
Siang itu Tante Maya main ke rumahku.
" Kamu kenapa nggak kabari Tante kalau mau pulang ke rumah Nini. Tante kan bisa titip sesuatu buat mereka." Ucap Tante cantikku itu.
" Akki banyak cerita tentang Jaya, terutama sama Ibumu, yang masih nggak suka dengan menantunya itu."
Ibuku memang belum bisa menerima secara ikhlas kalau aku menikah muda, dia ingin aku kuliah, bekerja. Terutama dia nggak terima kenapa harus Mas Jaya yang melamarku, dimatanya Mas Jaya tetaplah seorang preman, yang nggak punya masa depan.
Kedatangan Tante Maya hari ini, selain silaturahmi, dia juga ingin mengajakku untuk bertemu dengan temannya, sekaligus rekan bisnisnya. Setelah minta izin dengan Mas Jaya aku dan Tante Maya Ahkirnya
pergi.
Pertemuan itu diadakan di Cafetaria yang ada di salah satu Mall yang dekat dari rumahku.
Sambil menunggu teman Tante Maya, aku memesan makan dan minum. Mumpung ada yang bayarin. xixiii..
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu sang rekan. Seorang wanita muda, cantik, energic, dan menurutku cukup mempesona, dan sangat anggun. Aku jadi iri akan kecantikannya.
" Ini siapa May? " tanya wanita yang dihadapan kami sambil tersenyum ramah.
" Oh, iya nih kenalin, keponakanku yang paling cantik." sambil dia menyikut sedikit bahu ku.
" Ratna." dia mengulurkan tangannya, dan aku pun menyambut uluran tangannya sambil menyebutkan namaku.
Entah dari mana alur nya, akhirnya pembahasan sampai kepada kehidupan masing-masing.
Sampai akhirnya Mbak Ratna menawarkan ku pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaannya. Tapi ku tolak dengan mengatakan bahwa aku sudah menikah, dan segala sesuatu harus dirembukkan dahulu dengan suami.
Dia tidak keberatan dengan apa yang kukatakan, saat ini dia memang membutuhkan seorang Sekretaris, karena Sekretarisnya akan melakukan izin cuti melahirkan.
Sehabis makan malam, aku dan Mas Jaya sedang nonton film action.
Aku dikegatkan dengan suara HP yang berdering. Kulihat panggilan dari " Tante Cantiq Q".
" Assalamualaikum, Za, Ratna serius nawarin kamu pekerjaan, kesempatan cuma sekali Za, nih langsung aja ngomong sama orang nya " Ucap Tante Maya dari sebrang.
Lalu telpon disambungkan secara paralel.
" Gimana Za?, udah dibicarakan?" tanya mbak Ratna tanpa basa basi.
" Saat ini saya sangat butuh Zahra, kalau kamu oke, besok kamu boleh langsung kerja, nggak usah bawa CV atau lamaran apapun. " Ucapnya lagi.
" Oke mbak, saya bicarakan dulu, lima menit lagi saya kabari. "Jawabku sambil menutup telpon.
Kupandang wajah Mas Jaya yang duduk disampingku.
" Hemmm.. Mas, aku boleh bekerja?" Tanyaku sedikit ragu.
" boleh." Jawabnya singkat.
"Aku akan mendukung apapun yg kamu lakukan jika itu baik. Lagi pula kamu di rumah sendirian. Kalau kamu ada kegiatan mungkin akan lebih baik. " ucapnya lagi.
" Jadi benar kamu izin kan?"
" aku izin kan, dan alasan aku izinkan karena Boss nya juga seorang wanita. " Ucapnya dengan senyum mengembang.
"Dari mana kamu tau dia wanita?" aku bertanya dengan sedikit heran.
"Karena kau memanggilnya Mbak, bukan mas, ataupun Pak." Lalu dia menarik hidungku.
Aku telpon kembali mbak Ratna untuk memberi tahu keputusanku. Sebelum tidur, Mas Jaya banyak memberikan masukan dan nasehat padaku.
