Suamiku

Suamiku
Part 29


__ADS_3

" Sayang, bangun udah sore." Samar-samar kudengar suara Mas Jaya  membangunkanku.


" Kamu ganggu aja sih Mas." Tiba-tiba kurasakan ada yang mencium bibirku.


" Kamu apaan sih, aku masih ngantuk Mas."


" Ini udah mau Magrib sayang, kamu belum mandi. Mama juga nunggu kamu."


" Ya udah, aku mandi dulu." Kubongkar isi koperku untuk ngambil handuk dan pakaian.


" Mas, kamu nggak salah bawakan aku pakaian?" Karena hanya ada beberapa daster batik pendek diatas lutut, dan semua tanpa lengan.


" Kan kamu sering pakai itu." Ucapnya seperti orang tanpa beban.


" Kamu ajak aku tinggal di pegunungan, dengan udara dingin begini, trus kamu suruh aku pakai baju seperti ini?" Kubulatkan mataku memandangnya.


Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Begitu aku mau menutup pintu Mas Jaya memanggilku.


" Sayang, kamu nggak mau ajak aku mandi bareng?"


Kunaikkan alisku, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


" Aku tambah masuk angin kamu buat nanti. Jadi maaf ya suamiku, muach" Langsung kututup pintu dan tak lupa aku menguncinya.


Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono handuk. Kulihat Mas Jaya masih duduk diatas sisi tempat tidur.


" Nggak mungkin aku keluar pakai inikan. Kamu pinjam baju Mama atau Wulan deh."


" Cium aku dulu" Ucapnya sambil memajukan bibirnya.


Bukan menciumnya, aku malah duduk dipangkuannya,melingkarkan tanganku dilehernya dan mengecup lembut pipinya.


" Sayanggg... aku tau kamu pasti ingin lebih dari itukan?" Ucapku lembut ditelinga sebelah kirinya serta mengecup telinganya.


" Bolehkan?" Diarahkannya wajahku percis di depan wajahnya.


" Boleh, tapi sekarang carikan aku baju ya." Dianggukkan kepalanya dengan pelan. Lalu kukecup dan kucium kembali bibirnya.


Sebelum aku kehabisan oksigen, kutarik wajahku menjauh dari wajahnya.


" Kenapa?"


" Kamu terlalu menggairahkan sayang, jangan buat aku mandi dua kali sore ini." Sambil kusentuh ujung hidungnya dengan hidungku.


" Yaudah aku tanya Wulan dulu." Dan akupun turun dari pangkuannya.


Terkadang kau memang menyebalkan Tuan Heru Sanjaya. Tapi bodohnya aku bisa menyukaimu. Rutukku dalam hati.


Sambil menunggu Mas Jaya membawakan baju, kugunakan waktu untuk memakai pelembab dan bedak.


" Zahra, kamu dah bangun Nak?" Ku dengar suara Mama Mertuaku sedang memanggil.


" Udah Ma." Sambil membuka pintu. " Ma, Mama ada daster yang bisa Za pakai?" Tanyaku pada saat berhadapan dengan Ibu Mertua.


" Ada bentar ya." Segera beliau meninggalkanku. Nggak seberapa lama, kudengar pintu kamarku kembali diketuk, dan kembali suara Mama mertuaku yang memanggil, dan menyerahkan apa yang kuminta.

__ADS_1


Pada saat aku membuka pintu mau keluar kamar, Mas Jaya sudah ada didepan pintu.


" Kamu dah ganti?" Tanya Mas Jaya.


" Udah dong.. kamu telat sayang." Kukembangkan senyum padanya.


" Lagi-lagi senyuman licik itu yang kau tunjukkan!" Ucapnya dengan sedikit kesal.


Kutarik kerah bajunya, dan mendekatkan wajahku ketelinganya.


" Sayang, aku mau yang lebih hot lagi, tapi tunggu beberapa hari ya." Ucapku dengan sedikit manja, lalu mengecup telinganya.


