
Setelah kepergianku ke puncak bersamanya, tiga bulan yang lalu. Aku semakin sering bertemu dengan Mas Jaya diluar. Weekendpun aku lebih sering menghabiskan waktu diluar bersamanya.
Tak jarang sehabis pulang kantor diakhir pekan aku langsung pergi dengannya, dan nggak pulang ke rumah.
Meskipun begitu, dia masih belum mau membawaku untuk pulang.
"Tidak terniatkah sedikitpun dalam dirimu untuk menjemputku Mas?" Tanyaku pada Mas Jaya saat dia menelpon.
" Jaga diri baik-baik, untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa menemuimu Zahra." Lalu dia memutuskan sambungan telpon, setelah mengucapkan salam.
Selalu saja mengalihkan pembicaraan. Udah cukup batas waktuku disini. Dijemput atau tidak aku harus kembali. kukemasi pakaianku dalam koper, toh itu rumahku. Rumah yang dia buat atas namaku, dan aku berhak untuk kesana.
Pada saat aku keluar dari kamar, kulihat kedua orang tuaku sedang duduk diruang tengah, aku mendekati mereka, serta kusampaikan bahwa aku ingin pulang hari ini.
" Kenapa kamu pulang sendiri, suruh Jaya jemput kamu kesini! Dia yang mengantarmu, maka dia juga yang harus menjemputmu!" Ucap Ibuku dengan nada suara yang agak tinggi.
Kusabarkan diriku untuk tidak tersulut emosi.
" Mas Jaya tidak akan menjemput Zahra, kalau Ibu belum memberikan restu. Ibu masih ingat kan kata-kata nya." Jawab kuselembut mungkin.
" Sampai kapanpun Ibu tidak pernah memberi restu!"
" Ada dan tidak ada restu Ibumu, Bapak sudah menikahkanmu Zahra, maka kewajibanmu mengabdi pada suamimu. Pulanglah." Ucap Bapak dengan senyum yang menyejukkan hatiku.
Kupeluk Bapak. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Bapak bangga sama kamu, masih bisa menuruti kemauan suamimu. Nggak baik lama-lama pisah dari suami. "
Akhirnya akupun pulang dengan perasan yg lebih baik. Aku udah nggak sabar ingin menata lagi rumah, merawat bunga mawar kesukaanku, dan terpenting menyiapkan makanan untuk suamiku. Yang pasti melaksakan semua kewajibanlah.
🌹
🌹
🌹
Sesampai aku di rumah, kulihat ada motor suamiku, dan satu motor matic. Begitu aku turun dari kendaraanku, seorang wanita muda keluar dari dalam rumah, ditemani oleh seorang wanita setengah baya.
Wanita muda tersebut tersenyum ramah kepadaku, sambil sedikit menundukkan kepala nya, lalu pergi dengan motornya.
" Maaf Non ini siapa? Mau ketemu sama Bapak?" Tanya wanita setengah baya tadi.
Aku nggak menjawab apapun, langsung kulangkahkan kakiku masuk kedalam rumah. Nggak kuhiraukan wanita yang menegurku.
Kulihat Mas Jaya sedang duduk di tepi kolam ikan sambil memberi makan ikannya.
" Oh... Pantas aku kamu pulangkan ke rumah orang tuaku, tanpa sepengetahuanku kamu bebas membiarkan perempuan lain masuk kerumah ini!"
Dengan rasa emosi ku ucapakan kalimat itu pada Mas Jaya, begitu aku mendekatinya.
Mendengarku berucap seprti itu dia hanya tersenyum.
"Nggak usah emosi. Tanya dulu sebelum gegabah menyimpulkan sesuatu. Baru juga sampai bukan salam, tapi marah."
Pada saat dia hendak menyentuh tanganku, ku tepis tangannya.
Dan aku melihat wanita setengah baya tadi menghampiri aku dan Mas Jaya.
" Maaf Pak, Nona ini main masuk saja." Ucap wanita setengah baya tadi dari arah belakangku.
" Nggak apa-apa Bi, ini istri saya. Zahra, kenalkan ini Bi Ijah pengurus rumah kita. " Ucap Mas Jaya sambil memperkenalkan wanita itu.
Kulihat dia tersenyum kepadaku, kucoba untuk mengendalikan emosiku, dan membalas senyumnya. Lalu dia pamit meninggalkan aku dan Mas Jaya.
"Aku perlu bicara banyak sama kamu Mas."
Kubalikkan badan hendak meninggalkan nya. Secepat kilat dia menarik tanganku.
" Kamu mau kemana?" Tanya Mas Jaya.
" Mau ke luar mengambil koperku!"
