Suamiku

Suamiku
Part 30


__ADS_3

Aku tau bahwa Mama Mertuaku sangat menyayangi putranya, terbukti dengan dia memasak apa yang menjadi kesukaan anaknya.


Aku akan belajar seperti kamu Ma, kelak akupun akan menjadi seorang Ibu, membesarkan anak-anak dengan cinta dan kasih sayang.


Seperti apapun putramu, kamu tetap menyayanginya meskipun dalam diammu.


" Perutku kenyang banget sayang, aduh.....  sakit banget rasanya."


Kulihat Mas Jaya sedikit susah bernafas.


Perlahan dia jalan keruang TV. Aku sempat tertawa lihat dia berjalan sambil memegangi perutnya.


" Kamu ngetawain aku!"


" kamu baru kekenyangan makanan nggak sampe jumlahnya dua kilo udah nggak sanggup jalan, gimana seperti aku."


Disandarkannya badannya didinding, Wulanpun duduk disampingnya.


" Abang mau makan lagi nggak?" Perlahan Wulan menyuapkan puding mangga kemulutnya sendiri.


" Enak loh Bang, ini mangga kita sediri." Ucap Wulan.


"Kamu mau membunuhku!"


"Ambil bantal Lan, dah nggak kuat Abang jalan lagi." Ucap Mas Jaya pada Wulan dengan sedikit meringis menahan sakit perutnya.


Melihat dia meringis seperti itu aku juga nggak tega melihatnya.


Wulan udah datang membawa beberapa bantal.


" Dek, tolong ambilkan tas Kakak di Kamar, maaf ya kalau ngerepotin." Ucapku pada Wulan.


Mama pun datang menghampiri, melihatnya merintih menahankan sakit.


"Kenapa dia?" Tanya Mama.


" Kekenyangan, jadi sakit perutnya Ma." Jawabku.


" Itu bukan kekenyangan aja, tadi itu ikannya kepedesan, cabe yang dipakai juga cabe rawit semua. Mama nggak nyangka dia akan habisin semuanya."


" Trus gimana dong Ma?" Tanyaku sedikit khawatir.


" Kasih minyak angin aja." Jawab Mama.


Kudengar Mas Jaya masih merintih merasakan sakit diperutnya.


" Ayo ke kamar aja biar aku obati."


" Aku nggak kuat jalan Zahra, disini aja." Ucapnya dengan lirih.


" Geseran kesudut ya, siapa tau Wulan atau yang lain mau nonton."


Kunaikkan sedikit bajunya, untuk mengoleskan minyak telon diperutnya.


" Jangan pakai minyak telon, aku nggak suka baunya." Disingkirkannya minyak telon dari tanganku.


"Trus pakai apa?" Tanyaku.


" Minya zaitun kamu aja." Ucapnya pelan, masih dengan merintih menahankan rasa sakit.


" Mana ada minyak zaitun menghilangkan rasa sakit."Ucap Ulan Menimpali ucapan Mas Jaya.


Diambilnya botol Minyak dari tanganku, dilemparkannya ke arah Wulan.


" Udah nggak usah berantem. Emang benar kata Ulan" Sambil kupukul perut Mas Jaya yang sedang kuolesi minyak.


Dimiringkannya tubuhnya kearahku, diletakkanya tangannya diatas pahaku, masih terdengar suara rintihannya, tapi sudah nggak merintih sekuat tadi. Perlahan suara rintihannya hilang.


"Tidur Kak?" Tanya Wulan.


" Sepertinya." Jawabku.


Akupun berdiri karena udah terlalu pegal pinggangku rasanya duduk berlama-lama.


Kuhampiri Mama mertuaku yang sedang ada di dapur, yang sedang mencuci kacang hijau.


" Mama mau masak bubur kacang ijo?"

__ADS_1


" Untuk besok, direndam dulu malam ini, Heru senang makan itu."


"Ma.. Masih ada pudingnya?"


" Itu untuk Heru."


Kupegang kedua tangan Mama mertuaku. "Kalau yang mau makan cucu Mama boleh nggak?" Ku naikkan kedua alisku.


" Kamu?!" Diliriknya perutku.


Kuanggukkan pelan kepalaku.


