pasti tau HS itu singkatan dari nama suami mu." Ucap Mbak Ratna panjang lebar.


" Mbak nggak salah bicara?" Sedikit kaget aku mendengar ucapannya.


" Itu sedikit biografi dariku tentang suamimu. Selebihnya aku nggak tau apa-apa." Dia langsung menutup pembicaraan.


" Eh, iya Mbak, mengenai sekretaris baru, itu wewenang Mbak, saya hanya karyawan disini."


" Karena kamu akan satu ruangan sama dia, makanya saya beri tahu kamu. Tapi Heru sudah memberi tahukan saya siapa yang akan menemani mu, dan semua data nya sudah dia dapatkan. Mulai besok dia akan bekerja bersama mu, bimbing dia sesuai yang kamu tau."


" Iya Mbak, kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya pamit keruangan."


Mbak Ratna hanya menganggukkan kepala nya.


Sampai diruangan, aku nggak tau harus bagaimana, sempat gugup. Aku nggak pernah berfikir sampai sejauh itu tentang Mas Jaya. Selama ini yang aku takutkan aku menikah dengan seorang gembong narkoba, tapi dugaan kusalah. Salah besar.


Aku nggak menyadari udah berapa lama aku terdiam memikirkan Mas Jaya, sampai aku tau pipiku dikecup lembut oleh seseorang.


"Kamu melamun kenapa sayang?"


"Eh, anu eh nggak papa Mas. Aku lagi mikirin kamu." Sedikit bingung aku mau menjawab pertanyaannya.


"Bohong kamu." Lalu dia duduk di sofa tunggal diruanganku.


"Beneran aku lagi mikirin kamu, mana berani aku mikirin orang lain, nanti kamu merajuk seperti tempo hari." Kudekati Mas Jaya,lalu kujatuhkan diriku dipangkuannya, kukecup kening nya.


"Mas, kamu benar mencintaiku?" Tanyaku pelan.


"Iya sayang, nggak ada wanita lain dalam hidupku, selain kamu." Lalu dikecup nya bibirku.


Kurangkul kepalanya dan meletakkan di dadaku, dan perlahan  kukecup kepala.


" kamu kenapa?" Tanya nya..


" Aku kangen sama kamu" Ku bisikkan kalimat itu ditelinganya dan mengecupnya.


"Kamu nakal, menggodaku dengan cara begitu."


"Tanpaku godapun kamu sudah sering tergoda Tuan Heru Sanjaya." Lagi-lagi kuucapkan itu pelan ditelinga nya.


" Sayang udah. Aku bisa nggak tahan."


Aku pun tertawa, dan mengecup pipinya. " Aku kerja dulu sayang, nanti Boss kumarah.


Sebelum aku turun dari pangkuannya, kuciumin seluruh wajahnya.


"I love you honey" kukecup bibirnya, dan aku pun kembali bekerja.


Mas Jaya berjalan menghampiriku, dan berdiri tepat dibelakangku.


"Kamu lagi ngerjain apa?" Diletakkannya wajahnya sejajar dengan wajahku, menatap kelayar laptop.

__ADS_1


"Laporan hasil meeting kemarin." Jawabku singkat.


Lalu dia menyuruhku berdiri, menduduki kursi yang kupakai, dan mendudukkanku dipangkuannya.


Kalau sudah begini aku nggak bakal bisa kerja dibuatnya. Bisik hatiku.


"Sayang, buka jilbab nya ya" Sebelum dia meminta izin, jarum yang merekatkan jilbabku sudah mulai dibukanya satu persatu.


"Lakukan apapun yang kamu mau, tapi biarkan aku mengerjakan laporan ini sampai selesai ya?" Ucapku padanya.


Diapun hanya mengangukkan kepalanya.


Kalau sudah begini pasti sulit untuk dikendali kan, oh Tuhan... Mbak Ratna pasti melihat semua ulah nya pada ku.


Ruanganku dengan Mbak Ratna hanya terhalang dinding kaca, dari ruanganku untuk melihat keruangan Mbak Ratna memang tidak bisa, tapi dari ruangannya melihat ke ruanganku pasti sangat jelas.


Disaat Mas Jaya asik menciumin rambutku, tiba-tiba Siska masuk tanpa mengetuk pintu. Dan Mas Jaya pun menghentikan aksinya.


