Suamiku

Suamiku
part 18


__ADS_3

"Permisi pak, boleh saya masuk?"


"Ya masuk lah."


Aku masuk ke ruangan Mas Jaya dan mendekat ke mejanya. Kulihat dia sedang fokus kearah laptopnya.


" ini Pak Map yang dititip Bu Ratna kepada saya."


" Oke. Letak kan saja di meja."


" Baiklah Pak."


Setelah meletakkan Map diatas mejanya aku pun permisi untuk kembali ke tempatku.


Baru saja aku mau membuka pintu dia bersuara.


" Hei Nona, siapa yang menyuruhmu pergi?"


Kubalikkan badanku menghadapnya,  dia menggerak kan jari telunjukkan sebagai pertanda memanggilku.


"Baguslah kalau dia bertingkah seperti Boss disini, setidak nya dia tidak akan lagi menyusahkanku." Gumamku.


Dia berdiri dari kursinya, melipatkan tangan didanya, duduk di ujung meja.


Aku yang berdiri didepannya hanya menundukkan pandanganku, tidak menatapnya sama sekali.


" Siapa nama Mu?" Tanya padaku


Aku yang ditanya seperti itu sedikit kaget, apakah dia ingin mengerjaiku lagi? Bisikku dalam hati.


" Zahra Pak, maaf kalau saya belum memperkenalkan diri saya kepada Bapak." Jawabku masih menundukkan pandanganku.


" Bagus, kalau kamu tau itu."


" Zahra, tolong bantu saya sedikit perbaiki laporan ini " Lalu dia mengambil laptop nya. Dia beranjak dari duduk nya, dan meletakkan laptopnya dihadapanku.


" Baiklah Pak." Lalu aku tarik kursi didepan mejanya untuk mengerjakan yang dia perintahkan. Setelah selesai dia melihat hasilnya.


Tiba-tiba saja dia memelukku dari arah belakang dan berkata "Sayang jangan bersikap formal begini" lalu mencium pipiku.


"Pak, Tolong jaga sikap anda. Ini Kantor." Ucapku kerana kaget atas perlakuaannya.


Aku segera berdiri dan menatap nya.


Mendapatiku yang langsung berdiri dan sedikit menolak keinginannya, Mas Jaya sempat heran, dan air mukanya menunjukkan rasa ketidak sukaan akan sikap yang kuberikan.


Melihat dia seperti itu, kutundukkan sedikit kepalaku.


" Pak, maaf kalau saya ketus kepada Bapak, bukan maksud saya untuk kurang ajar.


Tadinya saya merasa Bapak adalah orang yang baik, yang benar-benar bisa menjaga martabat perempuan, tapi nyatanya penilaian saya terhadap Bapak salah." Ucapku pelan dikalimat terakhir.


"Maksudmu, kau.." Belum dia selesai berbicara aku langsung memotong ucapannya.


"Dengan digantinya Bu Ratna, saya tadinya merasa cemas memang, tapi setelah melihat Bapak, melihat kewibawaan Bapak, saya yakin bahwa Bapak berbeda dengan Boss-Boss lainnya.


Kemarin, dua hari berturut-turut saya sudah menjadi korban pelecehan di kantor ini."


Ucapku sedikit pelan dengan nada sedih.


Masih kutundukkan sedikit kepalaku, tapi ekor mataku mencuri kesempatan melihat ekspresinya.


"Siapa yang melecehkan mu?!" Dia bertanya dengan nada kecurigaan dan terdengar suaranya yang mulai meninggi.


"Tenang Pak, tenang lah. Pelankan sedikit suaramu, jangan buat aku menjadi malu. Aku akan cerita, tapi tenanglah. Dua hari kemarin Bu' Ratna kedatangan tamu, hari pertama menjelang makan siang beliau meminta saya menemani tamunya diruangan ini, dan Bu Ratnapun pergi makan siang, beliau meninggalkan saya berdua dengan tamu nya disini. Tiba-tiba saja, tamunya langsung menarik,mencium dan memeluk saya, dan dia hampir melakukannya pelecehan disini." Kutunjukkan kursi dimana waktu itu dia sedang menciumku.