Setelah itu kukedipkan mataku dan pergi meninggalkannya, untuk bergabung dengan Adik Ipar dan Mertuaku.


" Kau memang menyebalkan Zahra!" Ucapnya dengan berteriak, dan memukul daun pintu dengan keras.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kulihat Mama mertuaku yang sedang menata makanan diatas meja makan.


"Apa kamu habis menggodanya makanya dia berteriak seperti itu?" Tanya Mama Mertuaku yang masih sibuk menata makanan.


" Enggak, akhir-akhir ini anak Mama memang suka marah-marah."


Mataku tertuju pada gorengan bakwan sayur yang ada diatas piring. Pada saat aku ingin mengambilnya, tanganku langsung ditepis sama beliau.


" Kelihatannya enak Ma, satttuuuuu aja boleh ya, Mama mertuaku yang cantiiikkkk " Kupandang Mama mertuaku dengan sedikit memelas.


" Setelah menggodanya, sekarang kamu merayu Mama." Kulihat dia tersenyum. Senyumnya sangat mirip dengan anak laki-lakinya. Kalau kuperhatikan wajah Mas Jaya lebih mirip dengan Mamanya.


" Duduklah, itu jatah suamimu. untuk kamu udah Mama siapin, sayurannya lebih banyak." Ucapnya sambil tersenyum.


Aku dan Wulan disuapi secara bergantian. Benar-benar kurasakan kasih sayang seorang Ibu yang luar biasa, kuperhatikan adik iparku bercerita dengan Mamanya seperti seorang teman.


Disini aku diperlakukan dengan baik, penuh kasih sayang, tapi kalau Mas Jaya yang ke rumahku. Kuingat terakhir kali dia bilang rumahku mulai horor. " Maaf ya Mas, kalau Ibuku belum bisa menerimamu." Ucapku dalam hati.


Selesai Shalat Magrib, Mas Jaya keluar bersama Bi Yanti, dan Mama masuk ke dalam kamarnya. Tinggal aku dan Wulan yang lagi menonton TV.


" Ayu, kemana?" Tanyaku pada adik iparku itu.


" Apa Kakak nggak tau Kak Ayu sudah nikah lagi, Bang Heru nggak bilang?" Dia bertanya balik.


Aku gelengkan kepalaku. Kulihat Wulan menarik nafas.


" Maafin Abangku kalau dia banyak menyusahkanmu ya Kak."


" Kenapa orang-orang yang berhubungan lama dengannya memanggil dia Heru? Sementara yang Kakak tau namanya Jaya."


" Itupun Kakak nggak tau?"


Lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng.


" Tapi lebih baiknya Kakak bertanya langsung dengan Abang, karena dia yang lebih berhak menjawab itu."


Diletakkannya kepalanya bersandar dilenganku.


" Aku, Mama, dan Kak Ayu berterima kasih banyak sama Kakak karena sudah merawatnya dengan baik, sejak dia menikah dia sudah nggak pernah minum alkohol lagi, nggak suka main perempuan lagi, dan sedikit demi sedikit Mama sudah mulai perduli sama dia."

__ADS_1


" Apa?!" Cukup kaget aku mendengar ucapan Wulan. Tapi segera ku tutupi rasa kagetku.


" Kakak kok kaget, Aku bilang seperti itu."


" Yang buat Kakak kaget, apa iya orang seperti Kakak bisa merubahnya."


" Buktinya sekarang dia udah mulai kembali seperti Abang kami yang dulu lagi, yang sayang dengan semua orang. Sejak Papa meninggal, dan Kak Ria meninggal, Abang mulai berubah. Terakhir dia meninggalkan rumah, dia melawan dengan Mama, dia bilang karena kasih sayang Mama dan rasa belas kasih yang diajarkan Mamalah dia nggak bisa melakukan apapun.