Siska menatapku dengan tatapan yang mengerikan.


" Ini Laporan untuk Bu Ratna. Ini kantor Zahra, bukan tempat mesum" Siska mencampakkan laporan itu diatas mejaku.


Mendengar ucapannya Mas Jaya langsung membentaknya. "Beraninya kau bicara!! Keluar!!!" Teriak Mas Jaya.


Aku yang baru kali ini mendengar dia berkata sekeras itu, langsung memeluknya.


" Udah sayang, udah, jangan emosi begini, kendalikan dirimu."


Dipandangnya Siska dengan tatapan yang tajam, seperti orang yang akan membunuh lawannya.


KuRaih kepalanya, sorot matanya yang masih menyalakan kemarahan kupandangi.


Lalu kucium bibirnya, untuk meredakan emosinya. Begituku rasa dia sudah tenang, Aku lepaskan ciuman itu.


" Sayang jangan emosi lagi, kau membuatku takut." Ucapku padanya.


" Tapi dia sudah kurang ajar."


" Udah ya." Ku ciumin lagi wajah nya.


" Udah sayang, aku udah tenang. Aku haus.Tolong ambilkan aku air."


Pada saat aku memalingkan diriku mau mengambil air minum yang ada diatas meja, Aku lihat Siska masih berdiri ditempatnya.


Aku nggak mau perdulikan dia, segera kuberikan air digelas pada Mas Jaya.


setelah Mas Jaya menghabiskan minum nya, kupeluk dia lagi, selayaknya seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang habis bermimpi buruk, berkali-kaliku ciumin kepalanya.


"Kamu masih mau berapa lama lagi ada di ruanganku Siska, apa kamu menungguku untuk menyeret mu keluar."


Ku ucapkan itu tanpa melihatnya dan masih memeluk Mas Jaya. Aku nggak mau emosi Mas Jaya naik lagi karena melihat Siska, aku dah cukup sulit mengendalikan emosinya.


Setelah Siska keluar dari ruanganku, berbagai cara ku coba untuk membujuk suamiku ini.


Aku yang masih duduk dipagkuannya segera membuka dasinya, kubuka dua kancing atas kemeja nya.


" Kamu sexy banget sih Mas."


" Jangan menggoda ku Zahra."


"Aku nggak bohong, kamu sexy Mas." Kukecup lembut bibirnya.


Lalu aku berdiri dari pangkuannya, dan dia juga ku minta untuk berdiri, setalah itu ku keluarkan sebagian baju nya.


" Perfec" Ucapku dengan mengedipkan mata padanya.


Kutarik kedua kerah bajunya" Kau terlihat ganas seperti ini mas, dan aku menginginkanmu."  Kubisikkan kalimat itu pelan ditelinganya. Lalu mengekecup pipinya, turun keleher, dan kecupanku berarkhir didada bidangnya.


" Aku pakai jilbab dulu sayang, setelah itu aku minta izin sama Mbak Ratna untuk makan siang."


"Oh Tuhan, kalau aku melakukan kenakalan hari ini pada suamiku jadikanlah kenalanku ini suatu pahala, bukan suatu dosa." Ucapku dalam hati.


Setelah merasa rapi, kulagkahkan kaki menuju ruangan Mbak Ratna.


" Jangan kau bilang kau mau minta izin untuk makan siang Nona Zahra, karena ini masih jam 10 lebih" Ucap Mbak Ratna, tanpa melihatku setelah aku mendekatinya.


Aku yang mendengar ucapannya, nggak bisa lagi ngomong apa-apa. Ku lihat dia menegakkan kepalanya lalu menatapku.


"Pergilah, kendalikan kuda liarmu itu, jangan sampai  membuat kacau kantorku." Ucap Mbak Ratna dengan senyum mengembang.


"Makasih Mbak." Ucapku sambil menahan malu.


Saat hendak menarik pintu kaca yang ada didepanku, Mbak Ratna menanggil.


Setelah aku mengalihkan pandanganku kearah Mbak Ratna, dia mengucapkan kalimat " Zahra. Kau terlihat sexy saat menggodanya."


Aku benar-benar malu mendengar ucapannya.


Pada saat aku keluar dari ruangan mbak Ratna, Mas Jaya sudah ada didepan pintu ruanganku, dan memegang tas milikku.


Akhirnya aku pun pergi meninggalkan pekerjaanku.


