Suamiku

Suamiku
Part 31


__ADS_3

Tanpa terasa satu bulan sudah aku tinggal di rumah mertuaku. Meskipun Mama sudah mau bicara dengan Mas Jaya, tetap saja masih ada jarak antara Ibu dan Anak itu.


Aku terbangun dari tidur siangku, karena mendengar suara ribut-ribut seperti suara orang yang lagi berdebat.


" Syukurlah kamu udah bangun, kita pulang sekarang." Ucap Mas Jaya dengan raut muka seperti orang yang menahan amarah.


" Kamu kenapa Mas?" Tanyaku dengan rasa heran.


" Nggak usah banyak tanya, kita pulang sekarang! Kamu pakai daster itu aja, pakai jilbab kamu!"


"Mas.."


"Kamu dengarkan aku Zahra, kita pulang sekarang dan jangan buat aku selalu mengulang-ulang pembicaraan!!!"


Kuikuti langkah kaki Mas Jaya.


" Heru sama Zahra pulang Ma."


Mama yang duduk di dapur hanya menganggukkan kepala, nggak jauh dari Mama duduk kulihat Kak Ayu, Kakaknya Mas Jaya. Waktu aku menikah dia juga datang.


Kususul Mas Jaya yang udah duluan masuk ke mobil, berkali-kali dia mencoba menyalakan mesin mobilnya, tapi nggak mau nyala juga.


" Kamu mau bawa aku pulang dalam keadaan emosi gini! Apa dengan kamu pergi dalam keadaan emosi semua masalahmu selesai!" Ucapku pada Mas Jaya yang dari tadi kudengar hanya mengupat dan mencaci maki seseorang.


" Kamu selesaikan masalahmu secara baik-baik Mas, aku nggak bisa ikut kamu pulang kalau kamu dalam keadaan marah."


Saat aku membuka pintu mobil hendak keluar, Mas Jaya marik lenganku.


"Aku kepanasan disini, aku bisa kekurangan oksigen dimobil ini!! Konyol aja kamu! Keluar kamu,aku mau bicara sama kamu! Itupun kalau kamu memang merasa kamu laki-laki!!" Langsung aku keluar dari dalam mobil, dan membanting pintu.


Begitu dia keluar dari mobil, aku ajak dia duduk di bangku dibawah pohon besar yang ada di halaman rumah.


" Apa masalah kamu Mas?" Kupandang Mas Jaya dengan sedikit menyipitkan mataku


" Nggak usah ikut campur dengan urusanku."


" Oke, mulai hari ini aku nggak ikut campur dengan urusan keluargamu. Anggap aja aku ini wanita simpananmu yang nggak boleh tau apa-apa. Hubungan kita mulai hari ini bukan suami istri.


Alhamdulillah ya Allah sedikit berkurang beban hidupku."


Lalu aku berdiri dan menjauh dari dia. Rasanya pengen aku jambak-jambak rambutnya saat itu juga.


" Ngomong apa sih kamu Zahra."


" Aku hanya berterima kasih aja sama Allah, aku nggak punya hubungan ama pria plin plan kek kamu!" 


" Duduklah, nggak usah marah-marah, sejak hamil, kamu bawaannya marah terus. Nggak capek apa, aku aja capek liat kamu marah-marah. Kalau sekarang kamu dimasukkan ke kandang singa yang lapar, singanya yang mati kamu buat." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


Hampir aku tertawa mendengar ucapannya. Namun aku cukup gengsi melakukan hal itu, masa habis marah-marah aku langsung tertawa, kan nggak lucu.


Kudekati dia, dan duduk disampingnya. Kutarik nafas dalam-dalam.


" Aku nggak bisa cerita Zahra, aku nggak tau harus mulai dari mana, aku bukan perempuan yang dengan gampang menceritakan apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Mengertilah."


Digenggamnya kedua tanganku. "Yang aku tau, aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu, aku ingin bersama kamu hidup dimasa depan bukan dimasa lalu."


Apa yang dikatakannya memang ada benarnya.


" Maafin aku ya Mas. Aku cuma mau kita sama-sama memecahkan problema yang ada, aku takut kehilangan kamu."

__ADS_1


"Akupun nggak mau kehilangan kamu. Kalau aku ditanya, aku senang kita tinggal disini, aku senang bisa ngumpul lagi sama Mama, melihat dia begitu menyayangimu aku sangat bahagia" Ucap Mas Jaya.


" Aku juga mau kita tingal disini, tapiiii...." sengaja kugantung kata-kataku.


" Tapi kenapa?"


" Aku malu sama Mama, karena dia pernah menegurku."


Kusandarkan kepalaku dilengannya.


" Mama bilang apa?"


"Mama menyuruhku memberi tahumu, kalau udah tengah malam jangan suka buat keributan."


Mendengar ucapanku dia langsung tertawa.


"Kenapa kamu tertawa? Tanyaku pada Mas Jaya.


" Habis enak Zahra, jadi aku sering kelepasan."


" Kamu memang nggak tau malu Mas." Lalu kutarik tangannya dan kuajak dia untuk masuk ke rumah.


Sampai di dalam rumah, kulihat Mama lagi mencuci piring. Dimeja makan yang ada di dapur itu juga ada Wulan yang sedang makan buah.


" Ada yang tinggal Nak?" Tanya Mama begitu melihatku kembali.


" Ma, Zahra lapar, sebelum pulang maunya Mama suapin dulu."


Diajaknya aku masuk.


" Kamu makan buah nggak nawar-nawarin, takut banget diminta."


Wulan yang mendengar ucapanku cuma tertawa. Aku duduk diantara Wulan dan Mama.


