Suamiku

Suamiku
Part3


__ADS_3

Selama ke pergian nya aku menikmati hidupku tanpa pria menyebalkan itu di rumah ini.


Pagi itu sehabis aku bersih-bersih, aku menonton TV, tanpa sadar aku tertidur di sofa di depan televisi, aku terbangun karena mencium aroma masakan.


Astaqfirullahal'azim! apakah aku lupa mematikan kompor..... Aku langsung bangun dan bergegas menuju dapur, aku agak kaget melihat Mas Jaya udah di dapur dan memanaskan sup yang ku masak.


"katanya seminggu Mas di luar kota, ini baru juga tiga hari. Jangan bilang kamu kangen sama aku ya... " Ucapku dengan rasa percaya diri.


Bukan menjawab kalimat ku, dia mengalihkan kehal lain.


"Udah bangun kamu. Sepertinya masakan mu enak. " Ucapnya sambil menyendokkan nasi ke dalam piring, dan menuangkan sup yang dipanasinya tadi kepiring nasinya itu.


"Makanlah... Maaf cuma masak sedikit, aku nggak tau kalo mas pulang hari ini"


Dia nggak membalas ucapanku, dia makan dengan lahap. Aku kembali ke ruang tengah untuk menonton Tv.


" pada saat Mas pergi, dua kali pihak developer kemari, untuk meminta berkas yang kurang, Mas simpan dimana buku nikah kita?, dan mereka juga minta NPWP Mas."


Ujarku setelah dia duduk disebelahku...


" Aku masih meletakkannya di kantor, dilaci meja kerja ku.


" Kantor?! Kantor apa?!" tanyaku sambil mengernyitkan dahi dan mulai serius menatapnya.


" Aku capek Za, aku mau istirahat " Dia meninggalkanku begitu saja.


" Mas, kamu itu terkadang ngeselin ya, jawab dulu pertanyaanku... kantor siapa?" aku pun menyusulnya.


Aku lihat dia merebahkan tubuhnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun...


" Mas, sebagai seorang istri wajar aku tau kamu kerja apa?!"


Dia langsung duduk, dan menarikku duduk dipangkuannya, serta memelukku erat, sehingga aku tidak bisa berkutik diatas pangkuannya itu.


"Aku tau kamu itu seorang istri, semua orang juga tahu kamu seorang istri dariku. " Di menatapku dengan tajam.


Aku yang dipandang seperti itu, jadi salah tingkah sendiri.


"Lepaskan aku!" sedikit memberontak meminta dia melepaskanku.


Pelukannya sama ku semakin kuat.


"Tiga hari aku nggak melihat wajah cantikmu, aku merasakn rindu.


bisakah kita memulai hidup kita ke arah yang lebih baik, jangan lagi membuat jurang diantara kita, aku memberikanmu nafkah yang halal " Ucapnya lembut ditelingaku dan aku merasakan deru nafasnya berhembus hangat, dan membuatku merasa geli.


Segera kutarik kepalaku menjauh darinya.


"Za... Kalau kamu mengaku sebagai seorang istri, bisakah aku mendapatkan cintamu?!"


Lagi-lagi dia memandangku dengan tatapan yang tajam, hampir menembus jantungku.


Ditatap seperti itu, membuat aku jadi sedikit salah tingkah.


" Apa sih susahnya ngasih tau kamu itu kerja dimana?! bisa jadi kamu di pasar itu hanya sebuah alibi" Kubalas ucapannya untuk mengurangi rasa gugupku.


Mendengar ucapanku dia malah ketawa.


"Kamu senangkan duduk di pangkuanku" sambil dia melepaskan pelukannya.


Seketika aku bangkit dari pangkuannya.


" Kau ya!!!! " sambil aku menunjukkan jari ku tepat di depan hidungnya.


" Bodo' ah!!!! " ujarku kesal, sambil meninggalkannya yang masih duduk di pinggir ranjang, dan tak lupa dia terus mentertawakan diriku.


🌹


🌹


🌹


Tante Maya adalah Adik Ibuku dan dia adalah satu-satunya tempat curhatku...


Meskipun dia belum berkeluarga, tapi dia cukup dewasa untuk menyelesaikan suatu persoalan, bisa jadi karena tuntutan pekerjaan yang harus membuatnya berfikir bijaksana.


Hari itu aku bermain ke kantornya, aku diantar Mas Jaya..


walaupun aku belum bisa membuka hati, tapi untuk keluar dari rumah tanpa izinya aku juga nggak berani.

__ADS_1


" Dia suamimu, jangan pernah melawan dengannya, dia yang gantikan Bapak, Nduk, apapun katanya turuti selagi itu baik"


Itu pesan Bapak pada saat aku akan dibawa Mas Jaya keluar dari rumah orang tuaku.