" Kau!" Ucapnya sambil membesarkan bola matanya.


"Apa boleh saya melanjutkan cerita saya Pak." Pintaku lagi padanya dengan memandang wajahnya.


Dia pun cuma mengangguk. Dan dia memilih untuk duduk kembali di kursinya.


"Dia membuka jilbab saya, dan menciumin saya, perlakuannya yang lembut, membuat saya hampir terlena, akhirnya saya hentikan dia dengan alasan ini di kantor makanya dia memakluminya, tapi setelah itu dia ajak saya makan di luar. Bapak kan laki-laki, pasti Bapak faham akhir ucapan saya ini kan. "


"Hemmmm" Gumamnya, dengan menutup matanya, dan mengusap dagunya. Ada sedikit senyuman dibibirnya.


" Saya fikir kejadian itu hanya berakhir sampai disitu, tapi besoknya dia datang kembali, dan lebih parahnya lagi dia masuk keruangan saya, dia benar-benar mengganggu saya dalam bekerja, sehingga pada saat rekan saya datang dan memberitahu dengan mengatakan bahwa ini kantor bukan tempat mesum, tamu Boss saya itu seketika jadi emosi.


Terpaksa untuk membuatnya diam saya, jadi menciuminya.Bukankah itu perbuatan yang sangat memalukan" Ucapku dengan menggelengkan kepala.


" Dan sialnua lagi Pakkkkk, pada saat saya menghadap Bu Ratna, beliau malah menyuruh dan mengizinkan saya keluar bersama tamunya untuk menenangkan hati tamunya tersebut. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, dia hampir menodai saya dipinggir jalan"


Ucapku dengan sedikit terisak.


"Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, saya dibawa kembali ke kantor, tapi Pak.. " Ku hentikan kalimat ku.


" Tapi kenapa?" Tanyanya dengan cepat.


" Ya.. setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, saya dibawa kembali, tapi jangan kan saya di kasih uang,

__ADS_1


p untuk service saya ke dia, makan pun saya nggak dikasih Pak. Saya benar-benar sedih Pak." Sedikit ku pasang wajah yang memperlihatk kan kesedihan.


" Kenapa kau tidak menolaknya, dan kenapa kau tidak minta makan padanya?" Tanya nya dengan memandang tajam padaku.


" Pak, saya ini hanya karyawan biasa, tadikan saya sudah bilang Boss saya pun mendukungnya. Saya takut di pecat Pak, kalau saya dipecat, saya mau makan apa, sementara suami saya cuma buruh kasar di pasar. Bagaimana saya mau minta makan padanya, sedangkan dia saja hampir melakukan aksinya di pinggir jalan. Mungkin memang tamu Boss saya itu sudah tidak punya uang lagi, setelah dia membayar sewa hotel."


Kutundukkan lagi wajahku, sambil melirik ekspresinya.


Dia yang masih mengelus dagunya, langsung membulatkan matanya begitu mendengar kalimat terakhir ku.


Lalu dia berjalan pelan ke arahku. Setelah dekat dia bertanya " Kau menikmati berkencan dengan nya?" Tanya nya pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.


" Pertanyaan macam apa yang Bapak ajukan, apakah Bapak juga akan melecehkan saya?


Mungkin memang sudah nasib saya bekerja disini akan menjadi korban pelecehan. Ya Allah ampunilah dosa ku. Suami ku maaf kan aku karena sudah mengkhianatimu." Ucapku lirih, sambil mengadahkan tanganku keudara.


Kulihat dia menutup mulut nya untuk menahan tawa.


" Pak, saya izin keruangan saya, terlalu lama saya disini, saya takut akan ada berita buruk, saya nggak mau dikatakan saya menggoda Bapak."


Kusatukan jemari seperti orang yang sedang memohon.


" Pak tolong jangan ada lagi pelecehan terhadap saya, saya hanya ingin bekerja, bukan ingin menggoda."


"Pergi la, pergi." dia menggerakkan tangannya pertanda dia mengusirku.


" Terima kasih Pak, aku nggak salah menilaimu. Aku janji akan bekerja lebih baik lagi buat mu. Kau memang Boss the best Pak." Lalu aku berjalan dan membelakanginya.


