
"Besok kamu udah boleh pulang, sayang" Ucap Mas Jaya, pada saat aku menyusui Queen.
" Iya" Jawabku pelan dan tersenyum padanya.
" Aku kapok punya anak lagi Zahra, aku nggak mau lagi sakit seperti kemarin." Sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
" Aku kira kamu mau bilang, aku nggak mau buat anak lagi Zahra, takut buat kamu hamil." Aku tersenyum menggodanya.
" Kalau itu masih doyan, sayang." Ucapnya sedikit berbisik, dan mengedipkan matanya.
"Mas, udah dua hari aku melahirkan tapi kenapa keluargaku nggak ada yang datang ya." Sambil mengusap lembut kepala anakku.
"Sore ini sepulang kerja, Bapak akan kesini. Besokkan weekend"
"Kalau dilihat-lihat dia mirip siapa ya?" Tanya Mas Jaya bercanda.
"Mirip sama tetangga sebelah rumah kita di Jakarta" Jawabku sekenanya.
Dia langsung tertawa, karena dia tau sebelah rumahku adalah seorang wanita single.
"Gini banget rasanya jadi orangtua, bahagia banget" Dikecupnya pipi dan bibirku.
"Kamu jadi anak yang soleha ya Queen jangan sekali-kali melawan sama Papa, mau lepas rasa jantung Papa nahan sakitnya." Dicoleknya hidung putrinya itu.
Pada saat aku sedang bercanda dengan Mas Jaya Mama dan Wulan masuk. Wulan habis ngeledekin Abangnya. Keributan yang dibuat dua saudara itu membuat anakku terkejut, sehingga dia menangis.
"Kalian udah tua, masih seperti anak-anak" Ucap Mama sembari mencubit kedua anaknya, dan mengambil Queen dalam gendonganku, untuk mendiamkannya.
"Kamu lihatkan sayang, baru buat cucunya nangis aja aku dah dicubit sama Mama. Ingat yang aku bilang waktu Mama nyuruh kita makan." Ucap Mas Jaya seperti berbisik, tapi masih didengar oleh Mama.
Aku hanya tersenyum, karena Mama membesarkan Matanya pada Mas Jaya.
Mas Jaya duduk disampingku, diraihnya kepalaku ke dalam dadanya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Dia bertanya dengan suara yang lembut.
"Aku lapar Mas." Jawabku pelan.
"Idih! Kamu, udah seromantis ini perlakuanku, jawabnya cuma lapar." Cubitnya pelan pipiku.
Wulan yang mendengar jawabanku langsung tertawa.
Dilepaskan rangkulannya. Dia turun dari tempat tidur, dipandanginya wajahku dengan jarak yang begitu dekat. Kuikuti gerak matanya yang sedang memandangi wajahku.
"Kamu tambah cantik sayang" Ucapnya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Seandainya rayuan itu bisa membuat kenyang, rayulah aku terus."
Diusapnya rambutku, diambilnya makanan yang dibawa Mama. Di dalam ruanganku masih ada Mama dan Wulan, ada rasa malu dalam diriku, pada saat Mas Jaya merayuku dihadapan mereka.
******
Siang hari setelah memeriksa kondisiku, dokter mengizinkanku untuk pulang. Tak Lupa Mas Jaya mengucapkan terimakasih pada dokter Desi. Begitu sampai didepan pintu Dokter Desi memanggil Mas Jaya.
"Pak, jaga Istrinya baik-baik ya, saya senang lihat Bapak sangat baik memperlakukan Istri. Saya udah kasih bonus buat Bapak."
"Bonus apa Dok?" Tanya Mas Jaya dengan rasa penasaran.
Diarahkan tangannya ketelinga Mas Jaya, seolah berbisik namun kata-katanya bisa kudengar " Saya udah sisakan sedikit buat Bapak."
Mas Jaya yang mendengarnya langsung tersenyum.
Yang menjemputku hanya Bi Ijah dan Doni. Kata Mas Jaya, Mama dan Wulan lagi sibuk di rumah.
Sebenarnya ada rasa kecewaku, karena selama aku di Rumah Sakit tidak ada satupun keluargaku yang datang. Jangankan datang menelponku saja tidak.
Dalam perjalanan pulang, aku nggak mengeluarkan suara sama sekali. Kupandangi wajah bayiku.
"Kamu dan Papa adalah harta yang paling berharga dalam hidup Mama, Mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu dan masa depanmu. Mama akan berikan kamu cinta, seperti yang Nenek berikan pada Anak-anaknya." Ucap batinku.
Begitu mobil masuk ke halaman rumah, kulihat ada beberapa mobil yang terparkir disana.
" Masuk aja, nggak usah banyak tanya." Ucapnya dengan raut wajah datar.
Satu persatu anak tangga kunaiki secara perlahan, karena Mas Jaya mengajakku masuk lewat pintu depan. Sebenarnya aku paling malas melewati pintu depan, karena mengingat rumah ini berbentuk rumah panggung. Aku lebih senang lewat dapur karena posisinya lebih rendah, anak tangganya hanya ada tiga, itupun menghubungkan dapur dan ruang utama.