" Boleh Nak, ayo duduk dulu. Besok Mama buat yang baru untuk dia. Udah berapa bulan sayang?" Sambil mengambilkan puding mangga yang ada dikulkas.


" Udah lima bulan."


" Ngak terlalu kelihatan" Ucapnya.


" Iya, tapi kalau dipegang udah kerasa."


" Rencana kalian sampai berapa lama disini?" Tanya Mama yang sekarang sedang duduk di depanku


" Lusa juga udah pulang." Sambil menyuapkan puding kemulutku.


Kulihat ada sedikit kekecewaan dalam raut wajahnya.


" Jaga calon cucu mama baik-baik ya." Ucapnya pelan.


Lalu aku berdiri, berjalan kearah Mama, dan memeluknya dari belakang.


" Kami akan disini sampai Mama bosan lihat kami, sampai Mama yang mengusir sendiri Anak, Menantu dan Cucu Mama." Lalu kukecup pipinya.


Kutarik kursi kosong yang ada didekatnya, kugenggam erat-erat jemari Mertuaku itu.


" Maaa.. Terimakasih, sudah melahirkan, mendidik, menjaganya sampai seperti sekarang. Terimakasih juga membesarkannya dengan kasih sayang dan cinta, sehingga dia juga bisa menyayangiku, dan menjagaku dengan cinta dan kasih sayang."


Diraihnya kedua pipiku dan dihujaninya aku dengan ciumannya.


" Tapi Mama sudah gagal mendidiknya." Ucapnya lirih dengan suara bergertar.


"Mama bukan gagal mendidiknya, Maaa... Anak Mama itu pernah bilang, setinggi-tinggi bangau terbang pulangnya pasti ke kubangan juga, sejauh-jauh ombak pergi akhirnya akan ke Pantai juga. Dan Anak Mamapun seperti itu juga."


"Mama kecewa dengannya."


Kupeluk beliau.


"Zahra nggak tau apa yang Mama kecewakan dengannya, sebagai isrtrinya, Zahra minta maaf atas perbuatan Mas yang udah buat Mama kecewa ya."


Bukan hanya Mama yang kecewa dengannya, akupun kecewa dengannya Ma. Bisik hatiku.


" Zahra udah ngantuk Ma, Za ke kamar duluan ya." Kulepaskan pelukanku dari beliau.


" Mama jangan nangis, luntur cantiknya." Kukembangkan senyum untuknya, lalu kukecup keningnya. Dan akupun berlalu dari hadapnnya.


Pada saat aku melewati ruang TV, aku sudah nggak melihat Mas Jaya, aku yakin dia pasti udah di kamar. Begitu aku membuka pintu kulihat dia sudah tertidur.


Sebelum aku naik ke tempat tidur, terlebih dahulu aku cuci muka dan sikat gigi.


" Kamu dari mana sayang?" Tanya Mas Jaya begitu aku merebahkan diriku.


"Kamu suka banget ngagetin. Aku sangka kamu udah tidur tau."


" Aku habis kencan sayang." Kumiringkan tubuhku menghadapnya dan menopang kepala dengan satu tanganku. Kupandangi wajahnya, mata,hidung, serta bibirnya.


" Kenap memandangiku seperti itu? Apakah aku terlalu tampan?" Tanya nya dengan penuh percaya diri.


" Kamu mau tau kenapa aku mandang kamu seperti itu?" Ucapku sambil mencibirnya.


Dianggukannya kepalanya.


" Entah kenapa aku bisa cinta dan suka dengan pria brengsek seperti kamu." Langsung kukecup bibirnya.


" Oh ya, aku brengsek?"


" Pikir aja sendiri, kalau nggak brengsek apa namanya." Sambil kususuri wajahnya dengan jari telunjukku.


" Sayang... " Ucapnya pelan...

__ADS_1


" Hummm." Kuletakkan wajahku diatas wajahnya. " Mas, jangan pernah sakiti aku dengan cara menduakanku ya."


" Kalau menyakimu dengan cara yang lain?"


" Jangan jugalah." Kurapatkan tubuhku dengannya,kususuri wajahnya dengan hidungku.


"Jangan menggodaku Zahra."


"Hummmm... Honey, aku boleh bilang sesuatu" Bisikku ditelinganya.