Malam ini aku tidur dengan perasaan bahagia karena memikirkan bahwa aku akan bekerja, dan aku bisa bersosialisasi dengan banyak orang, tidak monoton seperti sekarang.
Aku memang sudah mulai sedikit membuka hati pada Mas Jaya, tapi untuk memenuhi kewajiban sebagai istri sampai hari ini belum bisa kulakukan. Aku masih sedikit takut.
Ini hari pertama aku bekerja, dan ini merupakan pekerjaan pertama dalam hidupku. Selesai mandi dan shalat subuh, aku lihat Mas Jaya pulang.
" Kamu nggak ke pasar Mas?" Tanyaku sedikit heran, karena biasanya dia akan langsung ke pasar setelah Shalat berjama'ah.
" Ini hari pertama istriku bekerja, jadi aku akan mengantarnya. "
Setelah semua beres, dia memesan Taxi. Selama dalam perjalanan, tidak ada terucap apapun, dia menggenggam jariku, sambil menutup mata.
Aku nggak tahu apakah dia sedang memikirkan sesuatu atau tertidur, tapi genggaman jarinya sangat membuatku nyaman.
" Terima kasih Mas, udah mengantarku." Ucapku tak lupa aku mencium tangannya, setelah kami sampai di pelataran kantor.
" Kerja yang baik ya
a. Aku balik dulu. " Lalu dia mengusap kepalaku.
Dia melangkah meninggalkanku sampai aku tidak melihatnya lagi.
Baru saja aku berbalik, aku mendengar Mas Jaya memanggilku.
"Zahra, ada yang terlupa. " Sambil dia mengeluarkan sesuatu dalam balik jaket yang dia kenakan. "mawar merah."
Aku menerima bunga darinya, karena bunga mawar adalah bunga pavoriteku.
" Letakkan bunga ini di vas meja kerjamu. Sekali lagi selamat bekerja, do'aku padamu semoga bisa menjadi wanita yang sukses. "
Lalu dia memegang kepalaku dan mengecup keningku, agak lama.
Hampir saja air mata ku jatuh, karena sangkin terharunya.
Begitu Mas Jaya pergi, Kulihat sebuah sedan hitam berhenti dihadapnku. Setelah menurunkan kaca mobilnya sang pemilik mobil melambaikan tangan kepadaku.
Syukurlah aku bertemu Mbak Ratna disini, jadi aku bisa langsung menuju ruangannya tanpa tanya sana sini.
"Laki-laki yang mengecup keningmu itu suamimu?" Tanya nya begitu turun dari mobil.
"Iya mbak." Jawabku singkat.
" Wah baik sekali dia, seprtinya orangnya cukup romantis juga ya.." sambil dia menggandeng tangganku untuk masuk keruangannya.
Aku melihat beberapa orang memberi salam padanya, dan melirikku dengan sangat aneh.
🌸
🌸
🌸
Hari berganti, bulan berlalu dan tahun berganti, tanpa terasa setahun sudah aku bekerja di Perusahaan ini, dan usia pernikahanku juga sudah mau memasuki tahun kedua.
Konflik kecil pasti ada, tapi Mas Jaya benar-benar sosok pria yang sangat pengertian buatku untuk saat ini.
Meskipun sudah memasuki usia pernikahan dua tahun, aku masih sama sekali belum memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri yang utuh untuknya.
__ADS_1
Saat ini aku sudah menempati rumah baru yang pernah dibeli Mas Jaya, dan aku nggak pernah menyangka rumah itu dia buat atas namaku, sedikit lebih luas dari rumah yang lama, ada halaman kecil dibelakangnya.
Ada kolam ikan, dan beberapa tanaman, dan beberapa pohon buah-buahan yang ditanam di dalam pot.
Halaman belakang itu tempat pavoriteku di rumah ini,selain asri, disitu sangat nyaman dan dingin, karena diatas kolam ikan itu Mas Jaya membuat sebuah gazebo kecil.
