Suamiku

Suamiku
Part 40


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Wulan, tak ada rasa yang bisa mewakili rasa kebahagian dikeluarga Sanjaya.  Mama sangat begitu bahagia akhirnya anak-anaknya menemukan pasangan hidup yang bisa merawat dan menjaga anak-anaknya.


Resepsi pernikahan Wulan hanya diadakan di rumah. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang.


Semua dilakukan karena memang keinginan Doni. Dia ingin semua biaya dia yang menanggung, dan itu sesuia dengan kemampuannya. kita menghargai keputusannya.


Bapak dan Ibuku juga salah satu tamu undangan yang datang. Aku sempat meminta dan memohon sama Ibu untuk Menginap dan tinggal sampai aku melahirkan, tapi Ibu menolakku.


Aku sempat melihat Ibu minta maaf sama Mas Jaya, beliau juga sempat menangis. Terlebih pada saat saat Ibu tau kalau Mas Jaya membelikan Mas Wisnu sebuah rumah.


Mas Jaya pernah menawarkan untuk Mas Wisnu berhenti bekerja di pabrik dan bekerja diperusahaan, tapi aku tolak. Dia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri, karena dia laki-laki. Itu alasan yang kuberikan padanya.


Rencana rumahku yang akan diberikan pada Mas Wisnu batal, entah kenapa hatiku lebih memilih Tante Maya menempatinya.


Kamar yang pernah kutempati tetap dijadikan kamar tamu, khusus untukku.


Melihat Mama memperlakukanku sangat baik, seringnya dia mencium kepalaku kalau aku merasakan mulai tidak nyaman dengan kehamilanku, membuat Bapak senang, tapi itu membuat Ibu menjadi tidak nyaman.


Ibu merasa dia sudah gagal menjadi Ibu buatku. Kerana alasan malu


dia tidak mau menginap di tempatku.


Dengan Ibu aku hanya berpesan, mulai hari ini dan kedepannya rawatlah Bapak secara baik, setidaknya perhatikan makannya.


Sebelum Bapak pulang, aku sempat duduk dengan Bapak sedikit menjauh dari acaranya Wulan.


"Kamu sudah menemukan tempat yang tepat Nduk, Bapak senang kamu hidup dengan orang-orang yang menyayangimu."


Ucap Bapak dikala aku duduk disebelahnya, dan menyandarkan kepalaku dibahunya.


"Waktu ulang tahun kamu kemarin Bapak nggak kasih kamu kado ya, kamu mau minta apa dari Bapak?"


"Nggak ada, cuma minta Bapak sehat aja. Pak, minta tolong, boneka-boneka yang di rumah, tolong cucikan ke loundry, terus bungkus yang rapi. Itu nanti untuk cucu Bapak."


"Memangnya kamu sudah tau, jenis kelamin anakmu?" Tanya Bapak.


"Udah, kata dokter, perempuan. Aku merahasiakannya dari semua orang, kecuali Bapak. Aku mau Bapak orang pertama yang tau."


Selama aku duduk dengan Bapak, dia banyak menceritakan masa kecilku. Kata Bapak, aku memang nggak pernah berkata kasar pada Ibu, tapi aku sering menjahilin ibu. Aku ingat waktu Ibu buat cake untuk ulang tahun Mas Wisnu, padahal satu hari sebelumnya aku minta uang untuk benerin ban sepedaku, sementara waktu itu Bapak ada tugas ke daerah.


Ibu malah menyuruh aku pergi sekolah jalan kaki saja, dan untuk perayaan ulangtahun Mas Wisnu uang jajankupun udah jadi korban. Kue yang sempat Ibu buat, aku potongin kecil-kecil, dan kubungkus dalam cup, lalu aku jual dengan teman-temanku dipengajian.


Uangnya aku pakai buat benerin sepedaku nanti. Waktu aku potongin kue itu, Ibu lagi ke pasar.


Sehabis aku pulang ngaji, aku lihat Ibu di rumah lagi marah-marah.


Sampai seminggu kesalnya Ibu nggak hilang. pada saat Bapak pulang, aku meminta Bapak mengantarkanku untuk memperbaiki sepeda.


