
"Zahraaa, buka pintunya!!"
Aku yang dipanggil hanya diam saja. Aku tetap sibuk menyusun pakaianku kedalam koper kecil.
Untuk pulang ke rumah orang tuaku saat ini rasanya tidak mungkin. Tapi, untuk tinggal satu atap dengan Mas Jaya rasanya hatiku sudah enggan.
Mas Jaya terus saja memanggilku.
"Kamu sudah dua minggu ini mendiamkan ku.. Ayolah Zahra, bukalah pintunya "
Dengan berat hati aku membuka pintu kamar.
" Apa maksudnya pakaian dalam koper ini?" Tanya nya heran.
Aku tetap diam pada saat dia bertanya seperti itu, dan tetap sibuk dengan aktifitasku.
Aku sadar perbuatanku saat ini bukan hal yang baik. Namun apalah daya sebagai seorang manusia, aku menyadari ini kelemahanku, usia yang masih cukup muda tidak mampu membendung sikap egois dalam diriku.
" Kemana kamu pergi aku akan ikut. Sebagai suami aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian. "
Aku yang mendengar ucapannya, langsung menoleh kepadanya.
" Kalau kamu memang anggap aku seorang istri, ngak seharusnya kamu merahasiakan banyak hal padaku. "
" Agar kamu tahu, aku mau menerimamu sebagai seorang suami, karena aku mengagumi kepribadianmu.
Ya... selama aku hidup dengan mu, aku merasakan kelembutan sikap mu, kedewasaanmu, aku merasakan bahwa kamu berbeda dengan laki-laki kebanyakan yang diluaran sana, tapi terlalu banyak hal yang kamu sembunyikan padaku.
Dan hal yang paling membuat aku terguncang pada saat kamu membawa Rindu kemari !!" Ucapku dengan rasa emosi dan terus saja memasukkan pakaianku.
" Dan aku tetap tidak akan membiarkan mu pergi dalam keadaan seperti ini, apalagi seorang diri.
Saat ini aku tau kamu sedang emosi, aku tahu kamu tidak ingin diganggu oleh siapapun, justru karena keadaanmu yang seperti ini, aku tidak akan pernah jauh dari mu" Ucapnya berusaha untuk meyakinkan ku.
Aku tetap nggak menghiraukan ucapannya.
" Zahra... " panggilnya seraya menepuk pundak ku.
" Bisa tidak sih kamu itu ngak menggangguku!" hardikku padanya.
bukan kemarahan yang aku dapatkan, justru dia tersenyum pada saat aku membesarkan mataku padanya, dan menghardiknya seperti itu.
" Kamu tambah cantik kalo seperti itu " ucapnya sambil tersenyum, lalu mengusap kepalaku, dan pergi meninggalkanku.
Selesai shalat subuh, aku memutuskan pergi dari rumah. Lagi pula Mas Jaya pagi ini pastinya sudah ada di pasar.Taxi yang akan mengantarku ke terminal telah menungguku di depan rumah.
"Selamat tinggal Mas. Aku rasa kamu akan lebih bahagia tanpa aku"
Nggak perlu waktu lama untukku menunggu bis yg akan membawa langkahku ke suatu Desa di bawah kaki gunung Cermai.
Aku sudah bisa membayangkan desa kecil dengan hamparan sawah, udara yang dingin dan segar, setidak nya berada di rumah nenek dan kakekku, akan membuatku lebih tenang...
Suara kondektur memanggil para penumpang, seperti alunan irama lagu yang membuat orang yang mendengarya serasa terhipnotis untuk mengikuti teriakannya.
Sambil menunggu bus untuk jalan, dengan seksama aku mendengar syair lagu yang dinyalakan sang supir. Perlahan bis yang kutumpangipun berjalan...
Aku menghempaskan nafas untuk melegakan sedikit pernafasanku meskipun tidak terasa sesak, namun rasa dada seperti ada beban yang berat.
Sepanjang perjalanan entah kenapa pikiranku selalu menuju kepada suamiku. Kenapa sosoknya tidak bisa hilang dari bayanganku, mengingat kejadian disaat dia mengatakan bahwa Rindu adalah anaknya, cukup membuatku terasa sakit.
"Kamu harus kuat Zahra, kamu ngak boleh nangis, nggak ada yang perlu ditangisi lagi. Masih ada hari esok yang lebih baik" hibur hatiku...
Semilir angin, dan alunan suara musik membuat aku nggak mampu untuk menahan rasa ngantuk. Perlahan dan pasti mataku mulai terpejam.
