
ππππ
Saat ini Queensha sudah berusia 3tahun. Aku dan Mas Jaya sepakat untuk mengambil Rindu dan membawa dia bersama kami, agar Queen mempunyai teman.
Berhubung hari ini hari libur, aku memutuskan untuk bermalas-malasan.
"Sayang, kamu nggak mau bangun?" Tanya Mas Jaya.
" Biarlah hari ini aku menikmati hariku sebentar saja Maaass.." Jawabku sambil memeluk bantal guling dengan erat.
"Heran, makin lama jadi makin pemalas aja" Gerutu Mas Jaya.
"Kamu makin tua makin cerewet aja" Jawabku masih dengan memejamkan mata, sengaja kata "Tua" lebih kutekankan.
Kurasakan ada hembusan nafas menerpa wajahku.
"Kamu ngatain aku tua?" Tanya Mas Jaya, sambil mencubit pelan pipiku.
"Kamu semakin hari semakin kelihatan lebih tampan aja Mas"
Ucapku Pada Mas Jaya, dan menarik kerah bajunya untuk bisa lebih dekat denganku.
"Bangun sayang, sarapanlah, selagi anak-anak di rumah Mama" Dikecupnya lembut bibirku.
"Justru selagi Queen di rumah Mama, aku ingin meluk kamu. Kalau ada putrimu itu, jangankan memeluk, dekat denganmupun aku nggak bisa"
Kusingkirkan guling yang ada didepanku, dan menarik Mas Jaya untuk berbaring bersamaku.
Kuletakkan wajahku dileher Mas Jaya, untuk merasakan aroma tubuhnya.
"Kamu semakin hari semakin manja saja" Dikecupnya puncak kepalaku.
"Nggak terasa udah enam tahun kita menikah. Banyak suka duka yang kita lewati, kita nggak tau gelombang apalagi yang akan menghadang biduk rumah tangga kita." Ucapku pelan, masih dengan wajah menempel dilehernya.
"Iya, tetaplah bersamaku Zahra, bersama anak-anak. Kita pasti mampu menghadapi semuanya jika kita bersama" Ucap Mas Jaya.
Dipeluknya erat tubuhku, perlahan diturunkan wajahnya tepat diwajaku.
"Jangan memulai Zahra" Suara Mas Jaya sudah mulai terasa berat.
"Selagi Queen nggak ada, Mas..."
Perlahan satu persatu yang menjadi penutup tubuh antara aku dan Mas Jaya sudah berpindah tempat.
Ditengah perjalanan mendaki puncak, aku dan Mas Jaya dikagetkan dengan suara melengking bocah tiga tahun yang menjadi rivalku di rumah ini.
"Mama...."
"Queensha!" Ucapku bersamaan dengan Mas Jaya.
"Kamu nggak kunci pintu?" Ucapku pelan pada Mas Jaya, yang sudah menenggelamkan wajahnya dibantal tepat disebelah wajahku.
"Aku mana tau, bakal begini" Jawabnya berbisik pelan.
"Papa, awas!" Ditolaknya tubuh Mas Jaya yang masih berada diatasku, yang masih dibawah selimut itu.
Sedikit menggigit bibirku, aku mencoba berucap lembut pada Putri cantikku itu.
"Sayang, Mama minta tolong tutup pintunya yah" Syukurnya Queen mau menurut akan pada ucapanku.
"Turun dulu!" Segera kutolak tubuh Mas Jaya, lalu buru-buru mengambil dan memakai kemejanya yang ada diatas tempat tidur.
"Kamu bukannya di tempat Nenek Queen!" Ucap Mas Jaya pada Queen yang sudah kunaikkan ke tempat tidur dan memeluknya.
__ADS_1
Kudengarkan putri kecilku itu sedang bercerita. Sementara Mas Jaya masih sedikit uring-uringan dibelakangku.
"Ini gimana Zahra!" Erangnya dipunggungku.
"Salah kamu, kenapa nggak kunci pintu, lagian sama-sama tanggung ini" Ucapku sedikit menahan tawa.
"Mama ketawa kenapa?" Tanya Queensha disaat aku mentertawakan Papanya.