Uang dari hasil jualan kue kala itu, tidak langsung serta merta kupakai untuk memperbaiki sepeda, takut Ibuku curiga. Dengan Bapak, aku menceritakan kejadian Ibu marah-marah karena kehilangan kue anak kesayangannya.


Aku sangka waktu itu Bapak akan memarahiku, karena dia sempat membesarkan matanya pada saat aku mengatakan hal itu. Tapi dengan langsung melihat senyumnya aku jadi lebih lega. Jika kuingat waktu itu aku jadi senyum sendiri.

__ADS_1


"Kamu nggak ingat denganku sama sekali. Mentang-mentang ada Bapak." Ucap Mas Jaya pada saat udah di dalam kamar.


" Mass...Aku udah lama nggak ketemu Bapak, sejak aku hamil ini dan mau mendekati lahiran aku jadi ingat sama orangtuaku. Aku merasa bersalah karena selama mereka membesarknku, apa-apa yang kuberikan pada mereka belum ada artinya." Jawabku untuk menenangkan hati Mas Jaya.


Malam ini aku dan Mas Jaya bercerita banyak hal. Dia bercerita tentang Mak Enok yang selalu mempertanyakanku, sampai akhirnya Mas Jaya mengatakan bahwa aku adalah istrinya. Mak Enok merasa aku mempermainkannya, beliau tidak marah cuma gemes aja dengan ulahku.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu, tapi jangan marah ya"


"Tanyalah.."


"Kamu punya banyak usaha, aku tau perusahaanmu perusahaan yang tidak diragukan, tapi kenapa kamu nggak fokus mengelolanya."


Dia merangkulku, dan mengecup keningku.


" Aku tidak pernah tertarik dengan dunia usaha seperti itu, aku lebih tertarik dengan dunia pertanian. Usahaku dikelola oleh orang-orang yang kupercaya. Aku ingin lebih fokus didunia pertanian, karena ini pekerjaan yang kucintai."


Aku hanya tersenyum dengan jawabannya. Sesaat aku dan Mas Jaya terdiam, sampai akhirnya kami saling pandang karena mendengar suara yang membuat aku dan Mas Jaya tersenyum.


"Ganas amat suara sampe kemari. Buat pengen aja." Ucap Mas Jaya, dengan wajah yang sangat menggemaskan.


"Kamu juga begitu, sampai Mama menegurku" sambil mencubit perutnya.


"Mas dulu waktu kita baru nikah, Mama pernah menelponku, beberapa kali, dan disitu aku merasa kamu sama Mama baik-baik aja. Tapi kenapa begitu aku disini, keadaannya berbeda."


Dia menarik nafas berat, "Aku bohong Zahra, itu Ibu panti, makanya waktu dia tau kamu datang pertama kali tanpa aku, dia nggak kaget."


"Sudah kuduga." Jawabku singkat. Aku langsung membalikkan badanku membelakanginya.


********


Pagi harinya Mama berangkat ke kebun tanpa Wulan, karena sampai jam 9 pagi mereka belum juga keluar dari kamar.


Tinggallah aku berdua dengan Mas Jaya yang ada di dapur.


"Lama banget sih bangunnya, niat kerja nggak sih." Ucap Mas Jaya sedikit memajukan bibirnya.


"Biarkan mereka, kamu dulu nggak ada yang ganggukan. Empat hari lagi, nggak ada yang ganggu kamu." Kukecup sekilas bibirnya.


"Kamu lucu banget kalau seperti itu." Aku meniru perbuatannya ikut memajukan bibirku.


Daripada dia selalu memikirkan pasangan baru itu, aku sengaja mengalihkan perhatiannya, kuajak dia untuk membuat kue.


Kebetulan aku melihat ada singkong yang belum diolah, ingin kujadikan bolu singkong. Sesekali aku dan dia bercanda.


Melihat perutku yang semakin membesar dia nggak mau meminta haknya, alasannya karena dia takut aku merasakan sakit.


Atas permintaannya juga, sebisa mungkin aku mengalihkan keinginannya, makanya aku nggak ingin menjahilinya lagi. Melihat keadaanku dia sering nggak tega. Pernah beberapa kali aku menjahilinya, dia hanya menggeleng pelan, setelah itu memeluk dan mengecup rambutku.


