
🍁🍁🍁🍁🍁
Sudah tiga hari aku nggak pergi kuliah, sampai akhirnya Yuni datang berkunjung ke rumahku.
Setelah dia melihat keadaan suamiku, dia memaklumi kenapa aku nggak ke kampus.
"Kamu datang kemari benar-benar ingin menemuiku atau karena inisiatif dari orang lain?" Tanyaku tanpa basa-basi pada Yuni.
Aku sebenarnya senang berteman dengannya, karena dia orang yang supel dan ramah kepada siapapun. Hidupnya mengalir tanpa merasa punya beban.
"Jujur Za, selain ingin melihatmu, Pak Roni juga memaksaku menyuruh melihat keadaanmu." Jawab Yuni.
Aku menarik nafas sekasar, dan tersenyum kepadanya.
"Keadaanku baik-baik saja, saat ini suamiku lagi kurang sehat keadaannya, jadi tugasku harus bergantian dengannya, kasihan suamiku, jika anak-anak aku tinggalkan dalam keadaan dia seperti itu"
Disaat Yuni baru datang Mas Jaya dan anak-anak sedang mau keluar ke rumah Mama Mertuaku. Sekarang dia pulang hanya membawa Queen, sementara rindu masih di rumah Mama, main bersama wulan dan anak-anak Kakak Iparku.
"Kamu sama Mama, Papa mau ke dalam dulu" Ucap Mas Jaya pada Queen dan meletakkannya dipangkuanku.
Queen langsung menyandarkan tubuh kecilnya didadaku. Melihat Yuni yang sedang memegang beberapa buku Queen mulai bersuara.
"Tante, teman Mama sekolah ya" Ucap Queen sambil tersenyum.
Mulailah Queen berceloteh, aku dan Yuni hanya tertawa saat mendengar ucapan-ucapannya.
Pada saat Yuni mengeluarkan dua batang coklat dari dalam tasnya, dan ingin memberikan pada Queen aku sempat mencegahnya.
"Bukan aku nggak menghargai pemberianmu, tapi kalau itu dari orang lain, aku nggak bisa menerima" Ucapku sambil mengusap Rambut Queen karena dia mulai merengek mau mengambil coklat dari Yuni.
"Ini dari aku Zahra, bukan dari siapa-siapa, tadinya memang untukku, tapi karena melihat anakmu, aku jadi ingin memberinya" Yani berusaha meyakinkanku dengan ucapannya.
Aku hanya mengambil satu dari dua batang coklat yang diberikannya, sambil bercerita dengan Yuni, sepotong demi sepotong coklat yang diberikan Yuni kumasukkan kemulut Queen, dengan tujuan dia bisa duduk anteng.
Pada saat Yuni mau pulang, aku mengantarkannya sampai ke jalan desa, tempatku tinggal.
"Maaf ya Za, kalau sikap Om ku tidak baik denganmu" Ucapnya pada saat dia ingin naik ojeg.
Aku hanya mengangguk dan mengusap lembut dadanya. Setelah Yuni pulang, aku berjalan memasuki halaman mertuaku.
Untuk masuk ke rumahku, akses jalannya hanya satu, harus lewat dari rumah Mama, karena letak rumahku, ada dihalaman belakang rumahnya didekat perkebunan.
Saat memasuki rumah Mama, aku menurunkan Queen yang tadi kugendong, dan dia berlari keruang tengah.
"Kamu kenapa kesini lagi?!" Kudengar suara dari anak Kak Ayu yang menghardik Queen.
Aku yang masih berada didapur segera naik keatas rumah, karena mendengar suara Dinda yang sudah menangis karena ulah anakku itu.
Aku segera memisahkan Queen yang sedang menarik kuat rambut Kakaknya sepupunya.
"Queensha! Kalau kamu masih seperti ini, Mama kurung kamu di rumah! Mama nggak biarin kamu main-main!" Suaraku sedikit meninggi pada putriku itu, sambil melepaskan genggaman tangannya yang masih menarik kuat rambut Dinda.
Kudengar Kak Ayu yang mulai mengatai anakku dengan kata-kata yang menurutku nggak pantas diucapkan untuk anak seusia Queen.
Nggak mau menunggu lama mendengar ucapan Kakak iparku itu, aku langsung menggendong Queen, dan mengajak Rindu pulang.
"Mama, Queen nakal?" Tanya Queen polos pada saat aku berjalan menuju rumah.
Aku nggak menjawab pertanyaan Queen.
"Bude sering ngatain Queen seperti itu Ma" Rindu mulai bersuara karena aku hanya diam.
Sampai di teras rumah, aku langsung duduk, memangku Queen dan meraih kepala Rindu sambil membelai rambutnya.
__ADS_1
"Dengar Mama ya, anak Mama adalah anak-anak yang baik" Ku kecup puncak kepala Rindu, dan kucium Wajah Queensha.
