Suamiku

Suamiku
Part 28


__ADS_3

Kulihat Mas Jaya mendekatiku yang lagi duduk diayunan.


"Zahra, kita keluar kota yuk."


" Kita kemana?"


" Nanti kamu juga tau."


" Kamu kan sakit Mas."


" Aku sehat Zahra. Kalau kamu nggak mau ikut,aku mau keluar kota tiga hari." Diapun berlalu dari hadapanku menuju kamar.


Aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah. Belum sampai aku menuju ruang tengah kudengar suara bell berbunyi. Begitu aku membuka pintu kulihat Mbak Ratna yang datang, dan ada seorang wanita yang menurut perkiraanku tidak jauh berbeda dengan Mbak Ratna.


Kupersilahkan mereka duduk.


" Mbak mau minum apa?" Tanyaku menawarkan minum sama Mbak Ratna dan temannya.


" Mbak kesini mau ketemu Heru, ini kenalin Adik sepupu Mbak dari pihak Almarhum Papa."


Lalu aku berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing.


Pada saat aku mau bangun dari dudukku untuk mengambilkan minum, Mbak Ratna langsung bagkit dari duduknya.


" Udah Mbak ambil sendiri." Lalu dia melangkah kedalam.


"Rumahmu nyaman juga Za, kita duduk di taman ini aja yuk Za." Ajak Mbak Ratna.


Kulihat Mas Jaya turun, dengan menenteng koper kecil. Dilihatnya ada Mbak Ratna, dia langsung menarik Mbak Ratna menjauh dariku. Nggak seberapa lama mereka kembali tempat aku dan Mbak Tia, diapun bersalaman dengan sepupu Mbak Ratna.


" Za, ini karena kita di rumah ya, jadi nggak usah formal-formal. Tia ini mantannya Heru. Makanya begitu ngelihat Tia dia agak canggung." Ucap Mbak Ratna sambil melangkah ke dapur dan membuka kulkas. " Satu hal yang paling penting Ru, di dalam rumah tangga itu butuh kejujuran dan saling keterbukaan, gua udah lakuin itu, dan Fajar terima gua apa adanya tanpa ada kebohongan apapun. Nasib baik lu, dapat istri seperti Zahra. Kalau lu nikah sama Tia, yang ada neraka rumah tangga lu."


Ucapan Mbak Ratna buat aku sedikit kaget.


" Kita jadi pergi sayang. Kamu ganti gih, pakaian kamu yang mau dibawa dah aku letakin dalam koper ini." Ucap Mas Jaya kepadaku, untuk mengalihkan pembicaraan Mbak Ratna.


Sebelum aku melangkahkan kaki, kusempatkan melihat dari ekor mataku antara Mbak Tia dan Mas Jaya yang saling pandang.


" Lo jadi juga pergi kesana?" Tanya Mbak Ratna pada Mas Jaya.


" Iya!"


" Semoga ada kebaikan ya, Gua doain. Salam sama beliau."


Aku pergi menuju kamarku, sementara Mbak Ratna dan Mas Jaya langsung ke ruang tamu, disusul Mbak Tia.


Setelah aku selesai, aku menemui Bi Ijah untuk pamit. Kuhampiri Mas Jaya, Mbak Ratna dan Mbak Tia yang masih duduk di ruang tamu.


Beberapa kali aku bertemu mata dengan Mbak Tia yang memperhatikanku. Pada saat Mbak Ratna dan sepupunya mau pulang Mbak Tia sempat mengucapkan " Istri lo cantik dan baik jangan sia-siakan" lalu di sambut kelekar Mbak Ratna " Cuma Zahra, yang bisa menaklukkan jiwa Iblisnya."

__ADS_1


" Kita Jadi berangkat Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya, yang masih berdiri di depan pintu.


" Jadi."


Lalu dia memanggil Bi Ijah, menyuruh Bi Ijah untuk menutup pintu.


🌹


🌹


🌹


"Kita sebenarnya mau kemana sih Mas?"


Sekilas dia melihatku dan tersenyum, lalu memalingkan wajahnya fokus kearah jalan.


" Kita ke perkebunan teh. Nanti juga kamu bakal tau zahra."


Hampir tiga jam perjalanan aku dan Mas Jaya hanya diam. Seperti ada hal yang dia fikirkan.


Kulihat Mas Jaya memasuki halaman sebuah rumah panggung bergaya moderen yang cukup asri.


Banyaknya aneka bunga, dan beberapa sayuran yang ditanam secara hydroponik. Sebelum mengajakku keluar dari mobil Mas Jaya memegang tanganku.


Ada sedikit keraguan dalam dirinya.


Diletakkannya jari-jarinya disela jariku, kurasakan jarinya sangat dingin.


Diarahkannya langkah kakiku menuju halaman belakang rumah. Ku lihat sosok wanita yang setengah baya, yang sedang menyirami beberapa tanaman.


