
Pernikahanku menjadi buah bibir orang lain, bagaimana tidak, berjalan dengannya saja aku tidak pernah, atau hanya sekedar duduk berdua di teras rumahpun tidak pernah sama sekali, tiba-tiba saja ada undangan dan kabar bahwa aku akan menikah dengan pria yang usianya jauh diatasku, bahkan banyak yang bilang dia lebih pantas dengan adik ibuku.
Mengingat dan menimbang, saat itu Tanteku belum menikah diusia yang sudah kepala Tiga.
"Kamu nggak mau merubah keputusan Za? Seharusnya kamu cari tau dulu siapa calon suamimu, laki-laki baikkah, jujur saja Za, aku menyesal menikah diusia muda, indahnya cuma sebulan Za, selebihnya seperti neraka, belum lagi suami yang membela mertua dan saudaranya"
Dita sahabatku memberi nasehat, pada saat dia datang kerumahku.
panjang lebar sahabatku itu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya...
Tiga hari sebelum pernikahanku berlansung, calon ibu mertuaku datang berkunjung ke rumah, beliau tidak banyak bicara, namun kata-kata yang masih kuingat "Calon suamimu itu bukan pria yang baik, saya ibunya saya lebih tau tabiat dan prilakunya" Beliau mengatakan itu sambil menggenggam tanganku hangat, dan tersenyum manis.
sehabis kunjungan dari Ibu mertua (ops! masih calon waktu itu) 😊😊 aku ngak bisa tidur, teringat kembali pada Dita, dan teringat pada ucapan beliau, serta nyinyiran para netizen yang kepo tentang pernikahanku.
" Apa aku harus membatalkan pernikahanku?" batinku bergemuruh, otakku buntu. Aku nggak bisa berfikir lagi.
Aku berusia 20 tahun sementara Mas Jaya pria berumur 31 tahun. Apa istimewa dari pria itu, sampai aku nggak bisa menolaknya saat itu. Hanya karna dia rajin sholat berjama'ah lalu aku menganggap dia pria yang baik. Zahra.... dimana fikiranmu, ayolah, lihat masa depanmu masih panjang, jangan sampai pernikahanmu seperti Dita.
Aku ambil ponselku "aku harus menghubunginya, memintanya untuk membatalkan pernikahan ini". Bisik hatiku.
[ Assalamu'alaikum... Maaf beribu maaf jika saya menghubungi Mas lewat pesan singkat ini. Mas... Tanpa mengurangi rasa hormat saya padamu, saya minta Mas batalkan pernikahan ini. Saya bukan wanita yang pantas buat Mas, saya juga masih terlalu kekanakan, seharusnya Mas menjatuhkan pilihan pada Tante saya, bukan kepada saya, atau kepada orang lain yang lebih pantas.
Sekali lagi maaf Mas... ]
Sampai jam 5 subuh, pesanku tidak dibalas. Aku semakin kacau, pikiran seperti benang kusut, kepalaku mulai terasa berat. Sehabis Sholat Subuh, aku tertidur karen tidak sanggup lagi menahan sakit dikepala.
Jam 12 siang aku membaca pesan masuk diponselku.
[ Saya tidak akan membatalkan pernikahan ini, jadi maaf, keinginan kamu saya tolak, nona Zahra Anggraini]Â Tak lupa dia menyelipkan emot senyum.
"Sial, belum jadi suami saja dia sudah menunjukkan sikap angkuhnya seperti ini, aku benar-benar salah menilai pria ini"
"****', ****'" sembari aku mengetok jidadku.
🌹
🌹
🌹
Sampai hari H pernikahanku. Malam ini aku resmi menjadi istri dari Heru Sanjaya, pria angkuh itu. "Aku harus bisa terima semua dengan keadaan ini, aku pasrah ya Robb"... Tanpa terasa air mataku jatuh.