Kupegang kedua pipi Queen " Kamu itu cuma makhluk Tuhan yang dititipkan untuk menguji sampai dimana batas kesabaran orang dewasa" Lalu mengecup bibir imut Queensha.
"Dari kamu akan brojol, sampai kamu segede ini, kamu selalu menguji orang dewasa" sambil menggelitik perut Queen, dan mengajak Rindu untuk menggelitik adiknya.
Queen yang merasa kegelian tertawa cekikikan dengan perlakuanku dan Kakaknya.
Kerana hari sudah mulai sore, aku mengajak keduanya untuk mandi. Kubuka satu persatu pakaian keduanya, sengaja ku mandikan mereka dihalaman rumah, untuk menghibur keduanya.
Setelah keduanya selesai mandi aku, aku memberi mereka minum jus yang selalu aku minta Untuk bi ijah membuatnya sebelum mereka makan.
"Kalian berdua main disini sama Bibi ya, Mama mau mandi" Aku pun berlalu masuk ke dalam kamar, dan taklupa aku mengunci pintu kamarku.
Mas Jaya yang ada di kamar, duduk dekat meja kerjanya, melihatku dengan raut wajah yang masih menyimpan kekesalan segera bertanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mas Jaya sambil mengerutkan dahinya.
"Mas, seringkah Queen dikatain nakal kalau dia sedang ada di rumah Mama, pada saat ngumpul sama Kakak-Kakaknya?" Tanyaku pelan.
"Queen memang nakalkan, sering mengganggu orang lain"
Aku yang mendengar ucapan Mas Jaya langsung menarik nafas. Aku tersenyum getir dengan ucapan suamiku itu.
"Terimakasih atas pengakuan kamu Mas" Ucapku lalu meninggalkannya menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan memakai pakaian, aku keluar kamar, menghampiri keduanya sedang bermain. Kuperhatikan tingkah Queensha, sesekali dia mencium Bi Ijah dan Rindu pada saat keduanya membuat dia tertawa.
Air mataku sempat jatuh melihat tingkah Queen.
"Kamu kenapa menangis,Queen buat apa lagi?" Tanya Mas Jaya pelan, disaat dia duduk disebelahku.
"Aku hanya memperhatikan tingkah polos putriku, disaat orang lain membuat dia bahagia, dia menunjukkan kasih sayangnya" Ku tinggalkan Mas Jaya, dan menuju dapur, menyiapkan makan untuk keduanya.
Aku memanggil keduanya, setelah menyiapkan makan mereka. Queen dan Rindu yang aku biasakan untuk makan di mejamakan, segera datang. Rindu menarik kursi untuk Queen duduk, dan setalah itu dia menarik kursi untuk dirinya sendiri.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah menidurkan Queen dan Rindu, Aku memandangi wajah Queensha.
'Kamu anak baik Queen, Mama tau kamu anak yang penyayang, kamu sama seperti Mama, nggak pernah suka jika apa yang kamu punya disakiti orang lain, selain itu kamu juga mirip Papamu, akan membalas orang yang menyakitimu' Ucap hatiku.
"Kamu perpaduan sifat kami berdua, selain sifat kamu sendiri" Ucapku pelan dan membelai rambut Queensha.
"Makasih ya Bi, mau menjaga Queen dengan sabar" Kupeluk Bi Ijah yang saat itu hendak memasuki kamar, lalu aku meninggalkanya menuju kamarku.
"Zahra, bolehkah kita bicara?!" Tanya Mas Jaya yang sedang menungguku dengan duduk disisi ranjang.
Kuanggukkan kepalaku dan menuju teras kamar, Mas Jaya mengikuti langkahku. Lalu duduk di kursi kayu yang ada, dan aku menyandarkan tubuhku, dipembatas teras kamar.
"Zahra, kalau sakitku menjadi alasan kamu untuk nggak masuk kuliah, jujur aku kecewa sama kamu" Mas Jaya memandangku Tajam.
"Bagus kalau kamu membahas ini, mungkin memang sikapku sangat egois, tapi aku punya alasan untuk itu, dan maaf sakitnya kamu bukan bagian dari alasanku" Ucapku pelan.
"Kamu mau berhenti kuliah?"
Sesaat kubuang pandanganku kearah perkebunan yang terhampar luas, lalu memandang kearah Mas Jaya.
"Iya" Jawabku.
"Kasih aku alasannya"
"Aku ingin mendidik anak-anakku, aku sakit hati disaat orang dan disaat kamu juga membenarkan bahwa anakku adalah anak yang nakal" Ucapku dengan memandang Mas Jaya.
__ADS_1
"Queen memang aktif, tapi dia nggak akan pernah memulai menyakiti orang lain, kalau dia nggak disakiti." Aku menyambung ucapanku.
"Jangan Queen kamu jadikan alasan kamu, aku sebagai Papanya nggak terima kamu jadikan anakku sebagai alasan kamu berhenti seperti itu!"
Kudekati Mas Jaya, kutatap dalam-dalam matanya.