" Mas, itu.... " Kuarahkan pandanganku ke Mas Jaya. Dia mengangguk dan menjawabku.


" Iya itu Mama. Semoga dia mau bicara denganmu. Temuilah."


Kuhampiri wanita yang sedang menyiram tanaman dengan posisi membelakangiku.


Sedikit ragu aku untuk mendekatinya, tapi kuberanikan juga mengucapkan salam. Mendengar ada yang mengucap salam, wanita itu langsung membalikkan badannya dan diam mengamatiku dari atas sampai bawah.


" Ini Zahra Ma, menantu Mama."


" Allahu Akbar Nak.. pangling Mama.." langsung dia meciumin wajahku. Diajaknya aku masuk ke dalam rumah, disaat aku dan Ibu mertuaku melewati Mas Jaya, beliau sama sekali tidak menegur Mas Jaya, bahkan merasa seolah-olah tidak ada orang lain.


" Mama sendirian aja tinggal disini, bukannya Mama di Sumatera?" Tanyaku begitu masuk ke dalam rumah.


"Mama sama Wulan dan Bi Yanti. Mama udah lama disini, kamu menikahpun Mama udah disini. Apa suamimu bilang Mama di Sumatera?"


Kulirik Mas Jaya yang sedang berdiri di depan pintu. Ada tanda tanya dalam hatiku melihat sikap Mama Mertuaku yang dingin terhadap Anaknya.


" Kamu istrirahat ya Nak, Mama tau kamu pasti capek, kasihan kamu perjalanan jauh dengan kondisi seperti ini. Mama senang kamu mau datang." Diantarnya aku masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Setelah beliau keluar kulihat Mas Jaya masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu.


Direbahkannya tubuhnya diatas ranjang.


" Syukurlah Mama mau bicara denganmu."


" Hari ini Aku merasa melalui hal-hal aneh." Kubuka jendela yang ada di kamar itu lebar-lebar agar udaranya berganti.


"Nggak ada yang aneh, kalaupun ada itu kamu yang aneh."


Didekatinya aku yang sedang berdiri di depan jendela. Dipegangnya kedua bahuku.


" Kamu mau apa?"


"Aku cuma ingin menyapa anakku Zahra, diamlah." Direndahkannya tubuhnya mendekati perutku dengan bertumpu diatas lutut.


"Anak Papa pasti senangkan ketemu sama Nenek, tolong bilang sama Nenek dan Mamamu, Papa rindu sama mereka. Yang paling penting dan paling utama, tolong bilang sama Mama, malam ini izinkan Papa menjengukmu." lalu dia mencium perutku, dan berdiri sambil memandangiku. Aku yang dipandangi mengerutkan dahiku.


" Sepertinya aku kehilangam sesuatu" Dikelilinginya tubuhku, dipegangnya daguku dan dimiringkannya wajahku ke kanan dan kekiri.


" Kok nggak ada ya.. " Kulihat dia memegangi tubuhnya, seperti mencari sesuatu. " Mungkin diatas tempat tidur." Ucapnya. Dirabanya setiap sudut tempat tidur, diangkatnya bantal yang ada.


" Kamu cari apa?" Tanyaku dengan heran.


" Duduklah, mungkin memang aku akan kehilangan itu untuk selamanya." Diajaknya aku duduk disisi tempat tidur.


" Kamu itu ngomong yang jelas, jangan bertele-tele. Eh, kamu bener udah sehat Mas?"


" Kamu nggak sadar habis kamu gampar aku tadi, pusingku langsung hilang."


" Mas, tadi aku namparnya cuma sebelah loh, harusnya sebelah lagi biar balance" Ucapku sambil tersenyum.


" Nah!! ketemu yang ku cari, tahan ekspresinya. Jangan ngomong, tahan seperti itu."


Diajaknya aku berdiri didepan cermin. " kamu udah lihat. itu yang kucari dari tadi." Ditunjuknya bibirku.


" Serasa ada kupu-kupu yang terbang dalam perutku, melihat senyummu." Ucapnya pelan persis ditelingaku. Lantas dikecupnya bibirku dengan cepat.


" Manis, sayang." Lalu dia keluar meninggalkanku yang masih diam, berdiri didepan cermin.


Aku cuma bisa geleng kepala melihat tingkahnya.


Tinggal aku sendiri di kamar ini, apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga ini.


Terlalu banyak hal ditutupi sama Mas Jaya, kenapa susah sekali untuk dia bicara.


Sudahlah, semakin aku fikirkan samakin nggak ketemu alurnya, biarkan sajalah toh dengan aku diamkan, perlahan semuanya terbuka.


Kubaringkan tubuhku yang memang rasanya sudah lelah. Perlahan tanpa sadar akupun sudah tertidur.

__ADS_1


__ADS_2