Kudengar dia tertawa dengan keras nya, dan aku cuma tersenyum mendengar tawanya.


"Kenapa aku bisa berkata seperti tadi" Bisik hatiku.


"Zahra!" Di panggil nya aku yang hampir menghilang dibalik pintu.


" Ya Pak, kau memanggil ku?"


"Perkenalan pertamamu kepada ku, sungguh luar biasa." Diacungkannya kedua jempolnya kearahku.


" Terima kasih Pak." Jawabku sambil tersenyum.


Masihku dengar suara tertawanya disaat aku menutup kembali pintu kaca, ruangannya.


Begitu aku masuk keruanganku, Ika menyapaku.


" Kau lama sekali disana?" Tanya Ika padaku.


"Kau nggak tau aku hampir mati di dalam sana!" Ucapku.


🌹


🌹


🌹


" Zahra, temani saya makan siang." Terdengar suara Mas Jaya yang memanggilku diambang pintu.


Kulirik jam ditangan menunjukkan jam 11.50.


" Maaf Pak saya nggak bisa, jam 12 saya akan makan siang dengan suami saya. Maaf ya Pak." Lalu aku pun tersenyum.


" Baiklah." Ucapnya dengan mengakat kedua bahunya.


Lalu dia pergi dengan menutup pintu kembali.


"Zahra, lu aneh, dia kan... " Ucap  Ika terputus dengan wajah kebingungannya.


Aku hanya mampu tersenyum melihatnya.


Kulanjutkan kembali kerjaku. Sebenarnya aku ingin tertawa saat itu tapi aku berusaha untuk menahannya.


Setelah Mas Jaya keluar dari ruangan ku tadi, Delivery pesananku pun datang. Selesai membayarnya, dan masih berdiri di depan pintu, kulihat Mas Jaya keluar dari ruangannya.


" Kok kamu disini?" Tanya nya, dan mengecup keningku.


Sepertinya dia udah punya agenda khusus untuk setiap bertemu aku pasti terlebih dahulu mengecup keningku, rasanya bahagia pake banget punya suami seperti itu.


Sengaja nunggu suami datang, biar aku nggak di goda sama Boss baru ku."


Dan dia pun tertawa mendengarnya, lalu masuk kedalam ruanganku.


"Kita shalat dulu yuk Mas, baru kita makan." Ajakku sama Mas Jaya.


Dia hanya menganggukkan kepala. Lalu di bukanya Jas dan dasinya, menaikkan sedikit lengan bajunya.


Aku membantu dia membuka satu  kancing bajunya yang paling atas. Setelah itu kukecup keningnya.


Kulirik Ika yang mencuri pandang kepadaku.


Sepanjang jalan menuju Mushallah kantor dia menggenggam tanganku, tatapan mata tajam dan yang tidak suka masih saja menatapku.

__ADS_1


Tapi tetap aku nggak memperdulikannya.


Ini siang pertama di tempat kerjaku dimana shalatku, langsung di Imami oleh pria yang kucintai.


Selesai shalat dan mencium tangannya tanpa kusadari air mataku sedikit merembes disudut mataku.


" Sayang kamu kenapa?" Lalu merangkul dan mencium keningku.


" Aku nggak apa-apa, saat ini aku merasa aku lebih kuat aja. Makasih sudah menjadi suami yang baik selama ini." Ucap kupadanya sambil menciumin tangannya.


Di ruang Mushallah itu aku nggak menyadari kalau ada beberapa karyawan yang lagi shalat.


" Maaf Pak, apa Bu Zahra ini istri Bapak?" Salah seorang karyawan bertanya.


" Iya." Jawab Mas Jaya singkat.


Lalu dia mengajakku kembali keluar.


" Sayang, kanapa sih pakai acara nangis segala, di kira orang kamu aku apa-apain." Protesnya pada ku saat kami berjalan kembali keruangan.


" Aku terharu aja, ini pertama kali kamu imami aku shalat disini, udah bertahun aku disini, baru kali ini aku merasa bahagia shalat disini." Ucapku, dengan merangkul erat tangan Mas Jaya.


Begitu aku sampai diruangan ku Ika teriak.


