
๐๐๐๐
Kelas terakhirku di isi oleh jam Pak Roni, beberapa kali, aku memperhatikan cara memandangnya yang berbeda. Begitu jamnya berakhir dia memanggilku keruangannya.
Aku sempat tanda tanya ada apa dia memanggilku. Begitu aku sampai di ruangannya, dia menyuruhku masuk.
Awal pembicaraan dia memang membahas tentang mata kuliah yang dia ajarkan, tapi itu tidak lama, sampai dia membahas tentang coklat yang aku tolak.
"Pak, saya harap Bapak bisa mengerti, saya wanita yang sudah bersuami, jadi tolong buang jauh-jauh rasa yang Bapak punya"
Aku masih berusaha bicara sebaik mungkin dengan Pak Roni.
"Zahra, apa kamu bahagia dengan orang seperti itu, saya tau suami kamu itu cuma kuli panggul di Pasar, beberapa kali saya melihatnya."
"Suami saya memang kuli panggul, tapi dia masih sangat bisa menghargai profesi orang lain, dan saya sangat bahagia menjadi istrinya"
Aku langsung berdiri untuk meninggalkan ruangannya, disaat aku ingin membuka pintu, Pak Roni menarik lenganku, dan berusaha ingin memelukku, secapatnya kutolak tubuhnya hingga dia terjatuh, dan aku buru-buru keluar dari ruangannya.
Aku masih sedikit gemetar dengan perlakuan yang Pak Roni perbuat.ย Aku langsung menuju jalan raya untuk mencari ojeg, biasanya didepan kampusku masih banyak ojeg pangkalan.
Sesampai di rumah, aku nggak menemukan Mas Jaya dan anak-anak, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 17. 20 menit, sebentar lagi Magrib. Aku segera membersihkan diri sebelum mereka pulang.
Selesai aku mandi, dan sampai terdengar Azan Magrib Mas Jaya dan anak-anak belum juga pulang. Aku sempat tanya Bi Ijah, kemana mereka, Bi Ijah bilang ke kebun sayur.
Sampai ada suara Iqomah di Mesjidpun mereka juga belum pulang. Aku mulai gelisah, ingin menelpon Mas Jaya, tapi jam segini atau lagi bersama anak-anak dia pasti nggak akan angkat telponku.
Aku putuskan untuk ke rumah Mama, bari sampai di depan pintu, aku lihat anak-anakku sudah berlari menuju rumah, disusul wulan, dan Doni.
Setelah memeluk kedua putriku itu, aku bertanya sama Wulan dimana Mas Jaya.
"Bentar lagi Abang, sama Mama kesini, mereka lagi dijalan"
Aku ajak semuanya untuk masuk ke ruang tengah. Rindu udah mulai ngantuk, aku minta tolong sama Ulan untuk menjaga Queen, karena aku akan membersihkan Rindu dulu.
Pada saat aku menggantikan pakaian Rindu dengan baju tidurnya, Rindu cerita denganku kalau Mas Jaya tadi jatuh.
"Papa sakit Ma, tadi jatuh, tangannya Papa sakit" Ucap Rindu
"Dimana sayang?" Sambil ku baringkan dia, dan memeluknya.
"Di kebun" Jawabnya.
"Hari ini adek Queen nakalin Mbak nggak?" Tanyaku lagi sambil mengusap kepala Rindu, dan mencium kepanya.
Dia hanya ketawa mendengar pertanyaanku, lalu memelukku dengan erat. Sebentar saja sudah kudengar suara nafasnya yang mulai teratur. Sebelum aku keluar kamar, aku tutupi tubuh mungil putriku itu dengan selimut, ku bacakan beberapa surah pendek, lalu mencium keningnya.
Queen masih asik bermain puzzel dengan Doni.
" Abang jatuh dimana Lan?" Aku coba bertanya dengan Wulan, yang sedang asik nonton TV sambil memakan cemilan.
"Di kebun Kak" Jawab Wulan singkat, lalu dia ke dapur.
Wulan berusaha menghindari pertanyaanku. Jalan satu-satunya aku coba bertanya pada Queen, disaat seperti ini biasaanya kurcaci kecilku ini lebih jujur dari pada siapapun.
"Sayang, Queensha, peluk Mama, kangen Mama sama anak Mama yang cantik ini" Sambil merentangkan kedua tanganku.
Queen langsung memelukku, menciumi wajahku, dan aku juga nggak mau kalah menciuminya juga.
__ADS_1
"Papa mana sayang?" Tanyaku masih sambil menciumin putri kecilku itu.