🌹
🌹
🌹
Sehabis jam kerja seperti biasa aku akan menunggu Suamiku menjemputku. Setelah keluar dari Lift dan menuju lobi, Aku melihat Tante Maya duduk di lobi kantor tempatku bekerja, dan kedatangannya sengaja menjemputku.
" Kita pulang ke rumah Ibumu hari ini Za, Ibumu buat ulah. Jaya nggak ada menghubungimu?" Tanyanya dengan raut wajah menunjukkan kekesalan.
"Nggak ada Tante, memang kenapa?"
Tanyaku sedikit heran, sambil mengecek HP untuk memastikan ada yang menghubungiku atau tidak.
" Tadi pagi Ibumu ke pasar, dia ngamuk sama Jaya, dia meminta agar Jaya menceraikanmu. Dia bilang Jaya nggak pantas buatmu." Ucap Tante maya menjelaskan.
Aku hanya bisa diam dan menarik nafas. Sampai di rumah tanpa ucap salam, Tente Maya langsung masuk rumah dan memanggil Ibuku sedikit berteriak.
Setelah melihat Ibu keluar dari kamar Tante Maya langsung meluapkan emosinya.
"Mbak!! Kamu itu kenapa sih?! Masalahmu dengan Jaya apa?! Sampai kau harus mempermalukan dirimu seperti itu!!
Pernah nggak orang tua kita mengajarkan untuk bersikap bodoh.
Syukur Jaya itu mau sama anakmu, laki-laki berpendidikan diluar sana bakal malu punya mertua seperti kamu! " hardik Tante Maya.
Aku melihat Bapak keluar dari kamar karena mendengar suara Tante Maya yang meninggi.
" Udah May, kasihan Mbak mu. Mas juga udah marahi dia, buat malu saja." Sambut Bapak menimpali ucapan Tante Maya.
Aku yang melihat Ibu diperlakukan seperti itu, nggak tega juga. Aku duduk memeluk dan mencium nya.
" Sudah-sudah. Udah berlalu juga, nggak usah diributin lagi Tante." Ucapku sambil melirik Tante Maya, yang berdiri didepan ibuku sambil berkacak pinggang.
"Bu... Kalau Ibu marah, nggak perlu sampai harus seperti itu. Maafkan atas segala kesalahan suamiku dan kekurangannya. Selama ini dia memperlakukan ku dengan sangat baik.
Dan agar Ibu tahu, gajiku selama bekerja tidak pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Dan rumah yang kami tempati sekarang itu murni hasil keringat Mas Jaya, dia juga membeli rumah itu jauh sebelum aku bekerja.
Rumah itu hadiah ulang tahun pernikahanku. Ibu salah kalau menilai semua itu hasil kerja kerasku.
Ibu merasa setelah aku bekerja, aku bisa beli rumah kan?. Gaji ku sengaja ditabung, untuk Bapak dan Ibu umroh, dan itu juga atas saran Mas Jaya. " Ucapku serasa menjelaskan.
Ibu langsung memandang ku. Tente Maya dan Bapak langsung menatapku.
"Kamu serius Za ?" tanya Tante Maya.
aku hanya mengangguk.
" Dengar ya semua, Mas jaya memang preman, dia hidup dan bergaul di pasar, tapi dia org yang baik. Ibu nggak boleh menilai orang dari luar saja. " Kutarik nafas perlahan.
" Percayalah, dia menjaga dan melindungiku dengan baik. Nggak ada perpisahan, belum tentu laki-laki yang Ibu harapkan akan memperlakukanku bak Ratu. " Ucapku sambil mencium kembali pipi Ibuku.
" Sekali lagi Mbak macem-macem, kulaporin Bapak sama Ibu " Ancam Tante Maya pada Ibu.
Ibuku hanya diam, tidak ada pembelaan darinya sama sekali. Biasanya dia akan lebih nyolot kalau ada orang yang bicara lebih keras darinya. Tapi tidak untuk tante Maya. Karena Tante Maya selalu memberi Kakaknya itu jatah bulanan.
Kukedipkan mata sama Bapak, dan itu difahami Bapak maksudnya.