" Zahraaaaaaa..... hari ini ada kabar baik buat lu, duduk, duduk" ditariknya tanganku dari genghaman Mas Jaya.


Kulirik Mas Jaya mengerutkan keningnya dan membesarkan matanya, sebahai tanda protes atas kelakuan Ika. Lalu Ika pun menunjukkan HP nya.


" Gua yakin nenek grandong makin panas, nih foto lu, main lu cantik sister, sesuai dengan wajah lo." Lalu diciumin nya wajahku.


Mas Jaya yang masih berdiri didepan pintu berdehem keras. Begitu Ika melihat nya, dia langsung mendorong ku, dengan sedikit berteriak karena kaget.


"Maaf Zahra, Maaf Pak." Lalu dia berdiri kembali kekursinya dan melanjutkan makannya.


" Nanti kita bicara, aku makan dulu." Ucapku sambil melangkah mendekati Mas Jaya dan mengajaknya keluar menuju ruangannya.


"Rasanya menyesal aku buat kalian satu ruangan." Gerutu Mas Jaya pada saat sudah berada diruangannya.


" Alasannya?" tanyaku sambil tersenyum.


"Kalian nanti lebih banyak ngobrolnya dari pada kerjanya." Ucapnya tegas.


Aku yang mendengarnya pun jadi tertawa.


Setelah itu aku makan dengannya, kali ini aku suapi dia dengan tangan ku.


Selesai makan dan membersihkan tangan, ku rapikan lagi bajunya dan membantunya serta memasang kembali dasi nya.


" Sayang, udah hampir jam 1, kamu harus kembali bekerja."


" Aku masih kangen."


" Nanti kalau kamu udah pulang kerja baru boleh kangen-kangenan."


Di tariknya aku dalam pelukannya.


"Sebentar lagi sayang, lima menit lagi."


Kulingkarkan tanganku dilehernya, lalu kupandingi wajahnya.


" Kau buat aku semakin jatuh cinta padamu Mas." Kukecup keningnya.


" Udah ya sayang, aku kerja dulu. Sayang, Boss ku yang baru itu sangat galak, aku takut dia marah." Kuucapkan kalimat itu pelan ditelinganya.


"Oh ya?" sambil membulatkan mataya.


" "Hu'um". anggukku pelan


Lalu dipeluknya aku erat-erat, di kecupnya keningku, dan bibirkupun tak lupa mendapatkan kecupan darinya.


" Makasih atas cinta yang diberi buat ku." Ucapnya dan dipeluknya aku kembali dengan erat.


Dia mengantar ku sampai di depan pintu ruangannya, sebelum berpisah kurapikan sedikit dasinya. Lalu mengecup keningnya.


" Sayang, hati-hati kerjanya, ku dengar salah satu sekretaris mu sangat cantik, tolong jangan tergoda padanya ya. Jangan khianati aku." Ucapku sambil mencolek hidungnya, dan mengedipkan mata.


Kulihat dia tertawa, dan aku pun menghilang dari pandangannya masuk keruangan ku.


" Nggak nyangka gue, lu lebih rajin dari gue." Ucap ku pada Ika setalah duduk di kursiku.


"Gue cuma nggak mau, istri Boss gue yang galak itu ngadu Zahra." Ucap Ika dengan memutar bolamatanya.


" Sialan lu." sambil melemparkan tutup pena padanya.


Kami pun tertawa berdua.


" Za, tadi Siska kesini, dia bilang dia nggak akan nyerah incer laki lu." Ucap Ika disela-sela kesibukan kami bekerja.


" Biarkan saja dia, setidaknya dia udah tau siapa laki gue. Gue cuma mikir, gimana caranya laki gue senang, dan apa yang harus gue lakukan untuk bisa tetap manjain dia. Karena gue tau masih banyak Siska-Siska lain yang ada diluaran sana yang akan mencoba merayu laki gue." Ucapku pada Ika.

__ADS_1


" Gue seneng punya temen seperti lu Za, gue banyak belajar dari lu. Semoga lu selalu bahagia dengan Laki lu yang galak itu." Ucap Ika sambil meledekku.


__ADS_2