" Sabar Dek, jangan menangis gitu dong, Tante yakin dia pria yang baik, selama ini pergaulan dia dengan warga disini juga baik, dan yang Tante dengar di pasarpun dia baik, malah kalau dia yang dagang, ikannya cepat habis loh" Hibur Tante Maya.
" Dia memang pedagang ikan?!"
Tante Maya mengangguk membenarkan pertanyaanku.
" Bukan hanya itu, terkadang dia pun jadi juru parkir, yang pastinya dia kerja di pasar, tapi Tante heran dia bisa kasih kamu mahar yang cukup besar"
" jangan-jangan dia rampok yang profesional, atau bandar narkoba?!" jawabku asal...
"Ngawur bicaramu"
Tante Maya melotot dan mencubitku, sambil melihat sekeliling, untuk memastikan ucapanku didengar orang atau tidak.
🌸🌸🌸🌸
" Tidak ada malam pertama, jadi nggak usah takut kalau malam ini aku tidur seranjang denganmu, tidurlah dan nikmati tidur malammu, kamu terlihat lebih kurus dari pertama aku melihatmu."
Sembari dia menyusun guling untuk menjadi pembatas tidur antata aku dan dia.
"Apa tujuanmu menikahiku? Apa aku punya salah?"Â Jujur aku sedikit takut, tapi aku coba menepis rasa takutku.
Dia yang tadi ingin merebahkan tubuhnya, mengurungkan niatnya, lalu duduk dan menatapku tanpa berkedip, perlahan dia medekati wajahku, sampai semburan nafasnya terasa hangat diwajahku.
" Nggak usah mendekat, wajahmu ngak nyeremin" Refleks aku menampar wajahnya.
__ADS_1
Dia tersenyum lalu menjauhkan duduknya denganku.
"Aku menikahimu, karena aku suka denganmu, kesalahanmu, kenapa setiap melihatmu, ada getar yang aneh dalam dadaku. Dan aku ngak mau buang kesempatan membiarkanmu didapatkan orang lain, usiaku sudah pantas menikah, dan usiamupun sudah layak menikah, jadi tidak ada unsur fedofilia diantara pernikahan kita, karena aku menikahi wanita berusia 20tahun.
Dan berhubung sudah larut malam, tidurlah jangan banyak tanya, dan menurutlah sebagai seorang istri selagi aku tidak menyuruhmu kepada hal kemaksiatan".
Dia pun merebahkan tubuhnya, tinggal aku yang masih diselimuti rasa yang aku sendiri tidak tau, menyesal? bisa jadi. Kecewa? sudah pasti ada saat itu...
Namun untuk bahagia... Wallahu'alam.
******
Seminggu sudah aku menikah dengannya, kekakuan itu masih terasa. Tiba saat dia membawaku tinggal serumah berdua dengannya, ya... hanya berdua.. Karena, tiga hari setelah pernikahanku, Ibu mertuaku dan kedua saudara perempuan suamiku harus pulang ke Sumatera untuk melanjutkan rutinitas mereka. Itulah yang kudengar dari cerita pria yang saat ini menjadi suamiku itu.
" kita tinggal disini sekarang, dengan satu kamar. Tidak usah takut untuk tidak makan, untuk memberimu makan sampai kamu muntahpun aku bisa, rumah ini memang kecil tidak sebesar rumah orang tuamu, meskipun begitu, aku janji rumah ini ngak akan menjadi neraka buatmu." Ucapnya sambil membawa koper ke dalam kamar.
pada saat dia ingin membuka koperku, aku mencegahnya.
"Biarkan aku sendiri yang buka, aku masih bisa menyusun sendiri pakaianku di lemari"
" Baiklah boss... Lakukan yang kamu mau" sambil dia melangkah keluar dari kamar. Sampai di depan pintu kamar, dia berdiri lalu berpaling memandangku yang sibuk mengelurkan pakaian dari koper yang kubawa.
" Za..... " ucapnya terputus.
" hemmm , ada yang mau disampaikan?"
" Aku..... "
" Kalau ada hal penting sampaikanlah, aku mendengarkan " Sedikit ketus aku menjawabnya.