Ku jawab dengan sedikit ketus, menepis tangannya dan ingin berjalan keluar.
Belum sempat aku berjalan lagi-lagi dia menarik tanganku, lalu menjatuhkan diriku dipundaknya.
Aku sempat menjerit karena kaget. Dibawanya aku kembali ke arah taman belakang, dinaiki nya anak tangga, dipojok ruangan tempatku biasa mencuci pakaian. Baru aku tahu bahwa rumah ini ada sedikt perubahan.
"Ini ruangan pribadi kita sekarang." Ucapnya begitu dia menurunkanku.
Kuperhatikan sekeliling ruangan baru ini, pada saat aku meninggalkan rumah hampir tiga bulan yang lalu lantai atas ini belum ada. Di sudut ruangan aku melihat ada sebuah meja kerja.
__ADS_1
Kupandangi Mas Jaya yang langsung duduk disisi tempat tidur.
" Ini aku buat untukmu, untuk menunjang aktifitas kerjamu, dan mengenai wanita tadi, dia disuruh Boss nya kemari untuk mengambil uang, karena aku ada urusan kerjaan dengan Bossnya.
Jadi kamu salah faham kalau menuduh aku selingkuh."
" Aku sebenarnya nggak butuh kemewahan yang kamu berikan, aku butuh kejujuran semua ini kamu dapatkan dari mana?
Jangan ajarkan aku dalam kemewahan, jika kelak kamu sudah tidak mampu memenuhi kebiasaan hidupku yang biasa kamu lakukan, dia akan menjadi tuntutan, dan pada akhirnya akan menjadi bumerang buat kamu sendiri."
" Aku berkali-kali ingin pulang, berkali-kali memintamu menjemputku, tapi seribu satu alasan kamu ucapkan biar aku tidak kembali kemari.
Kalau aku yang pergi meninggalkan rumah tanpa izin darimu, kamu boleh melarangku untuk kembali, karena itu salahku, tapi ini kamu yang mengantarku. "
Dia hanya diam tidak menjawab apapun yang kukatakan, malah merebahkan badan, memejamkan matanya, sambil memeluk bantal.
" Kamu sebenarnya dengar apa tidak sih yang kukatakan Mas?" Tanyaku sambil menggoyangkan kaki nya.
" Aku dengar Zahra, jika masih ada lagi yang mau kamu sampaikan, sampaikanlah." ucapnya masih dengan memejamkan mata.
" Ntahlah aku nggak tau mau bicara apalagi. Aku takut seperti seorang istri yang diberikan fasilitas dan dimanjakan tapi pada akhirnya dikhianati, seperti dijadikan boneka penghias rumah." Ucapku sedikit jengkel.
Bukan menjawab ku dia malah tertawa. Lalu perlahan dia bangkit dan mendekati ku yang lagi duduk disisi ranjang.
"Zahra, aku tahu kamu pasti kembali tanpa harus kujemput, ibarat ombak dia pasti akan kembali ke pantai. Aku tahu bahwa kamu benar-benar mencintaiku. Aku melakukan semua ini, karena aku benar-benar menyayangi mu dan aku ingin tahu seberapa besar cinta istriku."
Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku menepis nya.
" Kamu adalah istri ku, kewajibanku membahagiakanmu. Agar kamu tahu Zahra, kemanapun aku pergi, hanya namamu yang ada dalam langkahku, aku memang bukan seorang raja, tapi kau adalah ratu dalam hidupku. " Lalu dia pergi meninggalkanku.
" Selalu saja begitu! Kamu itu memang laki-laki nggak tau diri, setelah aku serahkan diriku, kamu masih bilang ingin tau seberapa besar cintaku!!!! " Ucapku dengan emosi sambil melempar vas bunga keluar. Kali ini aku benar-benar nggak mampu lagi menahan rasa emosiku.
Setelah merasa sedikit tenang, aku keluar dari kamar. Kulihat Mas Jaya sedang tidur di kursi panjang di dekat taman. Sedikitpun aku tak menghiraukannya, untuk menghampirinya pun aku enggan.
Ku hampiri Bi Ijah yang sedang merapikan Kotak P3K. Melihatku datang dia hanya tersenyum.
" Untuk apa kotak itu bi, siapa yang luka?" Tanyaku sambil menuangkan air digelas.
" Habis ngobati luka Bapak, tadi pelipisnya berdarah. "
aku yang mendengarnya sedikit kaget. Jangan-jangan vas bunga yang ku lempar tadi mengenai kepala nya. Kerana posisi pintu kamarku akan langsung menuju taman belakang.
Tapi aku harus berusaha bersikap tenang.
