Suamiku

Suamiku
Part 37


__ADS_3

Selesai Makan siang, Mas Jaya duduk di ruang TV bersama Wulan, dibelai dengan lembut rambut adiknya itu.


Dirangkul dan diletakannya kepala sang adik untuk bersandar dibahu kekar itu.


Kamu adalah salah satu anak yang beruntung punya Papa seperti itu Nak, Mama yakin dia akan melindungi dan menjagamu dengan baik. Kita beruntung memiliki laki-laki pelindung seperti Papa. Ucap batinku sambil mengelus lembut perutku.


Aku yang menyaksikan Kakak beradik itu saling menyayangi hanya bisa tersenyum.


Lalu pandangan kualihkan kepada wajah Mama mertua, beliau masih terlihat sangat cantik, beruntung sekali Almarhum Papa mertuaku mendapatkannya.


Wanita yang pernah menjadi bunga kampus dimasanya. Meskipun saat ini usianya sudah lebih setengah abad kulit wajahnya untuk wanita seusia beliau masih terlihat kencang.


"Kenapa kamu mandangi Mama seperti itu Zahra?" Pertanyaannya menyadarkanku.


"Mama masih sangat cantik, apakah Mama nggak punya keinginan menikah lagi?" Dengan spontan aku menanyakan hal itu.


"Kamu bilang apa? Mama nggak salah dengar?" Dibesarkannya mata indahnya itu.


"Hehehe maaf Ma, habis Mama masih cakep, ini bibir nggak ada remnya. Maaf ya Ma." Sambil memukul pelan bibirku.


"Nanti setelah kamu melahirkan, Mama kasih resep tradisional keluarga Mama. Biar Suamimu makin cinta." Ucap Mama sambil tersenyum.


"Wah, Mama sama anak sama aja, sedangkan dalam keadaan sakit dan perut seperti ini saja dia masih doyan, sempat setelah lahiran Mama buat seperti itu, aku bisa-bisa nggak pernah lihat matahari terbit dan terbenam dibuatnya."  Ucapku sambil bercanda.


"Biar, biar cucu Mama Banyak, rumah Mama ramai, Nggak seperti sekarang rumah Mama sepi, sakin sepinya cacing lewatpun kedengaran."


Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. Ternyata Beliau orang yang pintar bercanda juga.


Selama disini, belum pernah aku mendengar dia tertawa lepas, beliau selalu menampikan kewibawaan seorang wanita, jika ada sesuatu hal yang sedikit lucu menurutnya dia hanya menyunggingkan senyum.


Jika dia mendapatkan pekerja yang salahpun beliau tidak pernah memarahi didepan umum. Hampir semua pekerja menghormatinya.


"Zahra, apa permintaan Mama kemarin sudah dibicarakan dengan Heru?"


"Udah Ma, Zahra udah putuskan kita tinggal disini, rumah Zahra yang di Jakarta mungkin akan Zahra jual. Itu udah Zahra putuskan."


"Makasih ya Nak." Ucap Mama pelan.


"Zahra yang harusnya berterima kasih sama Mama, diizinkan merawat dan menjaga Mama diusia yang senja ini."


Sore ini keluarga Boy akan datang, Mama sudah mempersiapkan cemilan yang akan disuguhkan pada tamunya.


" Mama nggak deg-degan Wulan akan dilamar?" Tanyaku pelan.


Beliau menatapku dengan senyum yang dipaksakan.


"Enggak, Mama lebih khawatir dengan keputusan yang akan diambil Heru."


" Apa Mas Jaya akan menolaknya?"

__ADS_1


Mama hanya mengangkat kedua bahunya.


🌹


🌹


🌹


Tepat jam 5 sore, kedua orang tua Boy datang. Mas Jaya sebelumnya meminta aku, Wulan dan Mama berpakaian apa adanya.


