Suamiku

Suamiku
Part 48


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁


Keberadaan Ibu Mertua di rumahku yang tadinya kurasakan akan menyudahi permasalahan, ternyata semakin memperkeruh keadaan.


Aku tidak tau, apa yang dimau Kakak Iparku itu. Rasanya ada saja yang salah dimatanya. Suaminyapun sudah hampir angkat tangan dibuatnya.


Malam ini Mas Eko, datang ke rumah, sengaja ingin bertemu Mas Jaya dan Mama, serta Wulan. Dia minta solusi, bagaimana menyikapiΒ  sikap keras kepala Kak Ayu.


"Zahra, duduklah disini, tolong bantu kasih pendapat" pinta Mas Jaya padaku.


"Maaf Mas, untuk hal ini aku nggak bisa ikut campur" Dihadapan semuanya aku meminta maaf.


Aku nggak ingin masuk kedalam ranah yang bisa membuat hubungan kekeluargaan semakin buruk. Aku lebih memilih bergabung dengan anak-anakku.


"Mama" Panggil Queen dengan senyuman khasnya yang baru saja habis ganti baju dengan Bi Ijah.


"Mama peluk Mbak aja, sini sayang" lalu aku menarik Rindu dalam pelukanku.


Queen hanya diam saja, dia langsung memeluk Bi Ijah. Aku langsung memeluknya, karena melihat perubahan raut wajahnya.


Rindu langsung memeluk adiknya. "Adek Mbak cakep banget, baju kita samakan" Ucap Rindu pada Queen.


Aku dan Bi Ijah hanya tersenyum melihat keduanya.


Rindu memang sangat pendiam, jarang sekali bicara, tapi dia sangat pandai menjaga adiknya. Hanya saja aku memang melarangnya untuk tidak sering-sering bermain ke rumah Kak Ayu.


Yang membuat Queen sering marah dengan Dinda, karena dia sering diledekin, karena Rindu bukan Kakaknya Queen.


Tapi Rindu tidak pernah mengadukan itu pada Papanya.


Hampir setiap malam Rindu selalu bercerita padaku, Rindu juga mengatakan kalau Nenek mereka sering dimarahi oleh Budenya


Aku pikir, permintaan Maaf Iparku disaat dia melukai Mas Jaya, akan merubah sikapnya, ternyata tidak.


Rindu sudah tidur, tapi tidak dengan Queen, sampai semuanya pulang dia masih saja bermain.


Disaat Nenek dan Papanya masuk ke dalam kamar dia masih aktif bermain.


"Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Mas Jaya pada Queen, sambil mencium putrinya, dan mengendong Queensha.


"Dia tidur sama kita yah?!" Mas Jaya meminta persetujuanku.


"Kalau kamu masih betah puasa, ya udah" Jawabku pelan, sambil mengambil Queen dari gendongannya.


Kulihat, Mama sedang duduk disisi tempat tidur. Beliau lebih memilih tidur sekamar dengan Rindu dan Queen, serta bersama Bi Ijah.

__ADS_1


Sebelum aku melangkah keluar kamar, dengan membawa Queen, Mama meminta untuk Queensha tidur bersamanya.


"Dia tidur dengan Mama saja, Mama udah terbiasa tidur dengar celotehannya" Pinta Mertuaku itu.


"Kamu mau tidur sama Mama_Papa, atau Nenek?" Tanyaku pada Queen.


Queen hanya diam, memandang aku dan Mas Jaya dengan kebiasaan menggigit bibir bawah dan menunjukkan kedua gigi serinya.


"Sama Papa?" Tanyaku kembali.


Dia masih diam, kelihatan raut wajahnya yang sedikit bingung.


"Sama Nenek" Jawabnya dengan senyum.


"Kamu itu kebiasaan kalau ditanya jawabnya lama, mikirnya kepanjangan" ku cium kening, kedua mata,dan kedua pipi putriku itu. Lalu menaikkannya diatas tempat tidur.


Kejahilan Queen memang nggak bisa dihilangkan, disaat dia lihat Mbaknya sudah tidur, diciumnya pipi Rindu, lalu keisengannyapun muncul dengan menutup hidung Rindu, sampai Kakaknya mengeliat.


Setelah itu dia akan tertawa dengan menutup mulutnya.


"Anak kamu memang jahil" Ucap Mas Jaya pada saat aku mengunci pintu kamar.


"Sama seperti Papanya" Jawabku sambil merebahkan diriku ditempat tidur.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Jika aku mengajakmu kembali ke Jakarta bagaimana? Rasanya tanggung jawab terhadap kedua saudaraku sudah selesai, mereka sudah punya keluarga masing-masing" Ucapnya sambil menarik nafas.