Aku terbangun karena bus berhenti, untuk menaikkan penumpang lain, aku melihat disebelahku sudah duduk seorang ibu yang lagi tertidur dengan memangku anaknya.
Aku melirik jam ditanganku.. hummm cukup lama juga aku tidur... nggak terasa sebentar lagi aku akan sampai.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Begitu aku turun dari bis, aku merasakan udara yg berbeda... Udara yg lebih segar, jauh dari polusi.
Pepohonan yang berbaris rapi dan luanya hamparan sawah yang membentang, membuatku merasa seolah-olah sedang berada di syurga dunia.
aku segera menuju pangkalan ojeg yang ada, baru saja aku melangkahkan kaki beberapa langkah, aku dikejutkan dengan bunyi klakson motor yg ada dibelakangku. Saat aku menoleh aku melihat wajah yang tidak asing bagiku....
"Kau?!" Ujarku.
" Ayo naik sayang. Aku sudah bilang.. kalau aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi seorang diri. " Sambil meraih koper kecil yng kubawa.
" Bagaimana kamu bisa tau aku akan kemari? " Ucapku setelah aku naik diatas motornya dengan suara yang cempreng itu.
Seperti biasa... Ucapan dan pertanyaanku tidak akan pernah dijawab, dan permbicaraannya akan beralih kehal lain.
" Kamu pintar cari tempat untuk kita bermadu kasih, sayang. Suasana desa yang indah.. udara yang tidak ditemukan di kota besar. Kita akan lama disinikan, sayang??? " ujarnya dengan senyum yang mengembang.
" Nggak usah mengkhayal kamu!" ucapku kesal
Aku mendengar dia cuma tertawa.
Selama aku duduk dibelakangnya aku tidak mengeluarkan sepatah katapun...
__ADS_1
Aku hanya mendengarkan senandung lagu yang dia nyanyikan sepanjang jalan, dan beberapa kali juga aku melihatnya bersin.
Suaranya pun mulai berubah seperti orang yang sedang kena influenza.
Begitu sampai di depan rumah, aku langsung turun dari motor dan masuk ke dalam rumah mencari Akki dan Nini ( itu panggilanku kepada orang tua dari Ibuku), tapi aku tidak mendapati mereka di dalam rumah.
Mungkin mereka sedang di sawah pikirku.. Aku lihat Mas Jaya meletakkan koperku di depan pintu, setelah itu dia duduk dianak tangga, dan aku mulai melihat dia kedinginan, sambil mengusapkan kedua telapak tangannya.
"Minumlah, selagi masih panas" Aku sodorkan teh jahe padanya.
Segera dia meminumnya, dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih.
" Nggak adakah orang di rumah?" tanya nya.
" mungkin mereka sedang di sawah" Jawab ku sambil aku masuk ke dalam rumah. Aku menoleh kebelakang, aku sangka dia akan menyusulku, tapi sedikit pun dia tidak beranjak dari tempat duduknya.
Segera aku membersihkn kamar, naluriku sebagai seorang manusia juga masih ada, aku nggak tega melihat dia kedinginan seperti itu.
Setelah selesai membersihkan tempat tidur, aku segara menghampiri Mas Jaya untuk menyuruhnya masuk dan istirahat.
" Mas, kenapa masih duduk disitu, masuklah " Aku raih tangannya, jari-jarinya terasa dingin, wajahnya sedikit memerah, kubawa dia masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar tamu yang ada di rumah ini, dan menyuruhnya istirahat.
" Aku tau Mas capek, istirahatlah "
Dia segera merebahkan tubuhnya. Lalu aku berbelik meninggalkannya. Baru saja sampai diambang pintu dia memanggilku dengan suara yang lemah.
" Zahra.."
Aku yang dipanggil segera menoleh
" Hemmmm... ada apa Mas? "
" Aku lapar Za, dari pagi tadi aku belum makan "
" istirahatlah, aku buatkan makanan sebentar, nanti kalau sudah selesai aku bangunin Mas" Aku mencoba untuk tersenyum.
Meskipun rasa sakit hati ini masih ada, tapi, melihat kondisinya seprti ini, akupun merasa iba.
Aku hanya memasak dengan bahan yg ada, syukurnya ada beberapa sayuran yg bisa kubuat sop, untuk menghangatkn tubuh, ada tempe yang bisa kugoreng, dan beberapa buah cabai yang akan kujadikan sambal.
Setelah semua selesai aku menuju kamar, aku lihat Mas Jaya sudah tertidur. Sebelum membangunknnya, aku coba memegang keningnya. Feeling ku benar, dia demam.
" Mas... " Panggilku dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.