Terlihat kedua orang tua Boy seperti orang berada. Sedikitpun kulihat nggak ada raut senyum diwajah Mas Jaya, dia hanya memperhatikan Boy, sesekali menanggapi ucapan-ucapan Papanya Boy dengan jawaban tidak tau, mungkin juga.


Mama yang melihat itu mengambil inisiatif untuk banyak bertanya dengan dengan Mama Boy.


" Boy, apakah kamu nggak mengatakan kepada orangtuamu apa maksud kedatangan mereka kesini?" Tanya Mas Jaya dengan tatapan yang tajam.


" Belum Kak, Boy cuma bilang diundang minum teh sama keluarga Wulan, untuk saling kenal." Ucap Boy sambil menundukkan kepalanya.


Mas Jaya langsung mengalihkan pandangannya kepada adiknya.


Mas Jaya mengambil Nafas dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Sebelumnya saya minta Maaf jika kelak ucapan saya mengecewakan kamu Boy, saya menolak lamaran kamu. Alasannya satu, kita nggak sebanding Boy. Wulan tidak sebanding denganmu, Papamu seorang pengusaha, pemilik saham sebesar 70% di perusahaan XX, dan 30% perusahaan Papamu adalah milik HS group. Bukan begitu Bapak?"


Dipandangnya wajah orang tua Boy dengan seksama.


"Alasan kedua, saya tidak akan memberikan Adik saya kepada seorang pembohong dan pengangguran seperti kamu. Selama ini kamu kerap meminta bantuan kepada Wulan dengan alasan usaha bengkel kamu. Bengkel itu adalah bengkel suatu perusahaan besar di Jakarta, dan teman kamu yang menjadi Manager di bengkel itu. Berkat bantuan dia kamu memanfaatkan Adik saya dengan mengatakan itu bengkel kamu. Dan sekali lagi saya katakan itu adalah milik HS Group."


"Alasan ketiga berkaitan dengan alasan yang pertama, rumah dan perkebunan yang kami kelola bukan milik saya, karena saya hanya pekerja, begitu juga Wulan, dia bekerja sebagai pengawas lapangan di kebun ini. Ibu saya hanya tukang masak di kebun ini, dan saya hanya diberikan kepercayaan menjalankan usaha ini. Jika pemiliknya menyuruh kami pergi maka kamipun akan pergi." Sesat Mas Jaya diam.


"Sekali lagi saya menolak lamaran ini, meskipun saya tahu kalian sudah pacaran selama empat tahun, enam bulan, dan sepuluh hari."


Selesai mengucapkan itu Mas Jaya pamit ke Kamar untuk istirahat karena alasan dia butuh istirahat.


Orang tua Boy langsung pergi tanpa mengucapkan apapun, diikuti oleh anaknya. Tinggal kami bertiga di ruang tamu saling pandang.


" Bagaimana Abang tau aku pacaran sama Boy selama itu?" Ucap Wulan dengan suara yang pelan, tapi aku masih cukup jelas mendengarnya.


" Kau kecewa dengan Abangmu?" Kupandang wajah manis yang ada dihadapanku.


Dia hanya menggeleng. "Aku tau keputusannya seperti itu, karena dia sayang denganku."


Mama memeluk kami berdua. Aku pamit ke dalam kamar untuk menemui Mas Jaya.


"Kalau kau datang untuk mempertanyakan kejadian barusan, aku nggak punya waktu menjawabnya Zahra." Ucap Mas Jaya dingin begitu melihatku masuk.


" Sayanggg, sebegitu buruknyakah aku sampai kau berkata begitu?" Dengan menundukan wajah dan sedikit memajukan bibirku.


"Duduklah sini, tapi jangan menggodaku lagi." Dipukulnya sisi tempat tidur disebelahnya.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar perkataannya. Akupun duduk disebelahnya, meletakkan kepalaku dibahunya.


"Mas, sebelumnya aku minta maaf atas kelancanganku, kemarin siang Aku membuka HP mu, aku sempat melihat fotomu dengan Mbak Tia."