" Za.. Ibu minta maaf, maafkan Ibu udah salah ya. " Ucapnya sambil menangis.
Aku berusaha menenangkan hati Ibuku. Setelah itu aku pamit pulang.
Sampai aku di rumah, aku segera mengganti pakaianku, lantas menyiapkan makan malam, setelah itu baru membersihkan diriku. Sepulang mas Jaya nanti aku akan minta maaf atas perlakuan Ibu padanya.
Waktu sudah menunjukkan pukun 23.00 tapi Mas Jaya belum pulang juga. Aku coba telpon ke HP nya juga nggak aktif.
Bahkan udah dua hari lama nya Mas Jaya pergi tanpa ada kabar apapun. Hari ini aku sengaja minta izin tidak masuk kerja, aku memutuskan akan cari dia ke pasar.
Aku datangi warung yang pernahku singgahi dulu.
" Eh, ada Neng geulis yang dulu, mau cari Jaya ya?" ucap Bapak pemilik warung dengan ramah.
Ternyata masih ingat dia padaku.
"Bapak ingat saja sama saya, jadi malu saya Bapak tahu maksud saya kemari. "
" Udah dua hari Jaya nggak ke pasar. Bentar Bapak panggil anak-anak, biar Neng diantar tempat Mak Enok aja. " Sambil dia menuju keluar.
Nggak lama dia datang bersama seorang anak laki-laki sekitar berumur sepuluh tahunan.
" Antarin Kakak ini ke rumah Mak Enok, mau ketemu sama Bang Jaya." ucap sang Bapak kepada nya.
" Ayo Kak." Ajak anak tersebut padaku.
Akupun segera pamit sama pada siBapak.
" Kakak pacar bang Jaya yaaa...? " tanya nya setelah kami berjalan meninggalkan pasar.
Aku hanya senyum saja mendengar pertanyaannya.
" Kamu nggak sekolah?" Tanyaku balik padanya.
" Sekolah Kak, masuk siang. Aku disuruh beli susu buat anak-anak di panti. "
"Susu nya mana?"
" Nanti diantar, kan belinya banyak. Nanti Bang Jaya yang bayar. "
Sepanjang perjalanan dia banyak menceritakan tentang Mas Jaya, ada rasa kagum dari nya tentang sosok pria yang sudah menemani hidupku selama ini.
" Ini Kak rumah nya, ayo masuk saja, silahkan duduk. Saya panggil Mak dulu. "
Diapun langsung masuk ke dalam, dan aku menunggu di ruang tamu.
Aku melihat wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Dia tersenyum ramah padaku.
" Katanya Neng cari Mak?, ada perlu apa Neng? " dia mengulurkan kedua tangannya, dan aku menyambut dengan menyalami dan mencium punggung tangannya.
" Maaf Mak, kalau kedatangan saya mengganggu dan buat Mak nggak nyaman, saya ingin bertanya tentang Mas Jaya. "
" Neng temannya Jaya?" Dia bertanya sambil menyatukan alisnya.
Aku balas pertanyaannya dengan senyuman.
__ADS_1
" Jaya sekarang lagi keluar kota, katanya tiga atau empat harian. Mak juga nggak tahu perginya kemana, dia nggak pernah bilang kalau mau pergi-pergi. "
" Maaf, Mak apakah Mak nya Mas jaya?" Tanyaku sekedar basa-basi karena aku tau wajah Ibu mertuaku.
" Bukan Neng, tapi Jaya udah seperti anak buat Mak, dia yang udah ngerawat Mak, dan anak-anak yang ada di panti depan."
Ku lihat anak yang mengantarku tadi keluar sambil membawa dua gelas teh, dan mempersilahkan aku untuk minum.
" Mak, Ntong main ke panti ya, mau main sama Rindu. " Lalu dia mencium tangan Mak dan pergi.
Aku cukup kaget waktu dia menyebut nama Rindu.
" Rindu siapa Mak? cucu Mak?"