Keluar dari lift, Ika yang melihatku, berlari pelan, dan memelukku kegirangan.


"Zahraaaaaaa gue seneng banget, nenek grandong marah-marah di group. Puas banget gue, puas banget."


Aku sempat kaget dengan kelakuannya. Dan melirik kearah Mas Jaya.


Mas Jaya yang ada di sampingku, mendehem untuk menghentikan perbuatan Ika.


"Maaf Pak, Maaf saya nggak ngelihat Bapak." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Mas Jaya langung membesarkan matanya mendengar ucapan Ika.


" Udah sayang, kamu ih"


"Pak aku pinjam sephiamu sebentar." Ucap Ika, yang buat aku dan Mas Jaya langsung melongo kaget.


Lalu dia menunjukkan status Siska yang menyumpah serapahi aku.


"Gila lu, gue disumpah serapahin, lu malah girang, temen macam apa lu."


" Maaf cantik, maaf."


" Udah ah, gue mau keluar dulu."pada saat aku mau pergi, dia masih menahanku.


" Mau kemana lu, belum jam istirahat ini."


" Mau kencan. Udah ah." Berusaha melepaskan pegangan Ika.


"Ini masih siang oneng." sambil dia megang erat tanganku.


"Gue udah nggak tahan, apaan sih lu megang-megang."


" Laki lu mau lu khianatin, parah lu."


Aku yang udah memeluk tangan Mas Jaya lagi-lagi kaget dengan ucapannya.


" Laki gue lagi ngurus parkiran, gue mau kencan sama kekasih halal gue"


Sambil aku berlalu meninggalkan nya.

__ADS_1


" Kamu khianati aku sayang?" Tanya Mas Jaya sewaktu sudah di dalam mobil.


" Mana mungkin aku khianati kamu, sementara 24 jam aku dimana kamu tau."


Ku lihat raut wajahnya mulai berubah.


" Sayang, aku nggak mungkin khianati kamu." Sambilku menyandarkan kepala dilengan nya yang kokoh. Tapi tetap aja raut muka bete nya masih dipasang.


"Apalagi cara yang harus kubuat, ya Allah, bantu aku." Ucapku dalam hati.


Kuletakkan daguku dibahu nya, dan memandangi wajahnya.


" Kamu selalu membuatku harus memikirkanmu Mas, bagaimana aku bisa punya waktu untuk yang lain. Jangan siksa aku dengan rasa cemburu mu." Ucapku pelan ditelinga nya.


Perlahan tapi pastiku tenggelamkan wajahku dileher kokohnya. Tanpaku sadari butiran kristal disudut mataku jatuh begitu saja.


" Sayang jangan nangis, aku nggak bisa lihat kamu menangis, terlalu sakit hatiku melihatmu menangis" Dirangkul dan dikecupnya keningku.


" Aku bahagia Mas, bahagia Allah memberikanku pria sepertimu, yang bisa memberikanku rasa cinta seperti ini."


Tanpaku sadari dia meminggirkan mobilnya ditepi jalan. Berpaling menghadapku, memegang kedua pipiku.


" Kau bahagia bersama ku?" Dia bertanya pelan.


Aku membalasnya dengan anggukan.


"Katakan sekali lagi kau bahagia bersamaku, yakinkan aku, kalau kau bahagia bersamaku."


"Aku bahagia bersamamu Mas, sangat bahagia. Ucapku sambil memeluknya. Dikecup nya keningku, diciumnya lembut bibirku.


Perlahan ciumannya padaku semakin dalam, bahkan tangannya juga masuk kedalam kemejaku.


" Masss." Ucapku pelan setelah dia melepaskan ciumannya.


" Apa sayang?" Jawabnya pelan


" Jangan ambil kehormatanku di tepi jalan seperti ini."


Diputarnya bola matanya untuk melihat sekeliling, lalu dilepaskannya pelukannya padaku.


" Kauselalu punya cara untuk menolakku" Ucapnya dengan senyum yang mengembang. Lalu menyalakan kembali mobilnya.


" Masss..." panggilku pelan.


"Hemmm" Jawabnya sambil terus fokus menyetir.


"Masssss..."


Pada saat dia menoleh, langsungku cium bibirnya.


" Stop sayang, kau selalu menggoda ku, pakai sabukmu, dan biarkan aku fokus." Ucapnya sedikit frustasi.