" Saya baru satu bulam tinggal di rumah ini Bu, tapi kalau sama Bapak saya kerja udah lima tahun." Jawabnya dengan menunduk.
Ku kernyitkan dahiku. " Lima tahun?"
" Iya bu, Saya diajak tinggal disini karena rumah yang lama yang Bapak tempati sudah laku dijual, dan Bapak mengajak saya kemari." Ucapnya menjelaskan.
"Yang tadi anak bibi? "
" Bukan Bu, itu sekretaris Bapak." Semangkin dalam aku mengernyitkan dahiku.
Aku semakin bertanda tanya, tentang makhluk bedebah ini.
Namun kali ini aku nggak akan banyak bertanya, aku ngak mau dia menjadi tidak nyaman dirumah ini. Ku suruh dia istirahat, karena nggak ada yang harus dikerjakan lagi.
Ku dekati Mas Jaya yang masih tertidur. Ku pandangi wajahnya. Ada penyesalan dalam hatiku.
Aku nggak menyangka vas bunga yang ku lemparkan ternyata melukainya.
Namun dibalik itu ada rasa kecewa yang teramat sangat dalam hatiku. Untuk hal yang menurutku sepele saja dia bisa menutupi dan berbohong, apalagi untuk hal besar.
" Besok aku mau ke luar kota seperti yang kukatakan ditelpon tadi siang Zahra." UCap Mas Jaya sambil mengemasi pakaian nya kedalam tas.
" Kamu mau kemana dan dengan siapapun aku udah nggak mau tau lagi. Bagiku pernikahan ini hanya sebuah simbol saja, cinta didalamnya itu tidak ada. Jadi jika dikatakan kamu mencintai ku, atau sebaliknya aku hanya menganggap itu hanya sebuah cinta palsu, seperti bunga-bunga palsu untuk menghiasi sudut ruangan rumah biar terkesan berwarna dan indah saja." Ucapku dingin tanpa menatapnya.
Di hentikannya aktifitasnya, dipandangnya aku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang dia tidak suka dari ucapanku.
" Aku nggak ingin kita bertengkar. Kalau bukan karena ketertarikan dan karena rasa cinta, aku tidak akan menikahimu!"
"Seperti kamu bisa menyembunyikan siapa dirimu, seperti itu juga kamu bisa membohongiku dengan mengakatan cinta padaku. Mulai saat ini, aku sudah tidak mempercayai mu lagi."
Segera kujatuhkan diriku diatas tempat tidur, dan menarik selimut. Lebih baik aku tidur karena besok pagi aku harus kerja, dan pergi lebih awal itu jauh lebih baik buatku dari pada berurusan dengan Makhluk bedebah ini.
Mas Jaya segera menghampiri dan berdiri disisi tempat ku berbaring, diusapnya rambut dan mengecup keningku, lalu dia merendahkan posisi dirinya, menatap ku sambil tersenyum.
"Apakah kepulanganmu, hanya untuk memarahi ku?, aku bukan tidak ingin menjemputmu, tapi saat ini aku lagi sibuk, pekerjaanku lagi banyak, setidaknya dengan kamu disana aku lebih tenang ada bapak yang menjaga mu."
" Kamu terlalu pandai memainkan perasaan ku. Membuatku bisa selalu simpati padamu." Lalu membelakanginya, aku masih emosi dengan dia dan aku nggak ingin melihatnya.
__ADS_1
Setelah mematikan lampu, Mas Jaya langsung merebahkan tubuhnya disamping ku berhadapan dengan dirinya. Kembali dikecupnya keningku dan diusapnya lembut pipiku.
" Aku tau, kebahagiaan itu bukan diukur dari materi, tapi aku nggak ingin kamu hidup susah denganku, setidaknya jika kelak kita punya keturunan aku juga nggak ingin anak-anakku dihina sepertiku."
Dia membalikkan dirinya membelakangiku.
Kutatap pungungnya, tanpa terasa air mata kupun keluar. Aku tau Ibu selalu menghina nya.
Berapa kali dia ke rumah Ibu selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak untuk didengar, dan bisa membuat hati menjadi panas.
Ibuku memang nggak pernah bersikap ramah pada nya. Kalau bukan karena nasehatnya mungkin aku sudah bertengakar dengan ibu.
Ntahlah akhir-akhir ini emosiku sulit sekali kutahan.
🌹🌹🌹
Pagi ini, ku biarkan Bi Ijah yang mengurus keperluan Mas Jaya. Selesai Sholat Subuh aku mempersiapkan diriku untuk berangkat kerja.
Mas Jaya juga sedang merapikan dirinya.