"Kamu mau aku punya alasan apa? Kalau kamu punya alasan yang lebih masuk akal dari alasanku, dengan senang hati aku menerimanya Tuan Heru!"
Kutinggalkan Mas Jaya, lalu aku masuk dan merebahkan diriku diatas tempat tidur.
"Selama ini aku cukup bersabar dengan sikapmu! Kamu nggak bisa hargai aku, disaat aku bicara kamu selalu meninggalkanku!"
Kudengar Mas Jaya menaikkan nada suaranya, dan membanting pintu yang menghubungkan antara kamar dan teras.
Aku yang sudah berbaring, lalu bangun dari posisiku, berdiri mendekatinya.
"Kamu mau apa?"
" Aku belum selesai bicara Zahra, aku ini suamimu, hargai aku!"
"Bicara dan keluarkan semua apa yang menyebabkan kemarahanmu" Aku menundukkan pandanganku, dan duduk dipinggiran tempat tidur.
" Aku mau kamu menyelesaikan kuliahmu, jangan jadikan aku dan anak-anak sebagai alasan kamu bermalasan seperti ini" Kulihat Mas Jaya yang mulai melangkah meninggalkanku.
Namun belum sampai dia didepan pintu, aku langsung menghentikan langkahnya.
"Kamu nggak pernah sadar, kalau kamu panutanku dan kamu sendiri memberi contoh untuk tidak bisa menghargaimu! Keluar kamu dari kamar ini, aku akan bawa Queen selamanya pergi dari kamu!"
"Kamu mengancamku hah!"
"Aku tau kamu nggak terima, disaat ada sikapku yang tidak sependapat dengan keluargamu. Lalu kamu mencari alasan untuk kita bisa bertengkar, kalau bukan aku yang membela Queen, lalu siapa?! Sementara kamu membenarkan perkataan orang lain kalau putriku adalah anak yang nakal" Kutatap Mas Jaya yang hampir saja memukulku.
"Kalau putriku seperti yang orang-orang katakan, biarkan aku merawatnya, jangan paksa aku untuk meninggalkan dia sedetikpun"
"Zahra, mengertilah aku menyuruhmu kuliah karena aku ingin memenuhi keinginan ibumu" Ucapnya pelan.
"Besok aku kan memenuhi keinginanmu, aku akan menyelesaikan pendidikanku, tapi dengan satu syarat, ceraikan aku!"
"Kau!" Dipegangnya kedua pipiku dengan satu tangannya.
"Biarkan aku fokus dengan pendidikanku, aku nggak mau memikirkan perasaan seorang suami, dan sebelum rumah tanggaku hancur, maka lebih baik aku menghancurkan duluan" Ucapku disela-sela tangis.
"Sekalipun selama kita menikah, kamu nggak pernah nyakitin fisik aku seperti ini, tapi hari ini, kamu hampir memukulku, dan sekarang kamu memengang pipiku dengan kasar seperti ini"
Mendengar perkataanku dia langsung menjauhkan tangannya dari wajahku.
"Mas, aku minta maaf jika aku melawanmu, tapi mengertilah, aku nggak bisa mendengar orang lain bicara buruk tentang putriku, kalau kamu bisa menghabisi orang lain demi melindungi keluargamu, maka biarkan aku mengorbankan pendidikanku demi keluargaku" Ini kedua kali aku bersimpuh dihadapannya, dan memeluk kakinya.
"Jangan lakukan cara seperti ini Zahra, bangunlah." Ucapnya sambil menarik tanganku.
"Aku minta maaf Mas, aku nggak mau kita bertengkar"
Mas Jaya langsung merendahkan tubuhnya dan memelukku, mengecup keningku.
"Seperti kamu, aku juga sakit disaat putri kita dikatakan buruk oleh orang lain, tapi aku merasa kita mampu melewati ini. Aku ingin membuktikan pada orang-orang, selain kamu berhasil mencapai pendidikanmu, kamu juga berhasil merawat putri kita" Ucapnya dengan lembut.
"Jangan menangis, jangan seperti ini lagi, dua kali kamu bersimpuh seperti ini demi putri kita Zahra, kau membuatku iri padanya" Disatukan keningku dengan keningnya.
"Aku tau kau ingin berhenti karena dosenmu menyukaimu, itu alasan yang sebenarnyakan, tapi kau nggak mau bilang itu padaku"
"Kau bodoh, kalau aku bilang itu kau bisa membunuhnya, atau kau bisa mendiamkanku berlama-lama, aku udah cukup tau seperti apa kalau kau cemburu" Kupukul dadanya, dan meraih bajunya untuk mengelap air mataku.
Kudengar dia tertawa mendengar perkataanku. "Kau jorok Zahra, ingusmu kau lapkan dibajuku"
__ADS_1
"Kalau air liurku saja bisa kau telan, masa cuma ingus yang kulapkan kebajumu kau nggak terima" Protesku padanya.
Dirangkulnya aku dengan kuat, berkali-kali dikecupnya bibirku.