
Indri duduk dengan gusar detak jantungnya berdebar tidak karuan, ia amat penasaran dengan kotak yang pernah dikasih mendiang Grandma nya, berbeda sekali dengan yang lain tampak asik dengan obrolan nya masing masing, disini hanya Indri yang ketar ketir akan isi dari kotak yang ia nantikan
Indri meremas kuas celananya, mengumpat kelambatan kedua sahabatnya , Berulang kali Indri bergumam karena kedua sahabatnya itu sangat lama sekali, bahkan jarak dari kafe ke rumahnya hanya sekitar 15 menit, mengapa sudah hampir sejam kedua sahabatnya itu masih belum juga datang
Indri hendak pamit untuk menghubungi Dipta dan Febri, Sejujurnya Indri sangat khawatir keselamatan kedua sahabatnya itu, apalagi belum lama ini kan Dipta sempat diculik, Indri enggan jika ada kali kedua untuk sahabat nya itu diculik lagi,
Baru saja bibirnya hendak berucap pamit , Dipta dan Febri datang dengan senyum merekah seperti tidak ada dosa, Syalan-_-
" Helooooooo... eprebadeh, how are you? are you okey? " . Sapa Dipta dengan centil
yang dibalas dengan geplakan tas dari Indri yang sudah khawatir ,
" Ih apasih lo, gue baru Dateng udah kena tabokan aja , males banget, tau gitu gue engga usah kesini , " Ucap Dipta
" Kamu kemana aja sih nak, kok lama banget " . Tanya Bunda Lela ketika keduanya sudah duduk di samping Indri,
" Jadi gini loh Bunda, Secara kan aku berdua disuruh kesini, ya tentu aja dong aku harus cantik, masa kesini akunya pake daster " . Jawab Dipta menyerobot minuman yang entah punya siapa
" Maen minum aja lo , gada akhlak " . Grutu Febri
" Ehiya, punya siapa ini?, abisnya aus, gimana dong " . Tanya Dipta di barengi dengan cengiran
" Punya Bang Andri " . Jawab Rendra.
__ADS_1
" Alhamdulillah, akhirnya secara engga langsung gue bisa ciuman gelas bekas bang Andri ".
Semua orang yang mendengar celoteh Dipta tentu saja tertawa tapi tidak dengan Indri yang masih amat penasaran dengan isi didalam kotak yang entah ada dimana.
" Mana barang yang gue suruh bawa? ". Tanya Indri tidak sabaran,
Febri mengeluarkan Kotak yang Indri minta, " Apasih , kok kumpul begini nyarinya kotak, orang mah nyari nya harta karun kek biar gue nya cepet kaya ".
Indri mengambil paksa kotak yang berada ditangan Febri, tidak perduli dengan cibiran Febri yang tidak ditanggapi
" Nih Bunda, buka dong penasaran aku ". Ucap Indri
Bunda Lela tersenyum melihat kotak berwarna Silver, Segera saja Bunda lela mengambil dan membuka kotak tersebut.
Disana terdapat cincin dan sebuah foto dan secarik kertas, Bunda Lela memperlihatkan sebuah foto dirinya ketika masih muda dulu bersama Grandma nya Indri ,
" Ini, kamu baca ya suratnya, itu ditulis langsung sama grandma dan Bunda loh ".
Indri mengambil kertas itu , pelan pelan ia membaca, sebuah buliran air mata lolos begitu saja, ketika ia membaca dan menatap lekat foto Grandma nya dulu , persis sekali dengan Indri , Hanya saja rambut grandma nya berwarna putih khas orang barat dan mata berwarna biru muda,
" Loh kok nangis, " Tanya Andri
Mama buru buru memeluk gadis kesayangan nya, " Mama tau kok adek rindu sama Grandma sayang , "
__ADS_1
Indri mengusap air matanya, Bola mata Indri tertuju melihat Bunda yang saat ini tersenyum begitu tulus menatap Indri,
" Percaya kan apa yang Bunda omongin tentang perjodohan kamu sama anak Bunda? ". Ucap Bunda Lela
Dipta dan Febri yang tidak tau apa maksud dari itu semua tertohok ditempat bahkan keduanya mengangkat bibir mereka tidak percaya,
" What? , Jadi semua ini bener adanya? " . Tanya Febri
" Iya bener , " Jawab Bunda Lela
" Coba nong lo tampar gue sampe gue jadi kayang ". Ucap Dipta
" Kayang teh saha anying , " Jawab Febri
" itu ari sia , yang jelmaan setan palanya weh " .
Febri memukul Dipta dengan tas nya , " Kuyang, ari sia gelo, Kuyang bukan kayang, "
" Emang beda? " .
" kalo kayang itu yang pala lo dibawah kaki lo diatas, dasar jelmaan medi " .
.
__ADS_1
.
.