Aku menuruti yang perintahnya.


"Jangan cemberut begitu. Sini aku bisikin sesuatu." Kudekatkan wajahku kepadanya.


"Sayang, kau udah menyakitiku. Kali ini jangan sakiti aku lagi, biarkan aku fokus biar kita cepat sampai,dan obati rasa sakitku."


"Kita mau ke rumah sakit Mas? apa mu yang sakit?" Tanyaku dengan serius.


"Kau menyakiti bagian perut bawahku." Dan menatapku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


🌼🌼🌼🌼🌼


Setelah aku kembalj dari makan siang, krasak krusuk di kantor ku semakin menjadi, apalagi Mas Jaya masuk bersamaku. Mana setiap berjalan dengannya dia selalu merangkul pinggangku.


Di depan receptionis dia langsung berhenti.


"Mulai besok kau tidak disini lagi." Ucapnya dingin kepada Ika.


Aku dan Ika yang mendengar ucapan nya langsung kaget.


"Kenapa Pak, saya ada salah apa?" tanya Ika sedikit heran.


"Kesalahanmu, kau terlalu baik dengan istriku, dan aku cukup tau loyalitas kerja mu." Jawab Mas Jaya.


Kulihat Ika menitik kan air mata. Dan Mas Jaya menarikku meninggalkan dia.


" Katakan padanya aku tidak memecatnya, hanya memindahkan ruang kerja keruanganmu. Aku ketemu Ratna dulu, kita berpisah disini sayang." Lalu dia mengecup bibirku.


Pada saat dia mengecup bibirku banyak karyawan yang memperhatikan.


" Apa yang kalian lihat, kalian digaji bukan untuk melihatku!" Bentak nya.


Lalu dia masuk ke lift khusus. Aku kembali kemeja Ika.


" Apa yang kau tangisi?" Kukembangkan senyum pada Ika.


" Aku minta maaf Zahra kalau aku ada salah. Aku nggak menyangka kelancanganku membawa masalah."


" Mulai besok kau pindah ke ruanganku, kita jadi partner, hapus air mata mu dan tersenyumlah."


Dan aku pergi meninggalkannya disuasana hati nya masih bingung. Disaat aku masuk ke dalam lift, aku nggak menyadari Siska juga di dalam.


" Udah puas lu tidur sama Tamu Bu Ratna? Jilbab lu cuma nutupi kedok lu. "


Aku nggak perduli dengan apa yang dia sampaikan, sepatah katakapun aku nggak mau mendengar ucapannya.


" Gua akan bilang sama Tamu Bu Ratna kalau lu nggak lebih dari *******!"


Pada saat dia selesai mengucapkan kalimatnya, pintu liftpun langsung terbuka.


"Ting"


Aku keluar sesudah siska keluar. Lalu kupanggil dia, sebelum meninggalkanku lebih jauh.


"Siska, aku tidak keberatan kau mengatakan aku apapun. Berhati-hatilah dengan tamu Bu Ratna. Kalau kau masih betah kerja disini."


Lalu aku masuk keruanganku.


Sampai di ruanganku, kudengar perut kuberbunyi. Aku ingat aku belum makan.


Disaat ingin memesan makan, Mbak Ratna dan Mas Jaya masuk ke ruangan ku.


" Mari masuk Pak, Buk.. mau minum apa? Suatu kehormatan bagi saya kedatangan kalian." Candaku pada mereka, sambil menyalami mereka berdua.


" Wah, kau tau saja Nona manis, kalau saya mau minum teh." Balas Mbak Ratna .


Dan kami pun tertawa bersama.


" Sayang, Ratna akan menikah. Acara pernikahannya satu minggu lagi." Terdengar suara Mas Jaya membuka percakapan.


Pandanganku langsungku alihkan ke Mbak Ratna, dan dia pun mengangguk.


Terdengar pintu ruanganku diketuk, pada saat mempersilahkan masuk, Pak Fajar melangkah masuk dan langsung duduk disebelah Mbak Ratna.


"Ini Maksudnya apaya?" Tanyaku pada mereka semua.


" Iya minggu depan, sayang mereka nikah." Jawan Mas Jaya.


Hari ini aku benar-benar mendapat kabar bahagia, dimana orang-orang yang tulus dan sabar akan mendapatkan buah baik dari kesabarannya.

__ADS_1


__ADS_2