Suamiku

Suamiku
Part 34


__ADS_3

Kepalaku masih terasa sangat sakit, perlahan kucoba untuk membuka mata, aku berusaha untuk mengingat apa yang terjadi.


Kupejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga yang ada.  Terakhir aku ingat kaki Mas Jaya terluka.


Begitu membuka mata, Aku merasa sedang ada di kamar sendiri.


" Kakak udah sadar, tadi Kakak pingsan." Ucap Wulan.


" Abangmu gimana keadaanya?" Tanyaku pada Wulan.


" Abang baik-baik aja, bisa langsung pulang. Cuma kakinya harus dijahit."


Wulan menjelaskan bagaimana kejadiannya. Namun dia memintaku untuk bertanya langsung sama Mas Jaya seperti apa kejadian yang sebenarnya.


"Kak minta maaf Zahra, Kakak nggak ada niat buat Heru seperti itu." Ucap Kak Ayu yang berdiri didepan pintu kamarku.


Kupandang dia sekilas, lalu kuarahkan pandanganku pada Wulan.


" Kakak mau apa?" Melihatku hendak turun dari tempat tidur.


" Mau ambil HP mau nelpon Mama." jawabku yang sudah duduk ditepi tempat tidur.


Wulan mengeluarkan HP dan melakukan panggilan kepada Mamanya.


" Syukurlah kalau Mama udah dijalan." Jawabku melalui telpon, dan akupun langsung mematikan sambungan telpon tersebut.


"Zahra boleh Kakak masuk?" Kakak Ayu yang masih berdiri didepan pintu, meminta izin untuk masuk ke kamarku.


Aku hanya mengangguk, dan meminta Wulan untuk meninggalkan akuberdua dengan Kak Ayu, dengan tetap membiarkan pintu tetap terbuka.


" Kakak mau bicara apa?" Tanyaku padanya setelah dia duduk dikursi bekas Wulan.


"Kakak minta maaf, nggak sengaja melakukan itu."


Kulihat ada Rasa penyelasan dalam dirinya.


" Kenapa Kakak begitu membencinya, dia sangat menyayangimu, dia ingin Kakak dan Wulan hidup bahagia, dihadapan kalian dia bersikap tegar, dan selalu tegas, kelihatan keras, tapi jauh dibalik itu, dia menangis apabila memikirkan kalian." Ucapku pelan.


Kak Ayu hanya diam.

__ADS_1


" Kalau Kakak merasa kehadiranku di rumah ini untuk merebut kasih sayang Mama, Kakak salah. Aku bersifat manja seperti itu karena aku ingin mengembalikan Anak dengan Ibunya. Pertama kali aku datang ke rumah ini, aku melihat Mama nggak bicara sama dia sepatah katapun, disaat aku bertanya padanya dia bilang nggak ada masalah. Tapi aku tau dia ingin menutupi semua masalahnya.


Dia berusaha menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri, berusaha membuat kita selalu tersenyum, tanpa kita boleh tau apa derita yang dia alami.


Aku hanya seorang Menantu, seorang Istri bahkan akan menjadi seorang Ibu. Setelah aku menikah syurgaku diatas ridho suamiku, sementara syurga suamiku ada bersama ridho orangtuanya. Tugasku sebagai menantu selalu mengingatkan suamiku untuk berbakti pada Ibunya, bukan menjadi pemisah antara Ibu dan anak. Itu bukan hal yang gampang dilakukan, aku harus berfikir dan mencari cara untuk bisa membuat suamiku dan Ibunya bahagia, tanpa menyinggung perasaan mereka.


Aku mencintai adikmu, karena dia juga sangat mencintaiku. Dia nggak ingin aku menangis, terhitung saat sekarang udah tiga tahun aku menikah, sebulan di rumah ini aku baru tau betapa menderitanya dia, selama ini dia nggak ingin berbagi penderitaannya samaku, karena dia pernah bilang dia menikahiku bukan untuk membuatku merasakan penderitaan, tapi ingin membuatku selalu tersenyum bahagia, karena senyumku obat dari segala masalah hidupnya."


Aku nggak mampu lagi membendung air mataku. Kak Ayu yang ada didepanku pun ikut menitikkan air mata.


" Kalian berdua nggak usah menangisiku, karena aku belum mati" Suara Mas Jaya mengagetkan aku dan Kakaknya.


"Massss!" Dia melangkah dengan menggunakan kruk mendekatiku dan Kak Ayu, lalu duduk disebelahku.


" Kakak nggak salah, aku yang salah kalau aku nggak jalan kearah Kakak, hal ini nggak akan terjadi. Aku minta maaf ya." Ditariknya tangan Kakak Ayu untuk dipeluknya.


"Kau tetap Kakaku yang dulu, yang kusayangi, aku tau kemarahanmu, setelah ini jangan marah lagi. Aku rindu kita bercanda seperti dulu, keluarga kita udah nggak lengkap, kalau sayang sama Papa, dengarkanlah aku, aku akan berjuang untuk mu.