" Rindu salah satu anak panti, dia ditemuin Jaya di pasar waktu masih bayi merah. Sepertinya dia sengaja dibuang. " Jawab Mak Enok.
" Neng kemari benar cuma mau tanya tentang Jaya saja, atau ada yang lain." tanya Mak Enok sambil tersenyum.
" Mak senang, kalau Jaya ada yang cariin, apalagi seorang perempuan, Mak ingin dia nikah Neng. Biar ada yang ngerawat dia, do'a dan harapan Mak dia mendapatkan jodoh yang baik"
Mendengar ucapa Mak Enok aku hanya tersenyum tipis.
" Mas Jaya belum menikah Mak?" tanya ku seolah tidak tau apa-apa.
" Yang Mak tau belum, tapi Mak kurang tahu kehidupan pribadi Jaya, dia sangat tertutup tentang itu, dan selama Mak tinggal sama dia baru kali ini ada perempuan cari dia."
"Mak kelihatan sayang sama dia?"
Ku lihat Mak Enok menarik nafas, dia juga menundukkan kepalanya seperti mencoba untuk mengingat sesuatu.
" Mak orang nggak punya Neng, anak-anak Mak menelantarkan Mak. Hari-hari Mak cuma dagang kue di pasar. Dulu sebelum pulang, anak mak udah datang minta uang dagangan. Tapi sejak dipukul Jaya sampai sekarang nggak pernah datang lagi. Cuma Jaya yang perduli sama Mak, dia bawa Mak tinggal sama dia, Mak nggak boleh pulang kerumah lagi. Selama Mak tinggal dengannya baru Mak merasa seperti punya anak. Dia paling khawatir kalau Mak sakit.
Udah hampir dua tahun ini dan sejak anak-anak menemani Mak disini, dia udah nggak pernah tidur disini lagi. Tapi setiap siang dia pasti datang dan makan disini, dan kasih uang jajan adik-adiknya yang bakal pergi sekolah. Gimana Mak nggak sayang." Ucap Mak Enok.
aku mendekati Mak Enok yang terlihat meneteskan air mata, dan memeluknya.
" Mak, jangan menangis, maaf kalau saya buat Mak sedih. "
" Nggak Neng, Mak kasihan sama Jaya, Mak cuma keingetan kejadian di pasar kemarin, ada Ibu yang marah-marah sama dia, minta Jaya ninggalin anak nya. tapi Jaya diam saja, nggak melawan sedikitpun. bahkan itu ibu bukan hanya marah, sampai ngelempar Jaya sama sendalnya."
aku menarik nafas panjang, ini pasti Ibuku.
" Tadinya Mak ingin marah, tapi Jaya langsung ajak Mak pulang. Di rumah Mak nasehati dia, cuma ya begitu dia, kalau Mak ngomong cuma senyum doang, udah gitu dia bakal bilang, Mak kalau marah kelihatan cakepnya Mak, kan Mak nggak jadi marahnya. "
Aku dan Mak Enok tertawa mendengar penjelasan diujung kalimatnya.
Banyak hal yang diceritakan Mak Enok sama ku tentang Mas Jaya, dan akhirnya aku tau tentang Rindu.
Sore itu aku pulang ke rumah dengan hati yang lega, setidaknya aku sudah mengetahui kegiatan sehari-hari suamiku, dan orang-orang yang ada dilingkungannya.
Sampai aku dirumah, aku melihat sebuat mobil starlet terparkir di halaman rumah. Segera aku bergegas masuk ke dalam rumah.
Aku lihat Mas Jaya ada di halaman belakang, duduk dipinggir kolam, sambil memberi makan ikan hiasnya.
Melihatku datang, dia langsung berdiri dan mengajakku duduk dipinggir kolam.
" Ada hal yang ingin aku bicarakan Zahra." dia memandangku dengan tajam dan ekspresi wajah yang dingin.
" Apakah pernikahan ini pantas dan layak untuk kita pertahankan? yang jelas aku nggak ingin mengecewakan hati seorang ibu, Zahra." ucapnya tegas.
" Maksud Mas?"