Kepergian Abang yang kedua kali, buat orang satu kampung geger, karena dua hari setelah Abang pergi, orang yang memperkosa Kak Ria sampai meninggal ditemukan mati di hutan, kata orang mati dimakan harimau. Ada yang nuduh Abang yang bunuh, tapi nggak ada bukti karena Abang udah pergi, dan perginya juga naik pesawatkan, di Bandara juga ada terdaftar namanya waktu dia chek-in. Sejak itu Abang nggak pernah pulang. Pada saat abang pulang dia jemput kami dan ngajak tinggal disini. Waktu iu Wulan masih sekolah.


Waktu Abang mau pergi dia pamit sama Ulan dan Kak Ayu, dia juga minta maaf sama Kak Ayu, karena dia, Kak Ayu diceraikan suaminya, sama Ulan juga dia minta maaf, karena dia Ulan kehilangan kasih sayang Papa. Tapi dia janji kalau dia akan bawa kami pergi jauh dari kampung. Abang janji dia akan memberikan kasih sayang yang sama seperti Papa berikan." Kurasakan lenganku basah, aku tau Wulan sedang menangis.


Kuputar kembali memoriku, pada saat aku pertama kali bertemu dengan Mama dia cuma bilang " Calon suamimu bukan orang yang baik, saya Ibunya yang lebih tau tabiat dan prilakunya." Kuusap perutku, Kamu udah dengar semuanya dari Tantemu tentang masalalu Papamu, baik dan buruknya Papa, kamu beruntung. Sementara Mama sampai hari ini masih dibohongi sama Papamu.


Kudengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, Wulan segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


" Kamu kenapa sendirian duduk disini sayang?" Tanya Mas Jaya yang baru saja memasuki rumah.


Pada saat aku ingin menjawabnya,


KuLihat Mama keluar dari kamar, kalau diperhatikan dengan seksama, sepertinya Mama habis nangis.


" Zahra, temani Mama makan yuk." Ajak Mama, pada saat melewati Mas Jaya dan Mama sempat meliriknya.


" Kamu juga belum makan kan Mas, ayo makan suapin Aku." Kutarik tangan Mas Jaya mengajaknya kemeja makan.


Suasanya dimeja makan ini rasanya sangat dingin sekali, nggak ada kehangatan, semuanya makan dengan raut wajah yang tegang.


Beberapa kali kupandangi secara bergantian Ibu dan Anak itu saling mencuri pandang.


Kulihat diatas meja makan, satu menu yang nggak disentuh sama sekali.


" Ini ikan basi ya, nggak ada yang makan." kutarik makanan yang ada dalam mangkok.


" Asam Mas, tapi enakloh. Suapin aku." Kurapatkan kursiku untuk lebih mendekat ke Mas Jaya, aku tau Mas Jaya sudah selesai makan, tapi sengaja kutahan biar dia nggak pergi ninggalkan meja makan yang masih ada Mama, dan Adiknya.


" Ini namanya asam keueng, ini masakan Aceh, enak ini sayang." Ucapnya setelah mencicipi sesendok kuah ikan.


"Aku mau, masa kamu nyuapnya untuk kamu aja" Sedikit merajuk aku keMas Jaya.


"Aku udah lama nggak makan ini sayang hampir 15 tahun." Ucapnya spontan. " Enakkan?" Tanya Mas Jaya, setelah menyuapiku.


" Enak, sepertinya kamu pernah masak ini tapi nggak seenak ini." Kulirik Mama dan Wulan, mereka saling pandang.


" Iyalah inikan masakan Mamaku, apapun yang dimasaknya pasti enaklah." Kubiarkan dia menghabiskan ikan semangkok itu sendirian.


" Kamu rakus amat sih, tadi disitu nggak ada yang mau, udah giliran aku yang ambil, kamu habisin."


" Besok masakin lagi ya Ma." Spontan Mas Jaya menoleh dan bicara pada Mamanya.


Dan spontan juga Mama menjawab " Iya"


Wulan langsung memperhatikanku. Mama menyudahi makannya dan pergi ke dapur.


Duduk bersama Bi Yanti, yang sedang makan dimeja dapur.

__ADS_1


__ADS_2