"Papa sakit Ma, jatuh tadi" Jawabnya dengan mata yang dibesarkan, diapun bercerita kalau tangan Mas Jaya diperban.
Namanya anak bercerita tentu sebatas yang dia mampu, tapi aku cukup puas dengan jawabannya. Dengan Queen mengatakan tangannya dililit kain Itu sudah membuatku menarik kesimpulan dia pasti diperban, dan itu pasti bukan luka ringan.
Sampai aku mengajak Queen sikat gigi, dan mengganti pakaiannya untuk tidur, Mas Jaya belum juga kembali. Sementara Doni dan Wulan sudah pamit untuk pulang.
Saat aku keluar dari kamar anak-anak, aku melihat Mas Jaya yang sedang duduk di meja makan. Kulihat tangannya yang dibalut perban.
" Kamu kenapa sayang?" Tanyaku setelah mengecup keningnya.
"Aku nggak apa-apa cuma keseleo aja, selama sakit seperti ini, aku minta maaf nggak bisa antarin kamu" Aku hanya mengangguk menjawab ucapannya.
"Aku lapar, Mas. Kamu udah makan?"
"Aku juga belum makan"
Akupun langsung mengambil makanan dan membawanya ke meja makan. Disaat aku sedang makan Mama datang membawa makanan dan beberapa kue kering, untuk cucu-cucunya.
Sebelum beliau pulang, dibelainya kepalaku dan Mas Jaya, lalu dikecupnya kening Mas Jaya dan aku secara bergantian.
"Tetaplah seperti ini kalian, Mama sangat bertrimakasih kamu sudah merawat anak Mama dengan baik Zahra"
Aku hanya menganggukkan kepala, lalu beliau pulang.
"Dulu aku sering, melihat Mama dan Almarhum Papa makan berdua seperti ini. Aku takut Mama jadi ingat Papa"
" Udah, kita makan ya, Mama punya kenangan tersendiri" Lalu aku meneruskan makanku.
Selesai makan, aku bercerita sebentar dengan Mas Jaya, mempertanyakan tentang kegiatan anak-anakku.
"Hari ini aku angkat tangan jaga Queen, nggak ada takut-takutnya itu anak, ayam Mang Jajang yang dalam kurungan dilepas, anak ayamnya dipencet sampe mati, sakin dia geramnya" Mas Jaya menceritakan apa yang dilakukan putrinya.
Aku cuma tersenyum mendengar ucapannya. Ku kecup pipinya berkali-kali, lalu sengaja kupejamkan mataku, biar Mas Jaya merasa aku sudah tidur.
Setelahย merasa yakin Mas Jaya sudah tidur, aku lalu turun dari atas ranjangku. Aku ke dapur untuk membuat teh herbal, lalu masuk lagi ke dalam kamar, dan duduk di teras kamarku.
Berkali-kali kutarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.
Kusandarkan tubuhku disandaran kursi kayu yang sedangku duduki.
Kulayangkan pikiran pada kejadian hari ini yang menimpaku dan Mas Jaya. Mas Jaya, banyak sudah kebahagiaan hidupnya yang dia sudah korbankan, untuk apa yang dia capai saat ini.
Jika dia sudah berkorban banyak, aku pun harus melakukan hal yang sama, semua demi keluarga kecilku, dan demi cintaku pada Mereka.
'Maaf kalau keputusanku harus mengecewakanmu nanti Mas' Bisik hatiku.
Setelah mengambil keputusan apa yang terbaik menurutku, aku masuk ke kamar, merebahkan diri disebelah Mas Jaya.
Kupandangi wajah pria yang sudah banyak menelan pahit manis kehidupan dunia ini.
'Kau adalah jodoh yang terbaik yang Allah berikan, dan aku harus menjaga itu' Kuletakkan wajahku disamping wajahnya, kukecup pipinya.
"Makasih atas semuanya sayang, semoga Allah selalu menjagamu, memanjangkan umurmu, semoga setiap tetes keringatmu dibalas Allah dengan keberkahan" Ucapku pelan ditelinganya.
Kuletakkan tangannku diatas dadanya, merasakan detak jantungnya yang teratur. Sampai akupun akhirnya tertidur.
__ADS_1
๐บ
๐บ
๐บ
Pagi ini aku bangun lebih awal, sebelum Mas Jaya bangun, aku sudah bangun terlebih dahulu.
Aku harus mempersiapkan terlebih dahulu sarapan semuanya sebelum Queen bangun, kalau Rindu bangun jiwa malaikat yang putih bersih masih bersarang diragaku, tapi kalau Queen sudah bangun, jiwaku sudah menjadi abu-abu dibuatnya.
