Suamiku

Suamiku
Part 47


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁


Aku terbangun pukul empat pagi. Hari ini aku akan membuat sup ikan untuk Queen dan Rindu, aku memang lebih membiasakan mereka untuk makan ikan dibandingkan ayam atau daging.


Disaat lagi asik memasak, aku dikagetkan bahkan sampai menjerit dengan keberadaan Queen yang memegang bajuku dari belakang.


Sempat aku berfikir tunyul dari mana yang sedang menggangguku.


"Mama" Panggilnya padaku.


Segera kumatikan kompor, dan membawanya duduk didekat meja makan. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Sayang Mama udah bangun aja, mau minum susu?"


Queen hanya menggeleng. Dia lalu meletakkan kepalanya didadaku. Kubelai rambutnya, sambil bersalawat. Mungkin karena nyawanya belum kumpul semua, makanya dia hanya diam.


Tidak berselang lama, dia mulai menjauhkan kepalanya dari dadaku.


"Mama Queen lapar"


"Minum susunya" Ucapku padanya.


"Queen lapar Mama, nggak haus"


Aku tersenyum mendengar ucapannya.


"Mama, lupa sayang, kalau kita minum berarti haus ya, bukan makan"


Diapun langsung ikut tersenyum.


Kubiarkan dia duduk diatas meja makan, sambil aku menyelesikan masakan yang sempat tertunda tadi.


"Nanti setelah anak Mama mandi, kita tempat Nenek ya" Ucapku pada Queen.


"Nggak mau, Kakak Dinda suka cubit Queen" Jawabnya polos.


"Kakak Dinda nggak akan cubit Queen, kalau anak Mama nggak cubit duluan" Ucapku sambil mematikan kompor, dan menuangkan sedikit sup yang sudah matang kedalam mangkuk, biar cepat dingin.


Lalu kudekati putriku yang sedang menjawab ucapanku.


Dia, jambak rambut Queen duluan, Queen nggak boleh main dengan dia, dia cuma teman Mbak aja"


Kuperhatikan dia berbicara dengan gaya tubuh yang dipraktekkan sesuai dengan ucapannya.


' Kamu cerdas Queen' Ucap hatiku.


"Kalau gitu, hari ini, Mama main sama anak Mama boleh apa nggak?" Tanyaku sambil mentoel ujung hidungnya.


"Enggak" Jawabnya sambil menggigit bibir dan menunjukkan dua gigi serinya.


"Enggak?! Jadi Mama main sama siapa dong?"


Dia coba berfikir dan lalu memandangku kembali.


"Dengan siapa?" Tanyaku kembali sambil mendekatkan wajahku kewajahnya.


Dilingkarkan tangannya dileherku.


"Iya deh sama Queen aja, sama Mbak juga ya" Jawabnya lalu menciumi wajahku.


Setelah merasa sup yang sempat kusisihkan untuk makan Queen sudah dingin, aku lalu memberinya makan.


Selesai semua menjalankan Ibadah pagi itu, aku membawa Queen dan Rindu main di halaman. Udara segar tanpa tercemar polusi benar-benar kurasakan sejak tinggal disini.


Aku membiarkan mereka berdua bermain, saling kejar dan saling menggelitik satu sama lain. Aku cukup memperhatikan mereka sambil duduk dilantai teras rumahku.


"Bahagia banget kamu lihat mereka" Suara Mas Jaya mengagetkan, lalu duduk disebelahku, dan mencium kepalaku.


"Tangan kamu udah gimana Mas?" Tanyaku padanya.

__ADS_1


"Udah mendinganlah, udah nggak bengkak lagi, tapi masih nyeri aja" Jawabnya.


Mas Jaya lalu memanggil kedua anaknya untuk mencium dirinya, hanya Rindu yang datang menghampirinya. Queen hanya diam ditempatnya, menunggu Rindu untuk bermain bersama lagi.


"Queen nggak mau cium Papa?" Tanya Mas Jaya padanya.


"Queen nggak kawan Papa, Papakan kemarin bilang Queen nakal, trus pukul Bokong Queen" Jawab Queen sambil mempraktekkan bagaimana Mas Jaya memukul bagian belakang tubuhnya.


Mendengar ucapan Queen Mas Jaya memandangku dengan sedikit rasa bersalah.


"Kenapa kamu pandang aku seperti itu?" Tanyaku dengan datar kepada suamiku itu.