"kita berangkat sama ya Za, aku antar kamu sampai ke kantor. "
Aku nggak hiraukan kata-katanya. Kuambil kunci mobil yang ada diatas meja, kupegang tangannya dan meletakkan kunci itu diatas telapak tangannya.
" Aku kembalikan mobilmu, aku bisa pergi sendiri dengan taksi. Mulai hari ini kita hidup masing-masing. Aku sudah tidak perduli lagi denganmu."
Diperhatikannya aku dengan seksama.
Kewajiban sebagai istri tidak akanku abaikan, namun untuk cinta aku akan berusaha membuangnya, anggap saja kita hanya partner." Lalu pergi meninggalkannya.
Sesampai di tempat kerja, ku lihat Mbak Ratna sedang duduk di loby. Belum aku menyapanya, dia sudah bangkit dari duduk dan langsung menarik tanganku. Begitu baru keluar dari pintu, seseorang sedang terburu-buru menabrak bahuku.
" Maaf Zahra, saya sedang buru-buru.. " sambil berlalu dia mengucapkan kata maaf itu. Aku nggak sempat memperhatikan orangnya, karena Mbak Ratna terus menarikku menuju kendaraannya.
"Za, temani saya cari kado pernikahan yang special buat sahabat saya. "
Aku yang masih merasakan sakit dibagian bahu hanya mengangguk saja. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirku.
" Kamu kenapa diam saja Za?"
"Enggak mbak, bahuku agak sedikit sakit aja. "
"Oh iya Za, besok kita ada meeting ke Bali. Kita berangkat jam 10. " Ucap Mbak Ratna sambil tersenyum manis padaku.
" Kelihatannya Mbak seneng banget. "
" Aku lagi bahagia Za, orang yang terbaik dalam hidupku sudah menemukan pilihan dalam hidupnya, setidak nya aku nggak harus membagi waktu lagi memperhatikannya, karena dia udah punya istri yang merawatnya."
Panjang lebar dia mencerikan orang spesial dalam hidup nya itu. Seorang pria yang dingin terhadap wanita, tapi sangat perhatian. Orang yang sederhana, dan sangat tampan. Itu menurut nya, dan yang pasti dia adalah Boss besar di perusahaan kubekerja.
Akhirnya sampai juga di toko perhiasan langganannya.
"Menurutmu, bagus kasih kalung atau cincin ya Za."
"Kalung saja Mbak, kalau cincin Mbak tau ukurannya?"
Saat lagi asik memilih dan bertukar pendapat mana yang terbaik, diantara pilihan yang ada HP ku berbunyi, suara seorang laki-laki yang aku tidak mengenalnya.
" Maaf Zahra, aku tadi tidak sengaja menabrakmu, tapi hari ini aku melihatmu sangat cantik dengan kemeja merah itu. "
" Terimakasih " Ucapku dan telpon itu langsungku tutup.
Setelah semua selesai aku dan Mbak Ratna kembali ke kantor. Kulihat diatas mejaku tergeletak sekuntum bunga mawar merah dan sebatang coklat, dan ada sebuah kertas yang bertuliskan suatu kata-kata.
" Cinta ini hadir tanpa bisa dibendung,
Jika ini adalah suatu kesalahan maafkan aku Zahra,
Aku tidak ingin jatuh cinta pada mu,
tapi rasa ini tidak bisa kuhindari.
Keangkuhan sikapmu, membuat aku kagum padamu,
kau ibarat mawar ini, jika tidak hati-hati dipetik, maka durinya akan melukai, tapi jika tergesa-gesapun dipetik, maka kelompok kuntumnya akan berguguran.
Terimakasih sudah memberikan warna cinta dalam hidupku."
Pikiran kulangsung tertuju pada sosok pria tinggi, bertubuh atletis warna kulit sawo mateng, yang memiliki sorot mata yang tajam, dengan rahang pipi yang terlihat kokoh, siapa lagi yang seperti ini kalau bukan Mas Jaya. Karena dia yang rajin mengirimiku bunga.
Tapi kali ini aku tidak akan menelponnya, untuk mengucapkan terimakasih. Aku masih sedikit marah padanya.
__ADS_1
Namun ada rasa bahagia dihatiku, karena pria itu sangat berbeda dari laki-laki lainya, dibalik sikap dinginnya dia punya sisi romantis yang kadang ngak bisa terka.
Pagi ini, lagi-lagi aku merasakan mual. udah hampir dua minggu aku seperti ini. Disaat jam makan siang aku pergi ke klinik untuk mengecek kesehatanku, apalagi besok aku berangkat keluar kota, aku harus fit.