"Wulan minta suapin abang jugalah." Di sodorkannya piring yang berisi buah kehadapan Mas Jaya.


Aku langsung tertawa "Dia nggak bakal nyuapin kamu, lihat aja dia makan sendiri."


Karena kulihat Mas Jaya berkali-kali memasukkan buah kedalam mulutnya, dari pada ke Adiknya.


Aku memperhatikan Kak Ayu yang dari tadi hanya diam, dengan raut wajah tidak senang.


"Mama terlalu memanjakan mereka, dan kamu juga Zahra, kamu cuma menantu jadi jangan sok manja." Ucap Kak Ayu dengan sinis.


Semua mata langsung mengarah kepada Kakak Iparku itu.


"Kakak nggak boleh ngomong seperti itu Kak, dari dulu Kakak selalu saja buat Abang nggak betah tinggal disini."


Kuusap punggung Wulan."Jangan dilawan" Bisikku pada Wulan.


"Aku tau, kalau Abang nggak masuk penjara, Kak Ria nggak akan dibunuh orang, Papa nggak akan bunuh diri karena nggak sanggup menanggung malu, tapi kitakan tau kalau Abang nggak salah, ini semua udah jalan hidup kita, lagian memang mantan suami Kakak aja yang nggak tau diuntung, disaat kita ada musibah dia ceraikan Kakak, tapi begitu sekarang kita dah seperti ini, ngemis-ngemis minta balik lagi sama Kakak. Kalau Kakak mau balik sama dia, Kakak bodoh! Suamimu yang sekarang orang baik, bertanggung jawab, dia nggak mau hidup dibiayai Abang. Itu baru laki-laki. Aku memang yang kecil disini, tapi aku juga punya hak menyampaikan pendapatku." Setelah meluapkan emosinya, Wulan masuk ke dalam.


Kuarahkan pandanganku kearah Mama mertuaku. Dia hanya diam dan menundukkan wajahnya. Sepertinya beban hidup yang dia alami cukup berat. Terkadang sesuatu yang kita lihat diluar sangat indah ternyata banyak juga menyimpan derita.


" Mama istirahalah." Ucapku dengan beliau.


Kupegang lengan Mas Jaya, dan mengajaknya ke kamar.


"Apa yang kamu rasakam sekarang Mas?"

__ADS_1


" Maafkan atas kelakuan Kakakku Zahra."


" Aku tau kamu pria yang baik Mas, semua ini ujian hidup. Benar kata Wulan, ini jalan hidup keluarga kita. Aku faham sekarang kenapa Mama diam denganmu."


" Mama diam denganku karena dia sangat kecewa denganku."


Didudukkanya aku diatas meja rias, diletakkannya kedua tanganku diatas bahunya. Dipegangnya pipiku, perlahan dikecupnya lembut bibirku. Didekatkan wajahnya dengan wajahku.


"Pandanglah mataku dengan jarak sedekat ini, lihatlah apakah aku berbohong apa tidak, kalau kamu tau siapa aku, kamu nggak akan meninggalkankukan Zahraaa." Ucap Mas Jaya dengan suara yang sangat pelan.


"Enggak." Jawabku singkat.


"Beri aku kekuatan sebentar untuk meyakinkan diriku, agar bisa menceritakannya padamu." Sekali lagi dia mengecup bibirku.


"Kau mau tau alasan Mama mendiamkanku?"


Aku hanya menganggukan sedikit kepalaku, karena wajahku masih sangat dekat wajahnya.


"Karena Mama yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, aku yang membunuh orang yang memperkosa adikku."


Jantungku hampir lepas mendengar pengakuanya.


"Pandanglah mataku Zahra, setelah tau ini apa yang akan kau lakukan?"


Kudorong tubuhnya menjauh dariku. " Udah Mas, aku nggak mau dengar lagi. Kamu benar, lebih baik aku nggak tau apa-apa."


Dengan keadaan lunglai dijatuhkannya tubuhnya ke lantai. Aku segera turun dari atas meja yang kududuki, Kusatukan lututku dengan lututnya. Kukecup keningnya.


" Jangan menangis Mas, kita sama-sama hadapi semuanya, aku nggak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun."


Segera kupeluk dia. " Maafkan aku yaa.. tolong maafkan aku."


"Aku menyesal Zahra, aku sangat menyesal melakukan semua itu." Ucapnya dengan lirih.


Kudiamkan dia dalam pelukanku. Maafkan aku Mas, aku nggak tau masa lalumu seperti ini. Aku tau kau pria yang baik, keadaan yang membuatmu menjadi seperti ini....


" Mas.. kita mandi yuk udah sore." Kuraih tangannya, kuletakkan diatas perutku. " Malu sama dia, masa kita mau nangis terus."


" Kau memang istri yang baik Zahra, aku nggak akan menemukan perempuan sepertimu lagi."


" Makanya jangan bentak-bentak aku lagi. Udah nangisnya." Segera aku bangun dan menuju kamar mandi.


"Kamu nggak mau mandi sama aku? Jangan sampai aku tutup pintunya."


"Kamu slalu saja menggodaku." Dilangkahkannya kakinya memasuki kamar mandi.


" Sejak kapan kau mulai menyukai ku Mas?"


" Sejak kau masih sekolah."


" Hahahaa.. ternyata kau seorang pelaku pedofil juga."


" Kau juga."


" Aku nggak pernah mencintai anak kecil."


"Kau lupa kalau kau selalu menggoda Heru Sanjaya junior, sampai kau yang ditegur Mamakan."


"Hahaha.. Sayang itu beda cerita."

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


(Apakah ini yang dinamakan setelah hujan ada pelangi)😂😂


__ADS_2