" Kamu pasti sudah tahu bahwa Ibumu datang menemuiku."
" Oh.. iya aku tau. Trus kamu akan menuruti kemauan Ibuku?" tanyaku pelan.
" Kamu layak bahagia Zahra, dan kebahagiaanmu mungkin bukan bersamaku. " Lalu dia bangun dari duduknya dan meninggalkanku.
"Tunggu Mas, kamu mau kemana?" Aku melangkah mendekatinya.
" Aku mau ke pasar, ada yang harus kutemui. "
" Kamu mau kita berpisah sesuai dengan yang di inginkan Ibu ku?" Kupandang dia dengan sedikit sinis.
" Aku nggak ingin kita berdebat. Aku pergi dulu."
" Sekali kamu melangkah dari pintu itu, seumur hidupku, aku nggak akan pernah memaafkanmu. Dan jangan pernah berharap kamu bisa melihat anak yang bakal aku lahirkan nanti. " segeraku tinggalkan dia dan membanting pintu kamar.
Dia menyusulku ke kamar " Kamu bilang apa? apa kamu hamil?"
" Nggak, yang bilang aku hamil siapa?!"
" Barusan kamu bilang sebelum masuk kamar tadi. "
" Oh.. itu cuma ucapanku untuk menghentikan langkah mu saja. "
Bagaimana Aku bisa hamil, sampai sekarang aku belum pernah melakukannya. Bisik hatiku.
" Nggak lucu Zahra!" sedikit meninggikan nada suaranya padaku.
Aku mendekati nya dan menarik keras kerah jaketnya
" Yang nggak lucu itu kamu, kamu itu terlalu bodoh kalau menuruti kata-kata ibuku yang jelas udah salah." Lalu kutolak dengan keras sampai dia terduduk di pinggir ranjang.
Aku pun duduk disampingnya, ku sandarkan kepalaku dibahu nya.
"Aku wanita kedua yang nggak pantas untuk diperjuangkan bagi mu kan Mas. Kalau kamu mau pergi, pergilah, dua hari ini kamu udah mengajarkanku untuk hidup tanpa kamu. "
Lalu aku berdiri dan meninggalkannya sendiri.
Aku yang saat itu tengah duduk di ruang makan melihat Mas Jaya keluar dari kamar.
"Ayo Zahra, bersiap-siaplah. Hari ini aku akan mengantarmu kepada orang tuamu, ini keputusanku."
Aku benar-benar nggak percaya Mas Jaya melakukan itu. Akupun mengikuti langkahnya. Dia lalu membuka pintu mobil, dan menyuruhku duduk dibelakang.
Sesampai di rumah orang tuaku dia bicara dengan Ibu dan Bapak.
" Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya antar Zahra kemari, bukan berarti saya menceraikannya. Seperti yang Ibu bilang, saya bukan laki-laki yang pantas untuk anak Ibu, tapi bagaimanapun saat ini saya adalah suaminya." Dia diam dan mengalihkan pandangannya padaku.
" Saya akan jemput Zahra kembali, jika Ibu benar-benar sudah memberikan restu itu. Saya mungkin akan memaafkan Ibu, jika Ibu menghina saya, tapi tidak untuk Ibu saya. "
Lalu dia menoleh ke arahku.
"Baik-baik disini. Ini kunci mobil, aku beli mobil itu karena aku nggak bisa mengantar mu lagi. Aku nggak mau kamu kepanasan dan kehujanan. Aku akan tetap bertanggung jawab memberi nafkah mu." Dihadapan Ibu dan Bapak dia mengecup keningku. Lalu pergi.
Malam itu aku mendengar Bapak memarahi Ibu habis-habisan. Aku hanya bisa diam, mendengarkan pertengkaran mereka.
Terlalu kah Ibu ku mencaci makinya, sampai dia semarah ini. Apakah umur perjalanan rumah tangga ku hanya sampai disini. Ku buka galeri di HP ku, ku perhatikan satu persatu foto yang ada, akhirnya air mataku jatuh juga.
__ADS_1