Setelah semua selesai dan meletakkan makanan diatas Meja makan, aku ke kamar anak-anakku, untuk membangunkan mereka, sebisa mungkin diusia dini aku membiasakan anak-anakku untuk bangun subuh.
Mungkin memang agak sedikit kejam, tapi aku harus menanamkan kedisiplinan pada mereka dari usia mereka masih sepolos ini. Dan itu sering menjadi bahan perdebatan aku dengan Mas Jaya.
"Biarkan mereka tidur, kasihan kalau tidurnya dibangunin, nggak puas tidurnya"Itulah kalimat yang biasa kudengar dari Mas Jaya disaat aku membangunkan anak-anak.
'Maaf Mas, bukan aku ingin melawanmu, tapi aku nggak tau umurku sampai kapan, aku hanya ingin Allah melihat usahaku dalam mendidik titipanNya'
Hanya itu kalimat yang kutamankan dalam hati, disaat Mas Jaya memarahiku.
Dari sedini mungkin aku mengenalkan Rindu dan Queen seperti apa cara beribadah dari keyakinan yang ku anut.
Meskipun Queen harus lari kesana kemari, memanjat tubuhku, pada saat menjalankan Ibadah, aku tetap harus sabar.
Disaat Rindu harus berkali-kali menarik adiknya pada saat Queen mulai memanjat tubuhku, padahal posisinya saat itu dia sedang shalat bersamaku (jika aku lagi Shalat) aku nggak boleh memarahi mereka. Tugasku saat ini hanya mengenalkan bagaimana caranya, memberi contoh, ada saatnya mereka akan faham dan mengerti.
Yang aku tau, aku harus punya pertanggung jawaban pada lembaran kertas kerjaku selama aku masih diberi nafas.
Selesai memandikan Rindu, dan menyisir rambutnya, aku mengajaknya untuk sarapan, aku membiarkan Queen yang sedang main di ruang TV sama Bi Ijah, Mas Jaya selesai Shalat Subuh, ku larang untuk keluar kamar.
Belum selesai aku menyuapi Rindu aku sudah mendengar Mas Jaya berteriak di dalam kamar.
Aku tinggalkan Rindu dan berlari kearah kamar, Queen sudah ada diatas perut Mas Jaya dan menarik tangan Papanya yang sakit.
Bi Ijah yang memberesi mainan Queen merasa bersalah membiarkan bocah tengil itu masuk ke dalam kamar.
Segera kuangkat Queen dari perut Mas Jaya. Membawanya keluar kamar, lalu mendudukkan dia diatas meja makan. Kutarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
Kupandangi wajah polos dan senyum manisnya. 'Kamu benar-benar ujian kesabaran buat Mama Queen' Bisik hatiku, lalu memeluk tubuh kecil itu.
Air matakupun keluar disaat aku memeluk Queen. Rindu yang melihatku menangis, juga ikut menangis lalu naik keatas kursi danย memelukku.
"Mama jangan nangis" sambil diusapnya air mataku.
"Mama sama Mbak cengeng" Ucap Queen dengan polosnya, yang akhirnya membuat diriku tersenyum dan tertawa disela air mataku yang masih menetes.
Mas Jaya yang keluar dari kamar melihat aku dan Rindu habis menangis, langsung mencubit pipi cabi Queensha.
"Siapa yang nggak kamu siksa di rumah ini Queen, hari ini jadi anak yang nurut Queen" Ucap Mas Jaya yang masih sedikit kesal dengan anaknya itu.
Mas Jaya meminta Bi Ijah memandikan Queen, Rindupun ikut dengan Bi Ijah, Mas Jaya menarikku ke dalam kamar lalu duduk disisi tempat tidur.
"Maafkan kesalahan anakku Zahra, sabarlah menghadapinya" Ucap Mas Jaya sambil memeluk dan mencium kepalaku.
"Aku juga sebagai Ibunya minta maaf karena lalai menjaganya, membiarkan dia masuk ke kamar dan mengganggumu" sambil menenggelamkan wajahku dalam pelukan Mas Jaya.
Aku berdiri didepan Mas Jaya yang masih duduk disisi tempat tidur, kuraih dan kupeluk kepalanya.
__ADS_1
"Tetaplah saling menguatkan seperti ini ya Mas, pelukan kamu ke aku, itu penguat jiwaku, untuk menghadapi sikap anak kita" Ku kecup puncak kepalanya.