Dijatuhkannya kepalanya diatas kepalaku yang bersandar dibahunya.


"Aku yang minta maaf, karena membiarkanmu melihat itu. Dulu aku suka minum-minum Zahra, banyak yang kupacari, tapi dengan Tia aku ingin serius, sampai aku melakukan hal itu. Pada saat dia tau Mama tidak setuju, dia pergi meninggalkanku, dan menggugurkan kandungannya.


Sementara aku menginginkan anak itu Zahra. Setelah sekian lama, dia mengajak kembali, mengirim semua kenangan yang ada antara aku dan dia. Pada saat aku mengatakan sudah menikah dia nggak percaya. Makanya Ratna datang ke rumah biar Tia lihat sendiri."


"Aku percaya denganmu Mas. Mass.. Mama meminta kita tinggal disini, rumah yang di Jakarta jual aja, kasihan Bi Ijah sendirian, kalau rumah itu dijual, bawalah dia kesini."


Dimiringkannya kepalanya dan mengecup kepalaku.


"Rumah itu milikmu, aku akan menyuruh Mas Wisnu menempati rumah itu, kasihan dia kalau ngontrak terus."


Tanpa terasa air mataku jatuh mendengar ucapannya.


"Sampai sejauh ini kau memikirkan keluargaku Mas. Bapak berkali-kali mau membantunya untuk beli rumah, tapi dia selalu menolak. Dia ingin beli rumah dari hasil keringatnya sendiri. Aku jadi rindu dengan keluargaku."


"Zahra, dia satu-satunya saudaramu, kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupanmu, nggak ada salahnya kita berbagi dengannya, setidaknya kita menyenangkan Kiara, bagaimanapun dia keponakanmu, itu juga artinya Kiara anakmu, anak kita juga."


"Bapak pasti bangga punya menantu sepertimu."


"Dan aku bangga punya Bapak Mertua seperti dia, yang memiliki permata sepertimu."


"Yang pasti aku dan bayi kita bangga punya suami dan Papa sepertimu." Kukecup pipinya.


"Cepatlah sembuh, aku nggak tahan nggak menjahilimu." Lalu kucium bibirnya.


"Jangan goda aku lagi, kau menyiksaku tau."


********


Seminggu sudah kejadian Mas Jaya menolak lamaran Boy, Wulan terlihat biasa saja, dia lebih menikmati pekerjaannya tanpa ada beban lagi.


Mas Jaya sudah agak baikan, meskipun dia masih harus menggunakan alat bantu untuk berjalan, setidaknya luka jahitan dikakinya sudah membaik. Kandunganku juga sudah memasuki usia tujuh bulan.


Sore itu aku duduk di bangku taman di halaman rumah, Aku dan Mas Jaya melihat Wulan pulang diantar seorang pria yang cukup manis, menurut pandanganku.


" Dia cocok untuk Wulan?" Tanya Mas Jaya.


" Nggak tau nanti Mas tolak lagi." Jawabku.


" Dia yatim piatu, salah satu mandor kita, dia sudah lama suka dengan Wulan, dan Mama menyukainya, karena dia anak yang baik.  Aku ingin menjodohkannya dengan Wulan. Kalau mereka menikah, rumah ini aku serahkan dengan Wulan, Mama sama kita tinggal di rumah yang di kebun."


"Aku nggak penting kita tinggal dimana, yang penting aku tinggal denganmu, dan tidur dengan mencium aroma tubuhmu. Aku nggak bisa lepas dari bau kelekmu"


" Jadi selama ini kau mencium dadaku, dan berlama-lama disana karena aroma itu? Ih kau jorok sekali" Ucapnya begidik geli.

__ADS_1


" Wangi Mas... " Kudekatkan hidungku kearah pangkal lengannya.


"Geli Zahra." Dia berusaha menolakku menjauhinya, tapi aku selalu menarik bajunya. Aku tau itu adalah salah satu sisi paling sensitif dari dirinya.


__ADS_2