" Ngak penting sih... Udah lanjutlah... Aku cuma mau bilang, kamu cantik hari ini" Ucapnya datar tanpa ekspresi, dan berlalu meninggalkanku.
******
Aroma masakan tercium sampai kedalam kamar. Aku yang masih sibuk dengan kegiatanku merapikan pakaian merasa tergelitik untuk untuk melihat apa yang dilakukan pria itu.
Dengan sedikit penasaran, aku melangkahkan kakiku menuju dapur dengan alasan mengambil minum. Sebenarnya aku ngak haus, hanya ingin memastikan benarkah dia yang masak.
" Kamu mau makan? Dari pagi kamu belum makan loh"
Aku menjawab hanya dengan gelengan kepala.
" Tapi bagus juga kalau kamu nggak makan, kita bisa hemat beras, dan aku cukup sedia promagh saja" Ucapnya sambil menaikan kedua bahunya.
Aku ingin tertawa, tapi aku menahannya.
"Garing!!" Aku berlalu meninggalkannya sambil tersenyum.
Hari-hari kulalui dengan baik, meskipun kekakuan diantara kami masih ada namun dia memperlakukanku selayaknya manusia.
Cerita Dita tentang suaminya, aku rasa berbeda dengan pria yang sekarang menyandang status suami buatku.
Selama enam bulan ini tidak pernah sekalipun dia membentakku, jika dia tidak suka dengan hal yang kulakukan, dia akan mendiamkanku untuk beberapa hari.
Sampai dengan waktu yang tepat dia akan membicarakan ketidak sukaannya padaku. Selama menjadi istrinya tidak pernah dia memprotes apapun yang kulakukan apalagi seputar makanan yang kumasak.
Bahkan dia selalu menghabiskan makanan dalam piringnya, bukan hanya itu terkadang dia menghabiskan sendiri makanan yang kumasak tanpa tersisa sedikitpun buatku.
Seperti malam ini, kebiasaan yang terjadi, dia akan tiba di rumah pada saat aku sedang melakukan Shalat Isya'.
Begitu selesai, aku menuju dapur dan memastikan apakah Mas Jaya sudah pulang.
Dan pandangam mataku melihat aksinya yang sedang memakan semua yang aku masak.
" Za, kamu pesan makanan dari luar aja, aku lapar banget, lagi pula ini makanan enak, sangat enak, jarang-jarang aku ketemu makanan seenak ini"Â Ujarnya tanpa rasa bedosa sedikitpun...
Ingin marah rasanya, tapi mau bilang apa, toh juga sudah habis..
__ADS_1
setelah makan, dia masuk kamar, dan aku menikmati malamku sambil menonton siaran TV kegemaranku.
Begitulah tidak ada komunikasi yang berarti. Terkadang dia bersikap dingin. Bahkan satu hari kami tidak bertegur sapa.
Meskipun begitu, setiap malam minggu, dia selalu mengajakku keluar walau hanya sebatas duduk di taman.
" Pacaran setelah menikah itu kata orang soleh itu lebih indah ya.... Aku bukan orang baik Za, namun aku akan berusaha memperbaiki semua sifat burukku.
Aku memilihmu, karena selama aku tinggal di depan rumahmu, sekalipun aku tidak pernah melihatmu di apelin laki-laki. Padahal usia sepertimu lagi senang-senangnya pacaran, dan aku memilihmu karena aku tahu kamu wanita yang baik dan pintar, yang membuatku mengagumimu, selain kamu wanita yang modis, tapi jilbabmu ngak pernah lepas kalau kamu keluar rumah.
Aku bisa rasakan kalau kamu wanita yang punya prinsip.. "
Itulah ucapan yang keluar dari bibirnya. Tapi belum tentu itu benar, namanya juga laki-laki.
Perlahan dia menarik jari-jariku, meletakkan jarinya dipunggung tanganku, s
lalu menggenggam serta menarik tanganku kearah bibirnya, dan mengecup punggung lenganku itu.