"Tadi sudah dibicarakan ini semua, aku mengalah, rumah ini akan ditempati Wulan, dia terlalu jauh harus bolak-balik dari rumahnya dan perkebunan ini, rumah Mama di tempati Kak Ayu. Kita lebih baik pergi dari sini" dia menyambung kembali ucapannya.


"Tidurlah, nggak usah terlalu banyak berfikir nanti kamu sakit" aku bangun dari posisiku, dan bersandar dikepala tempat tidur, meletakkan kepala Mas Jaya dipahaku.


"Apakah dengan kita pindah itu akan lebih baik?" Tanyaku sambil membelai rambut Mas Jaya.


"Kita udah terlalu sering bertengkar hanya karena anak, sama seperti kita, jika anak kita dimarahi orang lain, kita akan emosi, begitu sebaliknya, sangat manusiawi jika orang tuanya juga marah, dan pada akhirnya, anaklah yang jadi sasaran pelampiasan emosi orangtua" dipeganggnya pipiku dan diusapnya dengan lembut.


"Aku yang merasakan sakitnya seperti apa kamu melahirkan putri kita Zahraaa, kalau aku memukul dia, itu hanya menepuk pelan saja, karena aku gemes" Ku tundukkan wajahku mengecup keningnya.


"Tidurlah, aku sudah ngantuk sayang." Kugeserkan kepalanya dari pangkuanku.


Aku sadari, mungkin aku terlalu egois karena emosiku kadang memicu terjadinya konflik didalam rumah tanggaku. Nggak selamanya aku berada diposisi yang benar.


πŸ€


πŸ€

__ADS_1


πŸ€


Beberapa hari putri kecilku itu tidak membuat keributan, tapi pagi ini, seisi rumah hampir bingung menghadapi sikapnya.


Mulai dia bangun tidur, sampai mandi dan berpakaianpun ada saja tingkah konyol yang dilakukannya.


Disaat aku sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi keduanya, dia sudah duduk diatas meja makan sambil memukuli meja dengan sendok. Disaat Rindu menyuruhnya diam, Rindu tak luput dari sasarannya, sendok yang ada ditangannya digetokkan kekepala sang Kakak.


Mas Jaya yang melihat itu benar-benar memarahinya. Lalu memeluk dan mendiamkan Rindu, yang langsung menangis.


Pada saat dia memandangku, aku tau dia butuh bantuan dan pertolongan dari ku sebagai Mamanya.


Kupandangi wajah Queen, disaat mataku beradu pandang dengannya, dia menundukkan kepala, dan itu tidak berlangsung lama.


"Mama marah?" Tanyanya padaku.


Neneknya dan Bi Ijah yang mendengar pertanyaan polosnya seketika tertawa. Tapi aku tidak menjawab perkataannya.


Terkadang perkataan perkataan Queen adalah perkataan-perkataan yang sering aku dan Mas Jaya ucapkan. Makanya terkadang aku lebih berhati-hati jika ingan melontarkan kata-kata disaat dia ada disekitar kami.


Mas Jaya menghampirinya, sorot mata Mas Jaya sedikit memperlihatkan emosinya.


"Papa, Mama marah sama Queen" Ucapnya mengadu kepada Mas Jaya.


"Papa juga marah, kamu dengan enaknya mukul Mbak begitu" Ujar Mas Jaya, sambil megusap rambut Queen.


Mendengar ucapan Mas Jaya Queen hanya bilang "Ooh"


Queensha, mau marah gimana, nggak marah ngeselin... Pada saat aku menyuapi putriku makan, dan yang lain juga sarapan bersama.


Mama menceritakan seperti apa kelakuan Mas Jaya sewaktu kecil.


"Dulu, Heru juga begitu, kalau ada anak orang yang luka, maka orangtuanya akan meminta pertanggung jawaban ke rumah. Sakin terkenalnya, anak orang lain yang berantem, padahal bukan dia yang mukul, jika ditanya siapa yang mukul, maka jawaban mereka adalah Heru"


Mas Jaya memang nggak pernah menceritakan masa kecilnya padaku. Kalau bukan mertua yang menceritakan seperti apa kelakuannya aku juga tidak akan pernah tau.


Tapi kali ini, disaat mertua menceritakan seperti apa dia, aku jadi tertawa.


"Makanya jangan salahin anak Mas, denger apa kata Mama" Ucapku dengan sedikit meledeknya.


"Kamu belum makankan, sini aku suapin kamu" Ucapnya langsung memasukkan makanan kemulutku.


Rindu yang mendengar Neneknya menceritakan masa kecil Mas JayaΒ  juga meledek Papanya.


"Papa juga dulu nakal Queen" Ucapnya sambil terkekeh dengan menutup mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2