"Mama tertawa karena anak Mama cakep banget pagi ini, pinter lagi." lalu mengecup keningnya.
Bersamaan terdengar suara pintu yang diketuk, Mama mertuaku juga sedang memanggil, Mas Jaya yang masih sedikit kesal, segera turun dari tempat tidur, tak lupa dia memakai celana pendeknya.
Sementara Queen langsung memeluk tubuhku erat, dan menenggelamkan wajahnya didadaku, begitu mendengar suara Neneknya didalam kamar.
"Queensha disini?" Tanya Mama begitu Mas Jaya membuka pintu.
"Itu sama Mamanya, kenapa Ma?" Tanya Mas Jaya balik.
Setelah mempersilahkan Mama masuk, dan duduk disisi tempat tidur, Mama menceritakan kalau Queen kabur pulang karena habis menggigit temannya, sampai berdarah.
Aku dan Mas Jaya sontak kaget dengan apa yang dibilang Mama. Kucoba menjauhkan tubuh Queen dari dekapanku, namun dia semakin kuat memelukku.
"Mama nggak marah Nak.." Kukecup kepalanya.
"Nenek juga nggak marah, Nenek kesini cuma mau pastiin Queen pulang apa nggak" Ucap Mama sambil mengelus lembut rambut cucunya, setelah itu Mama langsung pamit keluar.
"Kamu garang amat sih Queen. kalau gemes pasti main gigit" Ucap Mas Jaya sambil menepuk pantatnya. Seketika tangisnya langsung pecah.
Aku mencoba menenangkan Queensha, agar dia nggak menangis lagi, perlahan suara tangisnya semakin mengecil dan akhirnya hilang, terdengat suara hembusan nafasnya yang mulai teratur.
Melihat Queensha sudah tertidur akupun segera turun dari tempat tidur.
"Kamu mandi gih Mas, dari pada nahan emosi gitu"Ucapku masih tetap memeluk Queen.
"Bodo ah"
"Kalian Ibu, anak sama saja. Buat sakit kepala." Gerutu Mas Jaya, dan berlalu ke kamar mandi.
Selesai Mas Jaya Mandi, aku segera bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diriku.
"Aku mau bicara sama kamu Mas, tunggu aku selesai mandi." Sambil mencubit pelan perut Mas Jaya yang sudah menunjukkan sedikit lemak disana.
Selesai mandi dan memakai pakaian aku membawa Mas Jaya ke balkon.
"Mas, Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan sama anak" Ucapku begitu sudah ada di balkon.
"Queen sama kamu sama garangnya" Aura kekesalan sepertinya masih ada pada Mas Jaya.
" Ulang kamu bilang apa?!"
"Aku bilang kamu sama Queen sama cakepnya." Lalu pergi dengan bibir yang sedikit maju, karena menahan kesal.
Pada saat Rindu pulang, aku coba bertanya padanya kenapa Queen sampai menggigit temannya. Benar saja, dia nggak terima karena Mbaknya diganggu orang lain. Mendengar penjelasan Rindu Mas Jaya yang sedang duduk di teras rumah hanya terdiam dan memandangku.
Aku duduk disebelah Mas Jaya yang memandang ke halaman rumah yang sedang ditumbuhi beberapa batang pohon pepaya.
"Kamu masih kesal dengan yang tadi?"
"Udah nggak usah dibahas lagi" Jawab Mas Jaya.
"Resiko kalau punya anak memang begitu, itu akibat kita kurang hati-hati, jangan lampiaskan sama anak" lalu kukecup pipinya.
"Tapikan Zahraaaa..."
__ADS_1
"Aku tau, itulah salah satu alasan kenapa dulu aku meminta kamu memindahkan kamar dia"
"Trus sekarang gimana?"
" Trus sekarang, aku mau makan karena aku lapar" Aku tersenyum lalu menoel hidung Mas Jaya danΒ berlalu pergi meninggalkannya menuju dapur.
Aku yang sedang melihat Rindu lagi bermain dengan Bi ijah segera menghampirinya.