Sejak Wulan menikah rumah semakin rame, Mas Jaya juga ada teman ngobrol, teman dia nonton bola sampai larut malam. Sampai aku mau melahirkan rasa sakit dikakinya masih sering dia rasakan, untuk berjalanpun dia masih sedikit pincang, meskipun sudah tidak pakai alat bantu lagi.


Pagi itu selesai sarapan dia merasakan sakit perut, sampai wajahnyapun sedikit pucat. Bulan ini sudah masuk bulan kelahiranku. Berkali-kali aku mengalami kontraksi semu.

__ADS_1


Melihat dia sakit, nggak ada orang yang kerja hari ini, mereka juga khawatir kalau aku melahirkan nggak ada satupun yang tau, mengingat Mas Jaya belum bisa mengendarai mobil.


"Zahra, perutku sakit banget, pengen buang air, tapi nggak bisa.." Erangnya di tempat tidur.


Aku benar-benar panik melihat kondisinya, bukan hanya dia perutku pun rasa mules dan pinggang dan punggungkupun rasanya udah nggak karuan. Aku minta tolong Doni untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Sesekali aku menggigit bibirku karena menahankan rasa sakit yang kualami.


Mama yang melihatku sepertinya tau bahwa aku akan melahirkan.


Mama meminta Wulan membereskan pakaianku, dan membawa perlengkapan bayi yang udah jauh hari disiapkan. Bi Ijah yang saat itu sudah ikut lagi denganku, disuruh menemaniku masuk ke dalam mobil. Sementara Doni sudah menunggu dimobil.


Sampai di rumah sakit, aku menyuruh dokter memeriksa Mas Jaya, karena dia yang benar-benar merasakan sakit. Melihat dia selalu mengerang kesakitan aku nggak menghiraukan rasa sakitku lagi.


Mama yang selalu memperhatikanku memanggil dokter, karena air ketubanku sudah keluar. Aku dan Mas Jaya diletakkan dalam satu ruangan, dokter bilang aku memang sudah waktunya melahirkan, bahkan aku sudah mengalami bukaan lima saat itu.


Mama bingung mau menemani siapa. Disatu sisi Mas Jaya merasakan sakit yang luar biasa, disisi lain aku yang akan melahirkan.


Pilihan Mama jatuh padaku. Semakin aku disuruh mengejan, semakin kuat suara Mas Jaya mengerang. Kulihat Mama sempat menyunggingkan senyum tipis.


Sampai akhirnya terdengar suara bayi memecahkan ruangan persaliananku, dan suara Mas Jaya juga berkurang. Dokter segera membuka tirai pembatas antara aku dan Mas Jaya.


Disitu terlihat mas Jaya yang sedang nungging menahankan rasa sakit. Aku sempat tersenyum melihat tingkahnya. Perlahan dia meluruskan kakinya dan mengatur nafas.


Mama mendekatinya, menanyakan apakah perutnya masih sakit, dia hanya menggeleng.


" Anak kamu Doni aja yang Azanin ya, kamukan sakit." Ucap Mama sambil membelai rambutnya.


Mendengar ucapan Mama, dengan cepat dia duduk di tempat tidur.


"Emang udah lahiran?! kok aku nggak tau!" Ucapnya dengan cepat, dan melihatku yang masih ditangani dokter.


" Dokter jangan dijahit semua yah, sisakan sedikit buat saya." Dengan polosnya dia bicara seperti itu, membuat orang yang ada di dalam ruangan jadi tersenyum.


Suster yang sudah membersihkan bayiku, langgsung menyerahkan sama Mas Jaya untuk diAzanin. Dan diapun segera mengAzankan.


"Kamu buat Papa hampir mati Queen" Ucapnya pelan dan menyium anaknya.


Dia mendekatiku dan mencium keningku. "Makasih sayang, udah menjadikanku seorang laki-laki."


"Kamu udah nggak sakit perut lagi Mas?"


Dia menggeleng pelan.


"Makasih ya Mas mau berbagi sakit denganku. Kamu termakan ucapan kamu sendiri, kamu yang minta gantiin sakitku waktu itukan."  Ucapku mengingatkan akan ucapannya waktu itu.


"Aku kasih dia nama Queensha Sanjaya yah!"


Aku hanya mengangguk.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2