Setelah dia membuka mata nya kuajak dia untuk makan.
" Maaf, aku tertidur, udah selelai masak nya? "
" Aku cuma buat sayur sup, dan tempe goreng saja" Jawabku.
Aku langsung mencegahnya untuk bangun " Mas disini saja, biar aku bawa makanannya kemari, kamu sepertinya lagi kurang sehat"
" Aku nggak kenapa-kenapa, Zahra"
Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan... "Terserahlah" Ucap hatiku.
"Aku minta maaf karena pergi dari rumah tanpa seizin dari mu. Aku hanya ingin menenangkan fikiranku." Ucapku tanpa memandang wajahnya.
Dia hanya diam, dan tetap memegang jariku, sambil menuju keluar dari kamar.
" Kamu ambilkan saja nasinya, aku mau lihat ke belakang dulu" sambil dia berjalan ke belakang.
" Kita makan di luar saja, sepertinya di luar lebih enak swasananya, sambil melihat hamparan sawah. Bantu aku bawa semua nya yaa.. " Ucapnya mengahampiri ku, sambil dia mengangkat bakul nasi,dan tempat sayur.
" Diluar dingin Mas, nanti kamu tambah sakit."
" Ayolah disini lebih nikmat pastinya, dan sudah kubilang, aku cuma lapar saja" ucapnya setelah dia berada diluar.
Aku segera mengikutinya, aku lihat dia sudah duduk bersila di atas dipan yang ada dibelakang rumah...
" Sini duduklah.. temani aku makan disini " Sambil dia menyendokkan nasi kepiringnya.
" Kamu lapar apa doyan mas?? " Aku lihat dia makan sangat lahapnya, sampai nambah.
"Hari ini masakan mu terasa nikmat, ditambah dengan pemandangan indah dan ditemani bidadari, makanya aku semangat"
" Apa karena garamnya berlebihan sampai kamu makan seperti ini? " sindirku...
" Oh bukan Za... hari ini nggak berlebih garamnya, kamu kenapa nggak makan? Kamu juga belum makan kan? ni makanlah, aku suapin" Ujarnya berusaha menyuapiku..
" Makanlah, habiskan.. lihat kamu makan saja aku sudah senang " Ucapku, sambil mendorong tangannya berusaha berusaha untuk menolak.
" Ayolah sekali saja, meskipun ini nanti terjadi hanya sekali seumur hidup ku, setidaknya aku pernah menyupi mu" Dengan senyum yang sedikit mengembang dia berkata seperti itu.
Aku nggak bisa menolak permintaannya.. begitu makanan itu masuk kedalam mulut ku, aku merasakan rasa masakanku yang nggak bisa aku bayangkan.
" Bagaimana rasanya?" sambil dia tersenyum dan menaikkan alisnya.
" Anyep" Ujarku...
Aku dan dia akhirnya tertawa bersama...
__ADS_1
Selesai makan aku dan Mas Jaya Shalat Zduhur bersama. Setelah itu aku menyuruhnya istirahat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Baru saja dua hari aku di Desa ini, Mas Jaya sudah mempunyai banyak teman. Bahkan Akki kupun sangat senang kepadanya. Mudah sekali dia mengakrabkan diri dengan orang lain.
" Suami mu orang yang pandai bergaul Zahra, Akki senang dengannya, bahkan Pak Lurah adalah temannya waktu di Kota.
Mereka sekarang sedang berusaha untuk membuat program dimana hasil panen masyarakat disini bisa dijual dengan harga yang layak. "
Ucap Aki Rahman sore itu disaat kami duduk sore menikmati teh hangat dan pisang rebus.
" Ah yang benar Ki? " Tanya ku tak percaya...
" Suamimu orang yang baik, kata pak Lurah waktu itu sama Akki, bahkan Pak Lurah juga bilang ,kalau Cucu Akki adalah wanita yang beruntung bisa memenangkan hati Jaya"
Aku yang mendengar Aki yang bicara seperti itu hanya mampu membalasnya dengan senyuman.
Sore itu aku banyak dinasehati tentang kehidupan berumah tangga, susah senangnya, dan ujian-ujiannya.
Aku yang mendengarnya hanya bisa diam.
🌼
🌼
🌼
🌼
Aku mendengar suara ponsel Mas Jaya berdering, sementara dia sedang ada di Mushollah untuk Shalat Isya. Awalnya aku tidak menghiraukan tapi karena panggilannya selalu berulang, akhirnya telponnya aku angkat juga.
Belum aku mengucapkan salam, aku mendengar suara seorang perempuan dengan nada suara yang sedikit panik.