"Aku minta Maaf Zahra" Balasnya.


"Kamu tau kenapa dia masih mengingat perkataan kamu dan perbuatan kamu itu? Padahal tadi malam dia udah nggak ingatkan"


"Enggak" Jawab Mas Jaya singkat.


"Karena kamu mengatakan itu dengan penuh penjiwaan, sesuatu yang disampaikan dengan rasa penjiwaan baik kamu menyampaikan dengan rasa amarah, atau dengan cara lemah lembut, maka kata-kata itu akan langsung terpatri di otaknya" Ku alihkan pandanganku kearah anak-anak itu bermain.


"Sayang, sini aku bisikin" Kudekatkan bibirku ketelinga Mas Jaya.


"Sekali lagi kamu bilang anak-anakku seperti yang Queen bilang, kamu puasa selama sebulan" Lalu kutiup dan kukecup telinganya.


"Sayang, hukumannya kenapa harus melibatkan juniorku" Ucapnya protes.


"Karena juniormu juga nakal Mas, seperti apa kau memukul putriku, maka aku akan membalas tanpa harus menyentuhnya" Ucapku sambil menjauhinya dan bergabung bermain dengan kedua buah hatiku.


"Zahra, sejak Queen masuk pagi itu sampai sekarang aku belum dapat apapun lagi" Ucapnya dengan protes.


"Hahahaa Queen udah mengeksekusinya duluan ya, Mas, kasian amat kamu" Aku tertawa lepas melihat ekspresinya yang sedikit cemberut.


Disaat aku merasa sudah cukup waktunya bermain diluar, aku mengajak mereka duduk di teras untuk sekedar mengeringkan keringat yang sudah membasahi baju kedua putriku itu.


Queen masih belum mau didekati oleh Papanya. Berkali-kali Mas Jaya berusaha untuk menciumnya tapi Queen selalu menghindarinya.


"Sayang, sini Mama bilangin" Aku mengajak Queen duduk dipangkuanku, kugulung rambutnya biar terlihat rapi.


"Iya" Jawabnya


"Kalau anak baik, kalau dipanggil Papa_Mamanya harus mendekat, kalau Papa mau cium kamu, itu karena Papa sayang"


"Nanti Papa pukul Queen lagi"


Ku arahkan pandanganku pada Mas Jaya.


"Kalau kam...." Belum selesai Mas Jaya bicara aku sudah memotongnya.


"Kalau begitu, Papa harus minta maaf" Mas Jaya melirikku dan melihat Queen, lalu dia meminta maaf pada putrinya, mengusap kepala Queensha dan menciumnya.


"Papa udah minta maaf, sekarang anak Mama yang baik hati ini yang minta maaf sama Papa. Baru setelah itu kita mandi sama-sama"


Queen mendekati Papanya, dan meminta maaf sambil mencium pipi dan mengecup bibir Mas Jaya. Aku meninggalkan mereka berdua dan membawa Rindu ke kamar mandi yang ada di kamarku.


Sebelum aku menghilang untuk masuk ke dalam rumah, aku juga meminta Mas Jaya untuk membawa Queen mandi.


Selesai memandikan keduanya, aku meminta Bi Ijah memakaikan pakaian mereka.


Mas Jaya yang masih duduk dipinggiran bak mandi, mulai protes disaat dia melihat ku tidak memperdulikan keberadaannya.


"Aku juga mau mandi Zahra" Ucapnya.


"Udah gede ini, Mama kamu dulu ngajarin kamu cara mandi gimanakan" Jawabku cuek.


"Kamu sammm..." Dia menghentikan ucapannya.


"Kamu mau bilang, aku sama dengan putrikukan?! Jawabku iya. Tapi jangan lupa, sifat jail nya Queen itu diambil dari Papanya"


"Mana ada aku seperti itu" Ucapnya sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Aku dekati Mas Jaya dan membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Kalau Queen pernah memencet anak ayam sampai mati, trus siapa yang lepasin kambing orang yang lagi diikat pada saat kambingnya sedang merumput, Heru Sanjayakan?! Kambing 15 ekor jadi hilang, siapa yang lepasin siapa yang ganti"


Pada saat dia ingin menjawabku aku membungkam mulutnya.


"Kamu kalau protes lagi, mandi sendiri ya" Lalu kukecup bibirnya.


Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku.