"Tante... udah jadi menanyakan sama tetangga depan rumah Ibu, apa pekerjaan jelasnya Mas Jaya?"


" Udah Za, jawabnya tetap sama, Maas Jayamu itu adalah teman suaminya waktu mereka sama-sama kerja di pasar " Ucapnya dengan mata yang masih sibuk dengan layar laptopnya.


"Kalau memang iya kerja di pasar, kenapa aku nggak pernah melihatnya pada saat aku belanja ya." Ucapku sambil memainkan pena ditanganku.


" Dari yang Tante dengar, kalau hari biasa selain Sabtu dan Minggu, Jaya datang sehabis Ashar "


" aku harus memastikannya sendiri Tante, lagi pula kalau memang dia dagang ikan, seharusnya dari pagi. Laki-laki itu, udah terkadang ngeselin, sok misterius lagi." Sambil mengepalkan tanganku.


Tanteku hanya tersenyum...


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Sehabis Shalat Ashar, aku bergegas ke pasar tempat Mas Jaya biasa bekerja.


Setelah aku membayar taksi online yang kunaiki perlahan aku memasuki area pasar, dari kejauhan aku melihat Mas Jaya sedang mengangkati beberapa keranjang yang berisi sayuran dari sebuah mobil pick up.


Aku masuk ke dalam salah satu warung yang menjual minuman.


Setelah menyeruput seteguk es teh yang kupesan, aku memberanikan diri bertanya tentang Mas Jaya kepada Bapak pemilik warung, kali-kali dia mengenalnya.


" Bapak, maaf kalau saya mengganggu.. Bapak kenal dengan Jaya yang bekerja di pasar ikan? "


" Jaya yang itu Neng?!"  Seraya jarinya menunjuk ke arah Mas Jaya.


Aku menggangguk untuk memberikan kepastian.


" Ya kenal lah Neng, dia kan hari-hari disini, tapi Neng sebenarnya dia bukan dagang ikan, dia hanya bantu-bantu saja, karena pemilik kios ikan itu Sabtu dan Minggu pulang ke kampung ketempat istrinya" Ucap sang Bapak pemilik warung menjelaskan.


" Lalu selain itu dia kerja apa ya Pak? " tanyaku.


" Kurang tau Neng, tapi setelah Ashar dia pasti sudah disini"


" Jadi buruh angkut seperti itu Pak?? " Kembali aku bertanya.


" Dia hanya membantu saja Neng, sebelum anak-anak yang biasa ngamen datang mengantikannya "


"Nggak Pak, nggak usah" aku buru-buru mencegah si Bapak yang ingin beranjak dari tempat dia duduk.


Setelah membayar minumanku Aku segera pamit. Bergegas pulang, meninggalkan area pasar...


Melihatnya bekerja seperti itu ada rasa kasihan dan iba dalam hatiku, sejauh ini dia berusaha untuk membahagiakanku, bekerja keras untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami.


Istri macam apa aku, yang selalu mencurigai suami sendiri.


tapi perkataannya tempo hari membuatku harus tetap menyelidiki siapa dia.


🍁


🍁


🍁


" Hum.... sebentar lagi Mas Jaya akan pulang" Saat kumendengar kumandang Adzan untuk menunaikan Sholat Isya di Mesjid yang tidak jauh dari rumahku.


Sebelum aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba, terlebih dahulu aku mempersiapkan makanan di atas meja, biar kalau Mas Jaya pulang dia bisa langsung makan.


Setelah itu aku masuk ke kamarku, untuk melaksanakan Sholat Isya'.


Selesai Shalat, aku keluar kamar memastikan apakah Mas Jaya sudah pulang.


Bukannya udah pulang namun aku juga melihat mas Jaya yang sedang melahap makan malamnya...


Penampilannya sedikit berbeda dari yang kulihat di pasar tadi, rambutnya lebih rapi, jenggot yang menghias dagunya lebih pendek, rona diwajahnya lebih berseri, mungkin karena habis kena air wudhu.


Meskipun dia menghabiskan waktu seharian diluaran aroma tubuhnya nggak seperti orang yang terkena sengatan matahari.


Melihat kumelangkah ke arah dapur dia mengajakku untuk makan bersama.


"Ayo Makan Zahra."


Akupun langsung duduk dihadapnya, melihat dia makan selahap itu aku jadi merasa kenyang sendiri.


Ku pandangi dia secara seksama. Pria berkulit sawo matang ini jika diperhatikan cukup manis juga. Ada kharisma tersendiri yang terpancar dari dirinya.

__ADS_1


Waahnya yang teduh, aku yakin dan percaya banyak wanita yang diluar sana pasti menyukainya.