Aku sedikit kaget dengan perlakuannya.
" Jangan luluh Za, bisa jadi dia bicara begini karena kamu belum dia dapatkan seutuhnya, sekali lagi jangan luluh Za" Aku tidak tau apakah ini bisikan syaiton yang ingin menjerumuskanku menjadi istri durhaka, ataukah bisikan malaikat yang ingin mengajakku kepada kewaspadaan, tapi aku hampir terbang mendengar ucapannya.
Terlebih baru dia laki-laki pertama yang menyentuh kulitku selain Mas dan Bapakku.
"Ayo kita pulang, udah larut malam dan aku juga sudah mengantuk" Pintaku padanya. Sekedar menutupi rasa grogiku.
" Baru saja kita sampai, baru juga duduk, pesan minumpun belum"
"Tapi aku sudah ngantuk Mas"
Aku memutuskan pulang kerena aku ngak mau hanyut dalam rayuannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang dia menggenggam jariku, tanpa ada keluar sepatah katapun dari bibir kami berberdua.
Sesampai di rumah, aku langsung duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Setidaknya siaran televisi saat itu bisa meredakan sedikit gemuruh yang ada dalam dadaku.
"Katanya ngantuk, tapi begitu di rumah langsung nonton aja." Ucapnya sedikit menyindiriku. Dan aku nggak perduli dengan ucapannya.
Minggu pagi, sehabis nginem di rumah aku memanjakan diriku untuk duduk santai di depan televisi, tanpa sadar aku tertidur.
Aku terjaga kerena ada yang mengelus lembut pipiku...
" Nggak usah kaget gitu, ini aku, badanmu hangat?"
" Nggak, sedikit pusing saja, nggak usah khawatirkan aku" Jawabku singkat.
" Enam bulan kita sudah menikah, namun jarak itu masih kurasakan. Sekiranya pernikahan ini tidak berkenan buatmu, aku memilih mengikuti kemauanmu. Kamu ingin kita berpisah? " Tanya nya dengan mimik muka yang serius.
"Kamu nggak usah jawab sekarang. Besok aku mau pergi selama seminggu, kamu mau di rumah atau kamu menginap di rumah orang tuamu?"
Belum aku menjawabnya, dia sudah pergi meninggalkanku.
" Kalau hanya pergi seminggu lebih baik aku di rumah saja Mas" Aku mengawali pembicaraan malam itu di meja makan.
" kamu yakin sendiri? "
"Aku ngak apa-apa, aku hanya pusing saja. Selama enam bulan pernikahan kita aku ngak tau siapa kamu, yang aku tahu kamu hanya perantauan dari Sumatera kesini, meskipun aku beberapa kali berkomunikasi dengan keluargamu via telpon, aku tetap nggak mengenalmu." Ucapku sambil membuang nafas secara kasar.
Jika kamu memang hanya pedagang ikan, aku tidak masalah, tapi dimana 5 hari waktumu selain di pasar.
karena selain Sabtu dan Minggu kamu nggak ada di pasar, dan uang bulanan yang kamu berikan nominalnya sangat besar hanya sebagai seorang pekerja Buruh kasar disana.
Sementara kebutuhan rumah kamu yang tanggung, kontrakan kita kamu yang bayar, dan kemarin orang pihak developer datang kesini, meminta kelengkapan berkas karena kamu mau ngambil rumah.
Kamu itu kerjanya apa sih? jangan sampai dugaanku benar, kamu itu Rampok atau pencuri profesional, atau jangan- jangan kamu bandar narkoba?!"
Aku bangkit dari duduk ku dan meninggalkannya, aku mendengar dia tertawa.
__ADS_1
Masa bodo' dia mau bilang apa, yang penting aku puas mengeluarkan isi hatiku, dan aku ngak mau sakit untuk memikirkan hal konyol seperti ini, toh juga dia nggak mau tau dengan ucapanku.