Begitu aku sampai di depan pintu, aku disambut banyak orang, semua keluargaku ada, bahkan Om Danu dan istrinyapun ada, Ika juga ada.
Tante Maya mengambil Queensha dari gendonganku, Mbak Ratna, Ika, Kakak Iparku, Tante Winda semua memelukku. Ibu lagi duduk dengan Mama. hanya melihat dari jauh.
"Kamu jahat banget sih Mas, nggak kasih tau aku." Ucapku pada Mas Jaya dengan wajah cemberut.
"Mulai deh manjanya." Celetuk Tante Maya.
"Lagian kita yang mau Zahra, karena kalau di Rumah Sakit nggak boleh semua masuk sekaligus gini." Ucap Mbak Ratna.
Selama empat hari mereka ada di tempaku, rumah benar-benar jadi sangat ramai, Kiara keponakanku setiap malam tidur di kamarku, karena mau tidur dengan Dedek Queen katanya. Baru aku tau nikmatnya menjadi Ibu, disaat jam tidur malam jadi berkurang karena diganggu dengan tangisan sang bayi. Setidaknya itu jadi Alarm buat Mas Jaya untuk bisa meningkatkan Ibadah malamnya.
Nggak terasa tiga bulan sudah, dua minggu sekali diakhir pekan, menjadi jadwal khusus untuk keluargaku berkumpul disini.
Hadirnya Putriku ditengah-tengah keluarga ini bisa mempererat talisilaturahmi.
__ADS_1
Yang membuatku bangga dengan Mas jaya, setiap sore menjelang Magrib, dia mulai ngaji didekat putrinya, disaat dia bangun tengah malampun dia akan melantunkan Ayat-Ayat suci Alqur'an. Subuh dan sehabis Zuhurpun dia nggak lupa membiasakan diri melakukan hal itu.
Selama tiga bulan ini entah udah berapa kali dia mengkhatamkan ngajinya. Bahkan aku merasa dia udah mulai hafal beberapa Juzz.
"Sayang, aku iri banget sama Queen, sepertinya kamu lebih sayang dia sekarang dari pada aku." Ucapku pada Mas Jaya, pada saat dia sudah selesai ngaji, dipagi buta ini.
" Kamu kenapa ngomong gitu, aku juga sayang kamulah." Sambil merebahkan tubuhnya disamping anaknya, dan mencium kening putrinya.
"Aku udah nggak pernah tidur dipelukan kamu lagi. Bahkan kamu lebih banyak ciumin dia dari pada aku."
Dia langsung pindah, dan memelukku dari belakang. "Kamu sama anak sendiri aja pakai cemburu segala." Dicubitnya pipi.
" Aku sekarang udah gemuk, tiap hari makan banyak, wajarlah udah nggak diperhatiin." Ucapku pelan.
Dia langsung memelukku erat. "Malam ini Mama pinjam Papa ya sayang, kamu tidur yang nyenyak." Ku usap lembut pipi saingan kecilku itu.
Sehabis shalat subuh, Mas Jaya akan melakukan aktifitasnya seperti biasa dengan anaknya. Sementara aku yang sudah merasakan lapar segera membuat sarapan untuk diriku sendiri.
"kamu jam segini udah makan aja sayang" Ujar Mas Jaya yang sudah ada di dapur dan menggendong Queen.
"Aku lapar Mas, lagipulakan aku menyusui."
Selesai makan, aku meminta Queen untukku gendong, tapi Mas Jaya menolaknya.
Aku jadi emosi dengan perlakuannya.
"Kamu urus aja dia! Aku nggak akan megang dia lagi!" Kutinggalkan dia dengan perasaan kesal.
Belum sampai aku masuk ke dalam kamar, dia sudah menarik lenganku.
"Kamu masa dengan anak sendiri seperti itu, dari tadi malam kamu aneh tau."
"Aku yang lahirin dia, aku Ibunya, aku yang nyusui dia, tapi kamu memonopoli dia!" Belum sempat dia ngomong lagi, aku menarik lengannya, dan langsung kugigit dengan kuat, sebagai pelepasan kekesalanku.
Nggak kuhiraukan dia yang merintih kesakitan.
Aku langsung ke belakang mengambil Queen yang sedang digendong Mama.
" Sayang.... " Panggil Mas Jaya dengan suara yang pelan.
"Sejak aku lahirin Queen aku bukan sayangmu lagi, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu!"
Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku nggak perduli dia mengetuk pintu berkali-kali.
Aku bermain dengan Queen, kuajak dia bicara.
__ADS_1
Selesai aku memandikan dan menyusui Queen, kubawa dia keluar dari kamar.
Mama, dan Mas Jaya sedang duduk di ruang TV. Pada saat melihatku Mama memintaku duduk didekatnya. Banyak wejangan yang Mama berikan, akhirnya aku meminta maaf duluan atas kesalahanku yang sudah menggigitnya.