Dia mengatakan kalau Rindu sedang sakit, dan meminta Mas Jaya untuk datang dan menemaninya, setelah itu telpon dari sebrang ditutup tanpa aku bicara apapun.
Baru saja aku berusaha untuk menata hati, tiba-tiba hancur kembali.
Tapi inilah mungkin salah satu ujian dalam biduk rumah tanggaku.
" Tadi HP Mas berbunyi, karena tidak cuma sekali panggilannya jadi aku angkat" Ucapku setelah Mas Jaya pulang dari mushollah...
" Oh, tidak apa-apa" Sambil dia merebahkan tubuhnya disebelahku.
" Kamu nggak mau tau dari siapa? "
" Memangnya dari siapa?? " Tanya nya balik.
" Dia bilang Rindu sakit, aku belum sempat bicara padanya, tapi sepertinya dia Ibunya, karena aku dengar dia begitu panik"
" Akan ada orang yang mengurusnya, toh kalau Rindu sakit akan dibawa kedokter yang biasa menanganinya" Ucapnya sambil tersenyum..
Dalam keadaan situasi seperti ini pun tetap saja dia menanggapi dengan tenang, bahkan disaat anak nya masuk rumah sakit pun dia masih bisa tenang. Orang tua macam apa dia pikirku.
Aku yang duduk disampingnya dan melihat ketenangan sikapnya hanya bisa menggelengkan kepala.
" Tapi Rindu kan anakmu, dia pasti sangat membutuhkanmu"
" Dan kamu kapan siap menjadi istriku sepenuhnya, dan siap jadi ibu dari anak-anakku?" Balasnya.
" Tidurlah Mas, sudah malam" Segara aku merebahkan tubuhku, dan membelakanginya. Aku lihat Mas Jaya bangkit dari tempan tidur dan mematikan lampu.
Pikiranku melayang pada Rindu, bocah manis dan mungil itu saat ini sedang sakit, dia tidak punya salah apa-apa terhadapku, aku tidak berhak marah padanya.
Seperti apa kondisiya sekarang. Aku cuma bisa mendo'akan semoga dia baik-baik saja.
Aku berbalik arah menghadap Mas Jaya, aku lihat dia meletakkan kedua tangannya dibawah kepalanya. Aku tau dia belum tidur, aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu.
Kupandangi wajahnya dengan seksama, sedikit kaget ketika kulihat ada bulir air mata disudut matanya.
Perlahan dia memiringkan tubuhnya menghadapku, dan aku coba menutup mataku.
Aku rasakan ibu jari tangannya mengusap lembut pipiku, aku tau saat itu dia pasti sedang memandangiku. Tak lama dari itu aku merasakan diapun mengecup keningku.
" Aku tidak takut kau mengetahui tentang aku, tapi hal yang aku takutkan kau pergi meninggalkanku. Aku sayang kamu. Sangat sayang padamu, Zahra. "
Ucapnya pelan, seraya mengecup keningku kembali.
Perlahan kurasakan jarinya menggenggam tanganku, lalu membawa kepipinya.
Hatiku benar-benar terenyuh dibuatnya.
Pagi ini, Nini mengajakku ke pasar untuk membeli perlengkapan dapur yang kurang. Pasar disini adanya cuma seminggu sekali, mulai dari pedagang makanan, pakaian, dan keperluan alat-alat rumah tangga.
Aku berniat untuk membelikan dua buah sweater untuk Mas Jaya, lagi asiknya aku memilih, seorang Ibu muda dengan penampilan yang sangat cantik menyapaku dengan ramah.
" Maaf, anda benar Ibu Zahra, istrinya Jaya, Cucu Ki Rahman???"
" Iya, maaf ibu siapa??? " tanyaku heran, dan mencoba tersenyum kepadanya.
" Saya istri Pak Lurah, saya nggak nyangka ternyata istrinya Jaya masih muda, cantik lagi. Saya dan pak Lurah teman Mas Jaya waktu kita sama-sama kuliah di Jakarta.
__ADS_1
Sayangnya Jaya berhenti ditengah jalan. Dia terpaksa di DO dari kampus tanpa alasan yang jelas. Dari desas desus yang beredar dia di Keluarkan karena tidak mau menikah dengan putri salah satu pejabat Negri ini yang berkuasa pada saat itu. Sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi. " Ujar nya seraya mengingat masa lalu.
Aku ingin bertanya banyak hal pada beliau, tapi aku mengurungkan niatku karena melihat Nini datang menghampiriku. Sedikit basa basi dengan Bu Lurah, akhirnya kamipun pamit pulang.