"Sayang Mama, lagi apa? Makan sama Mama Yuk"
"Rindu udah makan Ma, masih kenyang"
"Sama Papa aja makannya, Papa juga lapar" Terdengar suara Mas Jaya yang memasuki dapur.
Bi Ijah segera membawa rindu ke ruang TV. Aku dan Mas Jaya lalu duduk di dekat meja makan, kebiasaan yang nggak pernah aku hilangkan, aku dan Mas Jaya akan selalu makan sepiring berdua, dan saling menyupin satu sama yang lain.
Selesai makan aku dan Mas Jaya mendekati Rindu yang sedang bermain sama Bi Ijah. Tahun ini aku dan Mas Jaya berniat memasukkan dia TK. Sementara Queen aku belum berniat memasukkannya untuk sekolah PAUD.
Dibandingkan Rindu, Queen memang jauh lebih aktif, sementara Rindu lebih banyak diam, dan mengalah dengan adiknya, meski begitu, Queen nggak pernah suka kalau ada yang memarahi Rindu, meskipun hanya sekedar bercanda.
Pernah Mas Jaya sedikit memarahi Rindu, karena memainkan oli bekas untuk pelumas peralatan pertanian Mas Jaya, sampai bajunya kotor. Mas Jaya sedikit menaikkan nada suaranya.
Queen yang juga ikut main, langsung memarahi Mas Jaya. "Queen yang ajak main Papa" Ucap Queen memberi tahu Mas Jaya.
"Kamu kalau ketahuaan Mama main begini, Papa juga dimarahi tau!" Akhirnya Mas Jayapun memarahi keduanya.
Pada saat aku pulang kuliah sore harinya, Queen mengadukan kalau mereka siang harinya dimarahi sama Papanya.
"Kamu dimarahi papa kenapa?"
"Queen sama Mbak main air"
"Dimana?"
Lalau Queen menunjukkan tempat dimana mereka bermain, disana aku melihat ada bekas oli.
Aku langsung masuk ke rumah dan memberi makan mereka berdua, selain bertanya dengan Queen aku juga bertanya dengan Rindu.
Malamnya setelah menidurkan mereka aku mencoba bertanya dengan Mas Jaya, kenapa dia marahi anak-anak. Bukan Mas Jaya namanya, kalau ditanya langsung menjawab, dia pasti akan mengalihkan pembicaraannya ke hal lain.
Namun jangan sebut namaku Zahra, kalau nggak bisa membuat dia bersuara. ππ
"Sayang, aku tidur bareng anak-anak ya"
"Nggak bisa gitu dong, Zahra. Oke aku bilang, aku ngeletakin oli sembarangan, dan dimainkan Queen"
Aku hanya menanggapi jawaban Mas Jaya dengan senyuman.
"kamu nggak marahi aku? Mas Jaya bertanya karena melihatku tersenyum.
"Buat apa aku marah, toh itu hal sepele. Cuma aku heran aja kamu itu nggak pernah belajar dari pengalaman."
"Maksudnya?
"Kamu nggak ingat, waktu kamu, ngeletakin parang sembarangan, dan dimainkan Queen. Kamu yang ketiduran kebangun karena Queen mukul perut kamu pakai parang itu" Aku langsung tertawa terbahak mengingat kejadian itu.
"Anak kita memang luar biasa Zahra, waktu dia lahir saja hampir membunuhku, setelah dia besarpun hampir membunuhku, aku memang harus berhati-hati dengannya"
Banyak hal-hal keunikan lain yang Queensha ciptakan di rumah kecil kami, ingin marah kepadanya tidak mungkin, dia masih dengan kepolosannya yang tidak tau apa-apa, dan selalu ingin tau. Terkadang memang sedikit menguras emosi menghadapi kelakuan Queensha.
Bukan hanya aku dan Mas Jaya yang selalu mendapat perlakuan uniknya, Rindupun kalau tidak mau diajak bermain dengan Queen, sudah pasti akan menjadi sasarannya, yang dilempar sendal, yang ditolak menjauh darinya kalau tidur.
Membentuk karakter kedua anakku untuk bisa lebih baik adalah PR buatku.
__ADS_1