"Kamu nggak makan?? Nggak usah memperhatikanku seperti itu, aku tau aku memang tampan" Ucapnya, membuat aku tersadar.


Aku majukan sedikit bibir bawahku untuk mengejeknya.


"Bentar lagi, aku belum lapar"  Sambil aku meneguk air dalam gelas yang kupegang.


" Aku tau kamu mulai mengagumiku Nona Manis" Ucapnya sambil mengembangkan senyumnya.


" Bodo!" bergegas aku meninggalkannya. Memilih duduk di sofa sambil menonton film pavoritku.


Dia menghempaskan pantatnya di sofa dan memilih duduk disebelahku sambil mengambil remote dan mengganti channel TV yg kutonton.


"Kamu makanlah, lauk nya masih ada" ujarnya membuka percakapan.


"Tumben kamu nggak menghabiskan makan malam kali ini mas? " Dengan mengembangkan senyumku yang bermaksud mengejeknya.


" Aku kasihan sama kamu, karena jarang makan kamu jadi kurus begini" Balasnya dengan meniru perlakuanku.


Dan kembali meluruskan pandangan matanya ke arah layar TV.


" Za... hari ini masakan kamu garamnya aku rasa pas"


" Maksudnya? "


"Iya, Aku rasakan garam dimasakan kamu kali ini cukup pas dilidah ku" Sambil tersenyum lebar dia menatapku.


" selama ini masakan kucukup asinkah dilidah mu?" Sambil membenarkan duduk ku. Aku sedikit salah tingkah karena ucapannya.


Pikirnku jadi teringat dengan masakanku yang selalu dia habiskan tanpa tersisa sedikitpun.


" Hem... aku nggak bilang masakan kamu asin... Cuma kalau boleh jujur, garamnya hanya terasa saja " lagi-lagi dia mengembangkan senyumnya.


"Ohhh... " jawabku singkat, sambil meninggalkannya menuju kamar.


Di dalam kamar aku tertawa mengingat kembali ucapannya.


Terkadang dia itu ngeselin, tapi juga lucu...


🌹🌹🌹🌹


Seperti biasa, setiap bulan aku selalu pergi ke Toserba untuk membeli keperluan bulanan. Untuk kembali ke rumah aku sedikit malas, aku lihat jam di Hp kumasih menunjukkan pukul 13.50, masih punya banyak waktu untukku menunggu Mas Jaya pulang.


Aku putuskan untuk mampir ke Mall sambil sedikit melihat-lihat kosmetik siapa tau saja ada yang membuatku tertarik...


Lagi asik berkeliling, mataku tanpa sengaja melihat seseorang duduk diantara beberapa orang pria yang sedang menikmati makan siang di Resto ternama di kota ini.


Sedikit penasaran aku mendekati restoran tersebut untuk memastikan  apakah itu benar suamiku.


Aku masih ingat pakaian yang tadi pagi dia kenakan, kaos putih polos, celana jeans yang sobek dibagian lututnya dan sepatu berwarna coklat yang biasa dia kenakan, serta jaket kebesarannya.


Disini aku melihat dia dengan penampilan yg berbeda, kemeja hitam polos, dengan dasi yang melingkar dilehernya.


"Pemandangan macam apa ini" Gumamku.


Aku masih tetap memperhatikannya, sampai akhirnya dia dan dua orang teman nya meninggalkan tempat itu.


Aku masih mematung di tempatku berdiri, sampai dia hilang dipandangan mataku, dan masuk ke dalam lift.


Aku bergegas pulang, sampai di rumah, aku mengambil kartu nama dari salah seorang Developer yang pernah datang kerumah.


Tanpa perlu pikir panjang aku pencet nomor yg ada dikartu nama itu. Tdak perlu waktu lama untuk dia mengangkat telphon dariku.


" Iya Ibu Zahra ada yang bisa saya bantu? " ucap seorang laki-laki dari sebrang...


" Bapak udah bertemu dengan suami saya? Apakah berkasnya sudah lengkap?" Pura-pura  aku bertanya untuk menghindari kecurigaan nya pada ku.


"Oh, sudah bu, kami sudah bertemu Bapak di kantornya, terimakasih atas kepercayaannya untuk membeli rumah ditempat kami"


"Oh iya  Mas... hemm saya boleh minta alamat kantor Bapak? "


" Masa alamat kantor Suami sendiri Ibu ngak tau" Balasnya dari sebrang.


"Kantor yang sekarang saya lupa Mas, Saya hanya ingat alamat yang lama" Ucapku sekenanya aja.


"Oke nanti saya chat alamatnya"


Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepadanya, seraya menutup telponku.

__ADS_1


Akhirnya  aku dapat juga alamat kerja mu Mas. Senyumku menunjukkan rasa puas!!


__ADS_2