Aku memisahkanmu dengan anakmu, tujuanku biar Ayahnya bertanggung jawab, sampai anakmu udah remaja sekarangpun mantan suamimu nggak berubah. Aku udah persiapkan Nia akan sekolah disini. Sabarlah." Diciumnya puncak kepala Kakaknya.


Setelah minta maaf dengan tulus Kak Ayupun pergi dari kamarku.


Aku melangkah mau mengambil tisu diatas meja rias, tapi langsung ditarik Mas Jaya, dan memdudukkanku dipangkuannya.


" Aku mau ambil tisu"


" Kita mandi aja, aku dah gerah banget, udah sore juga. Mulai hari ini kau akan memandikan tiap hari sampai aku sembuh." Ucapnya sambil tersenyum menggodaku.


"Kamu nggak usah mandi, aku lap aja ya, aku takut kamu demam."


"Aku bukan meja Zahra yang cuma dilap aja. Ayolah kita mandi"


Kutuntun dia ke kamar mandi. Segera aku membantu membersihkan dirinya. Setelah membantu melilitkan handuk dipingganya kuminta dia keluar.


"Tunggu aku di luar ya Mas, bajuku udah basah. Nanti aku masuk angin kalau makaikan baju kamu duluan." Ucapku dengan menyunggingkan senyum.


"Zahraaa.." Panggilnya pelan..


"Nggak usah pakai acara drama lagi Tuan Heru Sanjaya, aku dah basah ini, punya suami nggak peka banget sih."

__ADS_1


Dia langsung diam, dan sedikit mengunggingkan senyum, namun wajahnya menunjukkan rasa kecewa.


Aku yang melihatnya seperti itu jadi nggak tega.


" Sayang... " Panggilku pada saat dia sudah keluar dari kamar mandi.


"Aku mandi sebentar ya, sebentar aja." Lalu kukecup keningnya, dan mencium bibirnya. Diapun menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Bapaknya aja seperti ini, bagaimana nanti anaknya. Bisik hatiku.


Selesai Shalat Isya dan menyuapinya makan serta memberinya minum obat, aku memutuskan untuk nggak keluar lagi dari kamar.


" Bagaimana kejadiannya? apa kata dokter?" Tanyaku sambil merebahkan kepalaku diatas pahanya.


" Aku nggak tau kejadiannya, tapi aku yang mendekatinya, pada saat dia mengayunkan sabitnya, aku lewat. Ya pergelangan kakiku jadi korbannya." Ucapnya dengan membelai rambutku.


"Kata dokter aku nggak apa-apa, cuma perlu istirahat aja. Makasih sayang udah mengkhawatirkanku."


" Zahra, terimakasih menemani hidupku, terimakasih membantuku mengembalikan keutuhan keluargaku lagi. Aku bahagia Mama udah mau bicara denganku lagi.


Aku tau Allah sayang samaku, setelah aku kehilangan DIA memberiku ganti sepertimu."


Aku segera bangun dan mencium pipinya.


"Kau adalah orang yang benar-benar pantas menggantikan tugas Bapak, Mas."Lalu kuperbaiki posisi bantalnya, menyuruhnya berbaring, dan meletakkan kepalaku didadanya.


Sengaja kupejamkan mataku, biar dia segera tidur. Perlahan kudengar suara nafasnya yang mulai teratur.


Kau benar Mas, sejauh apapun terbang bangau pulangnya pasti ke kubangan juga. Kau dibesarkan dengan kasih sayang, rasa itu sudah berakar dan mendarah daging dalam dirimu, disaat kau berontak dan ingin lari dari rasa itu, tetap aja rasa kasih itu membimbingmu untuk kembali.


Kulihat pintu kamarku ada yang buka, Mama berdiri di depan pintu. Pada saat dia melangkahkan kakinya memasuki kamarku, kupejamkan mataku.


Kurasakan Mama mengecup kepalaku, yang menjadikan dada anaknya sebagai bantalku.


"Doa Mama selalu bersama kalian Nak." Ucapnya pelan, dan kembali menciumku. Lalu pergi dan menutup pintu.


Kulayangkan pikiran pada Ibuku, masih kuingat betapa malunya dia waktu mengetahui siapa menantunya. Perlakuan Ibu yang selalu bersikap buruk padanya, tapi Mas Jaya nggak pernah membalasnya.


"Bapak malu sama suamimu, sampaikan maaf Bapak nggak bisa mendidik Ibumu, jadi istri yang baik Zahra dengan begitu kamu membantu mengurangi dosa Bapak." Itulah ucapannya terakhir kali aku bertemu Bapak.

__ADS_1


Kulepaskan pelukanku dari Mas Jaya, kupandangi wajahnya. Aku akan menyayangimu lebih dari nyawaku Mas, aku akan berusaha jadi istri yang baik, karena aku sangat menyayangi Bapakku.


*****


__ADS_2