🌹


🌹


🌹


Siang hari setelah menidurkan anak-anak, Mama dan Kakak Iparku datang ke rumah. Seperti biasa beliau setiap datang akan membawa makanan untuk cucu-cucunya.


Seperti sebelum-sebelumnya, Kakak iparku itu selalu mengajarkanku untuk bisa membuat Queen menjadi anak yang penurut.


Dia selalu membanding-bandingkan antara Rindu dan Queen, membanding-bandingkan antara Queen dan anak-anaknya.


Berkali-kali Mama menyuruhnya untuk diam, tapi Kak Ayu semakin menjadi ucapannya. Sampai dia mengatakan "Anak kamu dikasih makan apa, sampai nakal seperti itu" Aku langsung menggebrak meja makan, dimana aku dan yang lainnya duduk disana.


"Aku terima Kakak menjelak-jelekkan aku seperti apa, tapi jangan sekali-kali menyebut anak ku nakal. Senakal-nakalnya Queen dia nggak pernah memukul orang lain terlebih dahulu."


Mas Jaya yang melihat ku menggebrak meja, menjadi emosi. Dia memarahiku dihadapan Mama dan Kakaknya, sehingga Kakaknya merasa seperti diatas angin atas pembelaan adiknya.


Sebelum meninggalkan meja makan, aku terlebih dahulu meminta maaf pada Mertua atas sikapku yang tidak sopan. Lalu aku masuk kedalam kamar anak-anak dan menguncinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dua hari aku nggak menegur Mas Jaya, dan dua hari itu juga dia memilih tidur di kamar tamu, selama itu juga aku nggak membiarkan Queen main ke rumah Neneknya.


Sore itu sesudah memandikan Queen aku datang ke rumah Mama untuk menjemput Rindu.


Aku nggak tau kalau Mas Jaya ada disana, saat aku ingin berbalik arah Mama memanggilku.


"Kamu nggak memperbolehkan Queen main lagi ke Mama?" Tanya beliau dengan lembut.


"Maaf Ma, Za hanya nggak inggin Queen menyakiti siapapun"Jawabku setelah berbalik memandang Mertuaku yang berdiri didepan pintu, setelah itu aku berlalu meninggalkan rumahnya.


Queen yang sedang ku gendong, memanggil Neneknya.


"Mama, Nenek" Sedikit memberontak dia meminta turun dari gendonganku.


Demi putriku yang nggak tau permasalahan itu, aku berbalik kerumah mertua, kuturunkan Queen dari gendonganku.


Aku yang masih malas bertemu Kakak iparku, lebih memilih duduk diluar. Wulan menghampiriku.


"Kak, Wulan titip Mama, Doni mengajak untuk tinggal di rumahnya"


"Apa pendapat Abangmu?"


"Dia tadinya Marah, Karena Ulan bilang, namanya Istri harus ikut sama suami, dia diam, apalagi Mama membenarkan"


Kurangkul Wulan, aku sudah cukup tau kenapa Doni memilih pindah dari rumah Mama. Diantara salah satu saudara pasti ada aja, yang diciptakan sebagai bahan ujian buat bagian keluarga itu.


Aku meminta Mama untuk ikut ke rumahku. Dengan alasan yang berhak merawat Mamanya adalah anak laki-laki.


Malam itu juga Mama ikut kami ke rumah.


"Zahra, terimakasih mau menampung Mamaku di rumah ini" Ucap Mas Jaya pada saat aku sudah merebahkan tubuhku dan membelakanginya.


"Itu kewajibanku, dulu kamu dibesarkan beliau di rumahnya, dikasih makan, diberi pendidikan yang layak, sampai kamu memilihku menjadi istri, saatnya aku membalas atas perlakuan beliau kepadamu" Ucapku pelan.


"Zahra..." Dipegangnya bahuku.


"Tidurlah Mas, melihat kejadian ini aku memikirkan putriku, semoga dia kelak bisa menerima keadaan Ibu Mertuanya, dan sebaliknya"

__ADS_1


Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku. Masih kudengarkan Mas Jaya yang sedang bercerita, tapi sudah tidak kutanggapi lagi.


'Kamu punya pilihan dalam hidup Queen, sepeti apapun kamu nanti, itu pilihan hidup yang kamu tempuh, harapan Mama dan Harapan semua Orang Tua, tentu menginginkan memiliki anak yang soleh dan soleha' Bisik hatiku.


__ADS_2