"He'eh"


"Tolong matikan lampunya."


Setelah itu kujauhkan diriku darinya dan merebahkan diriku dikasur.


" Zahraaaaa!!!!" Ucapnya dengan sedikit mengeram... sambil membesarkan matanya.


Aku cuma tertawa melihatnya dan langsung menarik selimut untuk menutupi wajahku.


" Kau slalu saja mengerjaiku." Ucapnya, lalu turun dari tempat tidur, dan mematikan lampu. Setelah itu direbahkannya tubuhnya dengan membelakangiku.


" Mas kamu merajuk."


"Enggak, tidurlah. Perutku masih sakit." Ucapnya dingin.


" Mas, aku kenapa jadi rindu sama Pak Heru ya, apa kabarnya Bossku itu."


" Dia lagi disiksa istrinya." Jawabnya dengan ketus.


" Aku masih ingat pertama kali dia menggantikan Mbak Ratna. Senyumnya sangat manis sekali. Ingin rasanya kucium dengan lama bibirnya. Tapikan nggak mungkin ya Mas, diakan sudah punya istri."


Dibalikkannya tubuhnya kearahku.


" Aku nggak menyangka istriku senakal ini, membayangkan laki-laki lain, disaat aku tidur disebelahnya. Menjijikkan sekali tingkahnya." sambil tersenyum sinis.


" Kau nggak tau Mas, saat itu sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi karena aku sudah dilecehkan selama dua hari berturut-turut, belum lagi di rumah aku melayanimu, buat aku benar-benar capek saat itu."


Kamipun tertawa sambil bercerita mengingat kejadian saat itu.


*******


Pagi sehabis subuh aku tidur lagi, udara pagi yang dingin membuatku untuk bermalasan.


Sinar mentari pagi yang masuk ke kamarku membuatku terjaga.


perlahan aku turun dari tempat tidur, setelah mencuci muka, dan memoles sedikit wajahku, aku keluar kamar.


" Pagi Ma" Kusapa mertuaku yang sedang duduk diteras belakang rumah.


" Pagi sayang... Apa kamu nggak merasa mual kalau pagi sayang?" Tanya mertuaku.


" Dulu iya, sekarang udah nggak lagi." Jawabku singkat, lalu mengambil gelas yang berisi teh manis.


" Itu minum Mama."


" Tau, tapi cucu Mama pingin minum ini." Kusunggingkan senyum padanya.


" Zahra nggak menyangka Zahra punya mertua sebaik Mama, biasanya antara mertua dan menantu susah sekali akurnya."


" Itu tergantung dari kedua belah pihak menyikapinya Nak... Kalau kamu menguasai suamimu, maka pada saat suamimu ke tempat orangtuanya kamu akan merasa iri, begitu juga sebaliknya jika ibu mertuamu ingin menguasai suamimu, maka dia akan sakit hati kalau suamimu berpihak padamu."


" Iya sih Ma... " Jawabku sambil meneguk sedikit teh dalam gelas yang kupegang.


Kulihat Mas Jaya yang berdiri didepan pintu.


" Sayang duduk sini." Panggilku sama Mas Jaya, dan aku berdiri dari kursi yang ku duduki untuk ditempati Mas Jaya.


" Kamu bawa HP?"


" Ada" Jawab Mas Jaya.


Kuambil HP dari tangannya, kuajak dia untuk berfoto bertiga dengan Mamanya. Awalnya keduanya menolak, karena kupaksa akhirnya mau juga.


" Ayo kita foto bertiga" Ajakku pada Mas Jaya dan Mama.


" Mama banyak kerjaan lain Zahra" Ucap mertuaku dan berusaha berdiri dari kursinya.

__ADS_1


" Maaa.. entah kapan moment seperti ini akan ada lagi. Kali ini, untuk kenangan buat Zahra."


Akhirnya dia duduk kembali. Kupanggil Bi Yanti, untuk mengambilkan foto kami. Ada beberapa foto yang dia ambil. Tapi yang paling istimewa adalah foto dimana aku dan Mas Jaya memegang tangan Mamanya dan mencium pipinya. Foto itu kusuruh Mas Jaya mencetaknya, dan memajangnya diruang tengah.


__ADS_2